![Always Be With U [Levi X Petra]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/always-be-with-u--levi-x-petra-.webp)
Gadis karamel itu masih berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak tak karuan. Wajah memerah karena malu itu tertunduk. Pandangan matanya enggan untuk menoleh ke samping yang sudah terdapat eksistensi sang kapten yang masih setia menunggunya mengeluarkan sepatah kata.
Aduhh aku malu sekali. Bagaimana bisa aku menikmatinya? Padahal itu bisa saja hanya untuk menenangkan diriku. Dan lagi.. kenapa kapten masih menungguku disini? gumam Petra.
Levi mengelus pelan surai Petra beberapa kali, masih menenangkan gadis yang berada dalam rengkuhannya. Levi tau bahwa itu yang sekarang dibutuhkan Petra. Namun, yang direngkuh seketika tersadar dan langsung menarik dirinya menjauh perlahan.
"Kapten, a-aku minta maaf! Aku tidak bermaksud.." ujar Petra langsung membungkuk. Ia yakin sekali wajahnya pasti sudah memerah bak kepiting rebus.
"Sudahlah, ikut aku. Ayo kita ke balkon."
Levi berjalan terlebih dulu ke arah balkon, meninggalkan Petra yang masih terpaku di belakang.
"Aku harus bagaimana?"
Ya, dan sekarang mereka berdua tengah berada di balkon kamar Petra. Tuntunan kaptennya seakan bak magic yang mampu menyihir gadis itu untuk ikut dengannya.
Petra kembali menghela nafas untuk menghilangkan kegugupannya. Dirinya sadar bahwa ia juga tidak boleh membiarkan suasana canggung ini terlalu lama, terlebih membiarkan kaptennya menunggu.
"Aku.. sudah lebih baik. Terimakasih, kapten."
Levi menoleh sejenak, "Hn, syukurlah."
"M-Maaf atas sikapku yang tidak sopan. Aku.. pasti sangat kekanakan."
"Minum dulu tehmu. Itu mulai dingin." peringat Levi sambil melirik ke arah cangkir teh milik Petra.
"Ah.. i-iya juga.." Petra pun langsung menyesapi teh yang mulai mendingin di tangannya itu. Ia terhenyak sejenak.
"Buatanku tidak seenak buatanmu."
Petra menggeleng pelan. "T-tidak, kapten. Justru.. menurutku ini lumayan enak.
Perkataan Petra dibalas dengungan pelan oleh Levi, menandakan pria itu mungkin menerima penilaian Petra.
"Tidak setiap saat kita harus bersikap dewasa. Walaupun aku sendiri tidak tau.. bagaimana bersikap layaknya seorang bocah."
"Hahaha.. karena kau selalu terlihat dewasa, kapten." ucap Petra sembari tertawa renyah, membuat Levi kembali menoleh. Mungkin sekarang kaptennya berpikir apa yang lucu dari kalimat itu.
"M-maksudku.. kau memang selalu bisa bersikap dewasa. Bagiku, kau adalah orang yang kuat, tangguh, bijak, dan selalu berpikir ke depan. Tak salah.. aku percaya padamu, kapten."
Levi tertegun mendengar pengakuan Petra terhadap dirinya. Selama ini Petra punya pemikiran seperti itu?
"Aku tidak sebaik itu."
"Yaa.. mungkin. Kecuali.. wajah menyeramkan dan mulut pedasmu." celetuk Petra yang kemudian langsung menggunakan sebelah tangannya untuk menutup mulut besarnya.
Sejak kapan aku jadi berani bicara begini? Bodoh, pasti aku sudah tidak waras, batin Petra mengutuk dirinya.
Tanpa sadar Levi menarik ujung bibirnya, sedikit terkejut mendengar pengakuan kedua dari mulut gadis bermarga Rall itu.
"Wajah dan mulutku memang seperti ini."
"Ma-maaf, kapten! Sungguh.. maksudku bukan seperti itu. Hanya saja.. rekan-rekan prajurit kita sering takut kepadamu, termasuk Oluo, Eld, dan Gunther."
Levi menghela nafas, "Begitukah? Lalu, apa kau juga takut padaku?"
"T-tentu saja tidak! Kapten jangan khawatir! Aku dan yang lain juga sudah terbiasa."
Sudah terbiasa?
Levi meringis mendengarnya. Ia malah merasa semakin buruk.
"Tetaplah jadi kapten kami. Sungguh.. tetaplah menjadi dirimu seperti biasa." ucap Petra sembari tersenyum tulus.
