Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (29)




...• • •...


Langkah kaki gadis itu begitu cepat menuju kandang kuda yang letaknya di belakang markas. Sedaritadi ia mengabaikan sapaan dari rekan-rekan prajuritnya, tetapi bukan rekan squadnya tentunya. Ketiga pria itu sudah pulang manis ke rumah masing-masing sejak selesai rapat. Bukannya gadis itu sombong tidak mau menyapa. Hanya ia benar-benar dalam keadaan buruk sekarang. Ia takut wajah berantakan karena menangis sepanjang perjalanan itu terlihat oleh orang-orang.


Segera saja Petra mencari dimana kudanya karena urutan para kuda diatur oleh kepala divisi kebutuhan Survey Corps. Setiap setelah dipakai, urutannya selalu berbeda. Namun, para prajurit diperbolehkan memiliki akses sendiri untuk mengambil kuda mereka, asalkan dirawat dan dijaga. Peraturan itu baru berlaku sejak Erwin menjabat sebagai komandan.


"Petra?"


Gadis itu menangkap suara Hanji yang memanggilnya, jika ditebak pasti sebentar lagi menghampirinya.


Petra langsung saja menaiki kudanya dan melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan Hanji yang tengah memanggil namanya beberapa kali. Pasti wanita itu bingung dengan sikapnya sekarang.


"Petra! Kau mau kemana? Tunggu!"


Sempat Hanji mengejarnya, namun tetap kuda pasti lebih cepat. Alhasil, dirinya pun terengah-engah.


"Kenapa dengannya?.. hah.. hah.. aneh sekali padahal aku sering berolahraga. Tapi.. begini saja capek sekali," keluh Hanji sembari meregangkan pinggangnya ke kanan-kiri.


"Tandanya kau sudah tua."


Sontak ia berteriak karena terkejut. Suara bariton itu milik Levi, sedang menatap datar di belakangnya sembari melipat tangan di depan dada.


"Astaga, Levi! Kalau aku mati terkejut bagaimana?!"


"Bagus. Tidak ada lagi orang aneh yang mau bereksperimen Titan sepertimu."


"Hei! Bersyukurlah karena aku bereksperimen! Kalau tidak Erwin akan stress dan akan berakhir botak seperti.. si Connie itu, ya?"


Levi berdecak. "Aku tidak pernah menghafal nama bodoh mereka."


"Kau ini.. sampai kapan akan bersikap galak dan dingin seperti ini. Bisa-bisa nanti tidak ada yang mau menggali liang kuburmu karena kau begitu menyeramkan semasa hidup. Kau akan menjadi roh gentayangan yang menyesal," goda Hanji sambil terkekeh.


"Aku tak peduli."


"Bercanda! Oh iya, kukira kau kesini ingin menanyaiku kenapa denganku tadi."


Levi terdiam, tidak juga mengiyakan. Namun, Hanji memahami sorot mata itu yang langsung menoleh kearahnya. Ah, berarti si cebol ini ingin tau.


"Petra mengambil kudanya dan pergi begitu saja. Padahal aku memanggilnya beberapa kali. Menurutku.. ia tak seperti biasanya."


"Apa alasannya?"


"Entah, aku tidak tau. Aku juga tidak tau dia pergi kemana," Hanji tampak berpikir sejenak dan kemudian.. dirinya terkejut sendiri. "Mungkinkah.. terjadi sesuatu antara dirinya dengan Nico-"


"Oi! Apa maksudmu?"


Hanji spontan menutup mulutnya.


Dasar bodoh! Kenapa kau malah mengatakannya?! Kau sudah berjanji untuk tutup mulut. Habislah aku ditelan Levi..


Tepat setelah dirinya selesai berbatin ria, Levi menarik kerah bajunya. "Hanji, katakan apa maksudmu barusan."


Wanita kacamata itu menggigit bibirnya gugup. Ia harus meminta maaf pada Petra nanti karena kebodohannya.


"Iya, Petra pergi menemui Nicolas Ravelis atas izinku."


Levi melempar tatapan tajamnya. "Kenapa kau mengizinkannya?!"


"Me-mereka punya urusan pribadi. Aku tidak tau apa itu, tapi aku yakin sangat mendesak. Awalnya aku juga tidak mengizinkan. Tapi, dia memohon sampai berlutut dihadapanku. Petra juga sudah bertekad untuk menyelesaikannya dengan baik dan siap menanggung resikonya. Sebagai korban dia juga pasti sadar akan hal itu. Kalau kau ingin melapor, laporkan aku saja. Itu sudah menjadi tanggung jawabku," jelas Hanji panjang lebar dengan nada tegas.


