![Always Be With U [Levi X Petra]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/always-be-with-u--levi-x-petra-.webp)
Markas Pusat Pasukan Pengintai, Distrik Trost (19.00 pm)
Pria yang menjabat sebagai kapten itu memberikan secarik dokumen kepada sang komandan pasukan pengintai. Di belakangnya terdapat lima manusia yang setia berdiri rapih, sembari menunggu jawaban laporan misi mereka. Lirikan netra sang komandan yang tengah menyapu habis setiap kalimat di kertas itu seakan menyihir mereka semua layaknya sedang menunggu hasil ujian.
"Begitu ya. Laporan kalian cukup baik dengan tingkat keberhasilan sekitar 70%. Hanya ada sedikit masalah tak terduga, yaitu penculikan Nona Rall."
"Komandan Erwin, peristiwa itu terjadi karena kelalaian saya. Anda boleh memberi konsekuensi yang sepadan. Saya sungguh minta maaf," ucap Petra sambil menunduk kecil.
"Tidak. Erwin, aku yang tidak bisa menjaga anggota squadku," suara Levi mengambil alih kemudian. "Kalau kau ingin mengoreksi, koreksi aku."
Erwin menghela nafas sejenak. "Itu bukanlah kesalahan kalian. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi. Justru.. aku yang tidak bisa menjamin keselamatan anggota prajurit."
"S-saya akan berusaha lebih baik lagi dalam pasukan ini. Terimakasih, Komandan! Kapten!" Petra memberi salute hormat.
"Jadi.. bagaimana? Bocah itu belum bisa mengendalikan kekuatan Titan sepenuhnya."
"Baiklah, kita akan mencobanya lagi dalam waktu dekat ini. Kita tetap tidak boleh membiarkan Eren jatuh ketangan polisi militer," tutur Erwin.
Eren yang mendengar itu semakin merasa bersalah. Misi ini seharusnya adalah untuk mengembangkan eksperimen perubahan Titan pada dirinya, demi melindungi umat manusia. Namun hasilnya malah tidak sesuai dengan yang diharapkan.
"M-maafkan saya, Komandan Erwin! Saya janji saya akan mencobanya lagi!"
"Oi bocah, sampai kapan kita harus menunggumu hingga berhasil?" sindir Levi.
"Hal itu tidak mudah. Biarlah kita menunggunya karena semuanya bertahap."
Levi berdecih sambil melipat kedua tangannya, "Kalau Eren gagal lagi, aku akan benar-benar membunuhnya"
Semuanya spontan bergidik ngeri, terutama Eren yang tak sengaja menatap sorot tajam dari kaptennya.
Kapten pasti tidak main-main, gumam Oluo yang ikut merinding.
"Baiklah, untuk saat ini squadmu tidak ada misi di luar dinding. Tapi bersiaplah untuk rapat ekspedisi-57 sebentar lagi. Untuk waktu pastinya belum diketahui karena tergantung keputusan para petinggi."
"Apakah ditunda lagi?"
"Kemungkinan, Levi. Tergantung situasi kondisi."
"Komandan Erwin," Eld menginterupsi. "Apakah tujuan utama ekspedisi nanti adalah.. perebutan Wall Maria?"
"Aku sendiri belum yakin kalau hanya itu tujuan utamanya."
Sontak semuanya mengeryitkan dahi, bingung. Bingung dengan perkataan sang komandan yang selalu menimbulkan kesan menggantung, seakan mereka harus berpikir dua kali dan merenungkannya.
"Oi, buanglah pemikiran anehmu itu. Selalu diluar batas." Entah pria bersurai undercut itu menyindir lagi atau tidak, Erwin memilih untuk tidak menjawabnya.
Bahkan kapten pun bingung dengan arah pemikiran Komandan Erwin. Orang dengan pemikiran kritis memang beda ya, pikir Petra kagum.
"Laporan sudah selesai. Kalian boleh meninggalkan ruangan, kecuali Levi."
"Baik! Terimakasih, Komandan!"
Sepeninggal kelima manusia itu, tersisalah Erwin dan Levi yang tengah bersandar di pintu ruangan.
"Bagaimana perkembangan squadmu secara umum?" tanya Erwin tanpa basa-basi.
"Cukup bagus. Performa mereka meningkat perlahan dan tetap stabil, meskipun aku harus memberikan latihan ekstra kepada mereka."
"Begitu ya. Sepertinya.. aku berencana mengadakan latihan tarung fisik untuk angkatan-99, angkatan squadmu."
Levi menautkan kedua alisnya. "Tarung fisik?"
...• • •...
"Ayah! Aku pulang!"
Hening. Kondisi rumah pun dalam keadaan gelap. Hanya terdengar suara tetesan air dari keran dapur per detiknya dan suara langkah kaki milik gadis hazel itu.
