![Always Be With U [Levi X Petra]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/always-be-with-u--levi-x-petra-.webp)
WARNING!!
Scene ini kemungkinan mengandung keuwuan antara Levi dan Petra yang dapat membuat para pembaca menjadi 2G (Gemes n Gregetan) πππ»
Author hanya bisa berdoa semoga yang membaca kuat yak :")
Udah yuk mulai aja Thor nanti kelamaan!
Selamat Membaca! π
...β’ β’ β’...
"Kapten? Kau di dalam?"
Sudah enam kali Petra mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban dari dalam. Gadis itu sudah mencari ke kamar asrama, namun kaptennya tidak ada disana. Maka dari itu, Petra memutuskan untuk pergi ke ruangan kerja Levi.
Setelah Hanji memberitahu bahwa kaptennya demam, wanita itu meminta tolong untuk merawatnya. Sebenarnya, tanpa diminta pun Petra pasti akan melakukannya. Bukankah begitu?
Karena tak kunjung ada jawaban dan rasa cemas gadis itu kian meningkat, akhirnya ia memutuskan untuk memeriksanya langsung ke dalam.
"Maaf, aku akan masuk.."
Begitu pintu dibuka dan melihat seisi ruangan, pandangan pertamanya adalah sosok kaptennya yang sedang duduk tegap sembari kedua tangan terlipat di depan dada, seperti biasa.
Eh? Kedua matanya terpejam?
Petra pun menyimpulkan bahwa pria itu sedang tidur. Sebenarnya ia tidak benar-benar baru melihatnya. Sudah sering ia melihat kaptennya sedang memejamkan mata, dengan kesimpulan mungkin pria itu bermeditasi atau tidur. Ia juga sudah tahu bahwa kaptennya hanya tertidur 2-3 jam sehari, insomnia berat.
Sejak mengetahui itu, Petra memutuskan untuk sesering mungkin mencoba menemani kaptennya sampai seberapa lama dirinya bisa menahan rasa kantuk. Toh, pria itu juga tidak keberatan.
Petra cukup mengagumi gaya tidur Levi yang unik. Bagaimana bisa bertahan dalam postur seperti itu saat pikirannya sedang di alam bawah sadar? Luar biasa.
Sejenak gadis itu berpikir bagaimana cara untuk membangunkannya. Menepuk bahu? Mengguncang tubuhnya? Atau menampar pipinya-hei.. itu sudah terlalu berlebihan. Bisa-bisa dirinya dicap sebagai bawahan yang tidak sopan dan langsung ditendang dari Survey Corps. Ah, mungkin juga lehernya akan langsung ditebas, ckckck.
Dengan sedikit keraguan, ia pun memutuskan untuk dua kali menepuk bahu tegap itu.
"Kapten.."
"Hn.."
"Kau mengalami demam. Kau harus tidur di kamarmu agar lebih nyaman."
Dua detik, tiga detik, tidak ada jawaban, membuat Petra kembali menyimpulkan bahwa itu sebuah persetujuan.
"Baiklah, akan kuantar kalau begitu."
Begitu ia mulai menangkup bahunya, sontak Levi menepisnya. Beruntung Petra bisa menahan teriakan keterkejutannya.
"Hanji.. bisakah kau pergi.."
Petra terkekeh pelan. Kaptennya ini terlihat seperti orang mabuk walaupun tidak minum. Pantas ia pernah berkata perihal dirinya yang tidak bisa minum alkohol dan sejenisnya. Dia sangat anti-mabuk. Well, walaupun sebenarnya Petra pun tidak bisa minum banyak alkohol karena mudah mabuk.
"Kapten, ini aku, Petra. Apa kau tidak mengenali suaraku?"
"Maaf.."
"Tidak apa-apa. Boleh aku mengantarmu?"
Levi mengangguk pelan sebagai jawaban. "Aku bisa berjalan sendiri."
Levi mulai beranjak dengan sedikit sempoyongan, sesekali meringis karena sakit di kepalanya, sedangkan Petra hanya bisa menemani dan mengikutinya dari belakang, khawatir pria itu bisa saja jatuh pingsan.
Sesampainya di depan kamar, Petra pun berinisiatif untuk membuka kenop pintu terlebih dulu. Begitu melihat kaptennya berjalan menuju kursi kamar, sontak ia langsung mencegahnya.
"Kau harus tidur di kasur untuk sekarang."
"Tidak."
"Kapten, aku mohon untuk hari ini saja kau lebih peduli pada dirimu," tuturnya mencoba meyakinkan.
