Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (32)




...• • •...


Lapangan Pelatihan Militer, Distrik Trost bagian Tengah (08.00 AM)


1 jam menjelang pelatihan..


"Kapten, saya ingin melaporkan hasil pertemuan kemarin," ujar Eld mewakili squadnya yang berjajar rapih di belakang.


Levi mengangguk mengiyakan. Tak sengaja safirnya saling bertatap lima detik dengan hazel gadis itu, gadis yang kemarin sudah membuatnya melawan egonya sendiri.


Petra yang ditatap pun tidak tau lagi harus memasang wajah seperti apa sekarang. Sejak kejadian kemarin, ia tidak bisa mengendalikan ingatannya itu, bagai kaset yang terus berputar dengan lancarnya. Selalu saja teringat dan malah berakhir wajahnya yang memerah menahan malu, padahal dirinya sudah berusaha keras untuk melupakan dan menganggap itu hanya kejadian lewat saja.


Ternyata bukan hanya Petra, Levi pun merasakan hal yang sama. Ia sendiri bingung kenapa melakukan itu kepadanya.


Bagaimana ia harus bersikap sekarang?


Belum pernah Levi merasa serumit ini. Aneh, pikirnya.


"Untuk pelatihan hari ini ada perubahan. Dari data yang diberi Instruktur Keith, ada 10 ranking kadet-104 lama yang lulus dan sisanya tidak lulus. Dengan kata lain, mereka yang lulus juga termasuk unggulan. Komandan memerintahkan untuk menaruh semua kadet-104 lama di tim Oluo dan Petra. Melihat sebagian angkatan mereka tewas dalam insiden penyerangan dadakan Distrik Trost sebelumnya, maka ada tambahan anggota baru kadet-104 yang murni belum memiliki dasar pelatihan fisik. Semua kadet baru itu akan berada di tim saya dan Gunther. Cukup laporan dari saya."


"Baiklah, kalau itu perintah Erwin."


"Kenapa harus aku dan-maksudku kalau Petra sudah jelas. Kenapa aku?" tanya Oluo yang langsung mendapat delikan tajam dari Petra.


"Kalian mengalami cukup peningkatan. Aku yakin Erwin punya alasan menempatkan posisi kalian."


"Baik, Kapten!"


"Latih mereka sekeras mungkin. Memang disiplin pelajaran yang paling ampuh untuk para kubangan tahi."


Keempat manusia itu langsung memberi salute, tak lupa bahwa mereka selalu bergidik ngeri. Rasanya setiap huruf yang dilontarkan dari mulut kaptennya itu sangat cocok dijadikan buku sejarah dengan judul "Kumpulan Kalimat Cinta dari Kapten Levi".


"Siap, Kapten!"


Levi pun membiarkan Oluo, Gunther, dan Eld keluar ruangan terlebih dulu, sebelum akhirnya ia memanggil Petra.


"Iya?"


"Soal kemarin.."


Dibahas lagi?! batin Petra panik.


"Maaf.." ucap Levi dengan nada pelan dan pandangan mata ke arah lain. "Lupakan itu, Petra."


Petra terhenyak. Mana bisa ia melupakannya? Bahkan, hal sekecil itu mampu membuat jantungnya berdebar kencang dengan perasaan hatinya yang membuncah tak karuan.


Bisakah ia bertahan seperti biasa?


"Tidak apa-apa, Kapten. Tolong jangan merasa tidak enak padaku."


Nyatanya hanya kalimat itu yang mampu terucap darinya.


...• • •...


"Connie Springer! Marco Bott!"


"Siap!"


"Reiner Braun! Ymir! Bertoldt Hoover! Mikasa Ackerman! Ikut reguku!" ucap Oluo dengan lantang.


"Siap!"


Setelah ketiga rekannya sudah memanggil para anggotanya, giliran Petra untuk memanggil sisa anggota yang tersedia. Mulutnya tengah berancang-ancang, mempersiapkan suara lantang nan tegas terbaiknya.


"Armin Arlert! Christa Lenz! Sasha Blouse! Jean Kirstein! Annie Leonhardt! Dan.. Eren Yeager! Kalian masuk reguku!"


"Baik!"


Petra kemudian menuntun keenam anggotanya menuju wilayah Timur, masih dalam lapangan pelatihan.


"Petra-san, bagaimana kabarmu?" tanya Eren sopan.


