Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (40)



WARNING!


Part ini mengandung unsur dewasa! Author harap kalian bijak membacanya ya. Semata hanya untuk menambah alur cerita πŸ™πŸ»


β€’


β€’


β€’


β€’


β€’


Seorang pria bermarga Bozado tengah mengernyitkan wajah karena berbagai faktor yang sekarang tengah menimpa dirinya.


Pertama, bau alkohol menyeruak ke dalam penciuman berharganya.


Kedua, sinar warna-warni bak pelangi dari lampu besar berbentuk bola di tengah ruangan cukup membuatnya sakit mata.


Ketiga, pemandangan menjijikkan yang dilakukan para manusia, bercinta secara terang-terangan. Bahkan, tak sedikit wanita yang sudah menabrak dirinya dan berniat menggoda dengan segala paras dan cara murahan mereka.


"Tempat ini.. sangat kacau. Rasanya aku mau muntah.."


Kelab Oscar, Distrik Ehrmich, disitulah dirinya berada, setelah tadi tercipta kesepakatan bersama terkait pemencaran tempat, bahwa Gunther akan ke Kelab Hejin di Distrik Trost, sedangkan Eld akan ke Kelab Sasdiz dan Ivory di Distrik Yarckel.


Segera saja dirinya melakukan hal yang biasa para manusia lakukan disini, memesan alkohol. Namun, tentu saja dengan kadar jumlah yang sedikit agar tidak memabukkan. Alasan lainnya agar ia tidak dinilai mencurigakan. Beruntung dirinya lumayan kuat jika soal minum-meminum.


"Pak, sake satu botol."


"Hmm? Baru kali ini aku mendapat pelanggan yang hanya memesan satu botol. Apa kau masih pemula?" tanya bartender itu terheran.


"Iya, aku masih pemula."


"Wah wah, kalo begitu seharusnya kau dibiasakan dari sekarang memesan vodka, whisky, sider, ataupun red wine yang berkadar alkohol tinggi. Aku akan dengan senang hati memperkenalkannya padamu."


"Terimakasih, Pak. Tapi aku hanya ingin sake saja untuk sekarang," balas Oluo.


Bartender itu hanya manggut-manggut menuruti dan segera dirinya menyiapkan pesanan Oluo.


"Bos besar sudah datang!"


Sontak seluruh manusia yang ada di dalam bar berdiri, seakan niat dan raut wajah mereka ingin menyambut sosok yang datang, tak terkecuali Oluo yang langsung menoleh.


Pria bertato lengkap dengan berbagai gambar di sekujur tubuh, serta lima pengawal berbadan cukup besar yang setia mengiringi dibelakangnya.


Tiba-tiba pria bertato itu menjetikkan jari dan langsung dilanjutkan oleh salah satu pengawalnya.


"Hari ini bos akan mentraktir kalian semua! Dalam rangka peringatan mangsa ke-65! Besok pasti akan lebih menyenangkan!"


Besok menyenangkan? batin Oluo.


"Tuan! Apa kami boleh tau siapa nama mangsamu selanjutnya?" tanya salah satu pengunjung bergender wanita berpakaian seksi.


Terdengar tawa pelan dari pria yang disebut 'bos' itu. "Nona, apa imbalanmu jika kuberitahu?"


"Kau boleh menguasai tubuhku malam ini. Lagipula, aku adalah pelanggan tetapmu bukan?" ucap wanita itu sembari mengeluarkan ******* kecil dari bibir merah meronanya.


BRAAKK!!


Semuanya sontak terkejut ketika pria bertato itu tiba-tiba menerjang sang wanita dan meraup bibirnya. Tak lupa tangan kekarnya telah lihai bermain di area dada, membuat sang wanita mengeluarkan desahannya lagi dengan lebih keras.


"Jangan memulainya duluan. Kau membuatku tak sabar segera menghabisimu. Buatlah aku senang malam ini."


Di sisi lain, Oluo semakin memalingkan wajahnya dari pemandangan itu sembari merutuk kesal.


Aku benar-benar ingin muntah. Jika bukan demi Petra, aku tidak akan mau melakukan ini..


"Ayo, Tuan.. beritahu aku-aahh.."


"Seorang Ayah dan anak dari keluarga Rall.."


Betapa Oluo terkejut mendengar perkataan itu. Tanpa sadar tangannya terkepal dengan keras, beruntung ia sembunyikan di bawah meja. Kalau tidak ia sudah menggebrak meja sedaritadi.


Disini rupanya mereka..


...β€’ β€’ β€’...


Sore berganti malam, tanda waktu terasa begitu cepat. Kini ada lima orang yang sedang berkutat dengan kertas besar bergambarkan sketsa setengah jalur di atas hamparan rumput. Dengan modal penerangan sinar lentera yang begitu remang, itu sudah cukup untuk melihat fokus objek.


"Baiklah, ternyata waktu yang dibutuhkan lebih cepat dari yang kukira, melihat hanya sedikit serangan Titan," simpul Mike.


