Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (39)




...• • •...


Derap langkah lima ekor kuda cukup membuat bunyi gema beberapa meter radius di sekelilingnya. Tampak sekumpulan manusia memakai jubah hijau berlambangkan dua sayap kebebasan dengan bangga terus menerjang ke arah depan melewati hamparan rumput, namun tetap tak mengurangi atensi ke segala arah kalau-kalau ada Titan yang akan menyerang.


Tak terkecuali gadis berambut karamel itu..


Hembusan angin yang terus menerpa wajahnya, tak mengurangi kesan cantik pada diri wanita itu. Netra almondnya pun tengah bertugas memamerkan keindahannya pada seluruh objek di alam ini.


Namun, berbeda dengan sang raga, benaknya justru tengah beralih pikiran ke waktu pagi tadi.


2 jam yang lalu..


Pagi itu di rumah keluarga Rall, Petra menuruni tangga menuju lantai bawah, bersiap juga untuk pamit pada sang kepala keluarga. Dilihatnya Tuan Rall sedang duduk di kursi teras rumah sembari memegang secangkir teh panas di tangannya. Pandangannya begitu sayu dan menyendu, entah apa yang tengah dipikirkannya.


"Ayah.."


"Oh, Petra.." Tuan Rall langsung mengunci perhatiannya pada putri kesayangannya itu. "Kau mau kemana pagi-pagi seperti ini, Nak?"


"Aku akan pergi dalam dua hari karena ada misi. Misiku memeriksa kondisi jalur menuju Shiganshina untuk ekspedisi nanti. Ayah.. tidak apa-apa jika kutinggal?"


Tuan Rall tersenyum lembut memeluk putrinya. "Tidak apa-apa. Ayah akan jaga diri, Petra."


Entah kenapa gadis itu merasa rengkuhan ini.. sangat berbeda..


Hangat.. tapi juga dingin..


Tak dapat dipungkiri rasa sedih mulai menjalar pada dirinya. Selalu seperti itu jika berpamitan. Memang.. perpisahan adalah suatu hal yang harus ada namun pasti tak diinginkan.


"Tolong jaga dirimu. Jika nanti kau pulang dan tidak ada Ayah di rumah, itu berarti Ayah belum selesai mengerjakan tugas."


"Tugas?"


"Ah itu.. atasan Ayah baru saja mendapat lahan baru. Pastinya Ayah harus mencari banyak bibit organik lagi," ujar Tuan Rall tersenyum penuh semangat, "Jadi, jangan khawatir ya."


"Ayah, a-aku.. aku minta maaf. Sikapku sudah sangat keterlaluan. Mungkin aku memang anak durhaka."


"Kau tidak perlu minta maaf. Ayah yang sepenuhnya salah. Perbuatan Ayah sungguh tidak bisa dimaafkan dan Ayah juga tidak akan pernah-"


"Jangan berkata seperti itu, kumohon.." Tanpa sadar bulir bening mulai mengalir dari pelupuk mata gadis itu, "Aku.. aku bahkan sangat bersyukur kau baik-baik saja. Jangan terus menyalahkan dirimu.."


Petra pun menangis, padahal ia tidak ingin berniat itu. Sudah cukup ia menangis akhir-akhir ini, rasanya lelah sekali. Tapi, berkali-kali netra itu mengkhianati, terus mencoba mengeluarkan luapannya.


Tuan Rall memeluk erat putrinya kembali, "Maafkan Ayah, Petra."


"Berjanjilah padaku kau akan baik-baik saja! Jangan pernah menyembunyikan apapun lagi dariku!"


Tuan Rall terhenyak sejenak mendengar itu. Lalu, ia tersenyum dan hanya berkata, "Baiklah, Nak."


Petra mengembuskan nafas perlahan.  Seketika wajahnya menengadah, menatap langit yang kala itu begitu biru. Coba saja kudanya juga bisa menengadah, Petra akan mengajaknya untuk melihat keindahan langit ini sampai puas.


"Kita akan istirahat di sungai perbatasan Krolva sebelum sampai di Shiganshina! Istirahatkan juga kuda kalian!"


Suara lantang milik Kapten Mike mengharuskan Petra untuk menyudahi tatapannya dengan sang langit. Begitu juga yang lain tampak seluruhnya memusatkan perhatian ke arah pria kumis tipis itu.


"Iya iya, Mike!" sahut Hanji menggelegar, membuat Levi yang berada tak jauh darisana berdecak sembari menutup telinga.


Yah, mungkin nanti suara itu akan dinobatkan sebagai calon umpan yang tepat untuk para Titan.


...• • •...


"Hanji-san, ini tidak apa-apa jika kubuat sketsanya sekarang?" tanya Moblit memastikan sembari menyiapkan kertas besar yang dibawanya.


