Aitai

Aitai
Antara Ratu dan Ane



"Apa yang Anda lakukan Yang Mulia? Kenapa Anda meluluskan keinginan mereka? Bagaimana jika mereka dapat lulus tantangannya? Mau di kemanakan wajah kita berdua di hadapan Rakyat?" cerocos Eun Sha menumpahkan segala kekesalannya pada Suaminya.


"Mereka tidak akan bisa melawan takdir Eun Sha. Tenanglah. Permainan kita, baru saja dimulai. Lihat dan saksikanlah saja"


"Kenapa Anda seyakin itu Yang Mulia? Katakan alasannya?"


"Aku dan Natsuha sedang melakukan serangan psikis pada mereka bertiga. Kau pikir untuk memutuskan apakah mereka ikut atau tidak dalam ujian ini tidak mempengaruhi mental mereka? Tentu saja sangat berpengaruh"


"Apa lagi ketika mereka bertiga mengetahui perasaannya masing-masing, perang benar atau salah akan segera bergejolak"


"Benar atau salah? Apa maksud Anda?"


"Mereka akan saling menghakimi satu sama lain dan sama-sama merasa berada di posisi yang benar. Tapi mereka semua tahu bahwa di antara mereka tidak ada yang benar. Untuk saat ini, biarkan mereka menilai sendiri"


"Apakah hasrat mereka benar atau salah, berdasarkan dari sudut pandang mereka sendiri. Sebagai makhluk sosial, mereka tidak akan selamanya mengabaikan pendapat orang lain atas benar atau salahnya hasrat mereka terhadap kita" jawab Raja menyandarkan kembali punggungnya ke kursi.


"Dengan kata lain mereka akan perang batin?"


"Ya, ketika mereka tak yakin lagi bahwa mereka itu benar, akan dengan mudah kita membimbing mereka ke jalan yang benar"


"Sebenarnya tantangan apa yang harus mereka jalani hari ini?"


"Akan kita bicarakan bersama Natsuha sebentar lagi. Jangan khawatir...kita pasti bisa menyadarkan mereka lewat tantangan ini. Untuk itu mereka harus bisa membedakan antara cinta dan obsesi" lirih Raja sambil beralih posisi meletakkan kepalanya di atas pangkuan Ratu.


Derit pintu kediaman Selir Kimiko terdengar bersamaan dengan kedatangan Putri Mari yang langsung mendekati Ibunya sambil bersungut-sungut. Selir Kimiko memberi isyarat pada sang dayang untuk segera menghentikan kegiatannya merias Selir Kimiko.


"Ada apa gerangan yang membuat suasana hati Putriku memburuk?" tanya Kimiko memutar tubuhnya ke belakang sambil memperhatikan raut wajah sang Putri.


"Chichi memberiku sebuah tantangan Haha. Masalahnya, beliau tidak mengatakan...apa tantangan untuk hari ini. Lalu bagaimana bisa aku mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan tersebut?!" keluh Mari duduk di atas peraduan sang Selir. Selir Kimiko tersenyum kecil melihat kegundahan Putrinya.


Perlahan penuh kasih ia membelai rambut Mari.


"Terkadang untuk mendapatkan keinginan, kita memang harus gigih berjuang. Untuk apa kau meributkan masalah itu? Ikuti saja apa peraturan yang dibuat Chichimu. Lakukan yang terbaik saat menjalani ujian itu" nasihat Kimiko lembut.


"Haha. Kenapa kau membantuku saat semua orang mengatakan aku berada di jalan yang salah?"


"Kau masih terlalu muda untuk memahami semuanya. Ini berawal dari seorang Penari Istana bernama Jea Jangna. Aku dan dia mencintai Raja tapi nasibku, tak seberuntung dirinya, karena Raja pun ternyata mencintainya"


"Saat itu aku sangat tidak terima. Tidak ada yang boleh mengambil alih Tahtaku. Akhirnya aku memutuskan untuk bersekutu dengan Jin Perempuan. Sialnya, setelah aku berhasil menyingkirkan Jangna, muncul Ratu Eun Sha. Saat itu ia masih seorang Penari Istana.