"Bagaimana jika kita juga membandingkan jumlah Titan dari dua jalur? Tadi aku menghitung ada sekitar sepuluh, tujuh biasa dan tiga sisanya abnormal lho!"


Mike melongo, "Wah Hanji, kau benar-benar sahabat sejati mereka. Untung baumu masih manusia."


"Oi, sampai kapan diskusi konyol ini akan berjalan?"


"Hei hei, Levi, apa kau sudah mengantuk? Silahkan kau tidur manis duluan-"


"Bukan aku, tapi Petra."


Keempat manusia itu menoleh ke arah Petra yang terlihat memejamkan mata, dengan tangan yang masih setia memegang lentera. Menyadari bahwa sepertinya ada beberapa pasang mata yang menatapnya, gadis itu pun terbangun dan terkejut.


"M-maafkan aku semuanya.." ucap Petra dengan pelan.


"Petra, tidur saja duluan," Levi mengambil lentera dari tangan Petra, "Kau sudah mengantuk."


"Ah, tidak apa-apa. Aku ingin tetap disini sampai selesai."


"Tidak apa-apa, Petra. Mungkin diskusi kami masih lebih lama. Jangan khawatir, nanti kami pasti akan beritahu hasil akhirnya," tutur Hanji.


Petra menggeleng, menolak. "Hanji-san, tidak apa-"


Gadis itu sedikit tersentak ketika tangan sang kapten tiba-tiba meraih lengannya. Lalu, dirinya dituntun ke arah tenda yang memang sudah dibuat untuk tempat beristirahat


"K-kapten?"


Levi mengisyaratkan Petra untuk masuk, "Tidurlah. Kutunggu diluar tenda."


"Eh? Tidak perlu, Kapten. B-bagaimana dengan diskusinya?"


"Tch, memang seberapa tuli pendengaranku?"


"I-iya iya, Kapten tidak tuli kok," jawab Petra dengan cepat, "Tapi sungguh tidak apa-apa kau bisa bergabung lagi dengan mereka."


"Aku bisa mendengarkan dari sini."


Mendengar perkataan sang kapten yang sepertinya mutlak tidak ingin dibantah lagi, gadis itu hanya bisa mengangguk menuruti pada akhirnya.


"Terimakasih untuk hari ini, Kapten."


Begitulah, sebuah ucapan sebelum gadis hazel itu masuk ke dalam tenda dan membaringkan tubuhnya. Levi tersenyum tipis menerimanya, sebelum dirinya pun kembali memfokuskan atensi ke arah tiga orang didepannya.


...β€’ β€’ β€’...


"Kau yakin tidak ingin menambah lagi?"


Oluo berdecak pelan menanggapi bartender itu, tak berhenti merayunya untuk menambah sake.


"Daripada kau terus memaksa, lebih baik beritahu aku dimana letak kamar mandi."


Bartender itu menghela nafas, "Baiklah, dari sini kau ke arah kiri sampai ujung."


"Terimakasih."


Dengan mengikuti arahan, Oluo pun memfokuskan dulu niat utamanya untuk mengelabui sang bartender, sebelum dirinya menjelajah bar untuk menemukan si pria bertato itu.


Perundakan anak tangga menuju ke bawah.


Dengan langkah sepelan mungkin ia menuruni tangga dengan hati-hati, sembari dirinya waspada penuh.


"Dimana persembunyian mereka hah?"


Hingga sampai pada anak tangga terakhir, Oluo memasang mata lebar-lebar begitu melihat lorong yang sangat gelap dihadapannya. Sayup-sayup ia mendengar suara rintihan kesakitan seorang wanita dari ujung lorong.


Seketika insting prajuritnya menguat.


Tempat ini.. tidak beres..


Digenggamnya erat pisau saku. Tak lupa masih berbekal pistol di jaketnya. Suara itu semakin dekat, diikuti suara ******* pria yang begitu keras.


Sebuah pintu kayu berukuran cukup besar.


"Penyusup.."


Sontak Oluo menoleh ke belakang. Salah satu pengawal pria bertato itu hendak memukulnya. Dengan cekatan Oluo menghunuskan pisaunya sehingga membuat orang itu sedikit menghindar.


DUAR!! DUAR!!


Oluo berhasil menghindar dengan baik dari tembakan. Terlihat empat pengawal lainnya keluar satu persatu dari dalam ruangan, diikuti dengan si pria bertato.


"Aku hampir mencapai puncakku.. dan kau mengganggu."


Oluo pun melihat wanita di dalam ruangan itu sudah terkapar tidak berdaya dengan darah di sekujur tubuh.


"Kau.. penguasa jalan tikus."


Pria itu tertawa kemudian sembari tersenyum miring, "Sepertinya.. aku mendapat mangsa dadakan. Kau mau kucambuk seperti wanita itu? Atau kuhipnotis?"


DUAAKK!! BUGGHH!!


Tanpa pikir panjang, Oluo mencoba melumpuhkan lawan. Beberapa tembakan dan serangan ia hindari. Kunci pergerakan lawan.


DUAR!! DUAR!!


Oluo berhasil melancarkan tembakan mati ke arah dua pengawal pria itu. Namun, ia tak menyadari bahwa pria bertato itu telah ada tepat di belakangnya.