Walaupun hanya sepersekian detik, namun entah kenapa senyuman itu selalu membuat Levi merasa tenang, seakan memang senyuman itu adalah obat penenangnya sehari-hari. Mata safirnya melihat Petra sedang berusaha menyelipkan anak rambutnya yang tertiup angin. Kedua iris almond itu teduh, sibuk menatap kadar teh yang sudah berkurang setengah cangkir itu.
"Petra.."
"Hm, iya?"
Levi sedikit memalingkan wajahnya. "Tentang adikmu.. aku minta maaf. Waktu itu aku terlalu cepat menyimpulkan."
"Ah, tidak apa-apa. Wajar kalau kapten bisa berpikir seperti itu." kilah Petra. "Nama dia Revan, nama yang keren untuk bocah seusianya.."
Baru saja Levi ingin bertanya, namun Petra sudah terlebih dulu menceritakannya. Pria itu memilih untuk mendengarkannya dengan seksama.
"Dia periang dan jahil. Bahkan, menjahiliku sudah menjadi hobinya setiap hari."
"...."
"Ketika aku masuk pasukan pengintai dan direkrut menjadi anggota squadmu, dia sangat senang. Ah, dia memang selalu senang dalam semua hal.'' lanjut Petra sembari tersenyum meratapi rembulan. Mungkin gadis itu sedang membayangkan wajah menggemaskan adiknya.
"Dan yah.. mungkin saat itu bukan menjadi hari keberuntungan kami. Waktu itu aku sedang dalam masa pelatihan awal kadet, aku diberitahu kalau adikku bertemu dengan sekelompok perampok. Dia.. langsung bersikap seperti pahlawan untuk melindungi temannya." Petra tersenyum getir
"Lalu?"
"Lalu.. dia.. tidak bisa diselamatkan.. karena luka tusukan yang dalam. Yah, dunia ini kejam, bukan? Aku sudah bersyukur bahwa dia tidak mati dimakan Titan."
"Aku turut berduka."
Petra tersenyum membalas Levi. "Terimakasih, kapten. Aku hanya iri, dia tewas dengan cara yang keren. Semoga aku juga bisa mati dengan cara yang keren."
"Bodoh, bahkan surga saja masih menolakmu."
Petra seketika tertawa mendengar ucapan Levi, "Kapten, kau lucu sekali."
Levi ikut tersenyum tipis melihat Petra yang kembali ceria seperti biasa. Tanpa sadar, itu yang Levi inginkan, melihat Petra dengan wajah periangnya dan sikap lembutnya. Itu sudah cukup baginya.
"Lupakan tentang adikku. Apa.. kapten ingin bercerita tentang keluargamu?" tanya Petra.
Levi menoleh, membuat Petra seketika menyadari kalau pertanyaannya mungkin terlalu menyinggung. "Maaf, kapten. Kalau tidak mau menjawab tidak apa-apa kok. Hanya saja.. aku belum pernah mendengar detail cerita tentang.. kapten yang seorang preman dari distrik bawah tanah."
"Dulu.. ada dua orang yang sangat berharga, setelah ibuku.."
Petra memasang kedua telinganya baik-baik ketika dirasa kaptennya ingin mulai bercerita, mengabsen setiap kata yang keluar dari mulut pria itu, pastinya enggan untuk melewatkannya.
"...."
"Akhirnya, kami sengaja mencuri 3D Manuver Gear secara ilegal dan berhasil menguasainya."
"Kalian belajar sendiri?"
Levi berdengung pelan. "Kami mendapat banyak keuntungan dengan alat itu. Mencuri dan memalak orang menjadi lebih mudah bagi kami."
Tatapan Petra menyendu. "Lalu, bagaimana kapten bisa berakhir di Survey Corps?"
"Tindakan kami diketahui oleh mereka. Lalu, si kuning itu malah mengajak kami untuk bergabung. Tentu saja kami berniat ingin membunuhnya, selain karena perintah pak tua bodoh, demi mendapatkan jaminan hidup di atas dan uang tentunya. Pak tua itu menyuruh kami untuk mencuri dokumen rahasia Survey Corps yang ada di tangan Erwin."
"Pak tua? Dan.. sepenting itukah dokumennya?"
"Pak tua cebol yang ingin menghancurkan jajaran pasukan pengintai, terutama Erwin, demi gelar dan reputasinya. Kalau kau bertanya apa isi dokumennya, aku juga tidak tau."
"Lalu, apa yang terjadi, kapten?"