"Aku pun ingin melenyapkan Eun Sha, memisahkan Wanita itu dari Raja. Akibat pembunuhan yang aku lakukan terhadap Jangna, aku pun harus membayar mahal dengan melahirkanmu ke dunia"


"Tunggu. Maksud Haha, aku ini bukanlah anak yang diharapkan?!"


"Ya, saat itu kau bukanlah anak yang aku harapkan. Kau tahu kenapa? Karena Jangna datang dalam mimpiku, saat aku mengandungmu. Dia berkata padaku bahwa ia akan bereinkarnasi menjadi Putriku"


"......" Hamari hanya mampu diam seribu bahasa sambil menatap Kimiko tak percaya.


"Aku tidak pernah menyangka, jika kau akan jatuh cinta kembali pada Keito. Tapi sekarang status kalian tidak sama lagi seperti dulu. Dia Chichimu. Suka atau tidak dialah Chichi kandungmu"


"Tidak...ini tidak masuk di akal. Haha pasti hanya mengarang cerita. Aku tak ingin mendengar lagi. Jika Haha mengarang cerita agar aku melepaskan Chichi, itu tidaklah akan berhasil!!"


"Aku tidak sedang memintamu melakukan hal itu. Kenyataannya tidak ada Wanita mana pun yang bisa menggantikan posisi Ratu Eun Sha di hati Raja. Sekalipun wajahnya mirip dengan mantan kekasih hatinya, Raja tetap tidak akan bergeming Mari" tambah Selir Kimiko menatap tajam ke arah Mari.


"Bahkan aku harus membunuh untuk menggantikan posisi Jangna di hatinya" kata Selir Kimiko setengah berbisik lirih. Mari berdiri tegak sambil menutup kedua telinganya lalu berlari keluar dari kediaman Ratu Kimiko.


"Apa yang Anda lakukan Selir? Kenapa Anda mengatakan kebenaran yang pada akhirnya membuat Putri Mari menjauh?" tanya seseorang yang muncul dari balik pintu. Orang tersebut berjalan mendekati Selir Kimiko lalu membungkuk menghormat pada junjungannya.


"Maafkan kelancangan hamba Selir. Tapi suara Putri..." kali ini sang dayang terpaksa menghentikan ucapannya karena Kimiko mengisyaratkannya demikian.


"Sudah aku pikirkan dengan matang. Ini akan terlihat bahwa aku sedang mencoba meluruskan Mari secara paksa. Tapi yang terjadi justru sebaliknya" kata Selir Kimiko menghapus derai air mata di kedua pipi lalu tersenyum penuh siasat.


"Hamba sungguh tidak mengerti,"


"Sifat Mari sangatlah mirip denganku. Jika cara menasihatinya tidak tepat, hasilnya akan sangatlah buruk. Sayangnya aku sengaja melakukannya"


"Apa? Tapi...bukankah Anda kini mulai sangat menyayangi Putri Mari?" tanya sang Dayang bingung. Bagaimana bisa seorang Ibu yang penuh cinta kasih justru menjerumuskan Putrinya sendiri ke lembah nista?!


"Aku hanya merasa bersalah ketika Mari dinyatakan mati saat itu. Dan pertobatanku hanya sekedar tobat sambal. Ketika aku melihat Natsuha membawa pulang Putriku, memang aku bahagia dan ingin memperbaiki semua kesalahanku padanya"


"Tapi!! Natsuha membawa Putra Mahkota juga bersamanya!! Dari situlah aku memutuskan untuk menghancurkan Eun Sha dan Putranya. Itulah tujuanku satu-satunya" kata Selir Kimiko berapi-api dibakar dendam.


