
Jee Kyung pulang dengan rasa kesal sampai ke ubun-ubun. Tapi entah kenapa, dia merasa sangat lega. Apa karena belum lama ini dirinya menyuarakan seluruh unek-uneknya pada Heo Dipyo?
“Nona, bagaimana wajah Ratu? Apa beliau sangat cantik dan anggun? Apa beliau sangat baik pada Anda?” tanya Dae Nari.
“Dia hebat. Bisa berkorban lebih banyak dari yang seharusnya. Hey, Nari”
“Ya, Nona”
“Ratu dipihak yang baik dan aku ini dipihak seperti apa? Ayahandaku satu fraksi dengan Heo Dipyo. Dan aku dengar, orang yang mereka jadikan panutan bukanlah orang baik. Kenapa mereka bersedia berhubungan dengan orang seperti itu?”
“Nona, hamba tidak mengerti. Yang saya tahu, selama saya bekerja dengan Nona, seluruh anggota keluarga Anda selalu hidup dengan baik"
"Contohnya, Tuan Suk Chin beliau selalu mendorong anak-anak desa, untuk gemar berlatih bela diri tanpa sepeser pun biaya dengan harapan, kelak mereka akan menjadi salah satu prajurit Kerajaan. Dan Nyonya Seo Hee beliau setiap seminggu sekali menyiapkan 20 karung beras untuk para gelandangan yang lanjut usia"
"Bahkan, kebaikan mereka diturunkan langsung ke Nona Muda. Bagaimana orang seperti malaikat dianggap jahat hanya karena menjadikan seseorang yang jahat sebagai panutan?”
“Karena kepribadian kita bisa dinilai dengan siapa kita bergaul. Jika kita terlalu sering berada di kumpulan orang licik yang serakah, suatu hari keserakahan tersebut akan menular bahkan mendarah daging” gumam Jee Kyung ketika Dae Nari sibuk menyiapkan pakaian ganti untuk Nonanya.
Di kediaman Menteri Heo Dipyo, Menteri Kwon Jae He sedang bertamu disana. Mereka meminum arak bersama merayakan betapa suksesnya rencana mereka kali ini.
“Ternyata kau benar-benar pandai memilih seseorang untuk menjadi orangmu sendiri. Ku pikir Jee Kyung hanyalah Gadis polos manja yang hanya silau dengan wajahmu saja” kekeh Kwon Jae He cegukan.
“Ini hanya faktor keberuntungan belaka Paman. Kebetulan ada orang, yang mau melakukan segalanya demi kebahagiaanku. Tentu saja dia bisa menjadi senjata hidupku” jawab Heo Dipyo menghentikan kegiatan makannya.
“Lucunya, dia berpikir bahwa aku menjadikannya boneka. Padahal niatan hatiku menjadikannya senjata hidup. Rasa haus Jee Kyung akan cintaku membutakannya. Semoga ini akan berlangsung lama” kata-kata Heo membuat Kwon Jae He menghambur ke arah Laki-laki muda tersebut, lalu menarik baju Heo Dipyo hingga merasa tercekik.
“Tidak biasanya kau, peduli dengan semua senjata hidupmu Heo. Bahkan terakhir, senjata hidupmu mati ditanganmu sendiri. Apa ini huh? Kau ingin hubungan Tuan dan anak buah berlangsung lama? Apa kau telah jatuh hati padanya? Kau ingat tujuanmu Heo Dipyo?!” Kwon Jae He memperingatkan. Heo memukul telak perut buncit si Paman, hingga Kwon Jae He terjatuh di atas lantai kayu seluruh arak yang terlanjur masuk di perutnya kini dimuntahkan seluruhnya.
“Satu-satunya Wanita dalam hidupku sampai kapan pun adalah Ha-Neul Arang. Tidak ada yang bisa menggantikan posisinya dihatiku” geram Heo Dipyo sambil memecahkan tiga buah kendi berisi arak yang masih utuh ke atas lantai.
Kembali di kediaman Perdana Menteri Suk Chin, Jee Kyung akhirnya tak bisa tidur. Ia sengaja berjalan menuju halaman rumahnya sekedar duduk di atas tikar, sambil menatap bintang dilangit.
“Kau ingin tahu yang mana? Heo Dipyo yang dulu, atau sekarang? Katakan” Jee Kyung mulai terbayang-bayang pertanyaan Heo Dipyo tadi siang. Entah kenapa, Jee Kyung seolah tak dapat melupakannya.
“Aku tidak peduli dengan masa lalumu Heo Dipyo. Karena kita sedang menjalani masa kini”
“Kau seperti berusaha memisahkan antara siang dan malam. Kita bukan siapa-siapa tanpa mengetahui asal usul kita di masa lalu. Jadi, masa lalu menentukan masa depan kita.” Kicau Heo Dipyo, sambil bangun kembali menghadap ke arah Jee Kyung.
