![Always Be With U [Levi X Petra]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/always-be-with-u--levi-x-petra-.webp)
Jalanan tampak sangat sepi karena semua orang pastinya lebih memilih untuk berlindung dan berteduh di dalam rumah.
Berbeda dengan satu manusia bergender wanita ini..
Petra terus menerjang hujan dengan langkah kakinya yang semakin dipercepat pula. Surai jahenya sudah dalam keadaan basah, begitu pula dengan sekujur tubuhnya, seakan jaket yang ia kenakan bagai hilang fungsinya.
Namun, ia menghentikan langkah, memastikan dengan seksama bahwa pendengarannya tidak salah. Ditangkapnya suara langkah kaki selain milik dirinya. Segera ia tolehkan kepala ke semua arah, berharap dapat menemukan sumbernya.
"Mencariku?"
Ia sangat terkejut ketika mulutnya langsung dibekap oleh seorang pria dan tubuhnya diseret ke sebuah gang kecil dan sepi didekat sana. Tentu saja ia tak berhenti meronta untuk melawan tenaga pria itu. Petra bisa menyimpulkan tenaga orang ini bukan main, meskipun perawakan tubuhnya tidak terlalu besar.
Didorong tubuhnya hingga jatuh ke tanah, membuat sekujur pakaiannya seketika berlumuran lumpur. Begitu mata hazelnya melihat ke segala arah, ada empat orang berjubah hitam termasuk pria tadi telah mengepungnya. Petra berpikir bahwa tidak mudah untuk melarikan diri, terlebih melawan di tempat sempit seperti ini.
"Siapa kalian?!"
Salah seorang pria akhirnya menunjukkan identitasnya langsung. Pria itu memiliki surai hitam bro flow dengan wajah yang dipenuhi luka goresan.
"Akhirnya.. aku bisa melihat hadiahku dari dekat.."
"Apa maksudmu?!"
"Benar! Kau adalah hadiah terbesarku. Aku hanya ingin menyapamu sebentar sebelum kau.. akan kubawa nanti."
Petra benar-benar tidak mengerti maksud perkataan pria ini. Entah kenapa tubuhnya semakin gemetar. Ingatan penyiksaan dari Nico waktu itu kembali menghantui pikirannya.
Yang ia inginkan sekarang hanyalah melarikan diri. Situasi dan suasana ini lebih menakutkan baginya.
Hingga rasa takut semakin bertambah ketika pria itu memberi perintah kepada tiga orang lain untuk menahan tubuh kecilnya yang tak sebanding dengan mereka.
Spontan Petra langsung menendang salah satunya, membuat orang itu terkena dinding gang di belakang. Namun, itu tak berhasil membuat mereka mengalah. Kedua tangannya berhasil dipegang dengan erat.
"Kalian mau apa?!!" teriak Petra dengan air mata yang sudah mengalir. Dengan cepat mulutnya ditutup oleh tangan pria dihadapannya. Pun dia menahan kedua kaki Petra dan menangkup erat wajahnya.
"Syuuuttt.. kalau kau tidak berteriak aku akan melepaskanmu kok," ucapnya sembari mengusap pelan wajah Petra, "Jangan menangis, Sayang."
Pria itu mengeluarkan pisau dan mendekatkannya ke wajah Petra.
"Apa yang kau lakukan?"
"Hmm.. aku ingin memberi tanda di tubuhmu. Artinya kau sudah menjadi milikku," Pria itu memainkan pisaunya, "Kuberi tanda dimana ya?"
"Tidak.. tidak! Lepaskan aku kumohon!" jerit Petra dengan nafas terengah-engah sembari memberontak.
Begitu pria itu mulai menempelkan ujung pisau pada wajah kanannya, Petra semakin memberontak. Dengan cepat wajahnya kembali dicengkram kuat oleh tangan jahat itu.
SREETT..
"Aarghh!!!"
Wajah cantik gadis jahe itu berhasil mendapat satu goresan panjang dari dekat telinga ke arah mulut. Darah pun mulai mengalir dari bekas luka garis itu. Lidah pria itu memainkan lukanya dan menjilati darahnya sembari tertawa senang.
"Lihat? Bentuk tandanya sama sepertiku bukan?"
"Kenapa kau melakukan ini? Apa aku bahkan mengenali kalian?!"
Pria itu kemudian tertawa cukup kencang, "Kau akan lebih mengenalku nanti. Tapi, tentu saja aku tau tentang dirimu, Petra Rall.."
Gadis itu tersentak membulatkan mata. Kenapa bisa orang-orang ini mengenalnya? Siapa sebenarnya mereka?
Tiba-tiba pria itu mencekik erat leher Petra dan membisikkan sesuatu, "Mereka akan menjadikanmu tebusan setelah pak tua bodoh itu, tapi kau terlalu berharga. Makanya.. aku membelimu."
Membeliku? Tebusan?
Sedetik kemudian Petra sangat terkejut ketika bibir pria itu langsung meraup bibirnya. Dengan liar organ itu menjelajah, membuat gadis itu semakin menangis. Tubuhnya berusaha untuk melepas, namun tenaganya tak cukup untuk melawan ketiga orang yang menahannya. Ia tidak bisa memalingkan wajah guna melepas ciuman itu karena cengkraman yang begitu kuat. Yang bisa ia lakukan hanya menangis menerima perlakuan itu.
"Wah, rasanya manis sekali," Pria itu mengusap bibirnya sendiri, "Barangku begitu sempurna.."
Setelah tubuhnya dilepas, Petra langsung menjauhkan diri dari keempat manusia jahat itu. Nafasnya sungguh tak beraturan.
