Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (16)



"Kapten, aku sudah memberinya kesempatan untuk mengoceh, tapi dia tidak memanfaatkannya dengan baik," kata Eld yang baru saja keluar dari sel tahanan Nial.


"Begitu ya." Levi mengelap pisaunya. Tatapan dinginnya mengarah ke Nial. Ia pun menginjakkan kakinya tepat di hadapan wanita bersurai hitam legam itu. Eld membantu menahan tubuh Nial. Sementara Erwin memperhatikan dari luar sel.


"Sungguh sebuah kehormatan aku dikunjungi oleh komandan Pasukan Pengintai dan juga.. kapten Pasukan Elite yang hampir mati, ahahaha!"


"Kuharap kau menjawab pertanyaanku." Levi memegang erat lengan kanan Nial.


"Bajingan! Apa yang akan kau-"


SREETT!!


AAAAAAAAAAA!!!


Nial memekik kesakitan. Ia menatap lengan kanannya yang disayat dengan bengis oleh Levi. Eld yang melihat kekejaman dan kebrutalan sang kapten langsung bergidik ngeri. Bahkan mungkin semua bulu kuduknya sudah berdiri tegak sekarang.


"Kau menyiksa para korbanmu seperti ini kan?"


Nial malah tertawa licik, "Kalau iya memang kenapa, cebol? Dan oh! Bagaimana keadaan gadis itu? Pasti sekarang dia sudah mati!"


SREETT!!


AAAAAARRGGHH!!! BRENGSEEKK!!!


"Kenapa kalian menculik anggota reguku?" tanya Levi.


"Kau pikir aku akan menjawab?" balas Nial. Ia mengalihkan tatapannya ke Erwin, "Hei komandan! Beritahu warga tembok ini! Mereka sungguh sangat menyedihkan. Bahkan, mereka dengan mudahnya kusogok untuk membantu organisasi Bos Nico. Kalian tidak lebih dari para babi yang kelaparan!"


Levi mengambil tang untuk menggantikan pisaunya. Eld yang hanya melihatnya saja langsung menelan ludah.


Sepertinya kapten akan memulai tahap kedua, Gumam Eld ketakutan.


"Aku tidak menyuruhmu untuk mengoceh."


CTAASS!!


AAAAAAAAAAAA!!!


Nial membelalakkan matanya. Ia menatap nanar kuku jari kelingking kanannya yang dicabut.


"Kenapa.. kalian menculik anggota reguku?" tanya Levi lagi.


Nial malah menggertak, "Kalian semua.. hanyalah prajurit bodoh yang percaya kepada sesama manusia! Kenyataannya semua manusia sama saja! Bahkan, aku sudah muak dengan kehidupan manusia!" teriak Nial.


Erwin pun masuk ke dalam sel dan ikut menghampiri Nial, "Kalau aku tidak salah, kau yang bernama Nial."


Nial tetap terdiam tidak menjawabnya. Tatapan tajamnya tidak berkurang sedikit pun.


"Kenapa.. kau dan organisasimu sangat membenci kami?" tanya Erwin.


"Persetan dengan kalian!" Nial langsung meludahi wajah Erwin kemudian tersenyum licik.


Levi dan Eld yang melihatnya terkejut bukan main. Beraninya dia meludahi Erwin.


"BERANINYA KAU!!" Sebelum Eld memukul wajah Nial, Levi sudah terlebih dulu memukul dan menendang wajah Nial hingga wanita itu babak belur.


"Cukup, Levi," kata Erwin sambil masih membersihkan wajahnya dengan sapu tangan miliknya.


"Tch!" Levi membanting tangnya. Ia lebih memilih keluar ruangan, diikuti dengan Eld.


"Kami berharap kau berubah pikiran. Masalah ini bukan hanya menyangkut pemerintahan dan militer, tetapi juga menyangkut masa depanmu. Pikirkan baik-baik!" Erwin menasihati sebelum dirinya juga keluar dari sel. Nial menggertakkan giginya. Rahangnya mengeras.


"Bunuh saja aku!" teriak Nial.


Namun, teriakan Nial tidak digubris oleh ketiga orang itu.


...• • •...


Eld sengaja tidak menutup rapat pintu sel tahanan dimana Nial berada. Erwin memberi kode pada Levi dan Eld yang langsung dibalas anggukan oleh mereka. Eld beralih ke sel tahanan lain dan mengeluarkan salah seorang komplotan Nico juga yang diam-diam mereka tangkap. Levi langsung saja menodongkan pisaunya ke leher komplotan itu, membuatnya langsung gemetar ketakutan.


"Ikuti sesuai rencana, kalau tidak akan kubunuh kau disini juga," bisik Levi sambil memicingkan mata, mengintimidasi.


Pria yang sedang ditahan oleh Eld itu langsung manggut-manggut menurut.


"Jangan bunuh aku kumohon!"


...• • •...


"Jangan bunuh aku kumohon!"


Nial terhenyak. Suara itu familiar di telinganya. "Rey? Apa itu Rey? Sial, mengapa bisa dia disini juga?"


"B-bos Nico sialan!"


Nial tercekat, Kenapa.. Rey bicara seperti itu?


"Bos Nico hanya ingin memperalatku demi tujuannya sendiri. Di-dia ingin membunuhku layaknya mangsanya," ucap Rey lantang.


Sekarang, wanita bersurai hitam itu sepertinya tau apa yang terjadi diluar. Temannya, Rey, ditangkap dan diluar sedang ada proses interogasi setelah dirinya.