Levi menurunkan cengkramannya, kemudian ia menghembuskan nafas sembari memijat batang hidungnya.


"Aku yakin pasti terjadi sesuatu setelah ia menemui bajingan itu. Maafkan aku. Itu semua salahku. Laporkan saja kepada Erwin."


"Tch, aku akan mencarinya."


Hanji melongo beberapa saat melihat Levi yang meninggalkannya begitu saja seakan lupa dengan penjelasan panjang kali lebar darinya.


"Hei! Kau tidak jadi melapor?!"


Pria itu memilih untuk abai karena dirinya sudah segera menaiki kuda hitam kesayangannya dan melesat dengan cepat.


"Kalau begitu aku tidak perlu panjang lebar menjelaskan. Haahh sudahlah.. semoga kau menemukan Petra."


...• • •...


Kicauan burung masih senantiasa berdendang ria, meskipun langit dalam keadaan mendung. Hembusan angin yang menimbulkan suara khayal. Aliran sungai jernih yang sungguh menenangkan. Semua itu dapat Petra rasakan dengan jelas.


Ya, gadis itu memutuskan untuk berkuda ke sebuah sungai di arah Barat Distrik Trost, entah apa nama sungai itu. Suatu hal yang berhubungan dengan alam ia sangat menyukainya. Mereka bagai obat penenangnya. Bahkan, gadis itu bisa hobi menetap berjam-jam di tempat yang menurutnya sudah nyaman.


Petra menangkup sekumpulan air dan membasuh wajahnya beberapa kali, turut membiarkan helaian anak rambutnya tertunduk. Pantulan dirinya yang terlihat jelas di permukaan air membuatnya berpikir bahwa ia memang sangat menyedihkan sekarang. Wajah yang memerah dan mata yang begitu bengkak. Ditambah bagian kaki kirinya yang sekarang tengah mengeluarkan darah dengan luka cukup dalam.


Petra sempat tersandung akar pohon besar. Alhasil, kudanya pun menabrak pohon, dan ranting liar tak tau diri itu merobek kulitnya. Namun, apa gunanya menyalahkan benda itu. Toh, manusia seperti dirinyalah yang patut disalahkan.


Tak begitu peduli dengan luka di kakinya, karena itu tak sebanding dengan apa yang hati dan pikirannya rasakan. Kebenaran ini nyatanya jauh lebih menyakitkan. Di satu sisi, ia tidak mau mempercayai sepenuhnya sebelum ia mendengar sendiri dari ayahnya.


Remasan erat di dada kembali ia lakukan, sekarang dengan beberapa pukulan. Begitu sesak, seakan terhambat sekumpulan beban sekaligus. Giginya terkatup rapat seperti menahan sesuatu yang sangat bergejolak.


"Aaaarrgghh!!!"


Satu teriakan pun lolos begitu saja. Teriakan yang sungguh menyiratkan banyak arti. Tangisan diiringi dengan isakan yang memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya. Biarlah bumi ini tau bahwa ada seorang penghuninya yang tengah mengadu pada dunia, betapa dirinya sedang tidak baik-baik saja.


"Aku.. harus bagaimana?" Pertanyaan pertama yang terlintas dalam benak.


Titik-titik hujan perlahan turut menyerbu permukaan bumi, membuat wajah cantik itu seketika menengadah. Bukannya menghindar ataupun berteduh, entah kenapa gadis itu malah nyaman ditemani hujan.


Petra melirik sebentar ke arah kudanya yang terparkir di bawah pohon hijau rindang. Dalam hati ia meminta maaf kepada makhluk tak berdosa itu karena telah membuatnya kehujanan. Mau bagaimanapun dirinyalah yang membawanya kesini.


Direbahkannya tubuh itu. Dibiarkannya rasa dingin menusuk kulit. Gadis itu memeluk dirinya sendiri. Kini air matanya pun tersamar oleh air hujan. Kedua belianya terpejam perlahan.


Hingga..


Ia benar-benar masuk ke alam bawah sadarnya.


...• • •...


Levi berdecak kesal. Sudah hampir sejam ia mencari keberadaan Petra. Pria itu sudah berkeliling ke semua bagian Distrik Trost, hanya tersisa wilayah Barat saja. Hampir saja Levi ingin membiarkannya dan berpikir 'nanti juga dia akan kembali'. Namun, ia berkilah bahwa ini masih menyangkut tanggung jawabnya.