"Aku baik, Eren. Kau sendiri?"


Eren tersenyum, "Seperti yang kau lihat."


"Syukurlah. Aku.. turut berduka pada semua temanmu yang tewas di penyerangan Distrik Trost waktu itu. Maaf aku belum sempat mengatakan ini."


Eren yang mendengar itu hanya bisa memasang wajah sendu, namun tersirat kekesalan dan rasa penyesalan yang beradu didalamnya.


"Aku pasti akan membalaskan dendam mereka, meski harus dengan kekuatan Titanku. Mereka tidak akan mati sia-sia. Oleh karena itu, aku harus menjadi kuat."


Petra tersenyum kecil menanggapinya sembari menepuk-nepuk pelan bahu Eren. "Aku lebih senang mendengar jawaban 'dengan semua kekuatan diriku'".


Eren terhenyak, mencoba mencerna sekali lagi. Begitu ia hendak bertanya, Petra sudah lebih dulu melangkah di depannya hingga ia pun kembali mengurungkan niat.


...• • •...


"Apa kalian adik kakak?"


"Tidak, Ketua!" jawab Armin dan Christa serempak.


"Kukira kalian bersaudara karena mirip. Armin, kenapa kau tidak lulus?"


"I-itu.. mungkin karena fisik saya terlalu lemah-"


"Jangan menggunakan itu sebagai alasan! Fisik bisa dilatih! Aku tau kau bisa! Gunakan teknikmu semasa pelatihan!" Petra mulai berancang-ancang, "Sekarang.. pukul aku sesukamu!"


"Eh?" Armin terkejut, "A-aku tidak-AARGH!!"


Petra langsung memukul bahu Armin, "Musuh diserang bukan ditunggu, Armin!"


"S-siap!"


Armin pun mulai memukul Petra ke beberapa bagian, namun tentu dapat ditepis dengan mudah. Petra menilai bahwa gerakan bocah Arlert ini masih acak. Hingga ia pun terlihat kelelahan dan Petra menghentikan latihan kepadanya.


"Sebenarnya kau sudah menguasai teknik, tapi gerakanmu masih berantakan. Christa, aku minta kau untuk mengajari Armin. Nanti aku akan mengecek kalian berdua!"


"Baik, Ketua! Saya akan berusaha lebih baik lagi! Terimakasih atas evaluasi dan penilaiannya!" ujar Armin memberi salute.


Petra beralih ke gadis yang bernama Sasha Blouse dan-astaga si gadis penyuka kentang. Dirinya hanya menghela nafas melihat tingkahnya.


"Sasha, aku mendapat laporan kau juga makan kentang saat pelatihan sebelumnya. Kenapa kau melakukannya lagi sekarang?"


"Siap! Karena saya suka kentang!"


Setelah berkata begitu, Sasha menyodorkan kentangnya yang masih tersisa kepada Petra. "Ini.. untuk Ketua.."


Tidak sampai tiga detik, Petra sudah merampas kentang itu dan melemparnya jauh, membuat Sasha berteriak kaget.


"Ambil sana kalau bisa!"


"Beraninya.. kau membuang kentangku!" teriak Sasha sambil menangis. Gadis itu sekarang tidak segan menyerang Petra.


"Hoo, bagus! Pakai semua teknikmu kalau ingin menyerang, Sasha! Jangan setengah-setengah!" balas Petra sembari menangkis.


Kunci pergerakan, tumbangkan lawan..


Kunci pergerakan, serang titik vital, lumpuhkan lawan..


Sampai pada Petra berhasil mengunci pergerakan Sasha dengan menggamit kaki gadis itu dan menumbangkannya ke samping. Petra hendak memukul dagu Sasha yang merupakan titik vital, namun ia urungkan melihat gadis kentang itu ketakutan.


"Apa kau benar-benar Sasha Blouse yang masuk 10 ranking kelulusan?!


"I-iyaa.." jawab Sasha masih sambil menangis.


Eren dan Jean tak kuasa menahan tawa melihat wajah kekalahan dan tangisan frustrasi Sasha, sedangkan Armin hanya bisa geleng kepala melihatnya. Si Annie itu nampak tidak peduli.. dan Christa.. dia seperti kasihan dan tidak kasihan melihat teman seperjuangannya itu.


"Kalian berdua tertawa?!" Seketika pandangan tajam Petra berhasil membuat Eren dan Jean bungkam.