Levi terdiam sejenak dan kemudian kepalanya terangguk kecil, membuat Petra pun tersenyum. Namun, begitu hendak menaiki kasur, ia kembali mencegahnya.
"Apa?"
"Kau tidak melepas sepatu dan rompi?"
"Petra, prajurit tidak boleh lengah. Jika sewaktu-waktu ada serangan, kita akan siap," ujar Levi dengan nada yang terkesan pelan, tidak tegas seperti biasa.
"Tapi, kita juga perlu istirahat. Tidak selamanya kita dalam posisi siap, bukan?"
Levi berdecak. "Terserah."
Mungkin habis ini kaptennya akan berpikir dirinya begitu menjengkelkan. Namun, itu tidak masalah bagi Petra, karena ini demi kebaikan.
Petra dengan sabar menunggu kaptennya melepas sepatu boots dan rompi prajuritnya. Dengan sigap dirinya menawarkan diri untuk menaruh kedua barang itu dengan rapih.
Levi membaringkan tubuhnya perlahan. Terdengar sedikit ritme nafas yang terengah-engah darinya, tanda bahwa pria itu benar-benar dalam kondisi sakit.
"Aku akan mengambil kain dan air hangat," ujar Petra sambil menyelimuti tubuh Levi.
Dengan pandangan yang semakin memburam, Levi sempat melihat kepergian Petra, dan kemudian dirinya pun tertidur.
...β’ β’ β’...
Gadis itu sudah berhadapan lagi dengan tubuh sang kapten yang sedang terbaring. Namun, entah kenapa dirinya belum juga mengompres dahi pria itu. Yang membuatnya seperti itu adalah karena jantungnya yang terus berdebar kencang tanpa alasan.
Atau.. ada alasannya?
Tenanglah, Petra. Kau disini karena ingin merawat Kapten. Yakinkan dirimu!
Petra menarik nafas panjang beberapa kali, mencoba menghilangkan keraguan dan kegugupannya. Ia mungkin terlihat seperti orang aneh sekarang.
Tangan kanannya mulai terulur untuk memegangnya, membuat dirinya tercekat. "Panasnya.."
Begitu ia mulai mengompresnya, tampak sesekali dahi itu berkerut dan mengernyit. Sampai dirasa Levi sudah kembali tidur nyenyak, Petra bisa menghela nafas lega.
"Maaf, Kapten jadi begini pasti karena kemarin. Aku yang membuatmu sakit."
Petra memandang wajah pucat itu hingga tanpa sadar semakin memperhatikan setiap incinya.
"Kapten.. punya rahang yang tajam ya.. eh? Aku kenapa sih?"
...β’ β’ β’...
"Levi.."
Bocah kecil yang diketahui bernama Levi itu segera saja menoleh, mendapati sang ibunda yang memanggilnya.
"Ibu ingin memotong rambutmu sebentar, boleh?"
Levi kecil pun mengangguk. Ia menghampiri sang ibu dan segera duduk manis di atas kursi kayu yang telah disiapkan.
Begitu ia merasakan tangan kasar karena pekerjaan yang kasar pula itu mulai mengelus lembut surainya, Levi kecil memejamkan mata seakan terbuai menikmatinya.
"Kalau kau sudah dewasa nanti, jangan lupa untuk selalu membersihkan diri. Potong rambutmu agar selalu terlihat rapih."
Satu, dua, hingga beberapa potongan pun telah menjatuhkan helai demi helai rambut legamnya.
Namun, tiba-tiba.. tangan itu berhenti beraksi.
Levi kecil sekarang berhadapan dengan sebuah piring kosong dan segelas air di atas meja. Terlihat Kuchel yang akhirnya mengisi piring itu dengan sepotong roti yang terlihat sudah mengeras.
"Maaf ya, Ibu hanya bisa memberi ini. Besok.. Ibu pasti akan membawa makanan yang lebih enak lagi."
Levi tersenyum sendu. Satu gigitan roti berhasil ditelannya, lalu dirinya menyodorkan rotinya sembari bertanya, "Apa Ibu sudah makan?"
Kuchel tersenyum lembut. "Ibu tidak lapar, Nak. Melihatmu makan saja Ibu sudah kenyang."
Mendengar jawaban itu, Levi kembali memakan rotinya dengan ragu-ragu. Dan..
Oh tidak, apa lagi ini?
Kedua safir legamnya kini disuguhkan dengan pemandangan yang pasti tidak ingin dan tidak akan pernah mau dilihatnya.
Tubuh kurus itu.. sudah tak bernyawa..
Levi kecil bisa merasakan kedua netranya kian meredup pertanda sudah banyak kumpulan air yang siap jatuh kapan saja. Namun, ia tidak bisa menangis. Hanya bisa mengeluarkan gumaman lirih.
