Aitai

Aitai
Jalan Dari Langit



"Kau ingin bernasib sama dengan Megummy? Atau menyerahkan diri dengan suka rela?"


"Tidak...kumohon bebaskan aku" kata Mizu ketakutan. Pria yang membuat penawaran itu menggeram jengkel lalu turun dari kudanya.


"Ikuti aku, atau kau bebas dari kami dengan keadaan tanpa nyawa" kekeh Pria itu tanpa rasa iba sedikitpun. Mizu digeret begitu saja tanpa belas kasihan naik ke atas kuda.


Tapi sebuah Pir Nashi mendarat tepat di pelipis si Pria hingga melukai pelipisnya.


"Tunjukkan batang hidungmu pengecut!!" marahnya sambil mencari-cari keberadaan sang penyerang. Dengan pergerakan yang menakjubkan, seorang Laki-laki muda melompat dari atas pohon.


"Ya ampun, kalian membuat tidur siangku terganggu" kata Pemuda itu cemberut acuh sambil menggeliat dan menguap lebar.


"Kau!! Jangan ikut campur urusan kami bocah tengik!!"


"Salah sendiri kau membuat keributan saat aku tidur. Ini sudah menjadi urusanku. Wah, benar-benar, harusnya kalian kecilkan suara kalian heizz!!" kata sang Pemuda yang kini tengah sibuk mengorek telinga kirinya dengan jari kelingking.


"Bocah tak tahu sopan santun!! Akan kuberi kau pelajaran!!" kata Pria tersebut mengarahkan anak panahnya ke arah sang Pemuda. Mizu menutup mulut dengan kedua tangannya sambil menatap ngeri.


Baaaatz!!


Baaaaatz!!


Busur anak panah mulai melesat mendekati sang Pemuda tapi, Pemuda itu bersikap begitu tenang seakan tidak pernah ada bahaya mengancamnya. Dengan lincah ia mengambil sebuah pedang yang bertengger di belakang punggungnya.


Tang!!


Trang tang!!


Suara tumbukan antara pedang Pemuda itu dengan anak panah.


"Kau lumayan juga anak muda" kekeh sang Pria tapi ia lebih memilih menaikkan Mizu keatas kuda.


"Lepaskan Gadis itu!!" perintah sang Pemuda.


"Kau memerintah kami, bocah ingusan?!" pekik salah satu dari Pria-pria bertubuh besar yang mengejar Mizu.


"Tolong jaga Putriku nak..." lirih Megummy yang tergolek lemah tak jauh dari Pemuda itu berdiri.


"Jika perintahku dapat menghentikan kegiatanmu, maka aku akan benar-benar memerintahmu sekarang Pak Tua" kekeh Pemuda itu.


"Bawa dia pergi. Biar aku yang menangani bocah tengik ini" kata Pria yang diserang pertama kali oleh sang Pemuda.


Begitu Pria lain mengambil alih Mizu dan akan membawanya pergi, pemuda tersebut menggeram marah. Ia melempar kuat-kuat pedang itu, dengan kecepatan tinggi hingga menebas salah satu kaki kuda yang membawa lari Mizu. Jelas saja, si kuda langsung terjatuh membuat Mizu dan si Pria penyekap ikut jatuh berguling-guling.


Tanpa ba bi bu si Pemuda mengambil pedang di samping pinggang si Pria bertubuh besar lalu melemparkan dan menghujamkan pedangnya tepat di dada musuh. Sang pemuda berlari secepat kilat menggapai Mizu lalu memanggul Gadis itu tepat di atas punggungnya, membawa Mizu lari entah kemana.


Perlahan mata lentik Simizu Hanami terbuka mencoba mencari tahu dimana sekarang ia berada. Suara pedang saling beradu menarik perhatiannya. Gadis tersebut menoleh kearah Pemuda yang menyelamatkannya.


"Apa kepalamu baik-baik saja?" tanya Pemuda itu sambil memainkan pedang. Mizu mengelus kepalanya karena memang ia merasakan kepalanya mulai berdenyut-denyut.


