![Always Be With U [Levi X Petra]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/always-be-with-u--levi-x-petra-.webp)
Levi terus memacu kudanya. Pandangannya tak pernah luput dari gadis berlumuran darah yang ada di dalam kereta kuda di sampingnya. Dilihatnya, wajah Petra semakin pucat.
"Moblit! Nifa! Kalian ikut aku ke pusat untuk memanggil tenaga medis! Sisanya, kawal Regu Levi hingga ke base!" titah Hanji cekatan.
"Baik!" koor semuanya serempak.
Hanji, Moblit, dan Nifa pun langsung memisahkan diri dari barisan.
...• • •...
Sesampainya di base, Regu Mike yang sedang berjaga dikejutkan dengan kedatangan Regu Levi dan yang lain yang terluka parah, terutama Petra yang berada dalam gendongan Levi.
Levi membawa Petra ke kamar terdekat untuk segera diberi pertolongan pertama. Begitu juga yang lainnya, dibantu oleh Regu Mike.
"Oi, cebol! Apa yang terjadi?" tanya Mike.
Levi masih terdiam. Pikirannya sekarang hanya tertuju pada keselamatan Petra yang ada di dalam sana. Ia bahkan tidak peduli lagi dengan lengan kirinya yang bisa dibilang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Entah mengapa hatinya terasa hancur. Bayangan masa lalu yang ia benci kembali menghantuinya, kematian sang ibunda, Kuchel Ackerman, serta kematian dua sosok yang sangat berharga dalam hidupnya, Farlan dan Isabel. Tanpa ia sadari, ia juga telah menjadikan Petra sebagai salah satu alasannya untuk tetap bertahan hingga saat ini, meskipun ia belum bisa mempercayainya.
"Haahh, sebaiknya kau rawat juga lukamu itu, Levi," ujar Mike mengingatkan. Ia mengerti bahwa rekannya itu mungkin masih memikirkan apa yang terjadi pada anggota regunya. Jadi, ia memilih untuk membiakan Levi sendiri.
Levi berdecih kasar, "Hanji sialan, lama sekali dia membawa tenaga medis," keluhnya. Wajahnya tampak seperti biasa, namun tidak dengan hatinya. Ketakutan dan kecemasannya belum sepenuhnya hilang.
Tepat setelah Levi bersumpah serapah, Hanji datang membawa para tenaga medis. Tenaga medis utama langsung diperintahkan untuk merawat Petra.
"Levi, kau mau kemana?"
"Aku juga ingin masuk."
Hanji langsung mencegahnya, "Sebaiknya kau rawat juga lukamu. Serahkan Petra kepada mereka."
Levi menghela nafas kasar. Mau tidak mau, ia hanya bisa menunggu di luar ruangan bersama Hanji.
"Kau mengkhawatirkannya, bukan?" tanya Hanji sambil menyiapkan perban.
Levi hanya terdiam, lebih tepatnya bingung ingin menjawab apa. Apa ia terlihat khawatir kepada Petra? Apa wajah dan perilakunya menunjukkan itu semua?
Levi pun mencoba mengalihkan pembicaraan. "Ini hanya luka ringan."
"Hei, bahkan luka seperti ini bisa menurunkan performamu saat melawan Titan. Bisa-bisa jabatan 'Kapten' mu itu dicabut, lho. Dan kau nanti hanya bisa menyusahkan rekan-rekanmu dan jadi tidak berguna," ejek Hanji penuh penekanan sambil tersenyum jahil.
"Tch, kuharap kau segera menjadi santapan Titan."
"WAAA!!! Aku mau aku mau! Kau bisa bayangkan betapa besar gigi mereka, betapa empuk lidah mereka! AHAHAHAHA!!"
Levi seketika langsung menyesal telah meladeni Hanji. Bagaimana ia bisa lupa bahwa wanita berkacamata ini tergila-gila sehidup semati dengan Titan. Kalau bukan karena dia adalah rekannya, pasti sekarang ia sudah merobek muka konyol itu.
"Lain kali akan kubantu mewujudkannya."
"EH, BENARKAH?!"
Levi memutar kedua bola matanya, "Iya, jika perlu besok pagi juga."
Hanji tertawa terbahak-bahak. "Bercanda bercanda, Titan tetaplah musuhku sebesar apapun aku menyukai mereka. Mereka hanya membuatku tertarik dan penasaran."
