Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (13)




...• • •...


-FLASHBASK ON-


-Petra POV-


"Hei, bocah! Kau mau kemana?!"


Aku terus berlari sekuat tenaga sambil membawa keranjang berisi sayur-mayur yang kuambil sebelumnya dari hasil pertanian ayahku.


Siapapun.. siapapun tolong aku..


Dan tiba-tiba saja aku tersandung. Betapa bodohnya aku sampai tidak melihat jalan di depanku. Keranjang berisi sayuran itu pun jatuh berserakan. Aku meringis sakit setelah melihat kedua lututku sudah berlumuran darah. Aku berusaha untuk bangun, namun keadaan sepertinya tidak berpihak padaku.


GREEPP!!


"Aaaaarrrgghhh!!!" jeritku ketika tangan kiriku diinjak begitu saja oleh salah satu perampok yang berhasil mengejarku.


"Hei, kami hanya ingin mengambil sayuranmu itu. Kau tau? Kita sedang krisis pangan, bodoh!"


"Tidak! Kalian tidak boleh mengambilnya!"


Perampok itu langsung menarik kencang rambutku sambil memperlihatkan sebilah pisau persis di depan mataku. "Sebaiknya kau mengalah pada kami, atau aku tidak akan segan membunuhmu."


Aku bisa merasakan mataku yang mulai berkaca-kaca. Hatiku mulai merasa takut. Tapi, aku tau aku harus menepisnya.


Aku.. harus bisa melawan..


"Harusnya.. orang dewasa seperti kalian lebih paham tentang cara bertahan hidup, bukan dengan cara seperti ini. Ayahku.. menanam sayuran itu dengan hasil jerih payahnya sendiri, bukan dengan cara kotor seperti kalian!"


"Kau tau apa tentang orang dewasa?! Dasar brengsek!!"


Spontan aku memejamkan kedua mataku erat saat pisau itu melayang kearah wajahku.


TRAANGG!!!


Sontak aku membulatkan mata. Aku melihat seseorang memakai jubah hijau berlambangkan sayap kebebasan tepat berdiri di hadapanku, tampak sedang menangkis pisau perampok itu.


"Sial, kenapa ada Pasukan Pengintai?"


Para perampok itu hendak melarikan diri, namun kalah cepat dengan sosok berjubah hijau itu yang langsung mengayunkan pedangnya dengan lincah dan berhasil melukai mereka.


Aku menangis pelan sambil memeluk kedua kakiku. Rasanya kejadian tadi begitu cepat karena otakku masih berusaha mencernanya. Tak peduli dengan luka di lututku dan sayuran yang masih berserakan disana.


"Oi, kau tidak apa-apa?"


Pertanyaannya kuabaikan begitu saja karena aku sedang berusaha mengatur nafasku yang masih memburu. Tubuhku masih gemetar dan mulutku terasa kaku ingin berbicara.


"Levi! Apa yang-ASTAGA!"


Seorang perempuan berkacamata dan berpostur lebih tinggi dari pria yang kuketahui bernama Levi itu, ikut menghampiriku.


"Kau baik-baik saja?"


Aku hanya bisa mengangguk lemah sambil mengusap air mata sialan yang membasahi wajahku.


"Tidak apa-apa, semua baik-baik saja. Lihat? Mereka tidak akan menyakitimu lagi." Perempuan dengan kacamata itu kemudian merengkuhku sambil berusaha menghiburku.


Pikirku, Pasukan Pengintai tidaklah seperti yang orang-orang pikirkan, kejam, tidak berguna. Tidak. Mereka nyatanya orang yang baik, tangguh, dan berani. Meskipun aku sering mendengar dari orangtuaku kalau semua misi mereka rata-rata memakan korban yang sangat banyak sampai dikatakan mereka tidak punya rasa kemanusiaan. Namun, itu sudah menjadi risiko yang harus ditanggung. Dunia ini memang sudah begitu kejam. Orang-orang hanya melihat mereka dari satu sudut pandang saja.


Aku juga punya impian untuk masuk Recon Corps sejak dulu. Ditambah melihat mereka yang menolongku, rasanya aku semakin tertarik untuk menjadi seorang prajurit. Terutama, pria yang telah menolongku tadi, Levi.


Pikiranku langsung buyar ketika tiba-tiba saja wanita berkacamata itu tidak sengaja menyentuh luka di lututku dan sontak membuatku merintih kesakitan.


"Ah! Maafkan aku! Ternyata kamu terluka. Biar kami obat-"


"T-tidak perlu kok. Ini hanya luka kecil. Nanti akan kuobati sendiri," tolakku sopan.


"Tidak, tidak. Sebaiknya kau diantar pulang oleh Levi, ya."


Pria yang merasa namanya disebut itu otomatis menoleh. "Hah?"


"Ya, Levi?" pinta wanita berkacamata itu sambil memasang wajah memelas.


"Kenapa kau tidak antar sendiri?"


"Sepertinya.. aku masih ada urusan dengan Moblit dan Erwin dan harus kembali duluan ke markas. Memangnya kau tidak kasihan padanya?"


Levi langsung menoleh ke arahku sejenak kemudian berdecak pelan.


"Syukurlah! Kalau begitu aku dan yang lain akan ke markas duluan. Sampai jumpa!"


Wanita berkacamata itu pun menaiki kudanya dan langsung melenggang pergi bersama rekannya yang lain, menyisakan aku dengan Levi.


Tanpa aba-aba, Levi langsung saja berjalan duluan menuju kudanya. Aku seketika merasa bersalah dan merasa tidak enak kepadanya. Dia menolongku lagi.