"Apa Anda sadar Selir? Dengan apa yang akan di alami Putri Mari ketika kehancuran itu tiba?" suara khas yang sangat di kenali Selir Kimiko sebagai suara Perdana Menteri Natsuha. Selir Kimiko mulai berkeringat dingin menatap kedatangan Adiknya yang sedang menatapnya dingin.


"Kau selalu saja ikut campur urusanku Natsuha"


"Selama ini ada hubungannya dengan Eun Sha, maka apa pun itu, tetap akan menjadi urusanku. Ku pikir kau telah berubah karena rasa penyesalanmu yang menyia-nyiakan Putri kandungmu. Tapi mataku kini melihat apa yang dahulu tersamarkan"


"Jadi kau ingin memanfaatkan Putrimu demi keuntunganmu sendiri?! Kau memang tak pantas menjadi seorang Haha. Seharusnya kau terlahir tak memiliki seorang anak sekalipun!!" teriak Natsuha.


Plak!!


Tamparan mendarat di pipi Natsuha cukup keras. Mata Kimiko melotot penuh penghakiman.


"Kau kira mudah menjadi diriku Natsuha? Seorang Putri dari Raja Yoshuke yang di hari ke 2 sebelum pesta pernikahannya terancam gagal menikah lantaran hati si calon Suami justru tertuju pada Wanita lain!! Kau tahu bagaimana rasanya itu?!" teriak Selir Kimiko matanya kini mulai berkaca-kaca.


"Dan ketika aku telah berhasil menjadi seorang Ratu, Suamiku tetap tidak mencintaiku sepenuh hatinya!! Dia mengabaikanku!! Selalu begitu!!" kata Selir Kimiko mendorong Natsuha ke belakang.


"Kau tahu apa soal aku? Aku yang berjuang mati-matian mendapatkan hatinya tapi ia malah kembali jatuh cinta pada Wanita lain, dan Wanita tersebut adalah mantan kekasihmu. Kau ingat itu!!" bentak Kimiko dengan nafasnya yang mulai tersengal-sengal.


Ia mulai merasakan nyeri di dadanya. Selir Kimiko meremas dadanya yang mulai nyeri, sesak, bagai di tusuk sebilah pisau. Ia hampir jatuh tapi dengan sigap Natsuha menangkap kedua lengan Kakaknya.


"Lepaskan!! Untuk apa kau menolong Wanita yang kau kutuk ini huh?! Ya!! Aku tidak pantas memiliki seorang Anak seperti yang kau katakan padaku!! Bahkan aku tak berhak, atas semua yang kumiliki saat ini. Dimatamu, hanya ada Eun Sha...kebahagiaan Eun Sha dan Eun Sha!! Tidak ada yang memikirkan perasaanku!!" jerit Selir Kimiko yang ambruk ke lantai kayu mendadak tak sadarkan diri.


"Kimiko!! Kimiko bangun!!" pekik Natsuha mencoba menyadarkan sang Kakak tapi tak ada sahutan sedikitpun.


"Hormat hamba Yang Mulia" sambut sang Dayang tergagap. Eun Sha hanya tersenyum hambar lalu mengisyaratkan agar sang Dayang Selir Kimiko melanjutkan pekerjaannya.


"Yang Mulia..." kata Dayang Ratu Eun Sha lirih merasa salah tingkah. Mereka tak sengaja mendengar pertengkaran antara Kakak dan Adik itu. Eun Sha hanya membalas dengan lirikan mata lalu ia bergegas menuju ke suatu tempat.


Ratu Eun Sha tiba di kediaman Raja Keito ia segera menuju ke ruang meditasi Raja.


"Yang Mulia...mohon dengarkan hamba sedikit saja" lirih Eun Sha terisak mengusik ketenangan sang Raja. Pria itu perlahan membuka kedua mata lalu menatap penuh tanda tanya.


"Apa yang terjadi? Ada apa denganmu?"


"Bukan hamba Yang Mulia. Tapi Selir Kimiko"


"Ada apa dengannya?"