"Oi oi, kenapa? Kau mulai malas bekerja, hm? Atau kau ingin menyombongkan diri dengan bakat seni gambarmu itu?" Bukan Hanji yang menyeletuk, melainkan Mike.


"T-tidak, Kapten. Maksudku.. aku hanya bertanya."


"Ya ampun, Mike, kenapa akhir-akhir ini kau jadi banyak bicara?" Hanji mengernyitkan alisnya keheranan. "Apa kau sedang mengalami kenaikan hormon lelaki?"


Moblit menghela nafas lelah, kenapa akhirnya mereka selalu berdebat sih?


Lain halnya dengan ketiga orang itu, Levi memutuskan untuk menghampiri Petra yang tengah menemani para kuda di pinggir sungai. Wajah gadis itu terlihat tenang menatap jernihnya arus sungai yang mengalir pelan di hadapannya.


"Petra.."


"Kapten?" Petra kemudian mengalihkan perhatiannya ke sosok sang kapten yang tampak langsung duduk disampingnya.


Levi menyodorkan sebungkus roti. "Makanlah.."


"Terimakasih, Kapten. Tapi, aku tidak begitu lapar se-"


KRUUKK..


Betapa gadis hazel itu langsung memerah wajahnya. Sontak dipalingkan tubuhnya ke arah lain, yang pasti ia merasa malu sekarang.


Bisa-bisanya kau mengkhianatiku peruutt!! Aku sangat malu sekarang bagaimana ini?!


Levi tampak tersenyum tipis dengan tingkah Petra. "Kau lapar."


Dilihatnya sang kapten masih setia menyodorkan roti itu. Karena merasa tidak enak, Petra pun menerimanya. "Terimakasih, Kapten. Tapi, ini pasti jatahmu kan?"


"Iya, tapi aku tidak mau."


"Tidak, Kapten juga harus makan. Ini.. akan kubagi dua."


Setelah melakukan kegiatan membelah roti, tentu saja ia langsung memaksa kaptennya untuk menerima juga, dengan kata lain memaksa seorang Levi untuk mengalah.


Keduanya pun terbuai cukup lama karena sibuk mengunyah. Hanya suara hembusan angin skala sedang yang menemani mereka, juga suara aliran sungai tentunya. Semua kuda pun entah kenapa ikut terdiam seakan sedang mengawasi kegiatan dua manusia itu.


"Kapten.."


"....."


"Apa.. kau ingat pernah menolong seorang anak perempuan yang hampir terbunuh oleh perampok pasaran?"


Mendengar itu Levi mengernyitkan alisnya, "Tidak. Kenapa kau bisa bertanya seperti itu?"


Yah, wajar jika dia tidak mengingatnya karena itu sudah lama sekali.


"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya bertanya saja."


"Apa kau pernah melihatku begitu?"


Petra tersenyum simpul, "Pernah. Mau kuceritakan lagi, Kapten?"


"Boleh. Barangkali aku akan mengingatnya."


Gadis itu pun mulai menarik nafas panjang, tanda ingin mulai bercerita. "Waktu itu ada sekelompok perampok yang ingin mencuri keranjang sayuran milik anak itu. Alasannya karena krisis pangan."


Manik safir legam milik Levi tak melepas kelekatan pandangannya pada gadis yang sedang bercerita itu.


"Anak itu.. hobi menangis-sangat cengeng. Bahkan tetap menangis ketika diajak bicara oleh Hanji-san yang saat itu ikut menolong juga."


Dan.. sang kapten Survey Corps itu sekarang semakin dibuat bingung dengan arah cerita Petra, sekaligus.. mungkin juga penasaran.


"Hanji?"


"Iya, bahkan dia yang ingin mengobati luka anak itu namun ditolaknya. Hanji pun memintamu untuk mengantarkan anak itu pulang."


Levi tercekat. Benaknya seperti mulai mengingat potongan-potongan sebuah memori. Apa yang dikatakan Petra.. semuanya mulai terasa familiar.


Tawa renyah Petra keluarkan sebelum melanjutkan ceritanya, "Anak itu punya impian untuk masuk Survey Corps sejak dulu. Alasannya sederhana, dia sangat mengidolakan para prajurit, terutama-"


GREB!


Betapa si empunya surai karamel itu tersentak dan langsung menghentikan kalimatnya.


Kaptennya.. merengkuhnya..


Levi.. mendekap Petra..


"Kapten-"


"Ternyata itu kau.."


Dan.. pemandangan indah itu berlangsung cukup lama. Levi tidak tau bahwa Petra sedaritadi menahan perasaan tak karuan dalam hatinya.


Namun, gadis itu pun tak mengelak. Ia ingin seperti ini lebih lama, walaupun ini bukan yang pertama kalinya.


