Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (41)



Seorang bocah laki-laki berumur sekitar enam tahun tengah menampakkan wajahnya yang gusar. Sedaritadi bocah itu berjalan kesana-kemari seperti mengitari seisi rumah, hingga membuat sang ibunda merasa kebingungan.


"Ada apa, Nak?"


"Itu.. dari malam dia belum pulang. Si bodoh itu berjanji untuk mengajakku makan enak!"


"Kau tidak boleh berkata seperti itu pada kakakmu, Samuel. Siapa yang mengajarimu?"


"Dia yang mengajariku. Kak Oluo bilang, aku boleh memanggilnya 'si bodoh' jika merasa kesal," ujar Samuel dengan wajah polosnya.


Sang ibunda hanya bisa menepuk dahi melihat tingkah anaknya itu. "Tunggu saja, Nak. Mungkin dia ada keperluan mendadak atau masih menjalankan misi bersama squadnya."


"Baiklah, Bu. Tapi kalau sampai malam ini dia tidak pulang lagi, aku akan bertanya langsung pada Kapten aneh yang pendek itu!"


"Samuel, sudah Ibu bilang berapa kali jaga ucapanmu! Nanti akan ditiru oleh Adikmu yang lain!" teriak sang ibu.


"Memangnya kau tau dia ada dimana sekarang?" tanya pria yang ternyata sang ayah, datang sembari membawa segelas air karena mendengar celotehan anaknya. "Kapten Levi itu orang penting, tidak bisa bertemu sembarangan."


Samuel tampak berpikir sejenak dengan otak kecilnya, "Kalau begitu.. aku akan minta tolong Kak Petra, atau Kak Eld dan Kak Gunther nanti!"


...• • •...


DUAAKK!!


Oluo meringis pelan setelah menerima pukulan telak di wajahnya. "Tak kusangka.. kau mau repot-repot mengurusku. Kenapa kau tak urus wanitamu itu? Apa aku lebih menarik sekarang?"


"Kau.. memang menarik," Pria bertato itu tertawa sambil menaikkan baju yang dipakai Oluo dan meraba perutnya. "Bagaimana jika.. kita bermain sebentar? Salahmu karena telah menggagalkan acaraku."


"Kau mau apakan mereka?!" tanya Oluo tanpa basa-basi. "Jangan pernah kau sentuh keluarga Rall."


Pria itu kembali tertawa, "Wah, akhirnya kau mengakuinya. Apa kau ada hubungannya dengan nona itu? Tapi sayangnya.. dia sudah milik seseorang."


"Apa maksudmu?"


"Kau akan mengetahuinya nanti. Nah, kira-kira berapa harga yang pantas untukmu?"


Pria bermarga Bozado itu mengepalkan kedua tangannya yang diikat. Amarah begitu memuncak dalam dirinya.


Sial, aku tidak bisa memberitahu ini kepada Eld dan Gunther. Aku malah berakhir begini, brengsek.


"Doza, apa kau ingin bermain dengannya?" tanya pria bertato itu pada pengawalnya.


"Tidak, Bos. Dia milik Anda. Saya tidak akan berani mengusiknya."


"Oh, ayolah. Kau sudah bekerja keras disini. Aku yakin kau butuh pemuasan."


Menyadari bisikan sang bos yang merupakan perintah juga, akhirnya Doza mengangguk. "S-saya.. ingin memuaskan nafsu saya, Bos."


Senyuman mengerikan terukir di wajah pria itu. "Tch, perkataan yang jujur. Ambil saja dia. Anggaplah itu hadiah."


Seperginya sang majikan dari ruangan, tiba-tiba Doza melucuti pakaiannya sendiri di depan Oluo. Segera pria itu memasang pose memelas, membuat Oluo terkejut dan merasa mual.


"Mari kita bermain.."


"Bajingan gila.."


...• • •...


"Gunther, bagaimana? Kau mendapat petunjuk?"


Gunther menggeleng pelan, "Tidak. Tidak ada petunjuk mereka ada di kelab itu. Kau?"


