Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (10)




...• • •...


Gadis bersurai jahe itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ia teringat sebelumnya ia sempat tak sadarkan diri karena terlalu lemas kekurangan darah. Ia meringis ngilu, sepertinya dibagian kakinya yang membuat ia pun melihatnya perlahan. Tampak juga beberapa luka sayatan di kedua kakinya. Petra menghela nafas pelan. Tidak ada tanda-tanda Nico maupun para anak buahnya.


Sudah berapa lama aku disini? Kapten dan yang lainya sedang apa ya.. apa mereka sedang mencariku sekarang? Aku sangat.. menyedihkan, batin Petra.


Tanpa sadar air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata ambernya. Pikiran Petra kembali menerawang pada kejadian dimana ia terlalu lancang terhadap kaptennya. "Mungkin aku mendapat karma? Maafkan aku, Kapten." Lirih Petra sambil tertawa miris.


Perlahan tapi pasti, kedua telinganya menangkap suara langkah kaki yang mendekat. Beberapa lama kemudian, munculah pria kejam yang sangat Petra benci itu.


"Hai lagi, Nona cantik-lho?" Nico menyadari air muka korban dihadapannya yang tampak habis menangis. Sedangkan korban dihadapannya hanya menatap tajam ke arah Nico.


"Kenapa kau menangis, sayang?" tanya Nico sambil menjulurkan tangannya membelai pipi Petra.


GRAUPP!!


Petra langsung saja menggigit tangan kanan Nico yang baru saja ingin menyentuh pipinya.


"Beraninya kau!" Nico menarik kencang rambut Petra, membuat Petra merintih kesakitan. "Jika satu jam lagi si cebol itu tidak datang, aku takkan segan membunuhmu, lho."


"Jika kau membunuhku.. bukan hanya Pasukan Pengintai.. Pasukan Militer yang lain pun tak akan tinggal diam.. dan organisasi jelekmu ini akan musnah-"


BUGGHH!! DUAAKK!!!


Wajah cantik tak berdosa itu pun kembali dipukul, menghasilkan luka yang lebih banyak lagi.


"Uhuk! Uhuk! Hoeekk!!" Petra langsung muntah darah dibuatnya. Nico mengusap cepat mulut Petra yang berlumuran darah.


"Nial benar. Darahmu.. manis sekali, Nona," ujar Nico sembari menjilatnya sensual.


"Kalian semua.. sangat menjijikkan!"


DUAAKK!!!


Petra terbelalak. Bagian perutnya langsung ditendang begitu saja. Alhasil, darah segar kembali mengalir dari mulutnya.


"Kau ingin tahu alasan mengapa aku ingin menghancurkan regu kalian, hm?" tanya Nico sambil mengelus lembut pipi Petra. Tapi kali ini Petra tidak mampu melawan atau sekedar menepisnya. Tenaganya sudah terlalu lemah untuk melawan. "Setidaknya kau harus tau semuanya di waktu-waktu terakhirmu."


Petra hanya bisa terdiam lesu. Pandangannya kembali linglung dan sekujur tubuhnya terasa semakin sakit. Kedua manik ambernya mengernyit ngilu dan enggan untuk menatap pria bengis dihadapannya.


"Alasan pertama, kami.. para mafia sangat membenci Recon Corps. Kalian semua hanyalah bualan! Kalian nyatanya tidak pernah memakmurkan kami. Semua pidato komandan bodohmu itu hanyalah sumpah palsu! Alasan kedua, squad kalian sangat menyusahkan kami! Terutama si cebol jelek itu! Dan.. Alasan ketiga," Nico mendekatkan wajah liciknya ke telinga kiri Petra sembari berbisik, "Aku memang ingin membunuhnya sejak dulu."


Petra tersenyum miris mendengarnya. Ia mungkin mengerti mengapa Kapten Levi dijuluki 'Manusia Terkuat'. Kaptennya pasti telah melalui banyak rintangan dan menghadapi banyak musuh yang membenci dirinya, seperti Nico. "Ternyata.. kau orang yang selalu membawa perasaan ya. Lemah sekali mentalmu-"


Petra memotong perkataannya lantaran Nico tiba-tiba mengeluarkan pisau miliknya dan menodongkannya tepat didepan wajah Petra.


"Ckckck, Revan.. adikmu yang malang.."


