Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (30)



Tidak semua beban itu buruk..


Kita yang justru membuat suatu hal menjadi beban..


Dan menganggap semua itu menjadi buruk..


Ayahmu.. telah dihipnotis..


Adikmu.. dijadikan taruhan oleh mereka..


Saat itulah.. mereka membunuh adikmu..


"Haahh!!" Petra terbangun dengan bermandikan keringat dingin. Nafasnya menderu seperti habis berlari beribu langkah.


Kumpulan kalimat itu.. terus terngiang dibenaknya, membuat gadis itu merasakan sakit di kepalanya. Bagaimana tidak? Terbangun dari tidur dengan cara seperti itu sangat buruk.


Segera saja ia menepuk-nepuk kepalanya dan mengelus pelan dadanya sembari berkata, "Tenanglah, Petra.. tenang.."


Petra memegang dahinya sejenak. Suhu tubuhnya sudah lebih baik. Untungnya tidak separah semalam. Ya, gadis itu mengalami demam sepulangnya dari gubuk kemarin. Namun, ia sudah memutuskan untuk tidak pulang ke rumahnya dan memilih sewa penginapan, sementara ini. Ia perlu memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Baginya, mengembalikan pikiran jernihnya dan menjauh dari sang ayah adalah pilihan yang tepat.


Sinar matahari yang menembus celah jendela kamar bercat pastel dengan ukuran 3 × 4 meter itu membuat si penghuni seakan tertarik untuk mendekatinya. Ia putuskan untuk membuka jendela itu lebar-lebar. Tampaklah hiruk pikuk warga sekitar yang sudah beraktivitas di pagi hari. Ada yang sedang menjemur pakaian, bersiap untuk berdagang, jalan santai, serta para bocah belum berumur yang berlarian kesana-kemari.


Gadis itu selalu bersyukur masih bisa melihat suasana keseharian di dalam tembok ini. Benar, bahagia itu sederhana. Hanya hal seperti ini yang ia rindukan saat menjalani misi diluar tembok.


Dilanjutkan dengan dirinya yang memandang langit cerah nan biru, tak lupa ditemani sekumpulan awan putih. Angin pagi yang sejuk pun turut membelai wajah cantiknya. Kedua netra itu terpejam sesaat sembari menghirup dalam-dalam segarnya udara.


"Apa.. nanti aku bisa menerima semua alasan dari Ayah? Apa aku akan siap?"


...• • •...


Petra berjalan menuju asrama Survey Corps. Walaupun hari libur, Petra tetap tidak bisa untuk tidak beraktivitas barang sehari. Gadis itu memilih untuk mengunjungi Nanaba, si gadis berambut landak.


Jika mengingat sejarah awal mula pertemanan mereka, itu hanya sebatas pertemuan biasa semasa pelatihan kadet. Mereka dalam tim yang sama saat misi berkelompok. Dan entah kenapa mereka pun jadi akrab. Berbagai topik selalu mereka bicarakan, seakan tak ada habisnya.


Ah, mengingat rentetan memori itu membuatnya tak sadar bahwa dirinya telah sampai di kamar 202, berjarak dua kamar dari ujung koridor Barat asrama. Sepintas ia mendengar keramaian dari dalam. Namun, jika diperkirakan keramaian itu hanya berasal dari dua sampai tiga orang saja.


Diketuknya pintu itu perlahan, sampai terdengar balasan yang menyuruhnya untuk menunggu sebentar. Tak beberapa lama munculah perawakan Nanaba dengan rambutnya yang sedikit berantakan, tersenyum sumringah kearahnya.


"Oh! Kau rupanya, Petra!"


Petra langsung menangkup wajah Nanaba, membuat gadis berambut blonde itu terkejut.


"Kau ini habis ngapain sih?"


"Ahahahaha!! Itu.. aku sedang main gebuk bantal bersama Nifa."


"Gebuk bantal? Oh, ada Nifa juga?"


"Hai, Petra! Sini gabung dengan kami!"


Nifa melambaikan tangannya kearah Petra, dibalas senyuman lebar oleh yang dilambai.