"Tidak. Aku pun tidak dapat petunjuk," jawab Eld.


"Bagaimana dengan Oluo? Kenapa dia tidak bertemu dengan kita sesuai kesepakatan? Haruskah kita ke Kelab Oscar?"


Eld tampak berpikir sebentar, menimbang-nimbang pemikirannya. "Tidak. Dia bisa diandalkan. Kita harus menjaga di sekitar rumah Tuan Rall, sekaligus kita juga berkunjung. Paling tidak.. sampai Petra pulang nanti."


Gunther mengangguk dengan tegas, tanda menyetujui keputusan Eld. Kedua pria itu memutuskan untuk secepatnya melaksanakan tugas mereka.


Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan..


...• • •...


Terlihat dari pandangan beberapa orang ada segerombol kuda beserta penunggangnya yang berjumlah lima dari jarak beberapa meter di luar gerbang. Namun, sontak salah satu warga berteriak, "Hei! Awas ada satu Titan mengejar kalian!"


Mendengar teriakan orang tersebut, sekumpulan warga yang hendak menyambut kedatangan lima orang itu menciut nyalinya dan bergerak mundur perlahan, beranjak sedikit dari posisi semestinya. Berbeda dengan kelima orang itu yang langsung berbalik arah menghadap satu Titan abnormal itu.


"Penglihatan warga itu peka sekali!" kagum Moblit.


"Wah, kau suka denganku? Ayo, sini ikut aku! Yahoooo!!!"


Dengan gerakan lincah dan penuh semangat tentunya, Hanji menjadikan dirinya sebagai umpan dan sebisa mungkin menjauhkan diri dari arah gerbang Distrik Karanese.


"Ketua! Jangan gegabah kumohon! Pijakan disini sedikit!" teriak Moblit frustrasi.


Mike yang berada paling dekat dari sisi sebelah kiri langsung menebas titik lemah kedua kaki Titan tersebut. Disusul oleh Moblit yang dengan cepat bergerak ke arah tengkuk Titan dan menebasnya.


"Aaaa kenapa kalian membunuhnya?!! Padahal aku ingin membawanya!" teriak Hanji heboh.


Petra sedikit menenangkan wanita kacamata itu. "Hanji-san, nanti khawatir dia akan mendekat ke arah warga."


"Sudah cukup kau meneliti Sawney dan Bean.." lirih Moblit, terdengar seperti pernyataan yang sedikit memelas.


"Tch, bodoh sekali."


"Sudah, kita harus secepatnya ke markas untuk melapor," peringat Mike.


Dan ya.. tumben sekali tukang endus itu kali ini berwatak serius?


...• • •...


TOK.. TOK.. TOK..


Tiga kali ketukan pintu seharusnya cukup untuk memanggil penghuni yang ada di dalam rumah milik keluarga Rall itu, hingga pria berambut blonde dengan gaya dikuncir atas itu memutuskan untuk melihat sebentar ke jendela.


Dan benar, sang kepala keluarga Rall tengah berjalan menuju arah pintu, bersiap membukakannya..


"Gunther, Eld, ada apa kalian kesini?"


"Ah, Pak Rall. Kami kesini hanya ingin berkunjung karena sudah lama juga kami tidak kesini. Bagaimana kabarmu?" tanya Eld sopan.


"Baik. Baik sekali. Kalian mau masuk?"


"Boleh, kalau kau mengizinkan."


"Kalian ini kenapa harus formal? Memang kalian sudah kenal berapa lama denganku? Hahaha!"


Gunther dan Eld tersenyum ramah. Selain sebagai tanggapan, juga sebagai penenang rasa khawatir pada diri mereka yang terus bergemuruh.


Namun, nyatanya.. mereka menemukan pemandangan janggal di dalam rumah itu..


"Kenapa.. ada pecahan vas bunga di anak tangga?"


Tuan Rall sedikit tercekat mendengar pertanyaan dari Eld. Namun, segera dirinya menghilangkan wajah gelisahnya.


