![Always Be With U [Levi X Petra]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/always-be-with-u--levi-x-petra-.webp)
DUAAKK!!
Darah segar terus berceceran dari mulut Petra. Entah sudah yang keberapa kalinya wajah tak berdosa itu dipukuli oleh Nico, si manusia iblis itu.
"Bagaimana rasanya, nona?" tanya Nico, tak lupa dengan kedua tangan kekarnya yang sudah mencengkram kuat wajah Petra.
Petra hanya bisa menatap tajam pria itu. Sungguh, mungkin jika dirinya bercermin sekarang maka tampaklah sudah luka lebam mengerikan dan cipratan darah di wajahnya.
"Hah.. hhah.. aku kasihan padamu." ucap Petra terengah-engah.
"Hah?"
"Orang sepertimu.. harusnya sekarang sedang berkumpul dan menghabiskan waktu bersama keluarga."
Nico langsung tertawa mendengarnya.
"Aku tidak punya keluarga, dasar bodoh!"
BUGGHH!! DUAAKK!!
"Tadinya aku ingin menjadikan wajahmu bagian terakhir.. tapi kau membuatnya jadi bagian pertama."
Petra memejamkan mata, menahan sakit pada seluruh wajahnya. 'Pasti sekarang wajahku tampak menyedihkan.'
"Nial! Daniel!"
Kedua manusia yang merasa terpanggil oleh bos mereka itu pun menampakkan diri. Petra mengingat samar-samar, perawakan mereka mirip seperti pelaku yang membawanya saat itu.
"Saatnya tugas kalian," Nico tersenyum.
"Boleh kujilat darah atau kumakan dagingnya, bos?" tanya Nial sambil mengusap sedikit darah yang ada di wajah Petra.
Petra merasa mual mendengarnya. Menjilat darah? Sama dengan meminum darah? Apa mereka semua psikopat-kanibalisme? Mencium darah Titan saja sudah mengakibatkan muntah dan tidak nafsu makan, terutama bagi para prajurit yang tidak kuat mental.
"Terserah kau saja. Ah, pastikan dia sudah terluka lebih banyak lagi sebelum si cebol itu datang. Aku pasti akan selalu mendapatkan umpanku." Nico melambaikan tangan hendak keluar ruangan tersebut.
Petra terlonjak. "Umpan? Apa yang akan kau lakukan kepada Kapten Levi?!!" teriak Petra sambil memberontak.
"Sshhtt nona, akan kuberitahu sesuatu. Kau adalah korban yang beruntung, kau tahu?" Daniel mengelus pelan rambut Petra. Petra segera menepiskan kepalanya.
"Apa katamu?!"
"Bagi Bos Nico kau adalah yang berharga. Kau mungkin adalah korban yang cukup memuaskannya. Karena biasanya seluruh korbannya sudah menghilang kurang dari 10 menit."
Petra terkejut dan tanpa sadar tubuhnya gemetar ketakutan. 'Apa-apaan mereka ini..'
...• • •...
Levi dan yang lain masih terus mencari jejak. Mereka saat ini sedang berkuda dengan kecepatan sedang menuju arah Barat berdasarkan jejak terakhir.
"Kapten, ini semakin mengarah ke Distrik Krolva," tukas Eld menyimpulkan. Levi mengangguk membenarkan.
"TOLONG! TOLONG AKU, KUMOHON!!"
"Kapten, ada suara wanita meminta tolong. Sepertinya dari arah jam 3!" seru Oluo mengingatkan.
Mereka pun segera menuju arah jam 3. Benar saja, ada seorang wanita yang berlari sambil membawa bakul dan terlihat seekor Titan berukuran 10 meter yang sedang mengejarnya.
Levi langsung memberi kode kepada semua anggotanya. "Eld! Oluo! Formasi B! Gunther, gantikan posisi Petra!"
Semuanya langsung menjalankan strategi sesuai arahan Levi. Tak lupa mereka juga menutup kepala mereka dengan jubah Survey Corps. Sudah menjadi kewajiban bahwa seluruh anggota Pasukan Pengintai menyembunyikan identitasnya, terutama di daerah baru dan terpencil karena khawatir menimbulkan konflik melihat masih banyak warga yang membenci Pasukan Pengintai.
Levi, Oluo, dan Eld maju ke garis depan. Sedangkan Gunther langsung berpindah posisi ke depan Eren.
"Gunther-san."
"Percayalah pada kami, Eren."
Oluo menancapkan kail Manuver Gear nya tepat di mata kanan Titan itu, sementara Eld di mata kiri. "Rasakan ini, jelek!" teriak Oluo.
JRAASSHH!!
Titan itu langsung berteriak kesakitan setelah kedua matanya ditebas. Levi yang sudah ada di belakang Titan itu langsung saja menancapkan kail tepat di tengkuknya dan langsung menebasnya dengan mudah.
Seketika Titan itu langsung terkapar tak berdaya, tepat di hadapan wanita yang sudah histeris setengah mati itu. Wanita itu masih tampak gemetar sambil memegang bakulnya yang isinya mungkin sebagian sudah berjatuhan akibat berlari tadi.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Eren sambil membantu wanita itu berdiri.
Wanita itu segera membungkuk berterimakasih. "I-iya.. aku tidak apa-apa. Terimakasih! Terimakasih banyak! Kalian sudah menyelamatkan nyawaku!"
"Oi, kenapa kau sendirian? Kau mau bunuh diri?"
Wanita itu langsung terlihat takut kepada Levi namun tetap menjawab. "Ti-tidak tentu saja! Aku sedang mencari tumbuh-tumbuhan untuk bahan masak dan tanaman obat. Kakekku sedang sakit. Jadi, terpaksa aku harus pergi sendirian keluar distrik."
"Begitu ya. nyalimu besar juga," timpal Oluo.
"Baiklah, kami tidak punya banyak waktu. Kami harus pergi."
Levi menitah semuanya untuk kembali ke kuda mereka masing-masing. Wanita itu tampak memperhatikan penampilan mereka dari atas sampai bawah.
"Kalian.. apa kalian teman wanita berseragam prajurit itu?"
Mereka semua tercekat mendengar ucapan wanita itu.
"Apa maksudmu?" tanya Levi memastikan.
"I-iya, wanita berambut coklat jahe berseragam seperti kalian. Kalau tidak salah.. namanya Perta.. Petra kah?"
Sontak semuanya membulatkan mata mendengar penuturan wanita itu.
"Iya! Kami sedang mencari rekan kami, namanya Petra Ral. Dia menghilang sejak semalam. Kami menduga bahwa dia diculik." ungkap Eld.
Wanita itu terkejut. "Iya, mungkin itu dia. Dia seperti dalam keadaan yang buruk semalam."
"Tapi, kenapa kau bisa tahu?" tanya Eren.
"Semalam ada kejadian di tokoku. Lebih baik kalian mampir dulu ke rumahku sembari beristirahat. Nanti akan kuceritakan semuanya. Kalian pasti lelah bukan setelah menempuh perjalanan jauh?"
Semuanya menoleh ke arah Levi, meminta persetujuan dan keputusan.
"Baiklah, pastikan kau menyampaikan informasi yang berguna."
"I-iya, ini pasti akan berguna kok," jawab wanita itu sambil menurunkan pandangannya dari kedua safir tajam itu.
'Dia ini.. tampak familiar? Tapi, kenapa hawanya paling berbeda diantara yang lain, bocah menakutkan, hufftt..' pikir wanita itu.
...----------------...