"Pasti Ayah sudah tidur," imbuh Petra terlebih dulu menyimpulkan.
Petra melangkahkan kakinya perlahan menuju lantai dua, pastinya ingin mengunjungi kamar tempat ayahnya berada. Lima jengkal sudah dirinya berjarak dengan pintu kamar itu, namun samar-samar pendengarannya menangkap suara rintihan dari dalam. Langsung saja ia menjatuhkan tas bawaannya dan membuka pintu itu lebar-lebar.
Kedua netranya menangkap sang ayah yang sedang tersungkur di lantai dengan pecahan gelas yang berserakan disampingnya.
"Ayah!"
Dirangkulnya tubuh lemah itu perlahan sambil dibantu untuk berbaring di kasur lagi.
"Petra.. selamat datang sayang.."
Alih-alih membalasnya, gadis hazel itu mengabaikan sambutan itu. Wajahnya tertunduk seolah belum siap untuk memperlihatkan ekspresinya, sembari kedua tangannya berfokus membereskan pecahan gelas itu.
Ajaibnya pria tua itu mengetahui pola nafas putri kesayangannya yang perlahan meningkat, terdengar semakin terisak.
"Kau.. menangis, Nak?"
Petra yang sadar bahwa ayahnya memang begitu cerdas dan peka perlahan mendongakkan wajahnya sambil menarik nafas dan menghembuskannya berkali-kali.
"Ah, aku bahkan tak tau harus berekspresi seperti apa sekarang," lirih Petra menyeka air mata yang terus berjatuhan membasahi pipinya.
"Petra.."
"Aku pulang, Ayah."
"Kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal kalau kau sakit?! Kenapa harus menunggu surat dariku? Kau ingin membuat putrimu ini mati cemas?! Lalu kenapa kau selalu melakukan semuanya sendiri seperti tadi? Kalau terjadi sesuatu denganmu bagaimana?! Ayah keras kepala!!"
Tuan Rall hanya bisa terdiam menerima rentetan omelan putrinya. Ia mengerti Petra pasti begitu mencemaskannya. Dalam hati, ia sangat bersyukur Petra tumbuh menjadi anak yang baik, lembut, dan mandiri. Ia tak lagi khawatir kedepannya jika tau putrinya itu telah tumbuh begitu dewasa, meskipun terkadang masih bersikap seperti seorang bocah.
Mungkin hukum genetika di dunia ini sudah mutlak berkata bahwa sekalipun seorang manusia bertambah usia, sifat kekanakannya pasti masih ada. Makanya tidak ada manusia yang benar-benar menjadi dewasa.
"Hahaha! Kenapa semakin lama.. kau semakin mirip dengan ibumu?"
"Ayah, aku serius!" Petra mendengus kesal.
"Sifatmu itu yang membuatku selalu merindukanmu. Kau selalu mengkhawatirkan orang lain. Kau sudah tumbuh dewasa, Petra."
Petra langsung terdiam, membiarkan kalimat-kalimat lembut itu memasuki pendengarannya. Kalau boleh jujur, ia merindukan sekadar suara berat itu, apalagi jika sang kepala keluarga sudah dalam mode memberikan nasihat. Yeah, walaupun semua anak pasti terkadang jengkel mendengar nasihat orang tua, namun sudah menjadi kewajiban untuk mendengarkannya bukan?
"Sekarang.. apa kau ingin memberitahuku.. kenapa kau bisa sampai seperti ini?" tanya Petra sambil menatap sekujur tubuh ayahnya yang dipenuhi luka.
"Ah, waktu itu aku baru saja selesai bertanam sayuran. Tiba-tiba saja para bandit liar mendatangi Ayah. Mereka langsung membuatku babak belur seperti ini. Mereka memang berniat merampas hasil perkebunan."
Mendengar jawaban itu entah kenapa membuat Petra malah merasa aneh, seakan merasa bahwa itu bukan jawaban yang benar. Padahal tidak terdapat kesalahan pada jawaban itu. Insting dan perasaannya mengatakan ada hal lain. Ia juga memperhatikan gerak-gerik netra hazel legam itu saat menjawab, tampak seperti.. kebingungan?
Namun, dengan segala kegusaran itu, apa yang bisa dirinya lakukan? Sebagai seorang anak ia tetap harus mempercayai ayahnya. Pada akhirnya gadis itu hanya bisa tersenyum, berusaha menepis semua pikiran buruk itu.
"Apa.. Ayah sudah berkata jujur?"
"I-iya, Nak. Untuk apa Ayah berbohong padamu?"
Petra menghela nafas. "Baiklah, aku percaya. Untuk sementara ini kau tidak usah bekerja dulu. Nanti aku akan mendatangi atasanmu. Tolong turuti perkataanku!"