"Aku tidak sengaja menjatuhkannya saat ingin membawanya ke atas dan belum sempat membersihkannya."


"Begitu rupanya," Eld manggut-manggut. "Kalau begitu.. kami akan bantu membersihkannya."


"Ahahaha, baiklah, terimakasih banyak ya kalian berdua. Akan kubuatkan teh andalan keluarga Rall."


"Terimakasih, Pak. Maaf jadi merepotkan."


"Tidak apa-apa. Aku juga tidak ingin diam saja seperti seorang kakek tua. Lagipula pasti Petra sering merepotkan kalian kan?"


"Tidak sama sekali. Kami justru senang bisa membantu Pet-"


JLEB! JLEB!


Dengan tubuh gemetar, Tuan Rall menyuntikkan suatu cairan tepat di leher kedua pria yang tampak terkejut itu dari arah belakang. Seketika Eld dan Gunther menoleh perlahan, menatap kaget dan bertanya-tanya pada Tuan Rall.


"Pak Rall? Kenapa-"


"Maaf, aku harus melakukannya.." lirih Tuan Rall. Wajahnya menampakkan rasa bersalah yang sangat dalam dengan deraian air mata yang mengalir.


Perlahan kedua anggota squad elite itu terjatuh lemas. Melihat Gunther yang sudah tidak sadarkan diri terlebih dulu, Eld masih berusaha menahan kesadaran. Pandangannya semakin memburam dan kepalanya terasa sakit.


Samar-samar ia melihat dua orang berjaket hitam menghampiri Tuan Rall dari arah luar.


"Kerja bagus, pak tua. Kau.. memang punya banyak tamu ya."


Dan perlahan salah satu dari mereka langsung menghampiri Eld. "Hebat juga kau masih bertahan dari obat bius dosis menengah. Setelah ini.. kau akan tertidur cukup lama. Lex, bawa pak tua itu pergi."


"Tidak.. Ja.. ngan.. Pak Rall.."


Kalimat itu menjadi kalimat terakhir yang bisa Eld ucapkan, sebelum dirinya benar-benar kehilangan kesadaran.


Bagaimana bisa.. aku dan Gunther tidak menyadari.. keberadaan mereka?


...• • •...


"Samuel, jangan lari! Kau mau kemana?!"


Bocah bermarga Bozado itu langsung menjulurkan lidah ke arah teman-temannya. "Siapa yang terakhir ke toko bibi gendut dia harus traktir makan daging tusuk minggu depan!"


"Hei, curang kau ya!!"


"Awas kau, Samuel!"


Keempat bocah seumuran itu saling adu berlari, fokus ke tempat tujuan mereka yang ada di ujung gang. Setelah toko kecil itu terlihat oleh mata berbinar mereka, adu cepat terjadi di antara mereka.


"Haaa!! Aku duluan!!"


"Hei, Sam! Masa kau yang curang kalah dari Freya?!" ejek salah satu teman Samuel sembari tertawa.


"Tapi masih lebih baik aku tidak terakhir. Jizo, kau kalah kau yang traktir, hahaha!"


"Sialan! Ah, baiklah.."


"Sam, bukankah itu Paman Rall?"


Freya menunjuk ke arah yang dimaksud dan Samuel mengikuti arah pandangnya. Benar saja. Netra kelam Samuel langsung mengenali seseorang yang tertangkap pandangannya.


"Apakah yang disebelahnya itu temannya?"


Tak dapat dipungkiri rasa penasaran bocah bermarga Bozado itu kian meningkat. Ia pun memutuskan untuk menghampiri.


"Paman Rall!"


Tuan Rall dengan wajah terkejutnya perlahan menoleh. Ingin sekali ia mengatakan "Tolong, jangan kesini." pada adik Oluo itu, khawatir jika pria disebelahnya ini akan melukai orang-orang yang berhubungan dengannya.


"Wah, banyak sekali yang ingin menyelamatkanmu hari ini. Mau kau.. atau aku yang selesaikan dengan kekerasan, hm?"


