![Always Be With U [Levi X Petra]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/always-be-with-u--levi-x-petra-.webp)
"Kau disini rupanya.."
Suara khas itu terdengar jelas di telinga Petra, membuatnya langsung menoleh untuk melihat perawakan tersebut.
Tampak tubuh mungil nan tegap itu sudah berdiri di belakangnya. Nafasnya terlihat kelelahan, namun Petra tau pria itu sedang berusaha menetralkannya. Gadis beriris almond itu mempersembahkan senyuman yang lembut di wajah pucatnya.
"Kapten.."
Petra melihat air muka tajam sang kapten yang seolah-olah hendak memarahinya pun sontak melangkah mundur sambil menundukkan kepala. Entah kenapa dirinya refleks ketakutan.
"Kapten-"
"Diamlah, ini perintah.."
GREBB!!
"Kau.. tidak bisa diam ya."
Petra terlonjak kaget ketika kaptennya langsung mendekap tubuh lemahnya. Manik hazel dan manik safir saling bertatapan, sangat lekat, memancarkan pesonanya masing-masing.
"Ma-maaf, kapten. I-itu karena aku merasa tubuhku sangat kaku setelah hampir seminggu berbaring," jelas Petra sambil tersenyum kikuk, mencoba menenangkan jantungnya yang sekarang tengah berdegup tak karuan. Ia berharap semoga kaptennya tidak bisa merasakannya.
Levi tersenyum tipis melihat tingkah Petra, "Oh, begitu. Syukurlah.."
Petra merasa senang mendengar sang kapten yang mengucap syukur untuknya. Hatinya menghangat, ditambah dirinya yang saat ini sedang didekap oleh kaptennya sendiri. Rasanya ia ingin sekali merasakan ini selamanya. Namun, ia sadar diri untuk segera meminta maaf dan berterimakasih karena dirinya telah banyak merepotkan.
"Kapten, aku pasti telah banyak merepotkanmu dan yang lain. Maafkan aku, dan.. aku sangat berterimakasih."
Levi bisa melihat Petra meringis kecil saat membungkuk, mungkin karena tubuhnya yang masih terasa nyeri. "Bangunlah, Petra, kalau kau tidak mau tubuhmu remuk lagi."
"Ah, tidak apa-apa. Ini hanya sedikit linu. Oh iya kapten, bagaimana Nico dan organisasinya itu? Apa mereka mendapat hukuman berat?"
"Iya, tapi hukumannya hanya penjara seumur hidup tanpa bebas bersyarat. Tch, si Erwin bodoh itu bisa-bisanya mengajukan keringanan."
"Tidak apa-apa, kapten. Mungkin itu adalah salah satu kebaikan Tuhan kepada Nico melalui Komandan Erwin agar dia bisa melanjutkan hidup yang lebih baik."
Levi tertegun melihat sisi lembut Petra yang bahkan masih bisa mendoakan pelaku yang menjadikannya korban utama dalam peristiwa naas seminggu yang lalu. Mungkin jika orang lain pasti sudah menganggap Petra aneh. Namun, bagi pria berambut undercut itu, sisi lembut Petra menjadi hal hal yang patut dikagumi dan favoritnya tersendiri. Levi sangat menyukai sisi Petra yang seperti itu, meskipun sangat berbanding terbalik dengan kepribadiannya yang tak mengenal ampun. Sungguh, jika boleh, Levi ingin terus merasakan kebaikan yang gadis ini torehkan.
"Dan.. kapten, syukurlah kau terlihat baik, walaupun luka di lenganmu.." Pandangannya beralih ke lengan kiri kaptennya yang diperban.
"Kau tenang saja. Ini bukan apa-apa. Hanji sudah mengobatinya," potong Levi mencoba menenangkan Petra.
"Tapi.. kapten terluka karena aku. Sudah sepantasnya aku mendapat hukuman berat darimu. Aku terlalu lemah untuk dijadikan bawahanmu. Aku sudah siap kalau kau ingin menendangku keluar. Kumohon.. lakukan saja.."
"Kau benar-benar mau?"