"Iya, Petra, tak perlu memelototi Ayah seperti itu. Kau mau jadi anak durhaka?"
"T-tentu saja tidak mau!"
Tuan Rall terkekeh pelan, "Sudahlah. Lebih baik sekarang kau istirahat. Sudah tengah malam."
"Iya iya aku tau. Oh iya, apakah Bibi Yara dan Nami rutin menjengukmu?"
"Tidak rutin. Hanya diakhir pekan."
"Begitu ya. Sepertinya besok aku akan berkunjung ke rumahnya."
"Bawakan dua bungkus teh herbal hitam kalau kau ingin berkunjung. Ayah membeli sepuluh bungkus. Kebetulan mereka ada pengenalan produk terbaru."
"Wah, aku tak sabar mencobanya. Gerai teh mereka memang yang terbaik."
"Tak salah kita berlangganan disana. Ah, kalau perlu bawakan juga untuk squadmu, terutama Kapten Levi itu. Suatu hari nanti Ayah akan bertemu dengannya. Sebagai pacar-ah bukan, sebagai calon suamimu ia harus memberikan kejelasan hubungan kalian," goda Tuan Rall sambil tersenyum menyeringai.
Petra tertawa renyah, niatnya juga untuk menenangkan ritme jantungnya yang tiba-tiba meningkat. "Ayah! D-dia kaptenku dan.. mungkin selamanya akan seperti itu," cicit Petra di lima kata terakhir.
"Tidak ada yang bisa menebak takdir, Petra."
Petra menundukkan wajahnya. "Memangnya.. aku terlihat berbeda memperlakukannya?"
Tuan Rall menghela nafas, sangat memahami keresahan putrinya. Ia bisa melihat wajah bersemu putrinya meskipun sedang tertunduk malu. Masalah seorang gadis perawan..
"Ayah tidak tau perlakuanmu seperti apa terhadapnya, tetapi apapun itu jujurlah pada hati dan dirimu sendiri. Kalau kau memiliki perasaan kepadanya, jangan halangi itu, Petra."
Kalimat terakhir itu membuat Petra terhenyak.
Bingung. Gadis itu masih bingung dengan perasaannya sendiri.
Apakah perasaanku ini pantas? Benar? Kalau memang begitu, tolong kuatkan hatiku untuk mempertahankannya. Semoga ini tidak apa-apa.
"Sekarang tidurlah! Aku tidak mau putriku berakhir dengan kantung mata tebal dipagi hari!"
"Kalau begitu.. selamat malam, Ayah!" Ucapan itu tak lupa diiringi uluman senyum lebar sebelum gadis itu melangkah keluar kamar.
"Semoga Kapten Levi masuk mimpimu ya!"
Wajah cemberut Petra seketika tertoleh ke belakang, diiringi tawa jahil Tuan Rall yang sukses menggoda putri kesayangannya.
...• • •...
Gemericik air shower perlahan membasuh surai jahe itu hingga seluruh tubuh jenjangnya. Ya, gadis itu memutuskan untuk membersihkan diri sebentar sebelum dirinya beranjak menempati kasur nan empuk yang sedaritadi sudah memanggilnya.
"Ah, akhirnya aku bisa mandi dengan tenang. Mandi di malam hari memang menyegarkan."
Pikirannya kembali rileks, seakan air dingin itu menyihir benaknya untuk bermeditasi.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama karena gadis itu kembali teringat jawaban ayahnya tadi. Pikirannya pun tiba-tiba kembali ke masa dimana sang ibunda dan adik tercinta meninggalkannya. Dan ucapan Nico waktu itu yang sepertinya mengetahui sesuatu tentang adiknya.
Petra menepuk-nepuk dadanya. Nafasnya terengah-engah, padahal semesta tahu gadis itu tidak sedang berlari beribu langkah. Bulir-bulir bening pun kembali mengalir membasahi pipinya, bercampur dengan aliran air. Isak tangis pun terdengar, menemani suara pantulan air shower yang masih senantiasa membasahi satu tubuh itu.
"Kenapa.. aku terus mengingatnya.."
Rasanya hati kecil itu ingin sekali mengikhlaskan semuanya, tetapi otaknya terus menuntut untuk berpikiran lain. Mengingat ucapan pria brengsek bernama belakang Ravelis itu membuatnya frustrasi. Melihat kondisi ayahnya yang seperti itu pun membuatnya merasa harus menyelesaikannya, tidak mau hanya dibiarkan begitu saja.
Salahkah ia seperti itu?
"Aku harus mencari tahu lagi. Tidak cukup dengan jawaban Ayah. Besok.. aku akan mengunjungi si brengsek itu di tahanan. Ya.. harus."
...----------------...