"Ayo! Tidak mungkin kan kau datang kesini hanya ingin mengetuk pintuku?"


Ditariknya tangan itu ke dalam dan.. waktu para gadis bercengkrama pun dimulai kembali.


...• • •...


Netra coklat tua berlapis kacamata itu sedaritadi terus menatap entitas pria cebol disampingnya. Menurutnya ada yang berbeda dengannya hari ini.


Pertama, tak biasanya ia menundukkan kepalanya dalam waktu lama dengan wajah dan tatapan lesu.


Lesu.


Lesu yang sangat berbeda dari 'tanpa energi' atau 'malas' seperti biasa.


Biasanya safir kelam itu paling gemar menatap datar kearah objek atau subjek yang menarik perhatiannya, atau lawan bicaranya.


Kedua, ia tak banyak menanggapi, atau sekedar mengeluarkan decakan dan kata-kata makian khasnya. Padahal pria berpangkat komandan dihadapan mereka sedang mengoceh penting perihal persiapan rapat ekspedisi.


"Levi, kau baik-baik saja?"


Kalimat tanya itu bukan berasal darinya, melainkan langsung dari Erwin.


Ternyata Erwin juga menyadarinya, batin Hanji.


"Hah?"


"Aku lihat kau beda sekali hari ini," ungkap Hanji pada akhirnya.


"Tch! Lanjutkan saja pembahasannya."


"Tidak tidak. Tunggu sebentar, Erwin." Hanji menatap lamat-lamat wajah Levi dan kemudian wanita itu terkejut.


BRUGHH!!


"HANJI! KAU-"


Belum sempat Levi mengeluarkan emosinya karena secara tiba-tiba ia didorong ke dinding di belakangnya, Hanji sudah lebih dulu memegang dahinya.


"Kau demam."


Levi kembali membalas Hanji dengan menarik kerahnya dan mendorongnya ke dinding, diiringi dengan tatapan membunuhnya. Erwin yang melihat itu hanya bisa menghela nafas.


"Akan kubunuh kau bersama para Titan bodoh diluar sana!"


"Iya iya maafkan aku, Levi! Aku tidak akan mengulanginya! Aku janji!"


Levi akhirnya melepas cengkramannya dengan kasar. Dan beberapa saat kemudian terdengar tawa menggelegar milik Hanji. Wanita itu benar-benar tidak punya rasa takut.


"Bagaimana, Erwin? Kau terkejut kan?"


"Sayangnya tidak."


Jawaban itu sontak membuat Hanji merengut kesal dengan mulut cemberutnya. "Kau ini tidak asik!"


"Levi, lebih baik kau beristirahat hari ini," titah Erwin.


"Oi, kenapa aku harus melakukannya? Buang waktu saja."


Pria blonde itu kembali mengalihkan atensi seriusnya kepada Levi. "Aku menyuruhmu untuk beristirahat. Tidak ada penolakan."


"Nah, kau sudah dengar kan? Sekarang kembali ke kamarmu! Tidur yang manis, oke!"


Hanji menyeret paksa tubuh Levi keluar ruangan. Namun, kali ini Levi tidak bisa melawannya karena memang benar tubuhnya semakin lemas saja, seakan balasan yang sebelumnya menjadi energi terakhirnya.


Tepat setelah ia diseret keluar bak seorang anak yang diusir dari rumah, suara helaan nafas kembali terdengar dari pria itu, sembari dirinya memegang dahinya sendiri.


"Apa-apaan ini?"


...• • •...


"Ha! Akhirnya giliran kau, Petra!"


"Iya iya! Pertanyaan atau tantangan?"


"Nifa, kau mau pertanyaan atau tantangan untuk Petra?" Nanaba menyikut Nifa.


"Kalau aku pertanyaan, deh. Aku sedang baik hari ini."


Nanaba melenguh pelan. Niatnya ingin menjahili Petra dengan tantangan musnah seketika. "Yah, baiklah. Aku ikut Nifa saja. Tapi, pertanyaannya dariku!"


"Jangan yang aneh, rambut landak!"


