Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (3)




...• • •...


"Tadi aku itu kenapa sih? Bisa-bisanya aku membentak kapten. Haiisshh Petra, kau bodoh, kau memalukan."


Petra menjambak rambutnya frustrasi. "Aku harus minta maaf padanya.."


Petra memutuskan untuk mandi sebentar dan melanjutkan menulis surat yang entah sudah keberapa kalinya ia mengotori kamarnya sendiri dengan tumpukan kertas.


'Ayah.. entah sudah yang keberapa kalinya aku menulis surat wasiat, padahal aku saja belum menjemput ajalku, hahaha.


Bagaimana kabar ayah? Aku disini sehat selalu kok. Semua rekan, senior, dan juniorku saling menghargai dan menghormati. Terutama Gunther, Oluo, dan Eld, mereka adalah rekan terbaikku semenjak aku bergabung di Pasukan Elite. Aku juga sangat menghormati para atasan dan senior. Ayah tidak perlu khawatir lagi dengan sikapku karena aku sudah tumbuh dewasa, tapi aku tetap 'Bocah Jahemu' hingga kapanpun :D


Ayah, semoga kau tidak bosan mendengar ceritaku dengan 'nya', tapi tolong dengarkan saja. Hari ini.. aku melakukan kesalahan. Aku sedikir bertengkar dengannya. Aku merasa sangat bersalah, seharusnya aku tidak bersikap seperti itu kepadanya. Memalukan. Aku berteriak di depan atasanku sendiri, tidak.. mungkin lebih dari sekedar atasan. Ayah tau aku mengaguminya sejak lama bukan? Perasaanku kepadanya.. lebih dari sekedar kagum, ayah. Aku.. aku mencintainya.. tapi aku tau aku tidak berhak untuk mengutarakan perasaan bodohku ini ataupun dicintai olehnya. Aku hanyalah seorang prajurit yang ditakdirkan menjalani hidupnya di Recon Corps dan masuk ke Pasukan Elite. Ah, sudahlah. Pasti nanti ayah banyak bertanya lagi, ahaha!


Sampai jumpa ayah! Aku mencintaimu, ibu, dan Revan selalu!♡♡'


Sekelebat air mata turun begitu saja tanpa izin dari sang empunya. Gadis itu segera menghapusnya, takut berakhir membasahi suratnya. "Haahh Petra, kau masih saja cengeng." Dalam hati ia menertawai dirinya sendiri.


Ia pun pergi keluar kamar dan segera mencari Kapten Levi dalam rangka 'permintaan maaf'.


"Petra!" Panggilan itu seketika membuatnya menoleh.


"Gunther, ada apa?" Tanya Petra.


"Tolong antarkan ini kepada Eren. Aku disuruh kapten untuk memberi makan kuda." Gunther menyodorkan nampan berisi sepiring roti dan segelas susu.


"Baiklah, serahkan padaku."


...• • •...


Petra mengetuk pintu kamar Eren.


"Eren, aku membawakan makanan untukmu. Boleh aku masuk?"


Tidak ada jawaban.


'Apa dia masih tidur?' Pikirnya.


Karena tak kunjung ada jawaban, Petra memutuskan untuk membuka kamar Eren. Dugaannya benar. Ia pun menaruh nampannya di atas meja disamping tempat tidur Eren. Lalu, ia perlahan menaikkan selimut yang menutupi tubuh Eren.


"Kau.. mengingatkanku pada adikku, Revan." Petra menatap sendu wajah Eren. "Dia menganggapku sebagai pahlawan.. tapi nyatanya.. aku hanyalah seorang wanita yang cengeng. Hah, dasar bodoh."


Tanpa sadar Petra menangis lagi. Ia buru-buru pergi meninggalkan kamar karena takut membangunkan Eren. Tepat saat ia hendak membuka pintu..


"Kau.. bukan wanita yang cengeng, Petra-san."


Petra terkejut. "K-kau sudah bangun? Maaf jika aku membangunkanmu."


"Tidak apa-apa, Petra-san. Sudah saatnya juga aku untuk bangun." Tukas Eren sambil mendudukkan tubuhnya.


"Aku membawakanmu makanan. Kau pasti belum makan dari tadi."


"Te-terimakasih, Petra-san!" Eren langsung memakannya dengan lahap. Petra pun duduk di samping ranjang menemani Eren.


"Kalau boleh tau.. apa yang terjadi dengan adikmu?" Eren seketika menyesal telah melontarkan pertanyaan itu setelah melihat air muka seniornya tampak terhenyak.


"M-maaf.. kalau kau tidak mau menjawab juga tidak apa-apa. Lupakan, Petra-san." Tutur Eren merasa bersalah.


"Adikku.. namanya Revan. Dia adalah anak yang periang dan jahil. Bahkan mungkin menjahiliku sudah menjadi hobinya setiap hari."


