![Always Be With U [Levi X Petra]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/always-be-with-u--levi-x-petra-.webp)
...• • •...
Sampailah mereka di sebuah rumah yang bersampingan dengan toko kelontong kecil di Distrik Krolva. Mereka menduga sepertinya toko itu milik wanita itu.
"Kakek, aku pulang!"
Tampak seorang pria tua memakai tongkat jalan menghampiri mereka dari arah toko.
"Maira! Kau ini darimana saja? Kau tau aku khawatir padamu! Dasar cucu keras kepala!" Pria tua yang diketahui merupakan kakek dari Maira itu menyambut dengan wajah kesal namun khawatir namun senang.
"Kakek juga, sudah kubilang berapa kali biar aku yang menjaga tokonya! Kau tau kan kondisi pinggangmu sendiri. Haahh, dasar pak tua."
"Maira! Kau masih muda, jangan durhaka! Kau mau aku cepat mati?"
Maira menghela nafas lelah sambil berlalu menuju dapur. "Iya iya, maaf."
"Hoo, kau membawa tamu rupanya." Kakek Maira memperhatikan dengan seksama penampilan Levi dan yang lain. "Pasukan Pengintai, kah?
Levi dan yang lain mengangguk sopan. Dan tiba-tiba sang kakek langsung menggenggam erat tangan Levi. "Syukurlah, terberkatilah kalian oleh Tuhan. Kalian telah banyak berjasa untuk umat manusia. Aku selalu berdoa agar manusia tangguh seperti kalian menjadi tombak yang kuat hingga akhir hayat."
"Terimakasih.."
"Ayo ayo, duduklah." ucap sang kakek mempersilakan.
Maira kembali sambil membawa senampan cemilan kue. "Oiyaa, perkenalkan nama pak tua ini Celesto. Tapi ingatannya tak sekeren namanya. Ia bahkan suka lupa dengan nama sendiri-ARGH!"
"Maafkan cucuku yang kasar ini," tukas Celesto setelah memukul kepala Maira.
"Maaf ya, kami hanya bisa menghidangkan ini saja. Makanlah. Prajurit harus kuat dan sehat bukan?" ujar Maira sambil tersenyum.
Tanpa menunggu lama Oluo langsung melahapnya. Eren dan Gunther yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Hei, kau ini! Kita kesini untuk apa?" bisik Eld sambil memukul punggung Oluo.
"Tidak baik menolak kudapan, kau tau?" balas Oluo masih dengan tangan yang memegang kue.
Levi yang melihat kelakuan anak buahnya itu kemudian mewakilkan untuk berterimakasih dan minta maaf. "Maaf merepotkan kalian."
"Tidak sama sekali, Nak. Ada keperluan apa sampai kalian datang kesini?"
Levi langsung saja mengeluarkan foto resmi Petra dari sakunya. Sudah seharusnya setiap anggota militer memiliki identitas, terutama untuk para pemimpin kelompok wajib memiliki identitas semua anggotanya, begitu juga Levi sebagai kapten pasukan.
"Kami mencarinya. Ia menghilang sejak semalam. Apa ini sesuai dengan definisimu?"
Celesto dan Maira langsung memperhatikan dengan seksama. "Hmm, aku memang tidak terlalu memperhatikan wajahnya. Tapi aku melihat rambutnya sama seperti milik wanita yang diikat di kursi belakang gerobak kuda."
"Gerobak kuda?"
"Iya, kemarin sekitar pukul 4 pagi, ada sekelompok berjumlah tiga orang sempat mampir ke toko kami karena biarpun kecil kemungkinan pelanggan berkunjung di malam hari, tapi kami ingin membukanya 24 jam. Kebetulan yang berjaga adalah aku." Semuanya tampak antusias mendengar penjelasan dari Maira.
"Mereka mengendarai gerobak kuda. Saat ketiga orang itu turun, mereka seperti sedang menenangkan seorang wanita di bagian belakang gerobak. Aku melihat rambutnya berwarna coklat jahe seperti di foto dan memakai seragam militer seperti kalian tanpa jubah hijau."
"Berarti Petra sempat memberontak tapi tak sempat meminta tolong saat dibawa mereka." kata Oluo menyimpulkan.
"Sayangnya, aku terlambat mengetahui kalau wanita itu adalah seorang korban dan mereka bertiga penjahat. Aku memang sudah punya firasat buruk dari awal dan aku pun bertanya pada mereka apakah ada seseorang di bagian belakang gerobak mereka. Tapi kemudian salah satu dari mereka langsung mencekikku dan memperingatiku untuk tidak ikut campur atau nyawaku taruhannya."
"Maira, kenapa kau tidak bilang ini pada kakek?"
"Tadinya malah aku tidak ingin bilang karena takut membuat kakek cemas, tapi karena ini menyangkut nyawa seseorang aku harus membantu. Maafkan aku. Seharusnya aku langsung menolongnya saat itu."
"Maira-san, kau sudah sangat pemberani," puji Eren.
"Dengan kau mengatakan ini, kau sudah menolong kami dan menolongnya," sambung Gunther.
Maira tersenyum lega mendengarnya.
"Bisakah kau menjelaskan bagaimana ciri-ciri mereka?" tanya Levi.