Dengan kecepatan sedang Levi memacu kudanya ke wilayah Barat yang lebih banyak terdapat hutan dan aliran sungai kecil, serta beberapa perkebunan warga. Jarang sekali ada permukiman disitu karena warga lebih memilih untuk tinggal di pusat distrik.


Hujan deras pun telah mengguyur dua tubuh itu sedaritadi. Namun, pria itu tetap tak berhenti untuk menyapu pandang ke segala arah. Sampai di satu titik ia melihat ada seekor kuda putih di bawah pohon hijau besar nan rindang.


Dan..


Seseorang yang nampak sedang terbaring, tak jauh dari situ.


Surai jahe itu, ia sangat mengenalinya.


Benar.. itu Petra, sosok yang ia cari. Kenapa gadis itu malah tidur di tengah derasnya hujan?


"Oi, Petra."


"Petra! Petra!"


Dipanggilnya lagi, diguncang tubuhnya berkali-kali, hingga Levi menyadari bahwa ada yang salah dengan gadis itu.


...• • •...


Netra hazel itu kini tengah mengerjap beberapa kali. Sesekali mengernyit, mencoba melihat semua objek dengan jelas. Pandangan pertamanya berupa atap yang terbuat dari jerami.


Apakah ini sebuah gubuk?


Segera saja si empunya netra menolehkan kepalanya kekanan dan kiri. Betapa terkejutnya ia melihat perawakan yang tak diduga, berdiri membelakanginya, sedang melipat tangan di depan dada sembari menatap derasnya hujan.


"Sudah bangun?"


Satu pertanyaan retoris itu membuat sang gadis langsung mendudukkan dirinya, meskipun kepalanya masih terasa pusing. Dilihatnya tubuhnya dibalut dua lapis jubah Survey Corps. Tapi, meskipun begitu, tubuhnya masihlah terasa menggigil.


"Kapten.. kenapa.. bisa disini?"


"Harusnya aku yang bertanya."


Petra menurunkan pandangannya, walaupun ia tidak sedang dipandang balik oleh sang lawan bicara.


Ia takut. Takut dan belum siap untuk menjawab. Bahkan dirinya saja masih dalam proses mencerna semua hal yang terjadi hari ini.


"Maaf.. pasti aku merepotkan," ucap Petra pada akhirnya.


"Tch, berkat kau aku harus menuntun dua kuda sekaligus."


"M-maaf.." Petra menggigit bibirnya, semakin merasa bersalah saja. "Lalu, kenapa Kapten mencariku?"


"Kenapa kau berani menemuinya?"


Petra sudah menduganya. Ini pasti akan mengarah pada topik 'Petra Rall, seorang korban yang aneh dan tak waras, berani menemui sang pelaku kejahatan yang hampir menghilangkan nyawanya'.


"Apa Hanji-san yang memberitahumu?"


Levi hanya terdiam, sembari melempar delikan tajam dari sudut matanya. Tatapan intimidasi berpredikat sempurna.


"S-sepertinya benar. Ya, aku sudah melanggar aturan. Bukankah Kapten harus bertindak?"


Pria legam itu kembali terdiam beberapa detik sebelum akhirnya ia menjawab, "Aku hanya tidak suka kau bertindak seenaknya. Kau adalah anggota squadku. Urusanmu menyangkutku juga. Sudah seharusnya aku juga bertanggung jawab."


Deg..


Petra terhenyak. Ah, ternyata pria itu benar-benar menganggapnya hanya sebatas anggota squad sampai sejauh ini. Entah kenapa fakta itu membuatnya sedikit kecewa. Aneh bukan?


Tidak. Aku tidak boleh berpikir seperti itu. Kaulah yang aneh, Petra. Mana mungkin Kapten akan menyukaimu? Tidak ada alasan khusus ia harus begitu. Kau beruntung sudah bisa melindunginya..


Gadis itu semakin bisa menyimpulkan bahwa apa yang ia lakukan sekarang mungkin sudah benar. Ia tidak boleh menaruh harapan terlalu tinggi tentang perasaannya.


"Apa.. semua urusan harus diketahui orang lain?"


Mendengar itu, Levi hendak berkata. Sepertinya Petra salah paham mengartikan pernyataannya. Atau mungkin ia yang salah melontarkan maksud kalimatnya.


"Kalau untuk hal ini, iya."


