Always Be With U [Levi X Petra]

Always Be With U [Levi X Petra]
Part (4)



...• • •...


Berbincang dengan Eren membuat Petra lupa dengan tujuan awalnya ingin menemui Kapten Levi. 'Dimana Kapten ya?' Gumam Petra.


"Oi, Petra!"


Tubuhnya tiba-tiba menegang mendengar suara milik sosok yang baru saja terlintas di benaknya itu dan langsung menoleh ke sumber suara.



Benar saja. Sudah ada tubuh mungil sang kapten yang berdiri tak jauh di belakangnya.


"Siap, Kapten!" Petra segera memberi salute.


"Kau darimana?" Tanya Levi dingin.


"Sa-saya baru saja.. dari kamar Eren untuk mengantarkan makanan." Jawab Petra gugup sambil melihat sorot mata sang kapten yang sepertinya tampak sedang tidak bagus.


BRUGH!


Levi langsung saja mendorong Petra ke dinding di belakangnya, membuat Petra tersentak kaget. Pada saat itu suasana di lorong tampak sepi, hanya ada mereka berdua.


"Ka-kapten ada apa?"


"Ada apa denganmu?!"



Petra terkejut. "Maksud kapten apa? Aku tidak mengerti." Tukas Petra panik.


"Kenapa kau selalu terlihat peduli padanya?" Tanya Levi lugas.


"Kapten-" Petra menghentikan perkataannya, membiarkan kaptennya untuk menyelesaikannya terlebih dahulu.


"Kau punya perasaan khusus? Sepertinya, kau bahkan rela merawatnya dan terus berada di dekatnya. Tapi kenapa kau-"


Levi memotong perkataannya sendiri karena dirasa ia terlalu berlebihan.


"Apa tujuanmu mendekatiku, Petra?"


Tatapan matanya, sangat lekat dan menusuk, membuat gadis bermarga Ral itu gemetar ketakutan. Tapi, ia tau tidak ada kesempatan lagi untuk mundur. Ia harus menjelaskannya disini, sekarang juga.


"Maksudmu.. tentang Eren?"


"...." Levi hanya terdiam, juga tidak berniat untuk mengiyakan.


Petra merasa dugaannya benar.


"Kenapa.. kapten tiba-tiba bertanya seperti itu?"


"Jawab saja, sialan!"


Levi tidak sadar bahwa secara tak langsung ia telah membentak Petra. Petra sebisa mungkin memberanikan diri menatap kedua safir tajam itu meskipun ia bisa merasakan kedua matanya kembali memanas.


"Aku peduli terhadapnya karena aku menganggapnya seperti adikku sendiri." Jawab Petra tegas. Levi tersentak.


"Perihal mengapa aku mendekatimu.. cobalah kapten menilaiku dari sudut pandang yang lain. Bukankah sesama anggota pasukan harus mengenal satu sama lain? Aku tegaskan sekali lagi.. aku tidak ada perasaan pribadi terhadap Eren! Itu semata-mata karena aku menganggapnya seperti adikku.. yang sudah tewas."


Kedua mata Levi seketika membulat mendengar pernyataan itu. Entah kenapa, dirinya merasa bersalah telah berpikiran sempit. Ia bisa melihat kedua belia itu mulai berkaca-kaca, sudah pasti karena perlakuan dan pemikiran bodohnya.


Petra menghela nafas pelan, berusaha menahan air mata yang sedari tadi ingin mendobrak pertahanannya.


"Apa.. aku salah mengenalmu lebih dalam?"


Skakmat.


Levi tidak tau ingin menjawab apa. Lidahnya terasa kelu ingin berkata karena takut melukai hatinya lagi.


"Petra-"


"Juga.. aku ingin minta maaf atas sikapku tadi siang. Aku terlalu lancang terhadapmu, Kapten."


Tepat setelah mengatakan itu, Petra langsung pergi dari situasi tegang nan canggung itu. Ia tidak ingin menangis dan terlihat lemah dihadapan kaptennya. Ia merasa pikirannya sedang tidak sehat belakangan ini sehingga bisa berani menjawab kaptennya seperti tadi.


