![Always Be With U [Levi X Petra]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/always-be-with-u--levi-x-petra-.webp)
"Petra diculik."
"APA?!" Semuanya sontak membulatkan mata mendengar tuturan kapten mereka barusan.
"Petra-san.." Eren mengepalkan tangannya.
Oluo langsung menggebrak meja makan, meluapkan emosinya. "Dasar bajingan! Siapa mereka, hah?!"
Eld menggelengkan kepala tak percaya. "Bagaimana mungkin ia bisa diculik?! Kemampuan bela dirinya saja bahkan bisa dibilang melebihi kita."
Levi sebisa mungkin tetap memasang wajah datarnya seperti biasa, namun tak dapat dipungkiri dirinya sangat khawatir kepada Petra. Ia mengeluarkan pisau saku yang berlumuran darah tadi, bukti utamanya.
"Kapten, tak salah lagi.. ini milik Petra." Ujar Gunther setelah menganalisa pisau itu.
"Kapten, kalau dilihat dari bukti ini, sepertinya Petra sempat membela diri dan melawan musuh. Musuh pasti sudah dalam keadaan terluka. Jika memang begitu, pasti musuh meninggalkan barangkali satu atau dua jejak." Eld menambahkan.
"Kupikir juga begitu. Tapi, kita belum bisa mengetahui apa motif mereka membawa Petra. Musuh kita sepertinya tidak terlalu mementingkan kerapihan jalannya misi, melainkan keberhasilannya." Ujar Levi memperjelas.
"Kita harus bagaimana, Kapten?"
"Gunther, beritahu situasi ini kepada Erwin dan tunda misi untuk Regu Elite! Eld, beritahu Regu Hanji untuk menjaga base ini sekarang!" Titah Levi.
"Laksanakan, Kapten!" Gunther dan Eld pun segera berangkat.
"Kalian berdua tetap disini. Oluo, jaga bocah nakal ini. Aku akan coba mencari jejak." Gunther dan Eren terperangah.
"Hah? Tapi Kapten-" Sergah Oluo
"Tidak, Kapten. Aku ingin ikut menyelamatkan Petra-san! Aku tidak bisa hanya berdiam diri disini!" Ujar Eren tidak terima.
"Oi, bocah! Ingat dirimu yang merepotkan itu. Identitasmu harus tetap disembunyikan. Aku tidak mau menjagamu lebih lama lagi jika misi ini sampai gagal."
"Tapi aku juga tidak mau penyelamatan Petra-san gagal!"
Levi tercekat melihat Eren yang sangat bersikeras mau menyelamatkan Petra.
"Kapten, bukankah lebih baik bersama-sama? Jika bertindak seorang diri tentu risikonya akan lebih besar dan malah akan memperkecil kemungkinan." Ujar Oluo.
Levi menghela nafas, memikirkan kembali keputusannya matang-matang.
"Aku tidak akan segan menendang wajah babi kalian jika identitas Eren terbongkar sia-sia!"
Oluo dan Eren sontak menegapkan tubuh, tak peduli dengan bulu kuduk mereka yang sudah berdiri dengan bangganya hanya dengan mendengar ucapan mutlak kaptennya itu. "Siap, Kapten!"
Oluo lalu menginterupsi, "Kapten, Aku akan menyiapkan kudanya." Levi mengangguk mengiyakan.
Eren melihat Levi yang sepertinya tampak gelisah, meskipun kaptennya itu berusaha keras menyembunyikannya. Tapi bagi Eren itu bisa langsung ditebak.
"Kapten.."
"Apa?"
"Sebenarnya.. ada hal yang sedikit mengganggu pikiranku." Ujar Eren ragu-ragu, melihat sikapnya tadi yang sudah menentang Kapten Levi dan sekarang akan kembali mengusiknya.
"Cepat beritahu saja!" Kata Levi tidak sabaran.
"Ba-baik! Sebenarnya tempo hari, aku tidak sengaja mendengar Petra-san seperti sedang marah terhadap sesuatu, saat ia sedang di kamarnya-"
"Tunggu, kau menguntit?" Potong Levi sambil memasang tatapan membunuhnya.
Eren langsung menggelengkan kepala cepat, menyanggah. "Tidak tidak, Kapten. Aku hanya kebetulan lewat di depan kamarnya. Aku mendengar Petra-san mengatakan 'Beraninya mereka ingin menghancurkan Regu Elite dan Kapten Levi..' "
Penjelasan Eren membuat Levi terkejut sekaligus termenung. Ia merasa bahwa ia adalah pemimpin yang gagal dalam melindungi bawahannya sendiri. Jika saja malam itu ia membangunkan Petra untuk kembali ke kamarnya, semua ini tidak akan terjadi. Kalaupun terjadi sesuatu, pasti akan langsung terdengar dibandingkan di ruang makan yang letaknya ada di lantai bawah, melihat ukuran kastil (base) itu yang begitu besar. Ditambah malam itu sepertinya sempat hujan deras dilihat dari kondisi tanah pagi ini yang tampak lembap. Kemungkinan hujan deras membuat pendengaran kurang menangkap suara sekitar.
"Sepertinya Petra-san sudah mendapat semacam ancaman." lanjut Eren.
"Tampaknya musuh pernah mengenalku atau mengenal anggota reguku. Itu baru dugaanku. Melihat aku juga punya banyak musuh dahulu." Kata Levi sembari menyiapkan 3D Manuver Gear nya.
"Dahulu?" Tanya Eren spontan.
Levi terdiam sejenak. "Lupakan.."
'Apa maksudnya punya banyak musuh dahulu?' Seketika begitu banyak pertanyaan yang menghampiri benak Eren, namun yang terpenting bukan itu sekarang.