"Jean Kirstein! Aku dengar sebelumnya kau ingin masuk Polisi Militer, kenapa kau beralih ke Pasukan Pengintai?!"


"I-itu.. setelah saya pikir lagi sepertinya saya memang cocok di Pasukan Pengintai!"


"Benarkah?" Petra sontak memukul perut Jean, membuat si muka kuda itu mengaduh.


"Sakit atau tidak?!"


"Siap, sakit!"


"Beruntung kau masih bisa tertawa hari ini! Saat kau melawan Titan nanti tawamu itu akan hilang! Bahkan, mereka yang beruntung masih punya mulut untuk tertawa!"


Kalau sudah pelatihan begini, kenapa semua senior jadi menyeramkan sih? batin Jean bergidik.


"Kenapa kau tidak menetap saja di Polisi Militer yang aman itu?"


"Siap, tidak mau!"


"Berlatihlah lebih keras kalau kau tidak ingin ditendang Titan, paham Jean?!"


"Siap, paham!" jawab Jean dengan lantang.


"Eren, giliranmu sekarang!"


"Baik!"


"Eh?" Eren tercekat, "Satu lawan satu denganmu?"


"Oh, kau tidak mau? Kalau tidak mau aku akan beralih ke An-"


"Siap! Aku akan melawanmu!" jawab Eren, membuat Petra tersenyum bangga.


Netra almond itu kini bergerak kesana-kemari mengikuti pergerakan lawan dihadapannya, membaca dan menerka. Begitu Eren ingin menendangnya dari samping kanan, Petra menghindar dengan cekatan. Namun setelah itu, lehernya berhasil dikunci oleh Eren, diikuti dengan kedua kakinya.


"Bagus, Eren. Kestabilan dan kecekatan gerakanmu meningkat."


"Terimakasih-AARGH!!"


Eren langsung terjatuh meringkuk ke tanah begitu Petra menyikut bagian dadanya cukup keras.


"Maaf, tapi kedua tanganku masih bebas. Fatal sekali!" Petra mengulurkan tangannya untuk membantu Eren berdiri, "Kalau kau ingin mengunci pergerakan lawan dalam posisi tadi, pertama buat tangannya tak berkutik."


"Siap, Petra-san!"


"Aku ingin terus melihat perkembanganmu. Pertahankan yang sudah bisa! Tingkatkan yang belum bisa!"


Eren memberi salute nya, "Baik!"


Petra pun beralih ke anggota terakhir, tak lain dan tak bukan adalah gadis bersurai blonde cerah bernama Annie Leonhardt. Kesan pertama Petra ketika melihatnya adalah dia gadis pendiam, tenang, dan tidak mau berurusan sana-sini. Bahkan wajahnya mungkin terlihat seperti wajah pemalas. Namun, dibalik itu Petra bisa menilai bahwa gadis ini punya kemampuan yang bisa diandalkan.


"Kudengar kau masuk Polisi Militer. Apa alasannya?"


"Saya hanya tidak tertarik melawan Titan dan ingin hidup damai."


Petra hanya manggut-manggut mendengarnya, "Begitu ya. Seandainya.. ada serangan Titan dalam dinding Sina, apa yang akan kau lakukan?"


"Saya hanya akan menuruti apa perintah atasan dan Komandan," jawab Annie tetap dengan wajah datarnya.


"Hm, baiklah. Tampaknya kau sangat setia ingin melindungi pemerintahan."


Annie hanya terdiam tidak menjawab kalimat itu-entah itu sebuah pujian atau sindiran.


"Serang aku seakan kau memang layak menempati posisi ranking-4."


Annie mengangguk menuruti perkataan Petra. Gadis itu mulai memasang posisi siap bertarung khasnya. Begitu Petra memberi kode, Annie langsung melancarkan satu serangan.


DUAKK!! BUGGHH!!


DUAKK!!


Sejenak pertarungan itu mampu membuat semuanya mengalihkan perhatian dalam beberapa detik, termasuk Mikasa yang ada di tim Oluo. Pertarungannya tidak terlalu sengit, namun stabil.


Serang.. tangkis.. serang.. kunci..


"Pertarungan.. sempurna.." gumam Eren tanpa sadar.