Hangat. Rasanya begitu nyaman.


"Maaf.."


"M-maaf juga, Kapten.." ujar Petra kikuk sembari menurunkan wajahnya yang kembali bersemu merah.


Ah, situasi ini lagi, berulang kali.


"Tapi Kapten.. aku.. sangat berterimakasih padamu. Mungkin jika kau tidak menyelamatkanku waktu itu, aku tidak akan ada di Survey Corps sekarang."


Senyum merekah kembali menghiasi wajah cantik nan lembut itu. Levi bersyukur bisa melihatnya lagi.


Salah satu hal yang ingin dilihatnya sesering mungkin..


Salah satu hal yang bisa membuatnya merasa tenang dan damai..


"Kau bisa disini bukan karena aku, melainkan dirimu sendiri. Kau.. sudah berjuang hingga sejauh ini."


"Tetap saja, Kapten ikut andil di dalamnya dan.. aku sangat bersyukur akan hal itu."


"Petra-"


"Levi! Petra! Dua Titan 5 meter mengarah ke kalian!" teriak Hanji sekencang-kencangnya.


Benar saja. Mereka merasakan permukaan tanah yang semakin berguncang. Beberapa saat para kuda pun bertingkah panik dan mulai menjauhi sungai. Beruntung Levi dan Petra masih bisa menuntun mereka, setidaknya mendekat ke Hanji dan yang lain.


Dalam hitungan lima detik tampak dua tubuh Titan yang berlari, bahkan menabrakkan tubuhnya hingga menghancurkan beberapa pohon.


Tch! Kenapa aku tidak menyadari keberadaannya?


"Kapten! Aku akan membereskan yang kanan!" Petra menyiapkan gasnya dan langsung terbang melaju menuju tengkuk Titan abnormal itu.


Begitu melihat tangan besar itu mau menangkapnya, Petra langsung mengubah haluan untuk melukainya. Ketika sudah teralihkan, dengan cepat Petra menancapkan kail dan menebas tengkuk Titan itu.


Namun.. permukaan tanah yang ia pijaki tampak semakin menggelap karena bayangan dari suatu benda yang ada di atasnya.


Benda itu..


"Petra!"


Dalam hitungan detik gadis itu merasa tubuhnya direngkuh erat dan beberapa lama dua tubuh itu terseret dan menabrak permukaan tanah, begitu pula dengan batang pohon yang hampir menimpa mereka. Betapa terkejutnya Petra ketika tubuhnya masih didekap oleh Levi yang berada di atasnya. Hanya beberapa senti saja jarak diantara mereka hingga kedua wajah itu saling berhadapan.


"Kau tidak apa-apa?"


"Wah, bibirmu manis sekali. Barangku begitu sempurna.."


Kedua mata Petra seketika membelalak, "Aaaarrgghh!! Menjauhlah!!!"


Levi yang langsung didorong Petra begitu saja sangat terkejut. Gadis itu terlihat ketakutan sambil menutup wajahnya dan tubuhnya sedikit gemetar. Begitu ia mulai sadar, netra hazelnya memperlihatkan kesedihan dan.. Levi sepertinya mengerti akan hal itu.


Trauma..


Dia memiliki rasa trauma..


"Kapten, a-aku minta maaf.. aku minta maaf.."


Tanpa sadar Levi menarik lagi tubuh Petra ke dalam dekapannya. Perlahan ia mengusap pelan punggung yang masih gemetar itu, berharap bisa memberi sedikit ketenangan.


"Tenanglah.. tidak apa-apa.."


Dan.. gadis itu perlahan menjadi tenang, seakan benar-benar terobati oleh dua kata ajaib itu. Levi membiarkan itu sedikit lama, mencoba memahami apa yang terjadi pada Petra.


Kalut.. namun juga tidak kalut..


Mungkin itulah yang menggambarkan suasana diantara keduanya..


...• • •...


BUGGHH!!


Satu pukulan tepat mengenai wajah seorang pria bernama belakang Ravelis, siapa lagi jika bukan Nico. Ia tampak mengaduh kesakitan karena wajah berharganya mungkin kembali babak belur.


"Kenapa kalian hobi sekali memukul orang.." rintih Nico, "Kemarin aku sudah dipukul oleh Nona Cantik itu-ARGH!!"


"Baguslah, berarti tugas kami adalah menambahnya," sinis Oluo sambil menarik kerah pria itu.


"Apa mau kalian sih?!"


"Beritahu kami semua informasi yang kau beri pada Petra."


"Hah? Untuk apa kalian meminta-AARRGGHH!!!"


Eld menggores kedua kaki Nico bergantian, menorehkan sayatan yang sangat rapih, sedangkan Gunther menahan tubuh Nico.