"Mereka memakai serba hitam. Dua pria berumur sekitar 30-40 tahun keatas dan perempuan berumur sekitar 20 tahun. Pastinya kedua pria itu tidak terlihat seperti dia.." Maira menunjuk Levi, "Tapi.. lebih terlihat seperti dirimu, Tuan." Kemudian Maira menunjuk Oluo, membuat Oluo sontak terkejut.
"APA?!! APA KAU BILANG?!"
Eld dan Gunther langsung tertawa terbahak-bahak, tak peduli lagi dengan imagenya mereka bahkan di depan kaptennya sendiri. Sedangkan Eren tengah berusaha menahan tawa.
"Dasar, memangnya aku terlihat tua?! Asal kau tahu umurku baru 19 tahun!" ujar Oluo membela diri.
"Maira-san.. tapi dia memang lebih muda daripada kapten kami." timpal Eren. Seketika Maira langsung bungkam seribu bahasa.
"Kalian semua.."
Mereka langsung bergidik ngeri melihat tatapan membunuh kapten mereka dan seketika mereka langsung terdiam.
"Astaga, Maira! Kau tidak boleh menilai orang hanya dari penampilannya saja!" ujar Celesto memperingati.
"Ma-maafkan sikapku! Sungguh aku minta maaf!" Maira tertunduk malu.
Celesto tertawa melihat kelakuan para anak muda ini. "Jika boleh menebak, kau adalah si Kapten Levi itu?"
Levi berdecak pelan. "Iya."
Maira sontak langsung menutup mulutnya, kaget. Betapa ia ingin menampar mulutnya setelah sikapnya yang kurang ajar kepada Kapten Levi, salah satu prajurit terkuat yang ia kagumi diam-diam. Ia sering mendengar dari mulut ke mulut bahwa Kapten Levi adalah salah satu prajurit militer yang kekuatannya setara dengan seluruh pasukan. Siapa sangka ternyata Kapten Levi itu seperti ini karena ia tidak pernah melihatnya secara langsung.
Maira! Kau bodoh atau apa sih?! Aduuhh, imageku jadi jelek dihadapannya. Tapi, tak kusangka ternyata Kapten Levi itu ini, batin Maira.
"Hoo, pantas hawamu paling berbeda diantara yang lain," tambah Celesto.
Eren dan yang lain tercengang. Bahkan orang biasa bisa merasakannya juga?!
Levi pun bertanya sebelum topiknya melenceng kemana-mana. "Kami tidak punya banyak waktu. Apa ada petunjuk lain?"
"Oh, ada! Aku sempat mendengar penjahat wanita itu bernama Nial. Aku juga mendengar mereka membicarakan tentang 'ruang bawah tanah' dan 'Petra Ral adalah sasaran yang paling tepat untuk Bos'. Jika kalian ingin mendapat lebih banyak informasi, kebetulan aku punya relasi, namanya Eric. Dia si Serbatahu di daerah ini."
"si Serbatahu?" tanya Eren penasaran.
"Dia memiliki banyak informasi dan relasi baik dengan orang dalam maupun luar. Dia bekerja tidak jauh dari toko kami, di Bar Olzu namanya. Tapi berhati-hatilah. Dia tidak cukup menyenangkan. Kalian akan mengerti sendiri nanti," tukas Maira.
"Baiklah, terimakasih atas informasinya. Kalian sangat membantu kami." Levi dan yang lainnya pun segera pamit.
"Nak.." Celesto memegang bahu Levi. "Kami percaya pada kalian.. untuk kemenangan umat manusia. Berjuanglah."
"Aku mohon keselamatan kalian juga. Dan kuharap rekan kalian baik-baik saja." ujar Maira sambil tersenyum penuh harap.
Terutama keselamatanmu, Kapten Levi, gumam Maira dalam hati.
Levi dan yang lain langsung memberi salute tanda hormat mereka. "Terimakasih."
...• • •...
AAAAARRGGHH!!!!
"Nial, sayatlah dengan rapih!" Daniel menahan tubuh Petra yang terus memberontak.
Nial memutar bola matanya kesal. "Iya iya, cerewet!"
Petra meronta-ronta kesakitan. Lengan kanannya disayat dengan bengisnya.
"Wah, sudah tiga sayatan. Kutambah dua lagi apa bagaimana, Daniel?" tanya Nial sambil menjilat pisau berlumuran darah itu.
Petra menatap tajam dua manusia bengis dihadapannya itu.
"Owh, lihatlah tatapan itu. Nial, tambah dua lagi."
SRETT! SREETT!!
"Aaaaarrgghh!!!" pekik Petra kesakitan. Ia terus berusaha melepaskan diri dari tempat keji itu.
"Apa.. kalian tidak pernah berpikir.. bagaimana jika Recon Corps tidak ada di dunia ini?" tanya Petra lemas.
"Hah? Kau masih bisa bicara?" Nial menarik erat surai Petra. "Kami tidak peduli, Nona. Bagi kami tidak ada yang namanya manusia di dunia ini. Semua sama saja."
Petra tersenyum miris. Ia teringat kepada Eren yang berwujud manusia namun ia juga seorang Titan.
"Di dunia ini.. tidak ada yang bisa kita percaya," lirih Petra.
Darah terus mengalir di lengan kanannya. Nial menjilat darah Petra, membuat Petra meringis sakit.
"Hoo, enak juga! Golongan darahmu A atau B?"
Petra memejamkan matanya perlahan. Aku ini.. tidak berguna ya?
...----------------...