Petra cukup kagum dengan gaya bertarung Annie. Gerakan yang teratur dan rapih. Pikirnya, gadis ini bisa membaca cepat pergerakan lawan sehingga ia bisa mengambil tindakan selanjutnya.


Hingga kepalan tangan Annie hampir memukul wajah Petra, namun dengan cepat Petra menangkupnya memakai tangan. Lalu, Petra memutar tangan Annie dan menggamitnya dengan lengan kanannya. Sementara lengan kirinya ia gunakan untuk mengunci pinggang Annie. Lalu, ia menendang lutut Annie hingga gadis itu kehilangan keseimbangannya.


Begitu Petra ingin menumbangkannya ke depan, Annie sudah lebih dulu menyikut perutnya dengan tangan kirinya sehingga membuat Petra terpaksa melepasnya.


Tidak hanya sampai disitu. Ketika Annie merasa sudah aman dan menjadi lengah, Petra langsung saja menendang kedua kaki Annie hingga gadis itu terjatuh ke tanah.


"Kau lengah. Musuh tidak akan berhenti menyerang setelah melepasmu."


Annie mengangguk sembari terengah-engah, "Kunci pergerakan, serang titik vital, tumbangkan lawan. Apakah itu prinsipmu?"


"Hebat sekali! Kau bisa membaca dan menyimpulkan teknik gerakanku."


"Kurasa.. aku harus banyak belajar darimu, Ketua."


"Hm? Bukannya justru kau harus banyak belajar dari dia?" Petra menolehkan pandangannya ke arah Mikasa yang tampaknya masih sedang dilatih oleh Oluo. "Kudengar pertarungan kalian seimbang."


"Tch, gadis penggila Eren," sindir Annie namun itu masih bisa didengar oleh Petra sehingga membuatnya menghela nafas.


"Kau sudah cukup bagus. Semoga penilaianku tidak salah. Pertahankan, Annie!"


"Baik, terimakasih, Ketua Petra," ucap Annie juga memberi salute.


Petra menepuk tangannya sekali dengan keras, membuat seluruh anggotanya seketika memfokuskan atensi.


"Yosh! Pelatihan dariku cukup sampai disini! Kalian diberi waktu sepuluh menit untuk beristirahat! Aku harap kalian tidak anggap remeh latihan ini! Dapatkan hasil baiknya! Mengerti?!"


"Siap, mengerti! Terimakasih banyak, Ketua Petra!"


...• • •...


Petra meneguk minumnya cepat, dan alhasil membuatnya tersedak. Ia terbatuk-batuk beberapa kali sembari merutuk dalam hati kesalahan konyolnya sendiri. Mau bagaimana lagi? Ia merasa sangat haus daritadi.


"Kalau minum pelan-pelan, Petra. Tidak ada yang mengejarmu."


Suara Eld tertangkap dalam pendengarannya sembari pria itu ikut mengusap-usap punggungnya.


"Eld-uhuk! Kau.. sudah-uhuk! selesai melatih?"


"Sudah. Untungnya mereka cepat mengerti. Generasi sekarang semakin berkembang saja."


Petra menahan tawa, "Hei, kau ini bicara seolah-olah kita generasi tua! Kau mau cepat tua, hah?"


"Tentu saja tidak. Aku ingin menikah dan punya anak dulu bersamanya," ujar Eld tersenyum bangga.


"Hoo, baiklah. Sampai kau nanti lupa mengundang kita bertiga, aku tak akan segan menebas lehermu!"


Eld sontak tertawa terbahak-bahak, "Kau bukan Kapten yang bisa bicara seperti itu-oh! Kau juga ingin menikah dengan Kapten bukan?"


Petra spontan menginjak kaki kiri Eld, membuat pria bernama belakang Jinn itu mengaduh. "Kenapa mulutmu semakin mirip dengan Oluo?"


"Haahh aku serius, Petra. Bagaimana kalau kau ternyata menikah dengan Kapten?"


Petra segera memalingkan wajahnya kesamping. "Apa sih yang kau katakan? I-itu mustahil."


"Tidak ada yang mustahil. Kalau itu terjadi kau mau apa? Jangan menghalangi yang seharusnya tidak kau halangi."


Tak bohong bahwa perkataan Eld sukses membuatnya tertegun. Pukulan telak lagi untuknya. Ia harus mengakui bahwa dirinya sempat ingin menghindar dari perasaannya sendiri, seolah ia sudah tau ada batasan yang membuat dirinya terhalang. Batasan yang ia buat sendiri.