"Mohon jangan hukum dia lebih lama lagi Yang Mulia. Selir Kimiko sudah cukup lama menderita"


"Ke arah mana kau ini bicara? Katakan dengan sejelas mungkin"


"Selir jatuh sakit Yang Mulia. Bagaimanapun, Anda masih Suami dari Selir Kimiko. Mohon perhatikan kesehatannya"


"Akan ku jenguk dia nanti" balas Raja Keito malah kembali memejamkan mata.


"Hamba pikir penyakitnya serius Yang Mulia. Jangan buang-buang waktu. Hamba mohon" kata Eun Sha memaksa. Raja mendesah kesal lalu beranjak berdiri.


"Ikutlah bersamaku"


"Tidak Yang Mulia. Selir sangat membutuhkan perhatian Anda. Jika hamba di sekitar Yang Mulia, yang ada Anda sibuk memperhatikan hamba" kata Eun Sha menolak mentah-mentah.


"Kau Istriku. Kau berhak, mendampingiku dimanapun aku berada. Jika kau tak mendampingiku sekarang, maka tidak ada alasan bagiku untuk meluluskan keinginanmu" ancam Raja membuat Eun Sha merasa tak punya pilihan lain.


Kedatangan Eun Sha dan Raja disambut dengan kehadiran sang Tabib Istana. Semua orang di sana diam menanti apa yang akan dikatakan sang Tabib Istana.


"Selir Kimiko...tampaknya mengalami tekanan mental yang cukup besar. Sehingga memicu serangan jantung mendadak. Syukurlah Perdana Menteri Natsuha dengan sigap memanggil hamba" kata sang Tabib menghentikan ucapannya sejenak. Kerutan di dahinya mengisyaratkan sang Tabib sedang mencari kata untuk menyampaikan sesuatu agar dapat tersampaikan dengan tepat.


"Tapi...ramuan obat tidaklah cukup untuk kondisi Selir saat ini."


"Katakan. Apa yang kau butuhkan untuk dapat dengan maksimal merawatnya hingga sembuh" sambut Raja yang di respons dengan sebuah lirikan oleh Natsuha.


"Ketenteraman Yang Mulia. Buat beliau nyaman dengan hidupnya. Mohon jangan berikan banyak tekanan yang dapat kembali memicu penyakitnya kambuh kembali" jawab sang Tabib Istana.


"Yang Mulia. Bisakah kita bicara empat mata di suatu tempat?" tanya Natsuha sangat serius.


Sebuah masalah yang pelik kini telah muncul tanpa di undang bahkan tanpa terduga. Perdana Menteri Natsuha mengalami dilema. Bagai memakan buah simala kama...semua hambar...dan pahit. Hatinya sungguh tak akan rela Eun Sha menjadi korban dari keegoisan Ane Kimiko. Bahkan ia merutuki dirinya bila menempatkan sang Ane Kimiko dalam penderitaan tak berujung.


Di sisi lain, keponakannya Mari, yang merasa dirinya sama sekali tak melakukan kesalahan dengan mencintai Chichi kandungnya. Apa yang harus ia lakukan? Satu-satunya cara untuk mendapatkan pencerahan adalah membicarakannya kepada sang Raja Keito.


"Kau ingin membicarakan soal Onesan?" tanya Raja Keito tanpa basa basi ketika telah tiba di tempat yang di tuju yaitu ruang meditasi Raja. Natsuha mengernyit sejenak menimbang tepat atau tidakkah untuk ia membahas soal keadaan Onesan.


"Maafkan Hamba Yang Mulia. Mengingat keadaannya yang kian memburuk..."


"Katakanlah" potong Sang Raja malas untuk berbasa basi.


"Hamba merasa kemana Hamba akan melangkah, pasti akan ada yang terlukai. Hamba sangat bingung untuk menetapkan pilihan. Bisakah Anda memberi sedikit petunjuk?" tanya Natsuha setelah merangkai kata demi kata di dalam otaknya.