“Katakan saja apa yang kau ingin katakan”
“Baik, di masa lalu, Han Jee Kyung hanyalah Gadis polos, manja yang selalu mencari perhatian kesana kemari. Dia begitu merepotkan dan membuatku kesal. Dia seperti lem yang selalu melekat padaku.”
“Hmm, artinya kau sekarang merasa jauh lebih bebas. Karena aku tak seagresif itu padamu sekarang” kekeh Jee Kyung merasa ingin memukul habis-habisan Jee Kyung asli. Dia merusak martabat seorang Wanita.
“Kata siapa? Kali ini kau lebih liar. Bagaimana bisa, aku yang sedang enak tidur siang, mendadak kau serang?” keluh Heo sambil menggelengkan kepala prihatin.
“Kau!! Harus berapa kali aku katakan!! Itu tidak sengaja!!” teriak Jee Kyung memukuli lengan kekar Heo Dipyo.
Laki-laki itu menangkap tangan kanan Jee Kyung. Tapi tangan kiri yang bebas, tetap leluasa memukuli Heo. Dengan sigap, Heo menangkap tangan kiri Gadis itu. Mereka terlibat adu kekuatan kali ini. Tapi Heo Dipyo tidak tahu betapa luar biasa kuatnya seorang Wanita, kalau sedang mengamuk. Maka tanpa sengaja, Jee Kyung mendorong tubuh Heo Dipyo hingga terperosok ke bawah bersamanya!! Mereka berguling tanpa tahu musibah apa lagi yang akan menimpa mereka berdua.
Bruk!!
Dan tanpa sengaja, Heo Dipyo kali ini yang menimpa Jee Kyung. Keduanya terdiam dengan mata yang terbelalak. Heo langsung duduk menjauhi Jee Kyung masih bingung harus berbuat apa sekarang. Meminta maaf pasti dapat hadiah tamparan di pipinya. Kalau tidak minta maaf, mungkin hidungnya akan segera kena tonjokan maut. Laki-laki yang telah lama menjauh dari Wanita itu makin panik melihat reaksi Jee Kyung yang menangis sangat keras.
“Aku tidak sengaja. Benar-benar tidak sengaja. Kau...tidak apa-apa?” tanya Heo Dipyo memberanikan diri untuk mendekati Gadis itu sedikit demi sedikit. Dia sangat paham jika Wanita sedang marah, mereka lebih kuat dari seekor beruang betina.
“Kau pikir kalau aku baik-baik saja, aku sudi
menangis seperti ini huh?!” maki Jee Kyung.
“Apa...ada yang patah? Leher? Kaki atau tangan?”
“Kau sedang menanyakan keadaanku, atau menyumpahiku secara terang-terangan?!” maki Jee Kyung tanpa ampun.
“Sebut saja mana yang sakit. Akan aku carikan Tabib untukmu”
“Tabib...tidak bisa menyembuhkan sakitku ini. Benar-benar tidak ada Tabib yang bisa menyembuhkan lukaku ini.”
“Sebenarnya luka apa yang sedang kau bicarakan?”
“Bahkan sekarang kau tidak merasa berdosa padaku” Jee Kyung memulai dramanya.
“Aku hanya tidak sengaja menimpamu karena terperosok dari atas sana!!” Heo mulai membela diri.
“Eh, seperti...aku pernah mendengar kalimat ini” gumam Heo.
“Aku sedang mengajakmu mengobrol bisa-bisanya kau, menyerangku begitu saja!!” kata Jee Kyung menahan tawa.
“Kau sedang mengerjai Heo Dipyo hmm? Kau harus tahu apa akibatnya” geram Heo Dipyo meraih Jee Kyung, dan menggelitiki Gadis itu gemas.
Lamunan Jee Kyung buyar ketika matanya menangkap sebuah meteor bergerak dengan cepat di atas langit.
Bukankah kita sudah impas, Heo Dipyo batin Jee Kyung tersenyum riang.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya seseorang tepat disampingnya.
Jee Kyung!! Berhentilah berhalusinasi tentang Heo Dipyo!! ini pasti khayalanku atau justru mimpi. Batin Jee Kyung berusaha menghilangkan halusinasi dengan memejamkan mata.
Pletak!!
“Auch!!” pekik Jee Kyung merasakan sebuah sentilan pada dahinya.
“Kau memang ahlinya mengacuhkan orang ya? Aku sedang bertanya padamu tapi kau malah pura-pura tidur”
“Ku kira kau ini halusinasiku. Lagi pula untuk apa kau datang kemari semalam ini? Kau ingin aku melakukan hal rahasia lagi?”