"Diam kau, bocah jahe!"


"Pertanyaannya sederhana. Tolong jawab dengan jujur sekarang. Apa kau menyukai si cebol itu?"


Petra yang mendengar itu sontak memerah wajahnya. "Hei! Aku tidak menyinggung hubunganmu dengan Mike ya tadi!"


Nanaba menggelengkan kepalanya. "Itu kan kau. Sekarang giliranku, hahaha!"


"Padahal tadi kau boleh bertanya apa saja, Petra. Termasuk.. topik dia dengan si tukang endus itu," cibir Nifa.


Terciptalah suasana hening beberapa saat, hingga terdengar suara helaan nafas pelan dari gadis hazel itu. Ia merasa bahwa sudah saatnya untuk jujur sekarang.


"Iya, aku menyukainya," pungkas Petra pelan sambil mengulum senyum.


"Hoo! Sudah kuduga kau ini memang tidak bisa bohong pada perasaanmu sendiri."


"Aku penasaran. Bagaimana bisa?" tanya Nifa dengan nada yang seperti berbisik.


Petra tersenyum simpul. "Aku juga tidak tau. Hanya.. timbul perasaan dimana aku ingin selalu menolong dan melindunginya. Aku ingin selalu bersamanya, seakan itu sudah menjadi impian dan tujuan hidupku. Apakah.. itu terlalu egois? Apa itu salah?"


"Itu tidak salah. Tidak ada yang bisa menyalahkan itu. Kalau itu keinginanmu maka lakukanlah." Nifa tersenyum lembut menanggapinya.


"Itu bukan egois, Petra, melainkan tulus. Aku bingung kenapa kau mau melakukan semua hal baik itu untuk manusia sepertinya. Pasti kau telah mendapat hidayah ya? Atau kau diutus oleh Tuhan sebagai malaikat penjaganya?"


Petra langsung tertawa mendengar ucapan Nanaba. "Kalau sudah begini kau bisa cerewet juga ya. Penampilanmu itu menipu, hahaha!"


"Kau ini!" Nanaba memalingkan wajahnya yang mungkin sudah memerah menahan malu.


Petra terdiam sejenak sebelum akhirnya dirinya kembali berbicara.


"Nanaba.. Nifa.."


"Hm?" Sahut keduanya.


"Apa.. menghindar dari suatu masalah itu baik?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau sedang ada masalah?"


"Tidak, Nanaba. Aku.. hanya ingin bertanya saja." Petra menundukkan wajahnya sembari menautkan kedua tangannya.


"Menghindar bukanlah solusi yang baik, tapi terkadang kita boleh melakukannya untuk menenangkan diri dan memperbaiki yang seharusnya," jawab Nanaba sembari tersenyum kecil.


Dia benar. Aku harus menenangkan pikiranku. Apapun yang terjadi nanti aku harus siap menerimanya..


"Bahkan, aku pernah menghindar karena takut terkena amukan Hanji-san. Aku tak sengaja menghancurkan barang eksperimennya. Kalian tau? Aku malah berkata padanya kalau Moblit pelakunya. Jadi, dia yang diomeli habis-habisan."


Sontak mereka bertiga menggelak tawa mendengar pengakuan itu, apalagi Nifa yang tertawa puas seakan tak punya dosa..


Poor Moblit :"(


...• • •...


Secangkir teh tawar hangat masihlah utuh kadarnya karena si pria yang membuat sekaligus penikmatnya pun belum bersedia menyentuhnya. Mungkin dia akan menyesapnya saat sudah mendingin?


Ah, tapi dia bukanlah tipe seperti itu.


Justru dia adalah tipe orang yang menikmati teh selagi hangat, dengan kata lain penggila teh hangat. Apalagi dirinya sangat menggemari teh buatan tangan terampil milik Petra.


Disaat seperti ini ia malah teringat gadis itu. Aneh sekali. Apa ini karena efek dari rasa sakit di kepalanya?


Pria itu menyandarkan tubuh lemasnya perlahan. Sekarang ia merasa serbasalah. Ketika dirinya menundukkan kepala, rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Begitu pula ketika ia mendongak, seakan pandangannya terus berputar.