"Oh iyaa, keluargaku tinggal di Wall Rose. Bagaimana denganmu, Eren?" Tanya Petra.


"Aku.. dan keluargaku tinggal di Wall Maria, Distrik Shiganshina."


"Tidak apa-apa, itu sudah masa lalu." Ujar Eren sembari tersenyum, membuat Petra lega.


"Ketika aku masuk Recon Corps, dia sangat bahagia. Bahkan dia bilang 'kakak, kau adalah yang terbaik! Kau pahlawanku! Aku juga ingin seperti kakak yang keren, bisa masuk Recon Corps!'" Lanjut Petra.


"Lalu suatu saat.. dia sedang bermain dengan temannya. Dan yah.. mungkin itu bukan menjadi hari keberuntungannya. Ia  bertemu dengan sekelompok perampok yang ingin menculik mereka. Revan.. dia langsung bersikap layaknya hero dan melindungi temannya." Petra mengepalkan kedua tangannya. Eren bisa melihat tubuh Petra yang mulai gemetar.


"Sialnya, saat itu waktu sedang tidak berpihak padaku. Saat itu, aku sedang menjalani pelatihan kadet pertama kali." Petra bisa merasakan kedua belianya kian memanas, hendak mengeluarkan cairan yang paling ia benci seumur hidup.


"Petra-san.."


"Dia.. dia tidak bisa diselamatkan. Dia tewas akibat luka tusukan di perutnya." Lirih Petra. Pertahanannya pun runtuh seketika, persetan dengan keberadaan Eren yang mungkin sekarang sedang berpikir bahwa seniornya sungguh lemah dan cengeng.


Eren tertunduk, merasa menyesal telah bertanya hal pribadi seperti itu dan turut sedih. "Aku.. aku minta maaf, Petra-san."


Petra menarik nafas panjang, berusaha untuk menenangkan dirinya.


"Ah, tidak apa-apa, Eren." Ujarnya sembari mengusap air matanya. Eren tanpa sadar ikut tersenyum, pikirnya betapa kuatnya mental para senior dan rekannya, baik dari sisi humanity maupun sebagai seorang prajurit.


"Saat itu, pikiran dan emosiku belum serasional sekarang. Kau tau? Aku bahkan sempat ingin mengundurkan diri dari Recon Corps."


"Eh benarkah?" Eren sedikit terkejut.


Petra mengangguk. "Tapi.. berkat Oluo, Eld, dan Gunther, aku menjadi semangat lagi dan bisa tetap bertahan. Sejujurnya, mereka tidaklah semenyebalkan itu.. tapi tetap saja menyebalkan." Petra tertawa renyah.


"Syukurlah, kau dikelilingi orang-orang baik, Petra-san."


"Kita.. bukan aku saja. Kau juga dikelilingi orang-orang yang mencintaimu, bersyukurlah untuk itu. Lebih baik kita memanfaatkan waktu dengan baik bersama mereka dan lebih mengenal mereka."


Pikir Eren, hanya orang bodoh saja yang tidak menyadari betapa lembut dan baik seniornya yang satu ini. 'Pantas saja Kapten Levi bisa didekati dengan mudah olehnya.'


"Yah, dunia ini begitu kejam bukan? Aku bersyukur bahwa dia tidak mati dimakan Titan. Tapi bodohnya aku bahkan.. tidak bisa melindungi adikku sendiri." Petra tertawa miris.


"Petra-san, bagi umat manusia, Pasukan Pengintai sudah menjadi pahlawan dan tombak kemenangan. Pasti adikmu disana bangga melihat dirimu saat ini. Bagi adikmu, kau menyelamatkan orang lain itu juga berarti menyelamatkannya."


"Terimakasih, Eren." Petra tersenyum lembut.


"Kau boleh menganggapku sebagai adikmu sendiri, jika itu membuatmu lebih baik, Petra-san"


"Ahahaha, tapiii tetaplah jadi dirimu sendiri! Jangan jadi adikku! Oke?" Petra menepuk-nepuk bahu Eren.


"Baik!" Eren memberi salutenya.


"Yosh! Aku permisi keluar dulu ya, takutnya kapten membutuhkanku. Sekali lagi, terimakasih Eren." Ujar Petra.


"Saya yang harusnya berterimakasih, Petra-san."


Sekali lagi, gadis itu kembali memasang senyum merekah.


...----------------...


Hai haii!!


Moga kalian ga bosen ketemu Author ya 😂🙏


Aku cuma mo ngasi catetan kalo nanti bakal ada beberapa tokoh yang aku bikin sendiri. For example, Revan.


Sumber gambar : Pinterest


Mungkin nanti bakal ada yang kubuat sendiri 😌


Udah si itu aja, okeeyy dadaahh gess!! 👋