“Aku hanya sedang ingin menemuimu”
“Tuan sedingin es yang tidak memperdulikan orang lain bisa tiba-tiba ingin menemuiku? Ini keajaiban dunia. Apa harus kita abadikan momen seperti ini?” sindir Jee Kyung tak percaya.
“Katakan apa saja. Yang penting tetaplah disisiku”
“Ada sedikit konflik antara Pamanku dan aku malam ini” jawab Heo, merebahkan diri di pangkuan Jee Kyung.
“Masalah jangan dibiarkan berlarut-larut. Kalau bisa diselesaikan malam ini, cobalah selesaikan sekarang juga”
“Percuma. Dia dalam keadaan mabuk berat sekarang. Tidak ada gunanya berbicara pada seseorang yang berotak kosong” tampak Heo Dipyo menghela nafas panjang. Seberat itukah hidup Heo Dipyo?
“Biasanya seorang Laki-laki akan sibuk berkumpul dengan teman mereka disaat hari-hari terberat mereka. Kau..., tidak mau melakukannya?”
“Sudah kukatakan. Sekarang kaulah tempat yang hangat untuk kutuju. Jadi tetaplah disisiku seperti ini.” Kata Heo Dipyo tiba-tiba terkekeh setelah mengucapkan hal itu.
“Kenapa?”
“Kau tidak merasa keanehan yang ada padaku? Maksudku, dulu aku begitu ingin kau menjauhiku tapi sekarang aku malah sibuk mencarimu”
“Dalam setiap hubungan antara manusia, terkadang musuh bisa menjadi teman terdekat kita sebaliknya, teman kita justru menikam kita dari belakang”
“Kau benar sekali. Menurutmu, aku ini musuh atau teman bagimu?”
“Bukan keduanya”
“Ah, ya...kau sudah lama jatuh cinta padaku jadi memang bukan keduanya”
“Memang bukan keduanya. Setelah kau menyebut yang ketiga, aku akan mengatakan dengan setegas mungkin bukan ketiganya”
“Kau menyangkal”
“Memang bukan ketiganya. Aku menganggapmu yang keempat. Sebagai orang yang sangat ingin ku selamatkan”
“Aku?” kening Heo Dipyo mengernyit kebingungan.
“Kau ingin menyelamatkanku dari siapa?”
“Dari orang yang serakah akan kekuasaan dan harta. Ku dengar dia ada di sekitar Ayahanda dan kau. Dia pasti pemimpin kalian bukan?” jawaban Jee Kyung langsung membuat Heo Dipyo duduk menyorot tajam Gadis itu.
“Kau tahu dari siapa?”
“Seseorang memberi tahuku”
“Siapa? Ratu Seonha?”
“Bukan beliau. Tapi seorang Dayang yang tiba-tiba memberiku secarik kertas lalu pergi begitu saja” kata Jee Kyung mulai berbohong.
“Sungguh bukan Ratu?”
“Iya. Kenapa kau langsung menghubungkan ucapanku dengan Ratu?”
“Karena dia selalu ada disisi Hyun-Jae. Dalam pengaruh Laki-laki itu, dan selalu terpengaruh ucapannya. Kau jangan terlalu percaya pada setiap ucapan Ratu”
“Kau bilang Ratu terpengaruh oleh Tuan Hyun-Jae bukan? Karena dia selalu mendengarkan ucapannya. Artinya akan susah bagiku mendapatkan seluruh hati Ratu. Pasti Ratu pun berpendapat yang sama denganmu ketika melihatku"
"Aku juga...,terpengaruh oleh Perdana Menteri Heo Dipyo. Dan aku selalu mendengarkan ucapan Heo Dipyo. Bagaimana aku bisa sepenuhnya dipercaya oleh Ratu?”
“Kau berada di pihak yang benar”
“Tidak ada yang benar maupun salah. Melainkan keadaanlah yang dapat menentukan keputusan kita dalam memihak, apakah seseorang itu jahat atau baik”
“Apa kau bisa menentukan aku pihak yang mana?” tanya Heo mencibir.
“Pihak yang terluka parah. Sampai tidak tahu, dalam menentukan mana obat yang bisa menyembuhkan, atau obat mana, yang bisa menjadi racun bagi tubuhmu. Racunnya masuk dalam jumlah yang kecil tapi jika di konsumsi setiap hari, suatu saat kau bisa mati” jawab Jee Kyung menatap serius kedua mata Heo.
“Siapa racun yang kau maksud?!” bentak Heo Dipyo mencengkeram kuat dagu Jee Kyung.