"Tentu saja Erwin sudah selangkah di depanku. Saat itu ekspedisi luar dinding, itu waktu yang tepat untuk membunuhnya. Awalnya, aku tidak mau mereka berdua ikut karena terlalu beresiko. Tapi, mereka tetap bersikeras untuk menemaniku. Kami berpencar, aku ke sayap kiri dan mereka ke sayap kanan. Saat itu juga.. terjadi hujan badai. Tersadar, aku baru saja melewati satu Titan karena jejak kaki besar yang kutemukan tepat mengarah ke sayap kanan."
Petra terkejut, "Itu.."
Levi mengangguk pelan, "Daripada Erwin, mereka berdua yang terbunuh."
"Kapten.."
"Erwin hanya memberitahuku untuk tidak menyesal dalam mengambil keputusan. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk menaruh kepercayaanku padanya."
"Aku yakin.. Isabel dan Farlan bangga melihat dirimu saat ini. Dan bagiku.. keputusanmu sudah tepat, kapten." ucap Petra sembari menurunkan tatapannya.
"Terimakasih."
"Bagaimana dengan ib-maaf.."
"Tentang ibuku?" Levi balik bertanya, dibalas anggukan pelan oleh Petra.
"Aku tidak mengingat banyak. Yang paling kuingat.. dia hobi memotong rambutku kalau sudah panjang, katanya agar aku terlihat rapih. Dia selalu mengutamakan diriku dibanding dirinya sendiri. Lalu suatu hari, dia tidur begitu saja meninggalkanku."
Petra tersenyum sendu, "Pasti.. kapten mirip sekali dengan dia."
"Hn, tau darimana, Petra? Melihatnya saja belum pernah."
"Hmm, intuisi perempuan?"
Levi berdecih, membuat Petra seketika tertawa. "Bercanda, kapten. Tak heran.. kau bisa dijuluki 'prajurit terkuat umat manusia'. Kau sudah melewati banyak hal."
"Ck, orang-orang selalu asal bicara."
"Tapi.. itu pantas untukmu." kata Petra sembari tersenyum.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?"
Terdapat jeda sejenak diantara mereka. Hanya terdengar suara para hewan malam yang masih senang menjalani hari mereka. Dan sampailah ketika gadis itu hendak membuka jawabannya.
"Karena.. aku percaya padamu, kapten."
Levi kini mengalihkan atensi sepenuhnya pada gadis hazel itu. Iris safir legamnya yang menatap lekat, seakan menyampaikan beribu makna dari sana.
Petra yang tersadar kaptennya sedang menatapnya langsung menginstruksi. "Kapten?"
Perlahan tapi pasti, Petra bisa merasa jarak antara dirinya dengan kaptennya semakin dekat. Entah kenapa gadis itu hanya bisa terdiam, tidak spontan mundur seperti sebelumnya.
Hingga..
Jarak diantara mereka terpaut sebatas batang hidung masing-masing, saling merasakan bagaimana ritme nafas keduanya.
Petra sontak menundukkan wajahnya yang terasa panas. Irama jantungnya perlahan meningkat. Kenapa aku gugup sekali?
"Petra.."
Petra langsung saja menutup kedua matanya begitu ia merasa wajah Levi seperti melewati telinga kanannya.
Apa yang akan dia lakukan? batin Petra dalam hati. Namun, alangkah terkejutnya dia ketika pria itu mengambil beberapa helai rambutnya lalu menangkap sesuatu.
"Ada serangga di rambutmu."
"Eh?"
Levi memperlihatkan seekor kumbang merah berukuran sedang yang ada di tangannya.
"A-ah.. serangga rupanya.." Petra buru-buru memalingkan wajahnya. Bodoh, otakku benar-benar sudah tidak waras..
"Tch, memangnya kau pikir aku akan melakukan apa?"
"Hah? T-tidak, kapten!" jawab Petra dengan wajah yang semakin bersemu merah, malu.
Cantik..
Levi tanpa sadar menarik sudut bibirnya lagi melihat tingkah Petra.
Gadis itu menarik nafas panjang, kemudian mengalihkan topik pembicaraan. "A-aku dengar.. kapten tidak mau makan selama tiga hari. Kenapa?"
Levi terdiam sejenak. "Aku hanya tidak ***** makan."
"Tetap saja. Apa kau tidak sayang pada dirimu sendiri?"
"Petra, kau tidak perlu berlebihan-Oi!"
"Tidak perlu berlebihan bagaimana? Ayo, sekarang kau harus makan, kapten!" seru Petra sembari menarik tangan kaptennya.
"Stok makan malam sudah habis daritadi."
"Akan kubuatkan dengan bahan yang ada!"
Levi pun memilih untuk diam sembari mengikuti gadis itu dari belakang, membiarkan ia memegang tangannya lebih lama lagi.
...----------------...