"Petra!"


Panggilan itu membuat Petra menghentikan langkahnya sejenak, namun enggan untuk menoleh.


Satu sisi ia tidak ingin menjadi bawahan yang melanggar perintah atasannya, namun jujur saja ia sedikit kecewa kepada Levi. Ia mengira bahwa kaptennya sudah sepenuhnya memercayainya, namun ternyata tidak.


"Perasaanku terhadapmu dan Eren.. itu berbeda."


Levi tercekat. 'Perasaan?'


Petra langsung berlari meninggalkan Levi yang masih berdiri mematung di belakangnya, mencoba mencerna kembali apa yang telah terjadi tadi..


...• • •...


Sesosok pria berjas hitam tengah menghisap cerutu sembari duduk bak raja di kursi singgasananya.


"Permisi, Bos.." seorang wanita bertubuh tinggi memasuki ruangan pria tersebut.


"Apa yang kau dapat, Nial?"


Wanita yang diketahui bernama Nial itu pun menyodorkan beberapa berkas yang langsung dibaca oleh bosnya.


"Huh, menarik." Pria itu tersenyum menyeringai. "Bawa gadis cantik yang bernama Petra Ral itu padaku, malam ini."


"Baik, Bos." Nial membungkuk hormat lalu segera keluar ruangan. Sosok pria itu tersenyum jahat.


"Levi, Regu Elitemu harus hancur ditanganku."


...• • •...


Petra tidak bisa tidur malam itu. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


'Apa aku banyak pikiran?' Gumam Petra.


Ia memutuskan untuk membuat secangkir teh hangat. Namun, kali ini bukan untuk kaptennya melainkan untuk dirinya sendiri. Ia pun duduk di kursi ruang makan dan menyesapi tehnya perlahan.


"Apa yang sebenarnya terjadi tadi? Aku pun tak habis pikir."


Petra menjambak rambutnya dan memukul-mukul pelan kepalanya. "Tidurlah Petra tidur!"


Ingatan tentang bagaimana adiknya tewas seketika terulang kembali. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya mengepal. "Maaf.. maafkan aku, Revan."


Suasana ruang makan yang sunyi itu terasa semakin sunyi ditambah isak tangis yang memenuhi ruangan tersebut, meskipun terdengar pelan.


"Aku akan membalas mereka, Revan.. aku janji."


...• • •...


Levi mendengus kesal. Semua pemikiran Erwin yang sungguh ekstrim membuatnya lelah, fisik maupun batin. Ia pun heran kenapa ia bisa bertahan dengan manusia seperti Erwin, selain karena rasa bersalahnya di masa lalu.


"Tch! Kenapa si alis tebal itu terus membuatku berpikir." keluh Levi.


Ia pun memutuskan pergi ke dapur dan membuat secangkir teh hangat untuk menenangkan pikirannya. Tak sengaja kedua maniknya menangkap seseorang yang tengah tertidur di ruang makan.


"Petra?"


Levi pun menghampiri gadis bersurai jahe itu. Dilihatnya, Petra tampak tertidur lelap dengan dengkuran yang pelan. Levi tercekat, menyadari sesuatu.


'Dia.. habis menangis?'


Ia menatap lamat-lamat kedua mata Petra yang tampak bengkak. Tangannya hendak mengusapnya..


"Maaf.."


Levi tersentak pelan karena mengira Petra terbangun karena ulahnya, namun ternyata gadis itu hanya meracau namun masih dalam keadaan tidur.


"Revan.."


Levi kembali merasa bersalah ketika ia sempat salah paham terhadap gadis malaikat ini.


'Bisa-bisanya aku berpikiran buruk tentangnya..' Levi pun melepas jas hitamnya guna menyelimuti tubuh Petra.


"Kenapa kau bisa tidur disini, dasar bodoh.." Levi mengusap pelan pucuk kepala Petra.


"Maafkan aku.. dan selamat malam, Petra."


Levi tersenyum sangat tipis, sembari menatap cukup lama wajah damai. Namun, tak disangka gadis itu kembali mengatakan sesuatu yang membuat Kapten Pasukan Elite itu terkejut..


...----------------...