![Always Be With U [Levi X Petra]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/always-be-with-u--levi-x-petra-.webp)
"Dia pasti akan sangat marah melihat kondisimu saat ini. Aku sangat menanti kehadirannya."
Petra enggan untuk mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut pria jahat itu. Tubuhnya kian memucat karena tidak bisa bernafas dengan baik akibat ikatan pada lehernya. Ia hanya mampu melihat langit-langit ruangan yang tampak samar baginya.
"Tik tok tik tok.." Nico memainkan arlojinya. "Ckckck, menyedihkan sekali. Squad yang kau sayangi bahkan sudah tidak mempedulikanmu. Lihat, mereka tidak datang menyelamatkanmu."
Petra melirik tajam ke arah Nico, penuh dengan kebencian yang tersirat disana.
"Apa mereka sudah menyerahkan dirimu sepenuhnya padaku?" Nico kembali membelai wajah pucat Petra.
"Waktunya kau untuk mati!"
Nico langsung menendang kursi tempat Petra menapak. Petra terbelalak. Tubuhnya kembali tergantung. Lehernya tertarik kuat. Wanita bersurai jahe itu menangis. Mulutnya berusaha ingin menjerit meminta tolong.
"Jika kau tidak melawanku, kau tidak akan seperti ini, sayang."
Kedua tangan lemah Petra terus memegang ikatan pada lehernya, berusaha untuk melepasnya. Tubuhnya yang awalnya mampu memberontak kini semakin lemas.
"To.. long-aarrghh.. ja..ngan.." pekik Petra lemas.
BRAAKK!!!
Nico yang tersentak langsung menoleh ke arah pintu, memperlihatkan sosok Levi yang sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam penuh dengan amarah. Dan dapat terlihat jelas kedua bilah pedang yang ada di genggaman tangannya, siap menebas siapa saja.
Levi sontak terkejut melihat tubuh Petra yang digantung di langit-langit ruangan. "Petra!"
"Yah, kau mengacaukan ritualnya." Nico pun kembali menaruh kursi kayu itu agar Petra bisa menapakkan kakinya kembali.
Petra terengah-engah sambil menangis kesakitan. Nyaris saja ia kehabisan oksigen dan hampir mati. Ia melihat samar-samar sosok kaptennya.
"Kau barusan merusak pintuku, lho. Apa kau tidak mau minta maaf?" tanya Nico dengan santai.
Levi terkejut ketika mendengar suara yang tak asing tersebut. Dugaannya benar. "Kau.."
Nico menoleh, menampakkan wajah kejinya. "Nampaknya kau tidak tumbuh dengan baik ya, Levi."
Levi berdecih. "Nico!"
Petra terkejut. Kapten, mengenal Nico?
Nico memberi kode pada semua anak buahnya yang ada di ruangan tersebut untuk keluar dari persembunyiannya dan menghadang Levi.
Ternyata masih ada anak buahnya yang tersisa, batin Levi.
"Kau masih ingat padaku rupanya. Syukurlah, kau datang. Kupikir kau sudah tak peduli lagi pada nona secantik ini." Nico mengelus lembut wajah pucat Petra. Petra menggertak. Ia merasa jijik dan merinding sekaligus.
Langsung saja Levi menerjang ke depan. Kedua bilah pedang kembali ia hunuskan dengan lihai dan melukai anak buah Nico satu persatu.
Kumohon Tuhan, lindungilah kapten. Semoga ia dan yang lain baik-baik saja, gumam Petra. Dirinya merasa sangat bersalah karena telah merepotkan teman-temannya dan membuat timnya dalam bahaya, terutama Kapten Levi.
"Baiklah, mari kita lihat apakah kau bisa mengalahkan semua anak buahku." Nico mengamati sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Tentu saja dia bisa. Dalam sekejap, Levi sudah membuat lima anak buah Nico tersungkur tak sadarkan diri. Levi hanya bermodalkan 3D Manuver Gear, sedangkan mereka memakai pistol.
Hingga.. tersisa lima lagi..
"Aarghh-uhukk!!"
Tiba-tiba Nico memukul bagian perut Petra. Petra langsung muntah darah dibuatnya.
Tanpa sadar Levi sedikit kehilangan fokusnya karena melihat keadaan Petra. Ia tak melihat bahwa salah satu anak buah Nico menodongkan pistol ke arahnya.
"Kap.. ten.." Petra berusaha memperingati Levi untuk menghindar, namun terlambat.
DUAARR!!
"Argh!" Levi merintih kesakitan. Beruntung tadi ia sempat bereaksi. Namun, tembakan itu berhasil mengenai lengan kirinya. Levi berdecih sambil memegang lengannya yang bercucuran darah.
"Hoo, lihatlah. Kapten tersayangmu itu jadi terluka karena dirimu."
Petra menangis pelan. Apa yang dikatakan Nico benar. Kapten Levi terluka karena dirinya yang lemah. Ia hanya bisa pasrah dan menunggu untuk diselamatkan. Ia tak peduli lagi dengan kondisi tubuhnya yang semakin buruk. Yang ia pedulikan adalah keselamatan kapten dan teman-temannya.
"Kapten!"
Levi seketika menoleh ke sumber suara. Tampak Eld dan Oluo yang langsung mengarahkan handgun mereka masing-masing dan menembak anak buah Nico yang tersisa.
"Bos! Dia membawa-DUARR!!"
Anak buah yang sempat ingin berkata pun ditembak langsung oleh Eld.
"Apa-apaan ini?! Kau tidak sendiri?!!"
"Memangnya hanya kau yang bisa menyembunyikan kawanan yang hanya menang jumlah itu?"
