Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (11)



Eren dan yang lainnya sudah bersiap di posisi masing-masing. Armin memberi kode 'Sekarang!'.


Mereka langsung menyergap beberapa penjaga luar dengan aba-aba dari Armin. Tak sampai 10 menit, seluruh penjaga luar berhasil mereka tumbangkan. Gunther pun memberi kode kepada Ketua Hanji dan Kapten Levi bahwa situasi di luar markas sudah aman.


"Kalian tetap berjaga disini sampai benar-benar aman, mata-mata mereka tidak sedikit. Jika terjadi sesuatu yang lebih berbahaya di dalam kalian baru boleh menyusul," perintah Levi.


"Siap, Kapten!" Gunther, Nifa, Eren, Armin, dan Mikasa langsung memberi salute.


...• • •...


"Uhh.." Petra mengerjapkan matanya. Sudah berapa kali aku tak sadarkan diri?


Ia mendapati dirinya masih berada di tempat yang sama. Namun, ia terkejut ketika melihat lehernya yang juga diikat dengan rantai yang jika ditarik akan mencekiknya kapan saja.


"Hm? Kau sudah sadar?" Nico menghampiri Petra sembari tersenyum. "Maaf ya aku harus mengikat lehermu, karena kelihatannya.. sebentar lagi waktu kematianmu."


Petra memejamkan matanya, berusaha menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. "Beritahu aku.. apa sebenarnya yang terjadi pada adikku?" tanya Petra lemas.


Nico memegang dagu Petra dengan lembut. "Aku takut kau akan sedih, sayang."


Petra menepiskan wajahnya kesamping. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, dan ketika pintu itu terbuka, tampak Nial, datang dengan wajah yang sedikit gelisah.


"Ada apa?"


"Bos, tampaknya si Levi itu sudah datang." Nial mengucapkan dengan pelan, namun Petra masih bisa mendengarnya.


*K*apten?


Petra berharap semoga kaptennya tidak datang seorang diri, melainkan bersama rekan dan pasukan yang lainnya.


"Wah, kelihatannya kapten tersayangmu itu sudah datang. Kira-kira aku harus menyiksanya dengan cara seperti apa ya? Oh! Dan akan kupastikan si cebol itu akan disiksa tepat dihadapanmu, Nona."


Petra bersumpah, hati kecilnya sangat takut. Takut jika Nico akan bertindak lebih kejam kepada kapten dan rekan-rekannya, meskipun itu tidak mungkin. Ia yakin bahwa kaptennya bisa lebih kejam daripada Nico. Kapten Levi adalah prajurit yang kuat. Petra yakin Kapten Levi pasti bisa mengatasinya.


"Benarkah? Jangan salah sangka. Kapten Levi bisa bertindak lebih kejam."


"Kau tidak sabar ingin mati ya? Baiklah, akan kuturuti impianmu."


Secara tiba-tiba, Nico menarik rantai yang mengikat leher Petra dan menyeret tubuh malang itu keluar ruangan.


"Aa-aarrgghh!!" Petra memegang lehernya yang tercekik erat. Kakinya meronta-ronta, berusaha memberontak.


"Bisakah kau diam?! Jangan lebih mempersulitku." bentak Nico sambil terus menyeretnya.


"Le.. pas-argh!" rintih Petra kesakitan.


"Nial, kau dan Daniel awasi para cecunguk itu."


"Baik, Bos Nico."


...• • •...


Nico menghempas kasar tubuh Petra ke lantai. Petra tersengal-sengal sambil memegang lehernya yang terasa sakit akibat tarikan rantai tadi. Pasti sekarang ada bekas luka mengerikan di lehernya. Ia langsung meraup banyak oksigen untuk kembali bernafas dengan baik.


"Nona Petra, kau mau digantung sambil duduk atau berdiri? Pilihlah salah satu."


Petra menatap tajam ke arah Nico. "Apa yang akan kau lakukan.. kepada kapten dan teman-temanku?!"


Nico menghela nafas. "Lihatlah dirimu, bahkan disaat seperti ini kau bahkan tidak peduli dengan nyawamu sendiri.."


Tanpa aba-aba, Nico langsung saja menarik rantai yang mengikat leher Petra dan mengikatnya di tiang langit-langit ruangan, membuat tubuh Petra tergantung seketika.


Petra terbelalak kaget. Tubuhnya refleks meronta-ronta. "Aaa-argh!! aaakhh!!!"


Kedua tangannya tidak tinggal diam berusaha untuk melonggarkan ikatan rantainya. Pria ini benar-benar ingin menghabisinya.


Nico meletakkan sebuah kursi kayu sehingga Petra bisa menapakkan kakinya meskipun hanya sebatas jari kaki saja. Petra langsung mengatur kembali nafasnya dengan baik. Otot lehernya terasa tertarik. Tubuhnya gemetar ketakutan.


"Sayangnya, aku tidak ingin kau cepat mati."


...• • •...


Levi, Hanji, dan yang lainnya berhasil membekuk para anggota mafia dan anak buah Nico yang lainnya di lantai 1. Saat hendak ke lantai yang lebih bawah, terlihat penjagaan yang lebih ketat lagi karena mereka pasti menyadari apa yang terjadi di lantai atas. Moblit melempar bubuk mesiu atas perintah Hanji untuk membutakan pandangan mereka.


"Aaarrgghh!! Apa ini-AAAA!!!"