"Terima kasih" kata Mizu lembut setulus hati membuat Pemuda ini menghentikan permainan pedangnya dan meminta latihan pedang di akhiri. Sang Pemuda mendekat lalu menatap tajam ke arah Mizu.


"Dimana rumahmu? Biar kuantar kau pulang"


"Kumohon jangan!! Rumah...aku...tidak punya rumah. Satu-satunya tempat tinggalku, adalah neraka bagiku. Bahkan Haha sendiri memintaku pergi dari sana" kata Mizu lesu. Pemuda tersebut mengerutkan kening lalu duduk di samping Mizu.


"Siapa namamu?"


"Simizu Hanami. Semua orang memanggilku...Mizu"


"Hideki Takizawa. Orang-orang lebih suka memanggilku Hideki, tapi aku jauh lebih senang jika seseorang memanggilku Taki" kata Taki sok serius.


"Kau harus mulai cari pekerjaan. Chichiku membenci pengangguran terlebih lagi jika dia seorang Gadis sepertimu" kata-kata Taki membuat Mizu menjadi menciut. Pekerjaan apa yang bisa dia lakukan? Ditempat tinggal seorang pandai besi?


"A-aku bisa memasak. Akan kubuatkan kalian yang enak-enak. Aku janji tapi, izinkan aku tinggal disini. Ku mohon...sungguh aku tidak akan merepotkan" mohon Mizu bersungguh-sungguh.


"Siapa yang akan tinggal disini Taki?" seru seorang Pria setengah baya berjalan mendekati Taki dan Mizu.


"Chichi...aku menemukan Gadis ini, dalam bahaya. Dia hampir saja masuk ke sarang penyamun. Celakanya lagi, dia mengaku tak punya tempat tinggal bagaimana ini Chichi? Hidupnya sama menyedihkannya denganku ketika kau menemukanku dulu" kata Taki mencoba mengambil hati sang Ayah.


Pria setengah baya itu berdehem kecil sambil melirik ke arah Taki mengetahui kemana arah pembicaraan mereka.


"Tinggallah disini, sampai kau bisa menyewa tempat tinggalmu sendiri" kata Pria setengah baya menatap Mizu begitu teduh.


"Terima kasih..."


"Ehm...aku punya banyak bahan makanan di dapur berkat Putra tercintaku. Apa kau mau memasakkan sesuatu untuk kami?"


"Ah, ya, Tuan Taki...bisa beritahukan aku, dimana letak dapurnya ?" kata Mizu dengan mata berbinar-binar begitu mendapat perintah langsung dari Ayahanda Taki.


"Kau hanya memasak Gadis konyol, bukannya mendapatkan emas batangan di dapur" kata Taki menjitak Mizu seenak hati merasa geli ketika melihat mata Mizu yang berbinar seperti itu.


Perdana Menteri Natsuha menatap sendu pada sosok Ratunya, yang diam dalam lamunan. Perlahan ia berjalan mendekati Ratu Eun Sha, berdehem kecil membuyarkan lamunan sang Ratu.


"Menteri Natsuha? Ada keperluan apa datang padaku?" tanya Eun Sha dengan senyuman dipaksakan.


"Sudah bertahun-tahun Anda menjalani hidup seperti ini Ratu. Mau sampai kapan, Anda menghukum Raja?" kata Natsuha membungkuk memberi penghormatan.


"Hukuman? Apa maksudmu Natsuha, aku sama sekali tak pernah memberinya hukuman"


"Semenjak Putra Mahkota dan Putri menghilang, senyuman Anda untuk Raja pun menghilang Yang Mulia. Jika Anda tak menyadarinya, maka sekarang belum terlambat untuk memperbaikinya" kata Natsuha sambil menerawang ke kolam ikan.


"Ini bukan mauku. Aku hanya...merasa...sebagian dari diriku tak utuh lagi"


"Menurut Anda, apa Raja Keito tetap utuh setelah kedua darah dagingnya pergi? Hamba mohon, jangan lah Anda terlalu egois Yang Mulia. Ini bukan diri Anda yang selama ini hamba kenali"


"Natsuha, "


"Ya Yang Mulia"


"Hamari dan Hiroshi masih hidup. Aku yakin itu. Meski semua orang berkata jika mereka telah tiada, aku tetap pada keyakinanku" kata Eun Sha sambil menghela nafas panjang.