DUARR!!


"Argh!"


Oluo pun terjatuh. Perutnya telah tertembak dan mengeluarkan banyak darah. Pria bertato itu langsung menginjak tubuh Oluo sembari menodongkan pistolnya yang sudah berasap, tanda telah mengeluarkan satu peluru.


"Aku terlalu meremehkanmu. Tampaknya.. kau bukan orang biasa," Pria itu mencengkram erat leher Oluo, "Kau mahir bertarung. Prajurit?"


JRASSHH!!


Tusukan di perut pria itu berhasil Oluo layangkan. Namun, dengan bangganya pria itu masih tetap berdiri kokoh, membuat Oluo tercekat.


"Sialan.."


"Kau ini menarik sekali. Kenapa seorang anonim sepertimu berusaha keras untuk menyerangku?"


Pria bertato itu kemudian mengeluarkan sebuah kalung jimat dan memposisikannya persis di depan mata Oluo.


"Ikutlah denganku.."


...β€’ β€’ β€’...


Sepasang bola mata berwarna safir sangat terjaga malam itu. Padahal sang empunya sudah merasa tubuh cebolnya sangat lelah. Berkali-kali dirinya berdecak dan menghela nafas.


Insomnia sialan.


Selalu begitu. Mungkin ia juga sudah menganggap bahwa dirinya menderita Insomnia akut, meskipun tubuhnya merasa baik-baik saja. Pasrah, pasrah saja hingga matanya terpejam dengan sendirinya dan berakhir dengan kantung mata tebal nan hitam nanti.


Namun, sebuah suara familiar mengalihkannya. Suara Petra. Kehadiran sosok itu pun perlahan tertangkap mata telanjangnya.


"Kapten, kenapa belum tidur?"


Levi mengalihkan, "Kau sendiri kenapa bangun?"


Petra hanya mengedikkan bahu sambil menggeleng pelan. "Boleh aku menemanimu?"


Pria surai legam itu pun mengangguk pelan, membiarkan Petra duduk di sebelahnya. Gadis itu kembali menampakkan kehadiran disisinya.


"Insomnia lagi?" tanya Petra memastikan. Ia tau pasti alasan kaptennya tidak tidur karena itu.


"Iya."


"Cobalah Kapten jangan berpikir apapun untuk sekarang. Terkadang itu juga berpengaruh. Terkadang tubuh selalu kalah dari pikiran."


Sorot mata safir itu berubah menyendu, mungkin juga sedang menelan dalam-dalam perkataan gadis itu.


"Atau.. cobalah Kapten memikirkan tentang kebebasan dan ketenangan. Pikirkan apapun yang membuatmu merasa tenang."


Levi menoleh, menatap lekat wajah lembut gadis itu, selalu bisa menenangkannya. Sinar langit malam yang cukup menerangi wajahnya, membuat pantulan sorot netra almond nya semakin indah.


Dan Levi tidak ingin berbohong tentang hal itu.


Perlahan pikirannya pun merasa tenang hanya dengan melihat kehadirannya, mendengar setiap perkataannya yang memang benar adanya.


Dan perlahan mata itu mulai menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Perkataan Petra seperti menghipnotisnya.


"Bagaimana? Apa kau sudah-"


Selanjutnya Petra hanya bisa terdiam membeku melihat pahanya ditiduri kepala kaptennya. Rasanya ia ingin berteriak terkejut, namun hati dan otaknya menahannya, kecuali tentu saja wajahnya yang sudah memerah lagi.


"K-kapten?"


"Biarkan begini sebentar.."


Demi Tuhan, kenapa kaptennya suka melakukan hal yang tak terduga, selain keahliannya dalam membunuh Titan tentunya.


"O-oh iya, Kapten. A-aku lupa belum membawakanmu stok teh herbal hitam waktu itu. Nanti.. aku pasti akan membawanya," tukas Petra terbata-bata mengalihkan topik.


Dan yah..


Pria itu tetap diam, memang sudah terlarut dalam tidurnya. Lagi-lagi.. membiarkan gadis itu berjuang menenangkan suasana hati.


...β€’ β€’ β€’...


"Tiga hari lagi.. kami akan membawamu. Jika tidak, putrimu yang akan membayarnya."


"Jangan pernah usik putriku. Dia tidak ada hubungannya dengan ini."


"Tepati saja peranmu."


CTAKK!!


Suara patahan pena dan diikuti nafas terengah-engah terdengar memenuhi ruangan. Perlahan pria berumur 50 tahun-an itu mengeluarkan isak tangisnya. Tubuhnya begitu gemetar, sembari mengucapkan kata maaf berulang kali.


Karena..


Ia tau bahwa ada yang harus dirinya tebus. Ada yang harus dirinya lakukan untuk membayar kesalahannya.


Ditatapnya kertas berisi tulisan tangannya sendiri, tertuju pada Petra. Dilipatnya rapih dan ditaruh di atas meja kamarnya.


"Maaf. Maafkan Ayah, Petra.."


...-----------------...