Kali ini Petra memilih untuk diam. Entah kenapa ia tidak ingin memperpanjang topik obrolan. Biasanya ia selalu mencari topik agar bisa lebih lama mengobrol dengan tujuan untuk mengenal pria ini.


Tidak, itu bukan sekedar tujuan. Itu benar-benar hal tulus yang ingin Petra lakukan, termasuk semacam impian. Bisa mengobrol dengan manusia dingin ini barang semenit saja Petra sudah merasa senang.


Beberapa menit tercipta suasana diam diantara dua insan berbeda gender itu, Petra memutuskan untuk beranjak dari duduknya dan menuju ke arah kudanya. Aksinya itu membuat suara sang kapten pun terdengar kembali.


"Kau tidak mau bicara padaku?"


"Maaf.. aku tidak ingin membahasnya. A-aku ingin pulang saja, Kapten."


Levi berdecak, lagi. "Kau bodoh atau apa? Kau mau sakit?"


Petra tetap menaiki kudanya hingga dia akhirnya sukses mengaduh kesakitan. Matanya langsung tertuju pada kaki kirinya. Benar juga, luka itu belum diobati daritadi. Bagaimana bisa dirinya lupa tentang luka itu.


Tak bohong Levi terkejut ketika ikut melihatnya. Pasalnya, ia juga tidak menyadari saat sedang membawa tubuh gadis itu.


"Sejak kapan?"


"Tadi, saat perjalanan kesini. Aku sempat tersandung ranting liar dan itu mengenai kaki kiriku."


"Turun. Biar aku obati," titah Levi sambil mengeluarkan suplai medis kecil dari saku tas kudanya.


"T-tidak perlu, Kapten. Lagipula aku juga membawa suplai medis. Nanti bisa kuobati sendiri sa-"


Tatapan tajam nan lekat dari pria itulah yang membuat Petra seketika menghentikan kalimatnya. Ia pun mau tak mau harus menurutinya.


Gadis itu pun teringat dengan prinsip squadnya, "Perkataan Kapten Levi adalah aturan mutlak". Yeah, prinsip yang mengerikan. Mereka seakan sudah bisa membedakan mana yang termasuk kalimat perintah, hinaan, atau sekedar omongan biasa dari pria cebol itu.


Dengan jarak sedekat ini, Petra bisa mencium aroma khas kaptennya. Aroma tubuh itu.. ia menyukainya, walaupun tak begitu pekat karena berbaur dengan aroma hujan. Tanpa sadar netra hazelnya tak berkedip sedikitpun. Bahkan, dirinya pun seakan lupa rasa sakit akibat lukanya.


"Sudah kuduga.. aku menyukainya.."


"Hah?"


Petra tidak sadar bahwa dirinya bergumam pelan dan ternyata itu sukses terdengar oleh manusia datar dihadapannya.


Betapa ia lupa bahwa pria dihadapannya ini telah hidup lebih lama darinya. Insting dan kepekaannya pasti sudah dalam tingkatan dewa, melihat banyak pengalaman yang sudah dialaminya. Ya, walaupun Petra pun mengakui bahwa kaptennya hanya tidak peka dalam hal 'perasaan'.


"I-itu.. aku menyukai aroma hujan!"


Semoga jawaban itu bisa diterima. Sebenarnya itu tidak sepenuhnya salah karena ia memang menyukai aroma hujan. Hingga ia menangkap sebuah balasan berupa dengungan pelan, reaksi yang cukup melegakan.


"Kapten.."


"Apa?"


Petra sedikit memalingkan wajahnya. "Apa.. kau pernah berharap hidup di dunia ini tanpa ada beban sedikitpun?"


Levi menghentikan kegiatannya sebentar. "Entahlah. Aku tidak berpikir sampai kesitu."


"Lalu, bagaimana pemikiranmu akan hal itu?"


"Tidak semua beban itu buruk. Kita yang justru membuat suatu hal menjadi beban dan menganggap semua itu menjadi buruk."


Petra tercenung mendengar jawaban itu. Itu sangat benar adanya.


Namun, cenungan itu tak berlangsung lama karena dirinya yang spontan bereaksi ketika sang kapten membalut lukanya dengan perban. Sepertinya itu sedikit keras hingga sukses membuatnya mengaduh.


Tolong pelan-pelan, Kapten, ringis Petra dalam hati.


Dan sampai kapan ia akan membiarkan situasi itu berlanjut, eh?


...---------------...