"Uhm, aku.. bisa pulang sendiri. Aku takut akan merepotkanmu," ujarku pelan.


Dia.. dingin sekali..


Aku ingin menolaknya, tapi tidak enak. Menerimanya juga membuatku takut merepotkannya. Tapi, dia sudah berbaik hati mau mengantarku pulang.


"B-baiklah, A-aku akan ikut," jawabku gugup. Entah kenapa bulu kudukku langsung berdiri melihat wajah menyeramkan itu.


Tanpa berpikir panjang, aku langsung menaiki kudanya. Dan.. disinilah aku, duduk di belakangnya dengan segala perasaan yang bercampur aduk.


Dia.. dingin dan tajam.. tapi.. entah kenapa aku sangat mengaguminya. Dia sangat hebat. Namanya Levi, ya? Eh? Tunggu!


Aku kembali menatap perawakan pria yang ada di depanku ini sekali lagi, mencoba memastikan sesuatu.


Jangan-jangan dia.. prajurit terkuat umat manusia yang diceritakan ayah, Kapten Levi?!


Aku menutup mulut saking terkejutnya. Jantungku berdegup kencang. Sungguh tidak bisa aku percaya. Aku ditolong oleh prajurit terkuat tembok ini. Ya, Tuhan! Aku sangat beruntung!


"A-anu.."


Levi langsung menoleh sedikit ke belakang mendengarku mengatakan sesuatu.


"A-apa kau.. Kapten Levi?" tanyaku pelan.


Namun, Levi malah meringis pelan. "Kukira otak bodohmu itu sudah tau."


Aku tidak bodoh tau! Aku hanya memastikan!


"I-iya, maafkan aku."


Kutatap sekali lagi pria di depanku ini. Punggungnya mungkin tidak sebesar para prajurit lain yang kulihat. Punggungnya lebih kecil namun tegap dan kokoh. Walaupun tubuhnya bisa dibilang tidak cukup tinggi, namun dia berhasil dijuluki manusia terkuat. Walaupun sikapnya membuat orang-orang pasti ketakutan saat pertama kali bertemu dengannya, termasuk aku, tapi bagiku dia tetaplah manusia berhati baik.


Semoga aku berhasil masuk Recon Corps nanti. Semoga.. aku bisa bertemu kembali dengannya..


-FLASHBACK END-


...• • •...


DUARR!!


Aku mengerjapkan mataku perlahan-lahan. Sakit, benar-benar sakit. Peluru itu tepat mengenai paru-paru kananku.


"Petra!" teriak Kapten Levi.


"Dasar brengsek!!" Kulihat Oluo langsung menembak Daniel dan memukulnya habis-habisan. Dalam sekejap, pria yang menembakku sudah tersungkur bersimbah darah. Sedangkan, Eld kembali meringkus Nico dan memberikan pukulan bertubi-tubi.


Aku dapat merasakan sentuhan tangan Kapten Levi yang menangkup wajah pucatku. Sekujur tubuhku lemas. Namun, kedua mataku masih bisa melihat wajah cemas, kesal, sedih, dan takut milik kapten.


"Kap..ten-"


"Kenapa kau melakukan hal bodoh, hah?!"


Entah itu sebuah bentakan atau makian, namun aku menangkap ucapannya adalah bentuk kekhawatirannya.


Dadaku tiba-tiba terasa sesak dan seakan ingin mengeluarkan sesuatu hingga aku pun tidak bisa menahannya lagi.


"Hoeekk!!"


Darah segar mengalir cukup banyak dari mulut dan luka tembakku hingga membasahi kedua tangan Kapten Levi. Bahkan, wajahnya sekarang sudah terkena cipratan darahku. Aku berpikir, betapa kotornya aku saat ini. Ia mendekap tubuhku erat, memanggil namaku, berusaha untuk terus membuatku bertahan.


Tes..


Aku terkejut. Apa aku tidak salah lihat? Aku melihat sekelebat air mata runtuh begitu saja dari seorang manusia terkuat yang aku kagumi saat ini.


Kenapa.. kau menangis, Kapten?


Aku berusaha menggerakkan jari jemariku untuk menghapus air mata sialan itu dari wajah tangguhnya. Namun, ia memegang erat tanganku dan kembali mendekapku.


"Oluo, mintalah bantuan dan siapkan kudanya! CEPAATT!!"


Aku masih bisa mendengar suara kapten yang berteriak meminta pertolongan untukku. Namun, aku merasa suaranya kali ini sedikit bergetar.


Oluo dengan cekatan langsung keluar ruangan untuk meminta bantuan dan melaksanakan perintah Levi. Sedangkan, Eld mengamankan Nico dan Daniel.


Aku sudah tidak kuat menahannya. Rasanya seperti alam memaksaku untuk segera tidur. Kedua mataku terasa sangat berat. Bibirku terasa kelu ingin mengatakan sesuatu sebelum kesadaranku menghilang.


"Terima.. kasih.."


Aku menghela nafas pelan lalu memejamkan kedua beliaku dan tanganku yang sedang dalam genggamannya perlahan melemas. Sepertinya, ia menyadari hal itu.


"Petra? Petra!"


Beberapa detik kemudian, tubuhku terasa ringan dan aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi.


Biarkan tubuhku yang menjadi perisaimu hingga akhir. Tidak tubuh tegapmu, Kapten. Karena kau.. adalah harapan manusia.. dan harapanku selalu. Akan kupastikan kau akan selalu berada di depanku. Biarkan aku mengabdi padamu hingga akhir..


Apa.. aku akan mati? Bagaimana dengan ayah jika kutinggal sendirian? Bagaimana denganmu, Kapten? Aku.. tidak ingin meninggalkanmu..


...----------------...