"Jangan jadi barang yang mengecewakanku, Nona." Pria itu tersenyum miring lalu menitah semua anak buahnya untuk pergi dari sana.
Sontak gadis itu langsung menutup mulut dan memukul-mukul dadanya. "Hoeekk!! Uhuk! Uhuk!"
Petra memuntahkan yang ingin dikeluarkannya sedaritadi. Seluruh tubuhnya masih gemetar ketakutan. Kedua tangannya menangkup wajahnya dan..
Gadis itu.. menangis hebat..
Betapa dirinya merasa sangat buruk akibat perlakuan tak senonoh tadi. Pikiran yang bercampur aduk, semua rentetan kejadian terekam dengan jelas di benaknya.
Semua hal terjadi begitu cepat.
Bolehkah ia berharap yang lebih baik?
Apakah dunia punya balasannya?
Atau.. haruskah ia yang membalasnya?
...• • •...
Sang kepala keluarga Rall kini tengah duduk termenung. Tatapan netranya begitu lirih dan kosong. Benaknya sedang memikirkan perkataan sekaligus peringatan yang diucapkan orang itu.
1 jam yang lalu..
DUAARR!!
Tuan Rall dibuat terkejut sehingga membuat tubuhnya langsung meringkuk dan menunduk dengan gemetar. Kepalanya perlahan menoleh, mendapati satu peluru hampir saja mengenainya. Sepertinya sang pelaku sengaja memelesetkan tembakan.
"Tiga hari lagi.. kami akan membawamu. Jika tidak, putrimu yang akan membayarnya."
Tangan berlapiskan sarung kulit warna hitam milik pelaku dengan bangga menodongkan pistolnya tepat di atas kepala Tuan Rall.
"Jangan pernah usik putriku. Dia tidak ada hubungannya dengan ini," peringat Tuan Rall.
"Kau tidak berhak untuk meminta," Sang pelaku perlahan mendekatkan wajah kejinya sembari berbisik, "Tepati saja peranmu."
Bulir-bulir bening mulai mengalir perlahan dari wajah yang mulai keriput itu. Dadanya terasa sesak karena mengingat semua kebodohannya. Tanpa sadar tangannya mengepal keras hingga buku-buku kukunya memutih.
"Mereka tidak boleh menyentuh Petra sedikitpun.."
CKLEK!!
Suara pintu yang dibuka cukup keras membuat Tuan Rall tersentak kaget. Terlebih ketika sosok yang berdiri di ambang pintu itu adalah putrinya yang dalam kondisi basah kuyup dan pakaiannya berlumuran lumpur. Wajahnya terlihat kelelahan dengan nafas yang naik-turun.
"Petra-"
"Kenapa.. hahh.. hahh.. kau tidak mengunci pintunya?"
"A-aku sengaja tidak menguncinya karena.. kau belum pulang," jawab Tuan Rall sedikit gugup. Ditambah matanya yang sedikit sembap akibat menangis. Ia takut Petra akan menyadarinya.
Syukurlah, Ayah baik-baik saja..
Petra tetap memasang wajah biasanya sambil memantapkan langkah untuk pergi dari hadapan sang ayah. Namun, langkahnya tertatih hingga membuat Tuan Rall pun menyadarinya.
"Kenapa kau pulang dalam keadaan begini?" Tuan Rall mencegah Petra untuk memperhatikan lebih seksama. Netra sayu itu seketika membulat melihat goresan panjang mengerikan dengan darah yang masih mengalir.
"Kenapa wajahmu-"
"Kenapa ada bekas tembakan di dekat makam Ibu?" potong Petra mengalihkan.
Tuan Rall langsung terdiam mendengar pertanyaan itu, sementara putrinya justru menunggu jawaban darinya.
"Apa kau sudah menyadari kesalahanmu lalu kau malah ingin mengakhiri hidup?"
Tuan Rall tersentak. Putrinya ternyata mengambil kesimpulan lain tentang itu. Tuan Rall mengangguk pelan untuk membenarkannya. "Maaf.."
Petra memilih untuk melanjutkan langkahnya, meninggalkan sang ayah yang masih didera rasa khawatir.
"Dia.. bohong lagi.." gumamnya pelan.
Apa itu ancaman dari mereka?
...• • •...
"Mike, penentuan dan penggambaran jalur menuju Shiganshina aku serahkan padamu sebagai penanggung jawab. Diskusikan bersama Nona Rall dan Moblit juga"
Pria yang hobi mengendus itu pun mengangguk paham, "Beri kami waktu tiga hari saja."
"Hanji, Levi, tolong sampaikan kepada mereka berdua," titah Erwin lalu dibalas anggukan mantap oleh Levi dan Hanji.
"Oh iya Erwin, untuk senior dua apakah pelatihannya dipisah lagi seperti sebelumnya?" tanya Hanji.
Erwin berpikir sejenak, "Iya. Tolong bantuannya, Hanji."
"Astaga, tenang saja! Aku tau kau frustrasi karena tekanan para atasan!" Hanji menepuk-nepuk bahu Erwin, "Bersemangatlah Tuan Smith! Jangan seperti rekan cebolmu itu yang tidak punya semangat hidup!"
Levi berdecak pelan, "Mulutmu cerewet sialan."
Wanita bernama belakang Zoe itu malah tertawa terbahak-bahak, seakan merasa bangga telah mengejek rekannya sendiri. Yah, sepertinya dia memang sudah ditakdirkan menjadi seorang yang periang dan heboh, seakan semua hal terasa menyenangkan baginya.
Tanpa mengindahkan tawa tak tau malu dari Hanji, pria dengan surai undercut itu justru memusatkan pikirannya pada gadis yang tadi sempat membuatnya khawatir.
Apa dia baik-baik saja?
...----------------...