Dan pengakuan Rey sukses membuat Nial berpikir dua kali.


Bos.. hanya ingin memperalat kami? Lalu, kenapa.. dia ingin berhubungan dengan orang buangan sepertiku?


"Selama ini.. dia merampas banyak harta tanpa memberi sepeserpun kepadaku dan teman-temanku. Jadi, tolong.. biarkan aku hidup. Biarkan aku menjalani kehidupan yang layak. Kumohon!"


Nial tercenung. Perkataan Rey ada benarnya juga. Selama ini, bosnya tidak memperlakukannya dengan layak. Bos Nico tidak pernah memberinya sepeserpun harta rampasan mereka. Jika dikipir lagi, untuk apa dirinya rela berkorban. Mengapa ia tidak sadar bahwa dirinya tidak pernah berubah dari segala aspek? Ia pikir dengan dirinya bertemu Bos Nico, kehidupannya bisa berubah.


"Nyatanya.. aku tetaplah seorang budak ya.." lirih Nial.


...• • •...


"Apa kau berubah pikiran?" tanya Levi.


Setelah membuat si Rey itu mengaku, dengan kata lain menjalankan rencana yang dipelopori oleh Erwin itu, Levi dan Eld pun masuk kembali ke ruangan Nial berada.


Nial tertunduk lesu dan kini tatapannya berubah menjadi sendu.


"Baiklah, sepertinya kau tidak berubah pikiran. Eld, kita lanjut-"


"Baiklah!"


Levi dan Eld terkejut. Tiba-tiba Nial menatap mereka dengan tatapan lirih dengan air mata yang sudah mengalir deras, sungguh sebuah perubahan yang mencengangkan.


"Tolong jangan bunuh aku.. aku hanyalah budak buangan yang ingin hidup layak. Tolong.." pinta Nial tersedu-sedu.


Eld nyaris ternganga melihat sikap Nial yang berubah 180 derajat dari sebelumnya.


Tak kusangka rencana komandan Erwin berhasil, batin Eld.


Levi mengambil tangnya kembali dan menarik surai Nial. "Jawab pertanyaanku tadi kalau kau tidak mau dihukum mati."


Nial mengangguk-ngangguk, "Ka-kami para mafia.. sangat membenci Pasukan Pengintai. Bagi kami, kalian tidak lebih dari sekedar omong kosong. Kalian nyatanya tidak pernah memakmurkan hidup kami. Semua impian komandan kalian hanyalah sumpah palsu."


Nial menghela nafas lalu melanjutkan, "Lalu, Bos Nico memberi perintah kepada kami untuk membantai Pasukan Elite terlebih dulu karena kalian sangat menyusahkan kami. Bos Nico memilih Nona Petra Ral yang pertama. Dan bos.. sangat terobsesi ingin membunuhmu."


Levi berdecak pelan. Nyatanya, masih banyak orang yang membenci dirinya. Namun, ia memaklumi hal itu karena dulu ia adalah preman berandalan di distrik bawah tanah. Wajar bila ia mempunyai banyak musuh.


"Oi babi, dengarkan aku baik-baik," Levi menepuk-nepuk pipi Nial.


"Jika kau ingin hidup layak, berikanlah dirimu hal yang baik sebelum terlambat. Di dunia ini.. manusia pasti diperbudak oleh sesuatu. Tapi, jadilah budak dari sesuatu yang baik.." Levi memalingkan wajahnya dan berkata meskipun pelan, ".. sama sepertiku."


Nial terkejut mendengar perkataan Levi, terutama kalimat terakhir yang sempat terjeda. Namun, wanita itu enggan mengetahuinya lebih dalam. Pikirnya, itu bukanlah urusannya.


"Dan.. memakmurkan hidup? Tch! Tugas kami membasmi Titan, bukan memakmurkan para babi seperti kalian."


Eld meringis mendengar ucapan kejam kaptennya yang sangat sangat to the point itu. Ia bisa melihat Nial memasang wajah jengkel dan kesal.


"Kenapa.. kalian mau menjadi Survey Corps?" tanya Nial tiba-tiba.


"Hah? Pertanyaan macam apa itu?" Levi meringis pelan mendengar pertanyaan itu.


"Hanya orang bodoh saja yang mau menjadi 'orang yang cepat mati'. Mungkin lebih tepatnya, kami menerima takdir. Yah, meskipun ada juga yang sukarela menjadi Survey Corps," celetuk Eld menambahkan kalimat menggantung kaptennya.


Nial langsung tertawa mendengar jawaban dari kedua pria dihadapannya itu, "Ya ya, sepertinya itu terlihat dari raut wajah kalian. Dan.. tak kusangka bocah sepertimu sudah diangkat menjadi seorang kapten. Kemampuanmu pasti tidak main-main."


Levi menatap sinis ke arah Nial sejenak lalu memalingkan tubuhnya hendak keluar sel terlebih dahulu, "Ayo, Eld."


Yang merasa ditatap sinis tadi itu langsung menyahut, "Hei! Kenapa kau menatapku seperti itu?"


Dirasa kaptennya sudah melangkah cukup jauh dari sel, Eld langsung angkat bicara, "Jaga omonganmu! Kapten Levi lebih tua darimu."


"Hah? Mau dilihat dari manapun dia masihlah bocah cebol usia 20-an sama sepertiku! Aku tidak mungkin salah menilai!" kilah Nial tidak percaya.


Eld menghela nafas sambil memijat pelipisnya, "Usia kapten 34 tahun."


"EH?!"


...----------------...