Kenapa ia harus menyukai Kapten Levi? Kenapa harus pria sepertinya?


"Aku tidak ingin mengelak perasaanku, Eld."


Eld menoleh menatap Petra yang sedang memandang lurus ke depan.


"Namun, seolah aku membuat batasan sendiri. Aku bahkan bertanya.. apakah aku pantas menyukai orang sepertinya? Rasanya aku seperti menaruh perasaan pada seseorang yang bahkan tidak ingin tau apa itu dunia percintaan."


"Kau salah. Sekalipun seorang pria seperti Kapten, kalau ada yang memulainya dia pun akan belajar mengetahuinya."


Kini Petra yang menoleh ke arah Eld dengan tatapan lekat. "Kenapa kau bisa seyakin itu?"


"Karena aku seorang pria. Memangnya aku tidak pernah merasakan hal itu? Hubunganku dengan Elisa pun dibangun perlahan."


"Petra, di dunia ini ada tiga tipe pria dalam menyembunyikan perasaan. Pertama, karena rasa takut. Kedua, karena khawatir. Ketiga, tidak percaya diri atau malu. Seorang pria kalau sudah menyangkut tentang perasaan pasti akan lebih merasa rumit, seperti si Oluo itu."


Petra menautkan kedua alisnya, "Hah? Memang kenapa dengannya? Si bodoh itu sedang jatuh cinta? Hahaha!"


"Mungkin saja. Entah ini hanya firasatku atau memang dia sedang jatuh cinta padamu."


"Jangan bercanda. Si bodoh itu bahkan lebih cinta pada hobinya yang selalu menggigit lidah," canda Petra tak berhenti tertawa.


"Kalian ini aneh, selalu hobi mengejek satu sama lain. Ah Petra, aku sampai lupa! Ambilah makan siangmu disana," Eld menunjuk tempat di ujung lapangan, "Menunya kentang rebus untuk kita, roti untuk para kadet."


"Benarkah?!" seru Petra tiba-tiba. Dirinya teringat telah membuang kentang milik gadis bernama Sasha itu. Oh ayolah, wajar kan kalau ia membuangnya karena sedang pelatihan. Tapi, kenapa tiba-tiba ia merasa bersalah begini?


"Baiklah, terimakasih, Eld. Aku kesana dulu ya." Petra beranjak sembari melambaikan tangan, meninggalkan Eld yang sedang mengernyit bingung melihat Petra bersikap terburu-buru tadi.


...• • •...


Manik hazel itu tengah mengedarkan atensinya ke seluruh penjuru lapangan guna menangkap perawakan gadis kentang itu. Tak sampai lima menit akhirnya menemukannya, di depan tempat peristirahatan kadet tengah mengobrol dengan dua pria, satu berkepala botak dan satu lagi berambut coklat muda setengah undercut. Ah, Petra mengenal salah satunya, itu Jean Kirstein.


"Sasha Blouse?"


Sontak ketiga manusia itu menoleh dan segera memberi salute begitu mengetahui itu adalah senior mereka.


"Ketua mencariku?" tanya Sasha sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya. Ini sebagai ganti yang tadi," Petra menyodorkan satu buah kentang rebus hangat, "Maaf aku sudah melempar punyamu."


Sasha langsung menerimanya dengan cekatan dan dia.. menangis lagi? Ya, Tuhan! Sebegitu cintanya kah dia dengan kentang?


"Terimakasih banyak, Ketua!" Sasha langsung memeluk Petra erat, membuat Petra tertawa kecil. Jean dan bocah berkepala botak itu seperti memberi kode pada Sasha untuk segera menghentikan tindakannya, mungkin khawatir itu tidak sopan.


"Iya. Tapi, aku tidak akan segan membuangnya lagi kalau kau tidak serius di Survey Corps! Begitu juga kalian berdua, paham?!"


"Siap, Ketua!"


Setelah menuntaskan rasa bersalahnya, Petra berjalan menatap langit biru diatas sana, ditemani teriknya matahari siang. Bahkan, dari gadis kentang itu pun ia bisa belajar apa itu perasaan yang sepenuh hati.


Perasaan tanpa batasan dan halangan.


"Apa sebaiknya.. aku mulai mengungkapkannya kepada Kapten?"


...-----------------...