"Ada kepentingan apa hingga kau datang kesini membawa pedang itu Natsuha?" tanya Eun Sha kembali sambil melirik kearah pedang yang digenggam Natsuha.


"Ah, Raja akhir-akhir ini sungguh frustasi melihat keadaan Ratu yang semakin memprihatinkan. Hanya inilah satu-satunya hiburan bagi Yang Mulia...dan, saat hamba mengambil pesanan pedang, ada kejadian yang menarik perhatian hamba"


"Apa itu?"


"Seorang Pemuda sedang menyelamatkan seorang Gadis dari para penyamun. Kekuatan Pemuda itu luar biasa. Hamba pikir dia bukan orang biasa Yang Mulia. Wajahnya mengingatkan hamba pada Yang Mulia Raja. Matanya, mengingatkan hamba pada Yang Mulia Ratu" kata Natsuha menghela nafas panjang lalu menggelengkan kepala beberapa kali.


"Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Tolong jangan dimasukkan ke dalam hati Ratu"


"Penilaianmu terhadap orang, tidak pernah salah Menteri Natsuha, aku sangat tertarik dengan Pemuda itu. Kau tahu, dimana rumahnya? Siapa orang tuanya?"


"Ojie Nabuke. Orang tua angkatnya, karena dia menemukan Pemuda itu, saat mengalami kecelakaan" sambut Natsuha menatap lekat mata Ratunya.


"Lalu, nama Pemuda itu?"


"Hideki Takizawa"


"Jika Yang Mulia ingin menemui Pemuda itu, hamba bisa mengaturnya untuk Anda. Dengan satu syarat"


"Kau...akan mempertemukanku dengannya? Apa syaratnya mudah?" tanya Eun Sha berbinar-binar seolah ia akan menemui Putranya.


"Lupakan bahwa Anda, kehilangan Putra Anda yang telah lama tiada. Anggaplah Pemuda itu sebagai Putra Anda dan Raja. Berbahagialah bersama Putra baru Anda nanti Yang Mulia"


"Maksudmu?" tanya Ratu Eun Sha penuh tanda tanya terlebih lagi sang Menteri Natsuha hanya tersenyum penuh arti.


Di dapur rumah sang Pandai Besi, Taki menatap antusias Gadis bernama Mizu, yang sedang sibuk mengolah makanan.


"Tuan, kenapa masih disini? Pekerjaan Anda sudah selesai?" tanya Mizu mengernyit merasa aneh melihat Taki sibuk memperhatikannya.


"Aku hanya membantu menjual pedang-pedang Chichi. Aku tidak membuatnya jadi, disinilah aku sekarang" balas Taki tetap fokus memperhatikan gerak-gerik Mizu.


"Bersantailah dulu diluar, jika makanannya sudah siap, Tuan Muda dan...Tuan akan saya panggil" kata Mizu tersenyum manis.


"Panggil aku Taki. Untuk apa kau panggil aku Tuan Muda? Memang aku majikanmu? Kita disini sama-sama bekerja untuk Chichi mengerti?!" protes Taki tak suka.


"Bukankah Tuan...mak-maksudku..., Taki, bukankah Tuan Ojie adalah Chichi kandung Anda?"


"Aku ditemukan Chichi saat terluka, dan lupa akan masa laluku sehingga sampai sekarang, dia memberiku tumpangan" kenang Taki.


"Benarkah? Kata Haha, aku juga melupakan masa laluku hingga aku terpaksa dibawanya ke rumah neraka itu..." kata Mizu menunduk sedih.


"Wanita dari kawasan merah muda itu bukan Haha kandungmu? Sayang sekali...dia cantik" puji Taki sambil membuat ekspresi prihatin.


"Dia memang selalu cantik"


"Tapi kau jauh lebih cantik. Secantik Ratu Negeri ini" kekeh Taki.