Petra menggeleng pelan, "Kalau aku diberi kesempatan lagi darimu, aku akan lebih berjuang dan terus berada disampingmu untuk menjagamu, kapten."
Aku pun berharap begitu, Petra..
"Hm, terimakasih, Petra."
Levi menatap Petra begitu intens sehingga yang ditatap langsung tersipu malu, membiarkan wajahnya memerah bak kepiting rebus. Levi diam-diam menyukai tingkah Petra yang menurutnya.. itu menggemaskan.
"Ayo, kita masuk ke dalam."
"Eh? J-jadi.. bagaimana keputusan akan nasibku, kapten?"
Levi berdecak, entah karena dirinya kesal atau masih gemas dengan kelakuan Petra. "Ck, menurutmu?"
Petra gelagapan. Betapa bodohnya ia malah kembali mengungkit soal nasibnya di squad Levi. "K-kurasa.. nasibku baik-baik saja, kapten."
"Baguslah kalau otak lambanmu itu kembali berguna."
Seperti biasa, kalimat sarkas khas kaptennya kembali terlontar dengan lancar. Petra mengerucutkan bibir kesal. Rasanya keinginan dirinya untuk menghancurkan mulut sang kapten tidak akan musnah sampai kapanpun. Tapi, satu sisi ia justru rindu dengan mulut pedas itu. Itu juga yang menjadi aspek kekaguman Petra kepada Levi.
"Kalau kau butuh apa-apa, minta bantuan yang lain. Jangan coba-coba memaksakan diri."
Petra tersenyum simpul mendengar ocehan kaptennya yang terlihat masih mengkhawatirkan dirinya, "Baik, kapten."
"Surat milik Oluo, Gunther, Eld, termasuk punyamu sudah aku kirim ke kotak pos tiga hari yang lalu."
Sekilas penyataan itu terdengar biasa saja, namun sedetik kemudian Petra terkejut ketika mengingat keberadaan surat miliknya yang ia taruh begitu saja di atas meja kamarnya.
"A-ah.. iyaa, terimakasih, kapten," ucap Petra pada akhirnya. Ia hanya bisa berharap semoga kaptennya tidak melihat curahan hati memalukannya.
"Petra!"
Panggilan itu sontak membuat si empunya nama menoleh sembari memasang senyum sumringah. "Kalian.."
Oluo, Eld, dan Gunther langsung menghambur ke arah Petra, sepertinya mereka melupakan keberadaan kapten cebol mereka. Petra memberi kode kepada tiga lelaki itu dengan lirikan matanya 'ada kapten..'.
"M-maaf, kapten! Kami melupakanmu! Kami kira tidak ada kapten disini," ujar Eld mewakilkan sembari memberi hormat. Begitu pun Oluo dan Gunther. Yang diberi hormat justru memasang wajah yang seolah mengatakan 'memang segitu pendeknya sampai aku tidak terlihat oleh mata telanjang kalian?'
"Baiklah, kapten. Kami.. akan pergi sekarang. Kami hanya ingin melihat bagaimana keadaan Petra," kata Oluo yang sepertinya paham dengan keadaannya.
Kapten dan Petra.. sepertinya sedang dalam masa pendekatan..
Petra yang melihat Oluo sedang menahan tawa itu langsung menyikut perut pria itu. "Kau ini kenapa sih? Sakit apa kerasukan?"
"Aduh, Petra! Sakit tau! Aku tebak.. pasti kau sedang pendekatan dengan kap-ARGH!!"
Petra menggeplak kepala Oluo. "Kuharap lidahmu tergigit banyak hari ini, Oluo bodoh!!" teriak Petra.
Gunther dan Eld langsung menengahi kedua manusia yang sedang bertengkar itu sampai suara kapten mereka memotongnya. "Tidak perlu, kalian tetaplah disini dan temani Petra. Aku ada rapat dengan Hanji dan Mike untuk kepulangan kita nanti."
"Kepulangan? Kapten.. kita akan pulang ke Trost? Benarkah?!" seru Oluo tidak percaya.