“O-orang yang memerintahkanmu berbuat keji pada setiap orang yang kau anggap musuh. Jika di-dia pihak netral, tidak akan membiarkanmu melakukan hal keji pada siapa pun"
"Dia yang mengajarimu mengorbankan bahkan membuang semua orang kepercayaanmu, tidak la-layak untuk di jadikan Pemimpin” jawab Jee Kyung terbata-bata merasakan ngilu luar biasa pada rahangnya.
“Siapa sebenarnya yang mengatakan hal itu padamu?!” teriak Heo Dipyo dengan mata nanar.
“Aku langsung tahu ketika kau membicarakan Pamanmu Tuan, itu sebabnya aku mencoba memberi sebuah nasihat berdasarkan nasihat dari orang yang memberiku pesan rahasia itu” jawab Jee Kyung percaya diri penuh.
“Ah, kau sudah memberiku sebuah petunjuk. Dayang utusan dari fraksi kanan. Jelas sangat berhubungan dengan Ratu apa lagi Hyun-Jae. Jadi kau mulai terpengaruh pada ucapan mereka? Kau tahu apa yang bisa dilakukan Paman, ketika beliau sadar kau mengkhianati kepercayaanku?!”
“Meski aku terbakar karena Paman Tuan, yang saya pedulikan adalah keselamatan Anda. Karena Anda adalah dunia bagi Jee Kyung” air mata Kotoko mulai menitik. Mungkin Jee Kyung asli hatinya sedang terluka karena di ragukan Heo Dipyo.
“Kenapa kau melakukan hal bodoh seperti itu? Kau bisa tetap disisiku dan berpura-pura tidak tahu segalanya”
“Mau sampai kapan saya harus terus berpura-pura? Saya tahu konsekuensi yang harus saya hadapi. Biarkan saya hadapi sendirian. Anda melihat dan cukup berusaha memahami setiap nasihat saya Tuan. Apa pun yang saya katakan, lakukan, perjuangkan, bukan untuk orang lain. Hanya untuk Anda. Untuk dunianya Jee Kyung.”
“Sudah larut masuklah ke dalam”
“Tuan. Ingatlah satu hal. Jika saya hanya diam melihat Heo Dipyo dalam kehancuran sedikit demi sedikit, maka Jee Kyung tidak akan memaafkan saya"
"Jika Jee Kyung sampai melihat Heo Dipyo benar-benar hancur lebur maka hancurlah dunia Jee Kyung. Kehancuran dunia bagi Jee Kyung, sama dengan membuat Jee Kyung mati perlahan” kata Jee Kyung masih terus mengeluarkan air mata. Jee Kyung hanya menghormat, dan berjalan ke arah pintu rumahnya.
Gadis itu terkejut ketika merasakan lengannya ditarik ke belakang. Sebuah pelukan hangat tersampaikan langsung pada Jee Kyung.
“Ku pikir kau tidak serius menganggapku duniamu. Bagaimana kau bisa melakukan hal bodoh berulang kali? Jika aku mau, saat ini juga pasti aku akan melenyapkanmu. Karena itu pasti akan ku lakukan bagi pengikutku yang berkhianat” kata Heo Dipyo tanpa perlu berpikir untuk menyembunyikan kenyataan pada Jee Kyung.
“Tidak peduli pada apa yang Paman Anda pikirkan. Tapi saya hanya peduli pada apa yang Anda pikirkan tentang Han Jee Kyung. Apakah...hati Anda bicara Han Jee Kyung sanggup berkhianat pada Anda? Bisakah dia menyakiti dunianya sendiri?”
“Aku ragu. Karena Ha-Neul Arang sebelumnya juga menganggapku dunianya. Tapi sekarang, dunianya sudah berubah.”
“Ha-Neul adalah Ha-Neul. Jee Kyung tetaplah Jee Kyung. Apa selama saya berada di sisi Anda, hanya wajahnya saja, yang Anda ingat? Sehingga seorang Jee Kyung tak terlihat seujung kukunya pun?”
“Kau!!”
“Han Jee Kyung selama bertahun-tahun mengharap kan sedikit saja perhatian dari seorang Heo Dipyo. Meski tak kunjung momen itu datang, melihat sosoknya saja Jee Kyung sudah bahagia. Sampai Anda bertemu dengan Ha-Neul, Jee Kyung pun merasa tak ada lagi harapan"
"Tapi kenapa takdir begitu kejam Tuan? Setelah Jee Kyung hidup tanpa dunianya, justru dihari itu, dunianya sendiri yang menghampirinya. Katakan Jee Kyung harus bagaimana? Haruskah hidup atau mati?” tanya Jee Kyung pasrah. Mata Heo Dipyo membulat mendengar pertanyaan Jee Kyung. Terlihat sosok siluet Dae Nari dari balik pintu, sedang membungkam mulutnya dengan kedua tangan sambil menangis pilu.