![Always Be With U [Levi X Petra]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/always-be-with-u--levi-x-petra-.webp)
...• • •...
"Titan 7 m dan 5 m! Arah jam 4!"
"Formasi seperti biasa! Posisikan Eren ditengah!"
"Baik, Kapten!"
Petra langsung memposisikan dirinya di depan Eren. Gunther di sebelah kanan, Oluo di sebelah kiri, sedangkan Eld di depan. Levi mengawasi pergerakan squadnya itu dari belakang.
Eld yang sebagai wakil ketua squad langsung memberi kode bahwa dirinya dan Petra akan bertindak lebih dulu sebagai pengalih. Petra mengangguk paham dan langsung mengeluarkan kedua pedangnya, tak lupa juga mempercepat laju kudanya.
Namun, tiba-tiba perhatian mereka semua teralihkan karena seruan Eren.
"Oluo-san! Sebelah kirimu!"
Spontan pria bernama belakang Bozado itu menoleh ke arah kiri dan..
Seekor Titan 3 meter yang sedang bersembunyi, namun jaraknya sangat dekat sedang menatap nyalang kearahnya.
"Kalian berdua cepat menjauh-Oi Eren!" seru Levi tertuju kepada Petra dan Oluo. Namun, justru pria berambut undercut itu terkejut ketika Eren langsung bertindak tanpa aba-aba. Bocah Yeager itu bermaksud untuk menebas tangan sang Titan yang hampir saja menangkap tubuh Oluo.
"Rasakan ini!" Dengan berani Eren melayangkan pedangnya dan menebas tangan Titan tersebut, dan alhasil makhluk besar itu kehilangan tumpuannya dan terjatuh. "Berhasil!"
Tanpa menunggu Oluo yang masih terkejut karena syok, Petra langsung menancapkan kailnya dan memotong tengkuknya.
Sementara Eld dan Gunther yang berada di garis depan pun berhasil membunuh kedua Titan itu. Tentu mereka sangat percaya diri jika berada di hutan, karena itu akan menguntungkan bagi mereka. Banyaknya pijakan yang bisa digunakan akan menambah besarnya peluang membunuh Titan dari berbagai koordinat.
"Oluo-san, kau tidak apa-apa?" Eren menghampiri Oluo yang tampak masih terdiam dengan tatapan kosong.
"Bagaimana bisa.. aku tidak melihat Titan sebesar itu.."
"I.. itu bukan salahmu. Aku juga baru sadar dan baru melihatnya tadi. Titan itu sepertinya.. pandai bersembunyi."
Oluo tiba-tiba menampar pipinya sendiri cukup kencang, membuat Eren tersentak kaget. "Malah.. aku yang mengacaukan formasi."
"Itu kecelakaan. Tidak ada yang bisa memprediksi. Lebih baik bersyukurlah karena nyawamu masih ada."
"Hoo, bilang saja kau mencemaskanku ya, Petra?"
Langsung saja Oluo mengaduh karena mendapat pukulan di bagian belakang kepalanya. "Keluarkan lidahmu, akan kupotong sekarang juga!"
Eren menggelengkan kepala heran, apakah mereka berdua akan selamanya seperti ini?
"Kau tadi keren, Eren! Kemampuanmu lumayan meningkat. Kerja bagus!" Petra menepuk-nepuk kepala Eren, membuat bocah itu langsung tersipu. "T-tidak juga. Terimakasih, Petra-san! Tadi kau juga sangat keren!"
"Insting dan kecekatan kalian meningkat. Kejadian seperti tadi adalah diluar prediksi," ucap Levi sembari turun dari kudanya, memang berniat untuk mengecek kondisi anggota squadnya. "Oi bocah! Jangan bertindak bodoh lagi seperti tadi!"
"Baik! Maafkan aku, Kapten!" ujar Eren.
Eld dan Gunther yang baru bergabung pun segera turun dari kuda karena dirasa kaptennya sedang melakukan evaluasi dadakan.
"M-maafkan aku! Ini terjadi karena kesalahanku. Aku telah mengacaukan formasi tim."
Mereka semua terkejut. Bukan. Bukan karena penuturan Oluo, melainkan karena nada bicaranya diiringi dengan.. tangisan.
Levi langsung memegang bahu Oluo. "Prajurit tidak semestinya menangis."