Hanji dan yang lainnya langsung saja membekuk para anggota mafia yang ada di bawah.


"Levi, sepertinya markas ini hanya terdapat 3 lantai. Firasatku mengatakan bos mereka membawa Petra ke lantai paling bawah," tutur Hanji.


Levi mengangguk tanda mengerti. "Eld, Oluo, kita ke lantai paling bawah. Susuri semua sudut ruangan!"


"Baik!"


"Bukankah sudah kubilang kalian berjaga diatas?"


"Gunther-san dan Nifa-san menjaminnya, Kapten." jawab Eren tegas.


"Lakukan sesuka kalian," ucap Levi lalu pergi lebih dulu ke lantai bawah disusul Oluo dan Eld.


"Terimakasih, Kapten!"


...• • •...


Seketika mereka mencium bau yang tidak sedap sesampainya di lantai paling bawah. Bau anyir darah yang merebak. Suasana yang sunyi. Itulah yang menggambarkan kondisi di lantai paling bawah.


Suasana ini.. terlalu hening, pikir Levi. "Waspadalah, kemungkinan musuh sudah menyadari keberadaan kita."


Eld, Oluo, Eren, Mikasa dan Armin mengangguk mengerti. Mereka terus menyusuri setiap ruangan.


"Apa ini.. ruang penyiksaannya?" tanya Oluo merinding.


Mereka melihat banyak darah berceceran di lantai dan dinding, juga beberapa alat penyiksaan, seperti cambuk, rantai, pisau, dan sebagainya.


"Sepertinya, semua korban mereka dibantai disini," tambah Eld.


Pandangan Levi tertuju pada satu ruangan yang tampak menarik perhatiannya. Ia mengamati darah yang berceceran di lantai ruangan tersebut.


Ini.. tampak lebih baru dari ruangan yang lainnya.


Levi kemudian mengusap sedikit bercak darah yang ada di kursi besi di tengah ruangan itu. "Tch! Apa yang mereka lakukan terhadap Petra?" 


Hati Levi semakin gelisah saja. Tak dapat dipungkiri dirinya terus merasa khawatir akan keadaan Petra. Ia berpikir itu adalah hal yang wajar dan manusiawi karena Petra adalah anggota timnya. Tapi, Levi merasa bukan itu saja alasannya. Ia seperti.. sangat takut kehilangan Petra. Ia sendiri tidak tau, kenapa ia merasa begitu?


"Kapten!" Oluo menunjuk ke arah bercak darah di lantai yang mengarah pada suatu tempat. Mereka pun mengikuti jejak darah tersebut.


Hingga..


Sampailah mereka pada titik dimana jejak darah tersebut berhenti di sebuah papan kayu mirip seperti pintu menuju ke bawah tanah lagi.


"Apa-apaan ini? Ada ruang bawah tanah lagi?" Eren terkejut. "Kapten, kurasa ini jebakan. Musuh sengaja mengulur waktu-"


"Tidak." Levi memotong perkataan Eren. Ia meraba pintu kayu tersebut. "Ini pasti ruang utama mereka-"


DUARR!!


Tiba-tiba sebuah peluru caliber berukuran 9mm melesat begitu saja dan hampir mengenai wajah Levi, membuat semuanya seketika menoleh ke sosok pelaku.


"Para tikus mau kemana, hm?"


Levi berdecih. Nial dan beberapa anggota mafia lain telah menghadang mereka.


"Oi, cebol! Biar kuberitahu, Nona cantik itu pasti sekarang sudah mati!" Nial tertawa jahat.


Tanpa menghiraukan ucapan Nial, Levi langsung menerjang ke arah kawanan Nial dan menghunuskan pedangnya dengan lihai, dibantu dengan yang lainnya.


SRINNGG!! BUGGHH!!!


"Aaaaarrgghh!!! Lepass!!" teriak Nial ketika tubuhnya berhasil diringkus oleh Levi. Levi langsung saja mengambil handgun yang dipegang Nial.


JLEEBB!! JLEEBB!!


AAAAAAAAAAA!!!!


Nial berteriak kesakitan ketika kedua telapak tangannya ditusuk begitu saja oleh Levi.


"Sialan kau," keluh Nial.


"Lain kali akan kurobek mulut besarmu itu."


Levi melihat keadaan yang lain. Tampaknya semua kawanan Nial sudah ditumbangkan. Tanpa sadar Levi tersenyum tipis memberi apresiasi. "Kerja bagus."


"Kapten, serahkan yang disini pada kami!" ujar Armin. Mikasa dan Eren menggangguk untuk meyakinkan sang kapten.


Levi melihat keyakinan yang terpancar dari tiga bocah dihadapannya itu. Ia pun akhirnya menjawab, "Baiklah, tapi," Levi menunjuk ke arah Nial. "Aku butuh orang itu tetap hidup, sisanya terserah kalian."


Eren, Mikasa, dan Armin yang mengerti maksud dari ucapan kaptennya segera memberi hormat. "Baik, Kapten!"


"Kau.. KAU TIDAK AKAN MENANG MELAWAN BOS NICO!"


Tanpa menghiraukan lagi ucapan Nial, Levi, Oluo dan Eld melanjutkan langkahnya ke arah pintu kayu menuju bawah tanah itu dengan tetap memegang harapan, semoga Petra masih bertahan.


...----------------...