"Bangunlah.."
Guncangan pelan ia lakukan untuk mendapat respon.. nihil. Tangan mungilnya terulur untuk mengusap pelan wajah pucat sang ibunda. Bibir keringnya bergetar. Giginya menggertak, mencoba sekuat tenaga menahan isak tangis yang hampir keluar. Ibunya pernah berkata bahwa ia harus menjadi anak yang kuat.
"Jangan.. tinggalkan aku sendiri.."
"Jangan lepaskan aku.."
GREB!!
Petra sontak terbangun dari tidurnya begitu ada sesuatu yang memegang tangannya dengan erat.
Betapa terkejutnya.. ternyata itu tangan kaptennya.
Netra almond itu sukses membulat karena melihat..
Levi menangis.
Wajahnya bermandikan keringat, sesekali mengernyit. Bibir pucatnya terus meracau pelan, namun Petra masih belum mengerti apa yang dikatakannya.
Semakin erat, hingga membuat gadis bernama belakang Rall itu sempat meringis sedikit karena remasannya. Namun, bukannya merasa kesal, ia justru merasa sangat sedih.
"Kau bermimpi buruk?" Petra mengusap-usap tangan Levi yang gemetar. "Tenanglah, Kapten."
Raut wajah pria itu tampak seperti menahan kesedihan, seolah mimpi yang didapat benar-benar menyakitkan. Petra yang ada disampingnya terus mencoba menenangkan. Sampai dimana ia pun bisa mendengar jelas suara lirih itu.
"Ibu.."
"Ibu.."
Tanpa sadar gadis karamel itu membiarkan bulir-bulir bening menguasai pipinya. Tangannya yang lain segera menutup mulutnya, takut dirinya semakin terisak dan malah akan mengganggu. Dadanya ikut terasa sesak, seolah ikut merasakannya.
Hingga tangannya pun terulur untuk mengelus pelan surai hitam itu, dan itu sukses membuat Levi sedikit tenang.
Petra semakin sadar bahwa kaptennya sudah banyak melalui kesedihan dan hal buruk semasa hidupnya. Gadis itu pun semakin bertekad untuk terus berada disampingnya, menemaninya, sebisa mungkin selalu memberi yang terbaik.
Selama ia masih hidup.. selama ia masih bisa..
"Aku akan ada disampingmu, memegang tanganmu, selama yang aku bisa, Kapten."
...β’ β’ β’...
"Oluo! Cepat sedikit jalanmu!"
"Iya iya! Cerewet sekali kau hari ini, Gunther," balas Oluo tidak mau kalah.
Gunther hanya bisa mendengus. Pasalnya ia yang diberitahu pertama kali oleh salah seorang rekan prajuritnya bahwa anggota squad Levi dipanggil oleh Erwin perihal persiapan pelatihan esok hari. Jadi, pria bermarga Schultz itu mungkin merasa bertanggung jawab akan hal ini.
Berbeda dengan Eld, pria itu justru tertawa menggoda. "Sepertinya sebentar lagi posisiku sebagai Wakil Kapten akan diganti olehmu."
"Tidak mungkin. Selama ini kau yang paling dipercaya oleh Kapten untuk memimpin squad kita. Tidak semudah itu kau digantikan," imbuh Gunther.
Percakapan mereka pun harus berakhir karena ketiga manusia itu telah sampai di depan ruangan Erwin. Eld mengetuk pintu dan dengan sopan meminta izin untuk masuk. Setelah diperbolehkan, mereka pun masuk, tak lupa memberi salute.
"Wah! Halo kalian!"
Hampir saja mereka melompat mendapat sambutan heboh dari Hanji.
"Terimakasih kalian sudah datang," lanjut Erwin dengan nada khasnya, lalu dibalas dengan anggukan ketiga pria itu.
"Komandan, saya tidak melihat Kapten Levi dan Petra. Dimana mereka?" tanya Eld.
"Mereka berdua sedang di kamar."
Ketiga pria itu sontak tercengang, apalagi Oluo yang langsung terbatuk-batuk mendengarnya. Sebentar lagi mereka akan membuat kesimpulan semata.
"M-mereka sedang apa?"
Setelah Oluo melempar pertanyaan frontal itu, Eld langsung menyikutnya dengan keras.
"Levi sakit. Jadi, aku meminta bantuan Petra untuk merawatnya," jawab Hanji dengan santai.
"Kapten bisa sakit juga?" bisik Oluo.
"Haahh, dia juga manusia. Kau pikir dia apa.."