Apa dia sedang merayu? Ya, terdengar seperti sebuah rayuan di telinga Mizu. Tapi, bagi Taki, dia jarang sekali merayu Perempuan, bahkan dia bukan tipikal tukang gombal, dia hanya Pria berwajah datar yang kebetulan mudah dicintai oleh banyak kaum Wanita. Jadi, untuk apa dia merayu? Bahkan jika ia ingin, tinggal menunjuk saja, Wanita itu pasti akan segera menjadi miliknya bukan?


Tok


Tok


Tok


Terdengar ketukan di pintu dapur dan muncullah Ojie Nabuke.


"Cepat selesaikan masakanmu Mizu. Nanti malam kita akan kedatangan seorang tamu penting. Taki jangan ganggu dia dulu kali ini. Atau nanti malam tamu kehormatan kita akan pulang dengan perut kosong" kata Oji Nabuke berdecak kesal lalu menggeret Putranya dengan menjewer telinga Pemuda itu.


Ojie melepaskan telinga Taki di ruang keluarga dan duduk di samping Putranya.


"Siapa tamu agungmu kali ini Chichi"


"Menteri Natsuha. Bersikaplah baik nak, dia ingin menemuimu"


"Ada urusan apa seorang Menteri dari Kerajaan Negeri ini mencariku? Ada angin apa?"


"Kejadian kau, menyelamatkan anak itu, nampaknya menarik perhatiannya. Kau harus bisa mengambil hatinya nak, siapa tahu kau, akan di perkerjakan menjadi prajurit Istana. Itu impian dari orang kecil seperti kita ini" kata Oji menepuk kedua bahu Taki.


"Lalu bagaimana dengan Chichi? Kau akan sendirian disini"


"Aku memang selalu sendiri sejak awal bukan? Jangan mencari alasan anak muda. Jangan lupa, kau bawa dia juga bersamamu jika itu benar terjadi. Kau bisa merekomendasikannya menjadi seorang dayang Istana" kata Oji merancang masa depan muda mudi ini.


Natsuha benar-benar datang malam ini membawa dua gulungan kertas di kedua tangannya.


"Selamat datang Menteri Natsuha..." sapa Ojie Nabuke memberi penghormatan diiringi oleh dua muda mudi di sampingnya. Natsuha menatap tajam ke arah Mizu, matanya seolah melihat hal yang teramat sangat mengejutkan. Mizu hanya diam menunduk ketika awalnya mata mereka beradu satu sama lain.


"Aku, kesini, dengan tujuan mengangkat Putra dan Putrimu, menjadi anak-anakku. Maaf jika ini sangat mendadak, tapi aku melihat Putramu sangat berpotensi menjadi prajurit Kerajaan. Sementara Putrimu, kulihat dari kedua jemari tangannya, pastilah ia seorang penari. Aku akan menjadikannya penari Istana" kata Natsuha bersungguh-sungguh. Raut wajah ketiga orang di hadapan Natsuha nampak bingung.


"Aku paham jika kalian sangat terkejut atas permohonan ini. Tapi, aku sangat menginginkan memiliki seorang Putra, dan Putri bertalenta seperti kalian"


"Ini membuat kami merasa sangat tersanjung Menteri Natsuha, beri saya waktu untuk membujuk mereka"


"Waktumu hanya sampai matahari terbit Oji Nabuke. Kau tahukan, masa depan mereka akan cerah ditanganku. Permisi" kata Natsuha sebelum melenggang pergi membawa kuda Istana kembali ke kediamannya.


Sesampainya Natsuha di kediamannya, ia langsung berjalan menuju ruang baca mendadak ia jatuh terduduk. Benarkah yang ia lihat tadi? Wajahnya...Gadis bernama Mizu, mengingatkan Natsuha pada seseorang yang telah lama di lenyapkan oleh Kakaknya Kimiko.


"Benarkah itu Mizu? Atau...dia ternyata masih hidup? Apa yang terjadi?" bisiknya pada diri sendiri. Ia membuka kasar sebuah gulungan yang tadi jatuh dari tangannya dan tergeletak begitu saja di atas lantai. Direntangkannya lebar-lebar kertas itu lalu ia menatap datar pada lukisan yang tertoreh disana.