Levi mengangguk, "Sekitar dua hari lagi. Kita juga masih harus membahas ekspedisi nanti di markas pusat."
"Ekpedisi ke-57 ya? Tak kusangka itu sebentar lagi," timpal Gunther.
"Daripada kalian terus bermalas-malasan seperti babi, aku mau kalian latihan sebelum pulang, besok."
Besok?! Yang benar saja!
Namun, berbeda dengan isi hati mereka yang menolak, nyatanya mulut mereka sama-sama menjawab, "B-baik, kapten!"
...• • •...
Waktu malam telah menunjukkan jarum panjang di angka sembilan, waktu yang sudah tepat untuk para manusia bergelut dengan kasur dan selimut. Tapi, tidak untuk gadis bermanik almond itu. Saking lamanya ia tertidur, hampir seminggu, ia jadi lupa bagaimana caranya untuk tidur nyenyak. Bahkan setelah berbincang-bincang lama dengan para rekan squad seperjuangannya itu, tidak membuat dirinya merasa lelah. Sedaritadi dirinya terus bolak-balik bosan mengelilingi kamar sambil berpikir bagaimana cara membuat dirinya kelelahan dan akan berakhir tidur.
"Bosan.. hmm, apa aku jalan-jalan keluar base sebentar ya? Lagipula, angin malam membuatku sejuk."
Dirinya bergegas mengambil sweater putih pemberian sang ayah. Ia tidak peduli jika nanti kaptennya akan mengomel padanya, yang penting dirinya tidak mati kebosanan di dalam kamar itu.
Kedua matanya mengedarkan atensi ke seluruh bagian base yang ia lewati. Sampai akhirnya langkahnya terhenti di depan ruang makan yang masih ada pencahayaan lampu, menandakan masih ada orang disana. Petra mencoba mengintip, dan benar saja terdapat sosok kaptennya yang sedang menyesap teh sembari berkutat dengan beberapa dokumennya.
Semoga kapten tidak melihatku. Maaf kapten, hari ini aku tidak menemanimu dulu..
Ia pun melanjutkan langkahnya menuju halaman depan base, berharap semoga disana tidak ada satu pun manusia.
"Bagaimana ini, Eld?"
Petra sontak bersembunyi dibalik dinding ketika mendengar suara Oluo diluar sana, sepertinya sedang berjaga bersama Eld. Baru saja ia berdoa semoga tidak ada seorang pun, tapi tidak terkabulkan.
"Aku.. tidak tau bagaimana cara menyampaikannya. Petra akan sedih kalau mengetahui hal ini."
Mendengar namanya disebut, dirinya langsung merasa penasaran, apa yang dibicarakan mereka. Petra memasang telinganya baik-baik, mencoba mendengarkan. Niatnya untuk berkeliling base seketika pupus.
"Sebenarnya, aku juga tidak tega memberitahunya. Terlebih.. dia juga masih dalam masa pemulihan. Tapi, surat ini harus disampaikan. Kita tidak berhak menyembunyikannya," ucap sebuah suara yang diketahui suara Eld.
Benar juga, kapten bilang dia sudah mengirim semua surat tiga hari yang lalu. Seharusnya, surat balasannya sudah sampai hari ini. Berarti.. mereka menyembunyikan surat balasan untukku? Kenapa? pikir Petra.
"Aku takut.. bagaimana kalau Petra tau.. ayahnya sudah sakit parah sejak empat hari yang lalu.."
Alangkah terkejutnya Petra mendengar itu. Bagaimana bisa Oluo dan Eld menyembunyikan hal sepenting ini darinya? Terlebih ini menyangkut ayahanda tercinta. Petra memegang erat dadanya. Rasa kecewa, sedih, panik, dan khawatir menghantui dirinya. Ia merasa kecewa dan sedih karena kedua rekannya melakukan hal ini. Ia juga panik dan khawatir dengan keadaan ayahnya yang jauh disana.
Pikiran dan perasaan yang sudah membuncah dan campur aduk membuat Petra langsung memajukan langkahnya menghampiri Oluo dan Eld diluar sana.
"OLUO! ELD!"
"P-Petra?!"
...----------------...