"Baiklah, karena Levi sedang berhalangan aku ingin kalian mendengarkan penjelasan ini dengan baik. Laporkan hasil pertemuan ini kepada Levi nanti," perintah Erwin.
"Siap, laksanakan!"
...β’ β’ β’...
Levi kini tengah membelalakkan matanya.
Kenapa ia terbangun sambil menggenggam tangan Petra?
Kenapa gadis ini bisa tertidur disini?
Bisa-bisanya dirinya tertidur begitu nyenyak? Diatas kasur pula?
Namun, entah kenapa Levi tidak ingin melepas tangan itu untuk sekarang. Netranya seakan ingin menatap wajah tidur gadis itu lebih lama lagi barang semenit saja.
Tanpa sadar tangan satunya terulur untuk mengelus pelan surai jahe itu. Surainya begitu lembut di tangannya yang kasar.
"Terimakasih.."
Menyadari adanya pergerakan, belia itu perlahan terbuka, menampakkan keindahan warnanya selepas bangun dari sang bunga tidur.
Sontak Levi pun melepas genggaman tangannya, berharap gadis itu tidak menyadari apa yang sudah ia lakukan.
Petra meringis pelan karena lehernya yang terasa pegal setelah tidur dengan posisi itu selama beberapa jam. Ketika menghadap ke depan, tampak tubuh yang tadi terbaring itu kini sudah duduk tegap, membuatnya sedikit terkejut.
"Kapten sudah bangun?"
"Iya," jawab Levi sembari memegang dahinya dengan raut mengernyit. "Berapa lama aku disini?"
"Mungkin sekitar 5 jam sejak kau tertidur. Kapten cukup mendapat tidur nyenyak hari ini," jelas Petra.
"Begitu ya.."
Petra menggigit bibir bawahnya, bingung. Haruskah ia menyinggung tentang genggaman tangan tadi? Tapi, jika tidak disinggung malah akan terjadi kesalahpahaman nantinya.
"Sepertinya.. Kapten bermimpi buruk. Kau sampai tidak mau melepas tanganku. Makanya.. aku tidak berani melepasnya karena berakhir kau akan memegangnya semakin erat."
Levi memalingkan wajahnya ke arah lain, sedikit malu untuk menatap gadis dihadapannya. Berpikir dirinya telah melakukan hal yang memalukan. "Maaf, Petra."
"Eh? Tidak apa-apa kok."
"Apa aku melakukan hal buruk lain selama tidur?"
Petra tidak mungkin mengatakan bahwa kaptennya sempat menangis dalam tidurnya. Biarlah hanya dirinya yang tau. Ia juga tidak mau membuat pria itu merasa semakin buruk.
"Tidak, Kapten."
"Baiklah. Sepertinya aku juga sudah membaik sekarang."
"Maafkan aku. Kau sakit karena mencariku kemarin." Petra menundukkan wajahnya, merasa sangat bersalah.
"Oi, apa hobimu itu hanya senang menyalahkan diri?" tandas Levi dengan mulut pedasnya seperti biasa.
"T-tidak, Kapten! Maaf-maksudku.. tetap saja aku harus meminta maaf karena aku telah merepotkanmu."
"Aku yang memutuskan untuk mencarimu. Jadi bukan salahmu."
Petra kembali menundukkan pandangannya. "Iya. Baiklah, Kapten."
Gadis itu pun memutuskan untuk beranjak sembari membawa bekas kompresannya, tidak mau menciptakan suasana yang lebih canggung lagi.
"Syukurlah, keadaanmu sudah membaik. Aku sarankan jangan banyak bergerak dulu hari ini. Aku tidak menyangka Kapten bisa sakit juga."
"Tch, kau pikir aku apa?"
Petra langsung tertawa renyah. "Iya iya, kau tetap manusia biasa. Kalau nanti butuh bantuan katakan saja, Kapten."
Levi menatap kepergian gadis itu hingga sampai di ambang pintu. Mulutnya seakan tergerak ingin mengatakan sesuatu. Hatinya tergerak ingin melakukan sesuatu tapi ditahannya-tidak, kali ini ia akan melawan egonya.
Betapa terkejutnya Petra begitu merasakan sesuatu merengkuh tubuhnya dari belakang. Dirasakan ada hembusan nafas seseorang yang menggelitik leher jenjangnya, tapi dirinya tau itu milik siapa sehingga membuat tubuhnya seakan membeku ditempat, tak bisa berkata apa-apa.
"Terimakasih.. Petra.."
Saat itu juga, gadis itu hanya bisa diam tak berkutik dengan segala perasaan yang membuncah dalam hatinya.
...--------------------...