"Putramu, aku sangat yakin, dia Putramu dengan Raja Keito. Aku harus membawanya kembali padamu, demi kebahagiaanmu Eun Sha. Tapi..." Natsuha beralih pada lukisan yang kedua lalu membukanya, menatap dengan seksama.


"Bagaimana dengan Hamari? Sanggupkah mereka menerima kenyataan? Bagaimana reaksi Ratu, Raja dan Selir Kimiko? Kenapa?! Kenapa semuanya menjadi serba salah begini? Haruskah aku mengembalikan Hamari pada keluarganya?"


"Seperti aku akan mengembalikan Hiroshi ke tangan kedua orang tuanya? Adilkah aku jika kupisahkan mereka dari Mari? Firasatku sungguh tidak enak kali ini" gumam Natsuha makin bimbang.


Pagi menjelang, seorang dayang berlarian membawa gulungan surat dari Sang Pandai Besi.


Mereka telah siap menerima kehormatan menjadi anak angkat dari Menteri Natsuha. Terima kasih telah memberi kehormatan sebesar ini pada Rakyat kecil seperti kami.


Ojie Nobuo


Natsuha tersenyum senang mengetahui Hiroshi dan Mari akhirnya dalam genggamannya. Ia langsung berlari, menuju taman kecil rumahnya. Langkah kakinya mulai terhenti, ketika ia menatap sosok Hiroshi dan Mari kecil melangkah dengan senyuman bahagia sambil menatap Natsuha dengan mata berbinar-binar penuh kebahagiaan.


Tapi angin kemudian berhembus kencang, hingga mata Natsuha terpaksa berkedip lalu sosok kecil Mari dan Hiroshi, berubah menjadi Taki dan Mizu dewasa.


"Tuan," kata mereka serempak dengan senyuman penuh harapan.


"Panggil aku Chichi mulai sekarang" kata Natsuha membentangkan kedua tangan, mengundang kedua muda mudi itu dalam pelukannya. Tanpa ragu dan merasa risih, mereka pun menghambur memeluk Chichi baru mereka.


"Masuklah, akan kutunjukkan, dimana ruang istirahat kalian berdua" kata Natsuha tersenyum simpul.


"Anda tidak merasa takut Tuan?" tanya Taki pelan.


"Chichi. Apa perlu ku ajarkan cara mengejanya?"


"Apa Chichi tidak takut?" ulang Taki keheranan.


"Takut? Pada apa dan pada siapa?"


"Kami, bukankah Chichi Ojie memberitahu dari awal, jika...kami tak diketahui asal- usulnya?" kata Taki tak mengurangi rasa hormatnya pada sang Perdana Menteri.


"Aku sangat mengenal Oji Nobuo. Dia bukanlah Pria yang sembarangan menerima orang. Apa kalian masih belum mengingat siapa keluarga kandung kalian? Dimana rumah mereka?" selidik Natsuha memperhatikan ekspresi dari kedua keponakannya itu.


Taki dan Mizu menggaruk-garuk kepalanya lalu menggelengkan kepala tanda belum ada satu pun ingatan dimasa lalu kembali pada mereka.


"Aku bisa membantu kalian untuk mencari keluarga kandung kalian berdua"


"Benarkah? Bukankah...Chichi mengadopsi kami?" tanya Mizu senang sekaligus bingung.


"Selamanya kalian tetaplah Anak-anakku. Tidak ada yang dapat mengubah itu. Tapi kalian juga berhak, mengetahui keberadaan keluarga kandung kalian" kata Natsuha berhenti di depan sebuah ruangan tertutup dekat dengan ruang membaca.


"Mizu, mulai sekarang, inilah ruang istirahatmu. Semoga kau menyukainya. Bukalah, dan ubah apa pun di dalamnya sampai kau nyaman tinggal di dalamnya. Taki, ikut Chichi" kata Natsuha kembali berjalan kali ini menuju daerah ruang bela diri.