Tentu saja bisikan sekaligus ancaman mengerikan itu langsung dibalas cepat oleh Tuan Rall. Ia tidak ingin orang lain ikut terlibat dalam masalahnya. "Jangan kau lukai dia. Dia seorang anak tidak bersalah. Biar aku yang menangani."


"Hoo, baiklah. Kuberi waktu lima menit. Jika lewat, aku akan membunuhnya.."


Tuan Rall menelan ludah karena rasa cemasnya. Perlahan ia memasang ekspresi ramah khasnya kepada keempat anak yang sudah ada di hadapannya, pun berusaha mempersembahkan senyum merekah di wajah sedihnya.


Wajah anak-anak yang berseri cerah.. menampakkan kebahagiaannya setiap saat tanpa kenal lelah..


Tanpa tau bagaimana kehidupan para orang dewasa..


Sudah menjadi tugas mereka seperti itu..


Ya, itulah anak-anak. Tanpa sadar sudah menjadi pengaruh besar bagi orang dewasa.


Sungguh.. salah satu pemandangan favorit yang seharusnya dinikmati oleh pria tua sepertinya.


Tapi tidak kali ini..


Mungkin.. ia berpikir ini adalah kali terakhir ia dapat melihat senyuman dan tawa para bocah itu..


Dan sekarang tugas pria tua sepertinya adalah.. mempertahankannya..


"Wah wah, Samuel dan teman-temannya. Sedang apa kalian disini, Nak?"


"Kami sedang lomba balap lari! Hehehe!" seru Freya.


"Jizo kalah dan dia akan mentraktir kita semua makan daging tusuk, Paman!"


"Hei, tidak perlu diungkit lagi dong!"


Ketiga bocah itu langsung tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Jizo. Tanpa sadar Tuan Rall ikut tersenyum melihatnya.


"Memang siapa pemenangnya?"


"Aku aku, Paman! Freya si pemenang balap lari!"


"Paman, kau mau kemana? Dan.. apa itu teman Paman?" tanya Samuel sembari menunjuk pria berjaket hitam yang tak jauh dari Tuan Rall.


"Benar, itu teman Paman. Paman ingin pergi sebentar bersamanya ke ladang."


Samuel memicingkan mata, menilai dengan seksama perawakan pria itu lebih dekat lagi. "Tapi.. aku jarang melihatnya."


"Ahahaha! Wajar jika kau jarang melihatnya karena dia teman jauh Paman," tukas Tuan Rall mencoba menjelaskan.


Samuel hanya manggut-manggut. "Oh iya, Paman, bagaimana kabar Kak Petra? Apa dia ada di rumah?"


"Kak Petra sedang menjalankan misi di luar dinding. Seharusnya hari ini dia sudah kembali-"


"Hampir lima menit. Sudah mengobrolnya, Pak?" kata pria itu dengan nada dingin, membuat Samuel malah merasa kesal dengannya.


"Hei, kau! Kenapa kau memberi waktu lima menit? Aku ingin mengobrol lebih lama dengan Paman Rall memang tidak boleh?!"


"Samuel, tidak apa-apa, Nak. Kita bisa mengobrol lain kali. Semoga.. kita bisa bertemu lagi. Nanti Paman akan mengajakmu main ke kebun Paman bersama teman-temanmu."


Sontak keempat bocah itu berteriak girang, termasuk Samuel yang mungkin telah melupakan kekesalannya.


"Terimakasih, Paman!"


"Tolong bilang pada Kak Petra jika dia sudah pulang, Paman baik-baik saja dan sedang menjalankan tugas, ya?"


Bocah enam tahun itu tersenyum, menampakkan deretan giginya sembari mengacungkan jempol. "Baik, Paman! Nanti akan kusampaikan!"


Tuan Rall kembali memasang senyum kecil sebelum dirinya melangkah meninggalkan keempat anak itu.


Semoga Petra tidak mencariku..


...-----------------...