Oluo seketika berdiri tegap, mengusap air matanya sembari menarik ingus di hidungnya.
"Hei, setidaknya gunakan cravatmu itu!" seru Petra dengan wajah yang berjengit.
"Petra, kau tidak lihat aku sedang sedih? Dan lagi.. cravat ini harus selalu bersih." Oluo melirik ke arah cravat yang dipakai Levi.
Petra paham maksud pria itu dan langsung mendengus kesal. Ingin sekali rasanya ia bilang, 'Harusnya tidak usah dihibur, Kapten.'
"Haahh, coba hitunglah.. sudah berapa kali kalian adu mulut hari ini.." Eld menghela nafas lelah.
"Kenapa kau selalu bersikap buruk kepadaku? Kau tau aku menyuk-" Oluo sontak langsung memotong ucapannya sendiri. Memalukan. Aku hampir bertindak bodoh di depan Kapten.
"Ya, aku menyukai omelanmu, Petra."
Petra memandang bingung, tidak mengerti. "Kau sakit atau apa?"
Dalam hitungan sedetik.. senyap. Suasana senyap menyelimuti mereka. Jika ditanya alasannya, itu karena mereka mendengar decakan keras dari kapten cebol mereka.
"Sudah?"
Mereka semua terdiam sembari menundukkan kepala dan mengunci rapat mulut masing-masing. Selamat kepada mereka, hukuman pasti akan menanti.
"Kita lanjut latihan."
Levi pun lebih dulu menaiki kudanya, disusul oleh semuanya, kecuali Oluo yang masih menatap gadis karamel itu cukup lama.
Tatapan yang sulit diartikan.
Tidak. Ini hanya perasaan sembarangku saja..
...• • •...
Teng! Teng! Tengg!
Bunyi lonceng tanda gerbang dibuka menggema diseluruh pendengaran para makhluk hidup yang senantiasa berada di dalam tembok pelindung itu. Meskipun hanya terdapat beberapa kuda dan penunggang serta kuda pembawa barang yang melangkah, namun itu tidak mengurangi sorak-sorai para warga yang menyambut kedatangan mereka.
"Syukurlah! Mereka kembali dengan selamat!"
Beragam ucapan syukur terlontar di sekeliling mereka. Diam-diam para pendatang, termasuk Petra merasa lega. Sungguh, hanya sebuah sambutan pun sudah membuat hidup para pejuang menjadi berarti. Mereka yang gugur dan mereka yang bertahan.. tidak menyesal mempertahankan tanah kehidupan mereka.
"Eld!"
Teriakan itu sontak membuat si empunya nama turun dari kudanya dan memeluk si pemanggil. Yeah, pemanggil itu adalah kekasih Eld, Elisa. Kabarnya mereka akan bertunangan setelah ekspedisi-57 nanti.
"Kapten Levi! Terimakasih telah membawa pulang Eld dengan selamat!" Yang mengatakan itu adalah sang ibu, sembari membungkuk hormat.
Levi membalas dengan bungkukan kecil. "Dia bisa bertahan sampai sejauh ini."
"KAK OLUO!" Tiba-tiba sekumpulan bocah menghambur ke arah Oluo.
"Kalian ini! Kalau kudanya lari bagaimana?!"
Para bocah itu tertawa nyengir menampakkan deret gigi mereka, sebagian ada yang ompong sebagian ada yang utuh rapih, sembari mengekor di belakang sang kakak.
Petra yang melihat itu mengulum senyum lebar, "Hei, kalian merindukan Kak Oluo ya?"
"Pasti, Kak Petra. Ngomong-ngomong sudah berapa kali Kak Oluo menggigit lidahnya?" tanya salah satu adik laki-laki Oluo.
Petra berusaha keras menahan tawa. "Mungkin.. sudah lebih dari ratusan kali. Kau bisa memeriksanya sendiri. Mungkin sudah terbelah jadi dua sekarang."
"Petra, awas kau ya!" teriak Oluo.
Gadis hazel itu langsung tertawa terbahak-bahak, tak sadar bahwa sejak tadi ia bersampingan dengan kaptennya yang sedang memandangnya entah bagaimana.
"Hoo, Gunther."
Suara itu berasal dari pak tua yang diketahui adalah ayah Gunther. Gunther pun langsung menghampiri sang ayah.