-FLASHBACK ON-
5 MENIT SEBELUM MASUK KE RUANG BAWAH TANAH..
Levi menghentikan Oluo dan Eld yang hendak masuk. "Tunggu."
"Ada apa, Kapten?"
"Kalian tetap disini. Mengingat musuh yang mengenalku dan sepertinya punya dendam pribadi padaku. Jika situasi menjadi darurat, kalian baru boleh masuk."
"Mengenal kapten? Apa maksudnya?" tanya Eld penasaran.
"Sepertinya, dia adalah musuhku ketika masih di bawah tanah."
"Jika dia adalah musuh kapten, bukankah lebih baik bertindak bersama. Jika kapten bertindak sendiri, itu sama saja bunuh diri," sergah Oluo.
"Oluo benar, Kapten."
"Justru itu, target utama mereka adalah aku. Aku akan menjadi umpan. Selain itu, aku ingin kalian berdua berjaga dari belakang. Sekarang, kalian sedang melawan manusia, bukan Titan. Pakai pistol kalian," titah Levi.
"T-tapi, Kapten-"
"Jika kalian takut mengotori tangan kalian, lebih baik kalian mundur. Aku tidak akan memaksa."
Oluo dan Eld saling menatap satu sama lain. Kemudian, mereka menarik nafas panjang dan langsung memberi salute. "KAMI SIAP MENGOTORI TANGAN KAMI, KAPTEN!"
"Hn, bagus. Aku mengandalkan kalian."
Oluo dan Eld bahagia bukan main. Hati mereka seperti meletup-letup. Sebut saja mereka berlebihan. Tapi, dipercaya oleh seorang Levi sudah seperti penghargaan besar bagi mereka. Mungkin ini yang dirasakan Petra saat dipercaya menjadi asisten langsung kapten mereka.
"Siap, Kapten!"
-FLASHBACK END-
"Sialan kau, Levi!"
Nico langsung saja mengeluarkan pistolnya dan hendak menembak lagi ke arah Levi. Namun, ia kalah cepat karena Levi sudah lebih dulu menembak bahu kanan Nico.
"Aaarrgghh!!!" Nico terhuyung ke belakang sambil memegang bahunya.
DUAKK!! SLAAPP!!
Levi menendang wajah Nico hingga pria itu pun tersungkur. Lalu, ia memasukkan pedangnya ke dalam mulut Nico. Nico terbelalak kaget sambil memberontak.
"Jangan berani menghancurkan pasukanku jika urusannya hanya denganku!"
AAAAAAAAAAA!!!!!
Kedua jari tangan kanan Nico langsung ditebas dengan bengis oleh Levi.
BUGGHH!! DUAAKK!!!
Levi menendang dan memukul wajah Nico berulang kali sampai Nico bisa dibilang dalam keadaan babak belur.
Levi langsung beralih kepada Petra yang sudah terkulai lemas dan dikelilingi oleh Oluo dan Eld.
...• • •...
Oluo menembak sumbu rantai yang menggantung Petra. Tubuh malang itu pun langsung dipapah oleh Eld.
Petra terbatuk-batuk sambil berusaha menetralkan nafasnya. Ia mengedarkan pandangannya perlahan. Kepalanya masih terasa sakit.
"Petra, kau bisa mendengarku?" tanya Oluo cemas.
"Ka.. lian.." Ia bisa melihat samar-samar wajah panik dan khawatir kedua rekan timnya itu.
"Syukurlah, kau bertahan," ucap Eld lega.
"Petra!"
Suara itu, suara yang entah kenapa sangat Petra rindukan. Ia melihat tubuh mungil kaptennya yang menghampirinya setelah membuat Nico babak belur.
"Kapten, aku akan membawa Nico," ujar Eld yang dibalas anggukan pelan oleh Levi.
Sekali lagi, manik safir itu menatap tajam ke arah Nico. Sedangkan, yang ditatap masih bisa tersenyum menyeringai meskipun sudah babak belur.
"Kapten.. maaf," lirih Petra lemas.
"Diam, lebih baik kau tetap bertahan sampai base."
Petra tersenyum simpul. Entah kenapa, ia malah merindukan omongan tajam kaptennya seperti biasa. Namun, senyum itu langsung memudar ketika Petra melihat Nico tampak tersenyum licik ke arah lain dan..
Ia melihat anak buah Nico yang tersisa, Daniel, perlahan keluar dari persembunyiannya yang dimana itu merupakan titik buta Oluo dan Eld, namun terlihat oleh Petra, sambil menodongkan pistolnya ke arah Kapten Levi dari belakang.
Tidak.. mungkinkah itu mengarah.. ke kapten?
Oluo yang baru menyadari ada suara langkah kaki lagi yang mendekat langsung menoleh ke sumber suara.
"Kapten!" teriak Oluo.
Dengan cepat Petra langsung menarik tubuh sang kapten agar berada di belakangnya untuk melindunginya sehingga membuat Levi, Oluo, dan Eld terkejut..
DUARR!!
...----------------...
Hai Hai! Balik lagi sama akuu ges 😁
Kayaknya udah 3 episode dibikin tegang mulu ya :")
Gatau kenapa menurut Author episode ini yang paling seru setelah direvisi lagi dan ditambah sedikit alurnya.
Nah, mau tau kelanjutannya? Kira-kira siapa yang ditembak ya? 😭
Oiyaa, Author sangat berharap dukungan dari kalian karena itu bisa jadi motivasi buat aku 😊
THANKYOU N LOVE YOU ALL ❤
Salam Author 🙏