Levi hanya berdengung menanggapi ocehan Hanji. Namun, ia teringat bahwa ia belum menjawab pertanyaan Hanji.
"Hm?" Hanji otomatis menoleh ke arah Levi.
"Dia satu-satunya anggota wanita di reguku. Khawatir itu sudah pasti," tukas Levi tiba-tiba yang membuat Hanji terkejut.
"Wah, aku bahkan sudah melupakan pertanyaannya."
Levi langsung melempar tatapan mautnya dan malah ditanggapi dengan tawa menggelegar dari Hanji.
"Tapi, perasaanmu seakan mengatakan hal yang lain, bukan?"
"Hah?" Levi sedikit tersentak. Beruntung ia masih bisa menutupinya. "Apa maksud-"
"Sudahlah aku tau. Katakan saja padanya sebelum terlambat," sela Hanji sembari menepuk-nepuk bahu Levi.
"Oi, Hanji."
"Yosh, aku harus melihat keadaan yang lain dulu. Nanti aku akan kesini lagi."
Levi hanya bisa terdiam sambil menunggu bayangan Hanji menghilang dari pandangannya. Ia menghela nafas panjang. Setelah ia hampir kehilangan salah satu anggota regunya, ia merasa ia belum bisa bertanggung jawab sebagai seorang kapten tim. Siapapun orang yang ada di sekelilingnya bisa kapan saja terancam bahaya karenanya. Itulah kenapa ia tidak ingin menaruh harapan yang besar pada sesuatu. Ia tidak mau menyesal nantinya.
...• • •...
"Operasinya berjalan dengan baik. Untungnya peluru itu tidak bersarang di dada kanannya. Kalau tidak, harapan hidup untuk Nona Petra sangat kecil. Selain luka di dadanya dan beberapa luka memar, luka sayatan di hampir sekujur tubuhnya juga sangat parah. Tapi kalian tenang saja, kami sudah menyuntikkan Asam Traneksamat untuk menghentikan pendarahan disfungsionalnya. Mungkin masa pemulihannya yang akan berlangsung cukup lama. Nona Petra harus selalu diawasi dengan baik," terang dokter yang menangani operasi Petra.
"Kami akan merawatnya dengan baik. Terimakasih banyak. Kami berhutang budi pada kalian," ucap Hanji berterimakasih sambil menjabat tangan dokter itu.
"Kami yang seharusnya berhutang budi pada prajurit seperti kalian. Melihat anggota prajurit yang terluka seperti itu membuat kami juga merasa sedih dan cemas. Nyawa kami, para rakyat biasa bergantung pada kalian."
Hanji tersenyum ramah menanggapi sang dokter.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Banyak rekan-rekan kalian yang harus kami periksa juga, termasuk kalian, Kapten, Ketua."
"Aku tidak perlu. Kebetulan aku sudah diobati tadi. Obati saja dia," ujar Levi sambil mendorong tubuh Hanji.
Hanji menggerutu, "Levi-kau ini!"
Dokter tersebut terkekeh pelan, "Baiklah, mari, Ketua Hanji."
...• • •...
Levi perlahan masuk ke kamar dimana Petra berada. Tatapannya sendu mengarah pada gadis bersurai caramel itu. Dilihatnya, hampir seluruh tubuhnya dibalut dengan perban. Bahkan, ia tak melihat lagi senyum ceria gadis itu. Manik almondnya yang selalu bersinar, selalu memberikan ketenangan setiap kali ia menatapnya, kini menutup dengan bangganya. Levi merasa ada sesuatu yang hilang dalam lingkaran kehidupannya.
Entah kenapa wajah gadis itu terlihat sedih baginya, membuatnya mengusap pelan wajah pucat itu. Levi juga tidak tau kenapa ia bisa-bisanya melakukan itu. Seakan tubuhnya bergerak sendiri untuk melakukannya.
"Kau sedih, Petra?" Levi melontarkan pertanyaan yang sudah jelas Petra tidak bisa menjawabnya.
Levi memilih untuk bersandar di samping ranjang Petra dengan genggaman tangannya yang tidak ia lepas.
"Kenapa kau melindungiku.. dasar bodoh.."
Dan saat itu, tak seorang pun yang dapat melihat sisi lemah seorang prajurit terkuat umat manusia. Tak seorang pun..
...----------------...