Dan berakhir ia menetap pada posisi khasnya. Kepala tetap tegak dengan mata terpejam sembari melipat kedua tangannya.


Saat itu juga, seorang Levi pun kehilangan selera meminum teh.


...• • •...


Jujur..


Entah kenapa Petra merasa sangat lega setelah jujur tentang perasaannya kepada kedua temannya itu. Yah, dia hanya berharap semoga mereka tidak menyebar rumor aneh tentang dirinya dengan sang kapten.


Sembari berjalan keluar meninggalkan asrama, Petra jadi teringat akan sosok pria itu yang akhir-akhir ini selalu membuatnya berdebar.


Kira-kira apa yang sedang kaptennya  lakukan sekarang? Mungkin sedang bertarung dengan tumpukan kertas lagi sembari menyeruput teh?


"Apa aku mengunjunginya saja ya? Tidak tidak, nanti malah aku akan kena omelan 'Ini hari libur kenapa kau malah kesini?!', hufftt.."


Terkadang rasa bosan itu berbahaya. Bahkan, manusia bisa mati kebosanan bukan?


"Nanti.. dia akan berpikir bahwa aku hanya pengganggu. Sudahlah, lebih baik aku pu-"


"Petra!"


Gadis hazel itu hafal betul dengan suara itu. Suara yang sempat ia abaikan kemarin. Dan tiba-tiba saja rasa bersalah kembali menghantuinya.


"S-selamat siang, Hanji-san.."


"Kenapa kau ada disini? Bukankah squadmu harusnya libur?"


"Itu.. karena bosan hari ini aku berkumpul bersama Nanaba dan Nifa," jawab Petra terkekeh pelan.


"Wah, begitu ya. Iya, setauku squad Mike juga sedang libur hari ini."


"Hanji-san.. mengenai kemarin.."


"Hm?"


"A-aku minta maaf. Seharusnya aku tidak bersikap seperti itu kepadamu."


"Tidak apa-apa, Petra. Rasanya aku mengerti kenapa kau seperti itu. Itu masalah pribadimu. Aku tidak ingin ikut campur. Tapi.."


Petra menoleh perlahan, mendapati wanita kacamata itu sedang tersenyum lembut kearahnya.


".. kalau kau butuh bantuan, jangan lupa bilang ya. Entah kenapa aku hanya mengkhawatirkanmu. Dasar, aku ini memang-"


Hanji spontan terkejut melihat pemandangan dihadapannya.


"Petra, kenapa kau menangis?"


Petra pun seketika tersadar dan langsung terburu-buru menghapus air matanya. "A-aku.. aku juga tidak tau kenapa aku menangis."


Hanji langsung menghambur kearah Petra, memeluknya erat, dan mengusap-usap kecil punggung gadis itu.


"Tidak apa-apa.."


Bulir-bulir bening kembali mengalir begitu saja. Gadis itu kembali terisak pelan. Kalau diingat lagi, sudah dua kali dirinya tidak bisa mengendalikan emosi tangisnya. Pertama, dengan kaptennya saat itu. Kedua, sekarang bersama Hanji.


Apakah dua orang ini punya magic atau semacamnya? Kalau sudah begini mereka sungguh jauh dari julukan kejam.


"Terimakasih, Hanji-san. Aku merasa lebih baik hari ini. Rasanya aku akan menjadi kuat lagi," ucap Petra dengan senyuman tulus.


"Hahaha! Syukurlah kalau begitu. Bagus, kau harus jadi gadis yang kuat ya! Jangan seperti Levi."


Petra mengernyit, sedikit bingung dengan maksud perkataan wanita kacamata ini. Apakah dia bermaksud untuk bergurau mengatai kaptennya lemah atau bagaimana? Gadis itu pun memutuskan untuk melontarkan pertanyaan dibanding timbul kesalahpahaman nantinya.


"Maaf.. apa maksudmu, Hanji-san?"


"Oh, kau tidak tau ya? Levi mengalami demam."


"Eh?"


...--------------------...