"Baiklah! Baiklah! Akan kuberitahu! Kenapa harus menyayat kakiku juga?!"


"Kupikir kau belum mendapat luka sayatan seperti Petra, makanya kami tambahkan."


"Tolonglah.. ssshhh.. aku sudah cukup menderita disini. Apa kalian tidak kasihan padaku?" pinta Nico memohon.


"Cepat beritahu saja!"


"Aku tau tentang kematian Adiknya yang bukan 'tidak sengaja' itu. Dulu aku punya partner dalam organisasi, tapi.. aku tidak pernah tau nama aslinya dan tidak pernah berpikir untuk mencari tau. Alasannya lainnya juga karena kami selalu memakai julukan ataupun kode."


"Apa kau tau nama samarannya?" tanya Gunther.


"Sudah kubilang aku hanya tau julukannya. Dia sering berganti nama untuk mengamankan identitas. Setiap kali organisasinya beraksi, namanya berubah. Markas perkumpulannya pun selalu berubah. Orang lain tidak akan mudah menemukannya."


Oluo berdecih sembari mengumpat, "Menghilangkan jejak ya. Apa julukan untuknya?"


"Julukannya 'Penguasa Jalan Tikus'. Aku bertemu dengannya pertama kali saat berjudi di kelab malam. Saat aku memenangkan taruhan, dia mengajakku mengobrol. Dia.. adalah penjahat yang memburu korbannya dengan ilmu hipnotis. Dia cinta uang dan suka taruhan. Lalu, ia memberitahu nama-nama korbannya untuk mengajakku bergabung, tapi kutolak. Nama Ayahnya.. masuk ke dalam daftar itu.."


Ketiga pria anggota squad Levi itu tercekat, termasuk Oluo. Ia sepertinya mulai mengerti semuanya.


"Apa maksudmu, hah?!" Eld menatap tajam ke arah Nico seakan tidak percaya.


"Aku menyadari bahwa nama belakangnya adalah Rall, sama seperti nama korban yang disebutkan orang itu. Aku berasumsi dia memang putrinya dan.. ternyata itu benar," lirih Nico, "aku menduga.. Ayahnya terlibat suatu utang."


Iya. Pria bermarga Bozado itu mulai memahami semuanya. Tanpa sadar emosinya ikut memuncak. Kedua tangannya mengepal dengan keras. Ia membayangkan betapa sedih Petra mendengar semuanya saat itu.


"Ayahnya mungkin.. telah dihipnotis.. dan Adiknya.. dijadikan taruhan oleh mereka.. sebagai tebusan. Adiknya tidak mati secara kebetulan, melainkan dibunuh oleh organisasi itu."


Eld tak bisa lagi menahan emosinya. Eld yang biasanya terkenal tenang kini tengah menarik surai legam Nico dengan erat. "Sialan! Kau.. jangan pernah kau berbohong!"


"Aku berkata yang sejujurnya! Aku berbohong pun akan dibunuh oleh Levi!!"


"Kau.. apa kau juga terlibat di dalamnya?" tanya Oluo.


"Tidak. Aku berani sumpah," tegas Nico membela diri.


"Baiklah. Eld, Gunther, ayo kita pergi."


Perintah dari Oluo menandakan pria itu tengah serius sekarang. Eld dan Gunther hanya bisa menurutinya.


...• • •...


"Brengsek!"


Eld memukul keras dinding gang dihadapannya. Begitu juga dengan Gunther yang tampak sangat terkejut mendengar penjelasan dari Oluo barusan mengenai pengakuan Petra.


"Petra.. terluka karena orang-orang itu. Dengan kata lain.. keluarga Rall benar-benar diincar."


"Kita tidak punya banyak waktu. Aku khawatir Tuan Rall dan Petra akan ditarget secepatnya oleh mereka. Kita berpencar, telusuri semua kelab malam yang ada. Lebih baik.. lakukan penyamaran," titah Oluo.


"Dimengerti."


...-----------------...


Halo halo!!


Waduu keknya udah lama Author ga nyapa kalian di story yaa. Gimana kabarnya? Smoga slalu sehat yaakk!! Aamiin..


Maap yaa kali ini part nya mungkin rada panjang (emang panjang thor  😭✊🏻). Kali ini aku mo nyoba jadiin Oluo leader keknya keren ughaa yaa 🤣


Biasanya dia kerjaannya bercanda muluu yekann 😭👌🏻


Dah dah, smogaa alur storynya memuaskan kalian ya. Maap yaa kl masih banyak salahnya because aku pun masih belajar, sama kek bang lepi yang belajar mencintai petra AHAAYYY!! 😭✨


Okee oke, sekian salam sapa dari Author laknat nan sibuk ini. Terimakasih! 🙏🏻