"Kita harus menyelamatkan Petra-san, Kapten!" Seru Eren.
Levi terdiam sejenak. Ia ingin bertanya kepada Eren, namun otaknya sedang memilah kata yang lebih tepat. Dan pada akhirnya, ia memilih untuk bertanya secara lugas. Tak peduli jika nanti bocah tengik dihadapannya ini akan memasang wajah 'Kenapa kapten Levi.. tiba-tiba bertanya seperti itu? '
"Siapa Petra bagimu, Eren?"
Benar saja dugaan Levi. Eren langsung terlonjak mendengar pertanyaan tiba-tiba seperti itu, terlebih dari manusia seperti Levi yang notabenenya dikenal sebagai 'manusia unik nan aneh nan dingin yang mampu membuat semua orang merasa terancam.'
'Jarang sekali Kapten Levi menanyakan hal pribadi seperti ini.'
"Petra-san adalah senior yang sangat aku kagumi."
"...."
Eren kembali melanjutkan sebelum Levi kembali salah paham terhadapnya.
Jawaban tegas dari Eren sudah cukup menjelaskan semuanya dan tanpa sadar Levi seperti merasa lega akan hal itu.
'Petra tidak bohong..'
Eren mengerti kenapa kaptennya bertanya hal tersebut. "Sebelumnya.. Petra-san bertanya padaku, apakah aku boleh dianggap sebagai adik baginya karena katanya aku terlihat mirip dengannya. Aku.. sangat berduka terhadap adiknya. Kurasa.. kapten dapat mendengar sendiri darinya nanti."
"Terimakasih, Eren."
Eren tersentak. Perkataan Petra tidak salah. Levi masihlah manusia yang berhati lembut dan baik. Ia merasa bersalah karena terlalu memandang buruk dan overthinking terhadap kaptennya. Eren langsung memberi salute sembari tersenyum.
"Iya, Kapten!"
...• • •...
Kedua manik coklat itu perlahan terbuka, menatap sekeliling yang masih tampak samar baginya. "Dimana.. aku?"
Petra terkejut ketika ia melihat kedua tangan dan kakinya diikat dengan rantai dan sekarang ia sedang duduk di sebuah kursi besi di tengah-tengah sebuah ruangan.
"Wah, nona kamu sudah sadar?"
Petra sontak menoleh ke arah sumber suara tersebut. Dihadapannya sudah ada tubuh menjulang seorang pria yang sedang menatap ke arahnya sambil tersenyum.
"Siapa kau sebenarnya? Dan apa tujuanmu?!" Tanya Petra tanpa basa-basi.
"Hei, hei, tidak perlu terburu-buru. Bagaimana jika kita mengobrol dulu, hm?" Tiba-tiba pria dihadapannya mengelus lembut wajahnya, membuat Petra segera menepisnya.
"Jawab aku, brengsek!"
"Baik, baik. Tidak perlu marah seperti itu. Wajahmu terlalu cantik untuk marah."
GREPP!!
"Argh.."
Petra sontak merintih karena pria itu tiba-tiba menjambak rambutnya kencang.
"Perkenalkan cantik, aku Nico. Tujuanku sederhana.. ingin menghancurkan Pasukan Elite. Oh! atau.. kapten tersayangmu itu." Pria itu langsung menghempas kepala Petra.
"Tampaknya.. kau yang lebih dekat dengan si cebol itu."
"Jangan berani kau melukai Kapten Levi dan rekan-rekanku!" Teriak Petra menatap tajam pria dihadapannya.
"Tenang saja, aku tidak akan menyakiti mereka secara langsung. Tapi melalui kamu, nona cantik.."
...• • •...
Eren, Levi dan Oluo terus berusaha mencari jejak dengan mengandalkan penciuman kuda mereka.
"Kapten! Aku menemukan jejak kaki meski tampak samar." Ujar Oluo. Levi pun segera menganalisa jejak kaki yang ditemukan Oluo.
"Ukuran sepatu orang dewasa, sepertinya pria."
"Apa mereka sengaja meninggalkan jejak?" Tanya Eren penasaran.
"Ada dua kemungkinan, mereka memang ingin menarik perhatian kita. Atau karena kondisi tanah yang lembap akibat semalam sepertinya sempat hujan deras dan membuat mereka tak sengaja meninggalkan jejak. Kita lumayan beruntung. " Levi mencoba menerka ke arah mana jejak kaki tersebut.
'Jika dilihat, ujung kakinya tampak lebih condong ke arah kanan.'
"Kita coba ke arah sini.."
Mereka bertiga pun semakin menyusuri jalan setapak menuju hutan lebat mengikuti insting Levi.
"Tunggu, Kapten." Oluo menginterupsi.
"Aku mendengar langkah kaki sedang mendekat ke arah sini."
"Waspadalah." Mereka langsung menyiapkan 3D Manuver Gear mereka sambil bersembunyi di balik pohon.
Semakin dekat.. semakin dekat..
"Siapa-"
"WHA! Ternyata kalian.." Oluo dan Eren langsung bernafas lega karena itu bukanlah musuh, melainkan Eld dan Gunther.
"Bagaimana?" Tanya Levi to the point.
"Komandan Erwin berpesan bahwa ia akan segera mengirim bantuan. Misi untuk pasukan kita juga untuk sementara dihentikan" Jelas Gunther.
"Regu Hanji juga sudah mengamankan base." Terang Eld.
"Baiklah, kerja bagus."
Levi mengusap-ngusap kudanya, berharap semuanya lancar. Dan berharap.. ia segera menyelamatkan Petra.
"Ayo!"
...----------------...