Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (5)




...• • •...


Petra terbangun. Ia melirik jam yang ada di ruang makan.


"Jam 2.. haaa aku ketiduran disini-huh?" Ia terhenyak ketika melihat tubuhnya yang terbalut jas hitam.


"Jas hitam? Kenapa ada disini? Tapi, ini seperti.. milik Kapten Levi."


Ia tak menyadari bahwa ada sosok yang memperhatikannya sejak tadi di belakangnya.


"Apa dia sempat kesini tadi? Kalau iya.. apa yang dia lakukan disini? Ah sudahlah, lebih baik aku bertanya padanya besok."


"Petra Ral.."


Sontak tubuh Petra menegang, ada seseorang yang memanggilnya dan tiba-tiba langsung menodongkan sebilah pisau sebelum ia sempat beranjak.


"Kau.. siapa?" Tanya Petra sambil mencoba untuk tetap tenang. Sosok itu hanya tertawa namun terdengar menyeramkan bagi Petra.


"Apa kau.. yang mengirim ancaman itu?" Orang itu tetap tidak menjawab dan malah semakin mendekatkan pisaunya ke leher jenjang Petra.


"JAWAB AKU!"


Dengan cekatan Petra segera mengambil pisau sakunya dan membeset bagian perut sebelah kiri sosok misterius itu. Petra pun berhasil menghindar. Tampak sosok itu memakai jubah hitam panjang sehingga Petra sulit untuk mengidentifikasinya.


"Dengar.. jika kau ingin menghancurkan Squad Elite ataupun Kapten Levi.. kau salah untuk memilih lawan." Tukas Petra sembari tetap waspada terhadap sosok yang ada di hadapannya.


"Sial.. turunkan pisaumu, nona. Kau membuatku takut." Sosok itu tampak mengaduh sebentar, lalu kembali seperti tak terjadi apa-apa.


Petra terkejut, namun berusaha untuk tetap bersikap tenang. 'Seharusnya aku membawa 3D Manuver Gear ku 24 jam.'


Ia pun mulai menyerang duluan dan berakhir dengan mereka yang saling adu bela diri. Beruntung Petra memiliki kemampuan bela diri yang cukup bagus, sehingga itu juga yang menjadi alasan mengapa Levi memilih Petra secara langsung menjadi anggota Special Operation Squad.


BRUKK!!


Petra berhasil meringkus dan menjatuhkannya. "Bicara sekarang!" Namun, orang yang ia tahan sekarang malah tertawa, licik.


"Aku sarankan.. kau jangan melawan, nona. Ruangan ini terlalu besar untuk kau melawan kami."


Petra terperangah. "Kami?"


GREPP!!


Secara tiba-tiba mulut Petra dibekap dari belakang. Petra berusaha memberontak, namun tubuh pelaku yang membekapnya lebih besar dibandingkan dengannya sehingga tenaganya tak sebanding. Ia merasakan pandangannya yang perlahan semakin buram.


'Ini.. bius?'


Petra merasakan sakit yang amat sangat di kepalanya dan tubuhnya pun jatuh lemas.


Samar-samar ia melihat ada 3 sosok pelaku di hadapannya yang akan segera membawanya.


"Tolong.. Kap..ten.." Lirih Petra berusaha memanggil sang kapten, namun nihil.


Dan perlahan semuanya pun menjadi gelap..


...• • •...


"Hei, Petra! Kau di dalam? Bangunlah, ini sudah pagi!" Eld menggedor-gedor pintu kamar Petra, namun tak ada jawaban sejak tadi.


"Tidak biasanya dia bangun terlambat. Biasanya dia yang selalu bangun pagi dan malah lebih dulu membangunkan kita." Ujar Gunther keheranan.


"Apa kita masuk saja?" Tanya Eld yang langsung dibalas anggukan oleh Gunther.


"Petra, kami akan masuk.." Eld dan Gunther pun masuk ke kamar Petra. Mereka berdua tersentak. "Petra tidak disini? Dimana dia?"


"Oi! Kenapa kalian disitu?"


Suara khas itu sontak langsung membuat mereka berdiri tegap dan memberi hormat


"Petra.. tidak ada di kamarnya, Kapten." Tutur Eld.


"Mungkin dia sudah di dapur. Kalian bangunkan dua babi itu, aku yang akan mengeceknya." Kata Levi sambil berlalu pergi.


Mereka mengerti yang dimaksud 'dua babi itu' adalah Eren dan Oluo. Yah, bukan Kapten Levi namanya kalau tidak bermulut pedas. Mereka seakan sudah terbiasa mendengar caci maki dari mulut seorang Levi.


"Si-siap, kapten!"


...• • •...


Levi telah menginjakkan kakinya di dapur, namun dapur masih dalam keadaan gelap seperti semalam saat ia membuat teh.


'Firasatku tidak enak..' Batin Levi gelisah.


Levi segera menuju meja makan, berharap gadis itu masih ada disana. Namun, ternyata tidak sesuai dengan harapannya.


Petra tidak ada disana.


Tak sengaja kedua safirnya menangkap sebuah pisau yang terbalut bercak darah.


'Darahnya mengering.. ini belum lama.' Levi mengusap bercak darah tersebut. Ia juga mendapati jas hitam miliknya yang teronggok di lantai.


"Tch!" Levi mengepalkan tangannya. Perasaannya semakin memburuk saja. Entah mengapa, pikiran dan hatinya sekarang hanya tertuju pada keberadaan dan keselamatan Petra.


'Sial.. siapa yang berani menculik Petra?'


...• • •...


"Misi selesai, Bos."


Pria berjas hitam itu bertepuk tangan. "Kerja bagus.."


Ia meraba sensual setiap inci tubuh Petra yang terbaring tak sadarkan diri dihadapannya. "Nah, kumulai darimana ya, hmm.. ah! wajahnya terlalu cantik.. sebaiknya ini bagian terakhir saja, benar kan, Nial?"


Nial membungkuk hormat sambil tersenyum. "Apapun keputusanmu, Bos."


Pria itu tersenyum menyeringai layaknya psikopat yang sudah siap memangsa korbannya.


"Bawa dia ke ruangan tiga.."


...----------------...