Ah, sudah pasti Ayah tidak datang menjemputku. Mungkin sekarang ia sedang beristirahat di ranjang, gumam Petra. Gadis itu hanya berharap semoga kedatangannya nanti di rumah bisa membuat ayahnya senang.
"Kak Petra."
Petra seketika tersadar dari lamunannya begitu salah satu bocah menarik ujung bajunya. "Ya? Maaf, kau adik Oluo kan? Aku lupa namamu."
Bocah itu mengangguk mantap. "Aku Samuel, Samuel Bozado."
"Baiklah. Akan coba kuingat. Ada apa, Sam?"
"Dimana Paman Rall? Aku tidak melihatnya disini." Sam celingak-celinguk mencari keberadaan ayah Petra. "Aku mau berterimakasih karena dia sudah membelikanku kerupuk ikan waktu itu."
Terhenyak. Mendengar pengakuan itu Petra merasa sangat senang dan bersyukur memiliki keluarga yang baik. Lagi-lagi ia hanya bisa mengucap syukur, baginya itu sudah cukup.
"Samuel! Apa yang kau tanyakan tadi?!" Oluo mendelik, sepertinya ia mendengar perkataan adiknya. Petra memberi isyarat 'tidak apa-apa' kepada Oluo.
"Itu.. Paman Rall sedang sakit. Sekarang ia sedang beristirahat di rumah. Mau kusampaikan?" Petra tersenyum lembut kearah bocah itu.
"M-mau kak! Oh iya, nanti aku boleh tidak menjenguk Paman?"
"Tentu saja boleh."
"Terimakasih, Kak Petra!" seru Samuel sembari berlari kecil ke tepi jalan, karena squad Levi sebentar lagi meninggalkan permukiman.
Petra melambaikan tangannya ke arah Samuel. Lalu, ia tersadar bahwa sang kapten menghentikan langkah kudanya. Refleks yang lain pun ikut berhenti.
"Ada apa, Kapten?"
Kedua safir legam itu menolehkan pandangannya kearah Petra. "Kau bisa pulang lebih dulu kalau kau mau."
"Eh?" Dua detik kemudian, ia baru menyadari maksud perkataan kaptennya. "O-oh tidak perlu, Kapten. Lebih baik kita ke markas pusat terlebih dulu. Aku bisa mengunjungi Ayah sepulang nanti."
"Tidak apa-apa, Petra. Nanti kami yang akan memberikan laporan misinya," tukas Gunther.
"Jangan. Aku malah semakin tidak enak kalau tidak ikut kalian."
"Baiklah." Levi pun kembali melajukan kuda hitam kesayangannya, diikuti oleh kelima manusia yang senantiasa berada di belakangnya itu.
...• • •...
Lalu-lalang orang hampir tak terlihat lagi karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Langit malam telah menutupi matahari sepenuhnya dan menyuruh sang rembulan terang untuk menggantikannya.
Disini, tepat di depan pintu kayu berukuran 200 × 120 cm, berdiri seorang gadis yang terlihat resah. Ia tidak tau ingin bersikap seperti apa jika sang kepala keluarga bertemu dirinya.
Apakah ia harus mengatakan "Ayah! Aku pulang!" dengan wajah ceria?
Namun, sungguh hatinya sangat sedih. Ingin sekali menangis. Tapi sekali lagi, gadis itu menyadari bahwa ia tidak boleh seperti itu. Baginya, seorang prajurit yang baru pulang mengemban tugasnya haruslah menyambut senang orang-orang disekitarnya, terutama keluarga tercinta.
Dengan satu ritme helaan nafas, persiapan hati dan mimik wajah yang matang, ia memasukkan kunci cadangan rumahnya dan memutar kenop pintu perlahan, bersiap menyambut apa dan siapa yang ada di dalam.
"Ayah! Aku sudah pulang!"
...----------------...
Hai hai Author disini pengen nyapa kalian! 👋🏻
Aku mau bilang terimakasih banget untuk para reader yang udah mau mampir baca, pencet tanda vote, n ngetik comment di cerita yang mungkin rada aneh ini (sekali lagi maap ya ges kalo ceritanya aneh TvT)
Its okeyy kalian udah ngebuat author ini tambah semangat! Makasih yak! 🙆❤