Mata Petra seketika membulat ketika pria itu menyebut-nyebut nama adiknya. "Apa-APA YANG KAU TAHU TENTANG ADIKKU?!"


Nico tertawa licik. "Lihatlah, seorang kakak yang sepertinya tidak tahu apa-apa tentang.. apa yang terjadi pada adik tersayangnya."


"BRENGSEK! SIALAN KAU! KATAKAN PADAKU SEKARANG!!" teriak Petra dengan mata berkaca-kaca, tak peduli lagi dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Amarah telah menguasai dirinya.


"Aku tidak akan mengatakannya dengan mudah." Nico menggelengkan kepalanya. "Ah! Kecuali.. kalau kau mau menikah denganku, hm?"


Kedua tangan Petra mengepal keras di belakang kursi. "KUSUMPAHI KAU SEUMUR HIDUP! AKU-"


JRAASSHH!!


Petra bisa merasakan darah yang mulai merembes dan mengalir di bagian perutnya. Tubuhnya gemetar. Nafasnya terengah-engah.


Pandangannya mulai mengabur. Dadanya terasa sesak dan sakit sehingga membuatnya sulit untuk sekedar bernafas.


"Kau tenang saja. Aku tidak langsung menusuk organ vitalmu, kok."


Samar-samar Petra masih bisa melihat wajah licik Nico dihadapannya sebelum semuanya kembali gelap.


...• • •...


Levi dan yang lainnya berhasil menyeberangi Sungai Azu dan sekarang mereka tengah bersembunyi di balik semak-semak, memperhatikan pergerakan para anak buah yang sedang berjaga di pintu masuk markas mereka.


"Apakah hanya itu pintu masuknya?" bisik Eren sambil menunjuk sebuah tangga menuju bawah tanah.


"Sepertinya begitu," jawab Oluo.


Gunther menginterupsi, "Kapten, ada yang datang.."


"Waspadalah.." titah Levi pelan. Kemudian diikuti dengan semuanya yang langsung bersiaga.


Semakin dekat.. dekat..


"Yo, Levi!"


"Tch! Kacamata sialan," keluh Levi.


"Eren.."


"Mikasa? Armin juga?" Eren terkejut dengan kehadiran dua sahabatnya itu.


"Kau baik-baik saja?" tanya Mikasa langsung saja.


"Eren, bagaimana kabarmu?" tanya Armin juga.


"Aku baik-baik saja. Syukurlah, kalian juga baik-baik saja." jawab Eren yang membuat Mikasa dan Armin tersenyum.


"Eren, jika si cebol itu berani melukaimu, aku tidak akan tinggal diam," ujar Mikasa pelan dengan penuh penekanan disertai tatapan deathglare nya.


"Oi, kau ini apa-apaan sih? Jangan berani menantang Kapten." Eren memperingati sambil sesekali melirik ke arah kaptennya. Beruntung Kapten Levi sedang berfokus pada Ketua Hanji.


"Hanji, harusnya regumu berada di base. Dan kenapa kau membawa dua bocah ini?"


"Bukankah Erwin sudah bilang kalau dia ingin mengirim bantuan?" Hanji malah balik bertanya.


Levi memijat pelipisnya. "Haahh, jadi ini bantuannya.."


"Kau tenang saja. Regu Mike yang mengambil alih base." tutur Hanji yang membuat Levi hanya mengangguk tanda mengiyakan.


"Oi, Arlert. Apa kau punya rencana?"


"I-iya, Kapten!" Armin terlonjak mendengar pertanyaan dari Kapten Levi yang mengarah padanya. "Sebenarnya saya punya rencana.."


Semuanya pun langsung berkumpul mengelilingi Armin. "Mungkin saya, Eren, dan Mikasa akan menyergap para penjaga yang ada di luar. Lalu, tim Ketua Hanji bisa masuk ke dalam markas dan menyelidiki keseluruhan. Tim Kapten Levi langsung mencari keberadaan Petra-san dan menyelamatkannya."


"Tidak tidak, terlalu berisiko jika hanya kalian bertiga yang menyergap penjaga luar karena mereka tidak sedikit. Nifa, Gunther, kalian bantu mereka bertiga mengamankan situasi di luar. Aku dan sisa timku akan menyelidiki markas mereka," perintah Hanji.


"Siap laksanakan, Ketua!"


"Eld, Oluo, kalian berdua ikut aku!" titah Levi.


"Siap, Kapten!"


...----------------...