Raja menoleh sejenak pada sang Perdana Menteri kebanggaannya lalu menghela nafas panjang.


"Aku tidak dapat memaksakan kehendakku padamu Natsuha, sekalipun aku seorang Raja. Semua keputusan tergantung padamu. Ini urusan keluargamu maka kaulah, yang berhak untuk membuat pilihan".


"Bolehkah hamba jujur tentang satu hal kepada Anda?"


"Kau Rakyatku. Kau berhak mengutarakan keluh kesahmu kepada Rajamu. Untuk apa kau membutuhkan izinku Natsuha?" tanya Raja sambil mengerutkan keningnya. Pertanyaan ini justru membuat suasana semakin canggung itu karena apa yang hendak Natsuha sampaikan, bisa membuat hubungan baik antara dirinya dan Raja menjadi renggang.


Bahkan jabatannya juga akan terancam dicabut.


"Itu...karena...apa yang akan Hamba sampaikan menyangkut antara Hamba dan Ratu...Yang Mulia" sambung Natsuha membuat Raja tak mampu berkedip.


"Ya, katakanlah. Anggap ini pembicaraan antara sesama teman Pria. Untuk sementara tanggalkan saja jabatanmu dan abaikan bahwa aku ini Rajamu. Kau bisa mengutarakannya sekarang tanpa canggung kepadaku" kata Raja tak sengaja justru membuat Natsuha kian memucat bahkan ia menelan ludah dengan susah payah.


Orang mana yang tidak tertekan ketika...ia merasa jabatannya terancam di cabut dengan paksa, lebih parah lagi kali ini sang Raja justru menyinggung kata menanggalkan jabatan.


"Ampuni Hamba Yang Mulia. Ham-ba pantas mati" kata Natsuha sambil membungkukkan badan sedalam-dalamnya. Raja Keito tampak terkejut melihat tingkah Natsuha berlebihan.


"Natsuha. Apa yang kau pikirkan? Apa ini?" protes Raja menahan kedua bahu sang Perdana Menteri Natsuha agar tidak kembali melakukan tindakan konyol. Natsuha tak berani menatap kedua manik mata Raja Keito keringat dingin bercucuran deras di dahinya.


"Berhenti bertingkah konyol, atau kita akhiri saja pembicaraan tidak jelas ini"


"Akan hamba perjelas Yang Mulia. Mohon...kesabarannya" kata Natsuha berusaha untuk menahan niatan Raja menyudahi pembicaraan mereka.


"Ayo, jelaskan sekarang, tunggu apa lagi? Kau benar-benar menungguku untuk mengusirmu keluar?"


"Tapi hamba bingung harus memulai dari mana"


"Kalau begitu kau boleh keluar sekarang. Kau tahukan, letak pintu di mana? Pikirkan saja huruf abjad mana, yang bisa kau utarakan padaku terlebih dahulu. Kalau kau sudah ingat, kembalilah lagi" kata Raja dengan suara berat sengaja dibuat-buat.


"Hamba bimbang harus mendahulukan perasaan siapa? Yang Mulia Ratu, atau Selir Kimiko? Jika hamba pun mampu memilih antara keduanya, bagaimana dengan perasaan musumesan?"


"Bukankah sudah jelas? Anakku adalah Anakmu juga. Untuk apa memusingkan mereka anak siapa?"


"Yang Mulia...tolong kembali pada pokok pembicaraannya"


"Jangan gunakan perasaanmu berdasarkan hubunganmu. Karena jika itu terjadi, maka kau akan cenderung condong pada hubunganmu, bukan pada kebaikan" jawab Raja melirik Natsuha lekat. Pria bernama Natsuha tersenyum kecut mendengar langsung nasihat dari Raja Keito.


"Anda benar Yang Mulia. Tapi sudah terlambat. Hamba telah condong pada seseorang kemudian hal tersebut justru melukai perasaan Ane."