
“Yang Mulia. Mohon lindungi Han Jee Kyung. Jika sesuatu terjadi pada kedua orang tuanya maupun hamba, mohon jaga Jee Kyung. Beri dia tempat berlindung”
“....” untuk sesaat Ratu terdiam tak biasanya Heo Dipyo mau merendahkan diri, dan memohon begini.
“Bisa kau katakan apa yang tengah terjadi Heo?” Ratu mencoba mencari tahu ada apa dengan mereka berdua.
“Ada yang berusaha membunuhnya dihutan. Hamba curiga ini adalah ulah Paman hamba, yang mulai merasa resah karena kedekatan kami. Beliau pasti akan melakukan banyak cara untuk memisahkan kami. Maka sebelum itu terjadi bisakah hamba mempercayakan Jee Kyung kepada Anda Yang Mulia” tanya Heo harap-harap cemas.
“Yang Mulia...ini adalah permasalahan keluarga. Biarkan masalah ini diselesaikan sendiri oleh yang bersangkutan. Rasanya tidak etis, mencampuri urusan keluarga orang lain” Hyun-Jae menimpali.
“Masihkah Anda tidak peduli pada urusan keluarga Jee Kyung jika ini menyangkut nyawanya Yang Mulia? Mohon pertimbangannya” tandas Heo Dipyo menatap tajam sang Ratu.
“Hyun-Jae, bisakah kau mencari jalan keluar untuk hal ini? Kau melarangku menolongnya sebagai Ratu. Tapi sebagai seorang sahabat, apa aku pantas berdiam diri saja?” tanya Ratu menatap kalut pada sang Panglima.
“Akan hamba kerahkan beberapa anak buah hamba untuk menjaga Nona Jee Kyung. Dan mencari tempat tinggal darurat untuknya”
“Terima kasih.” Heo Dipyo menghormat, berdiri perlahan, lalu memohon diri.
“Ratu kita tidak pernah tahu ini jebakan atau bukan. Anda terlalu gegabah” tegur Hyun-Jae.
“Hubunganku dengan Jee Kyung seperti Kakak beradik. Bagaimana aku bisa mengabaikan saudariku sendiri”
“Yang Mulia. Ini adalah bagian trik fraksi kiri. Mohon berpikirlah dengan kepala dingin. Mereka mengirim Nona Jee Kyung untuk memata-matai Anda”
“Aku tahu itu. Tapi aku juga percaya Jee Kyung tidak akan mengkhianati saudarinya sendiri” tegas Ratu.
“Hamba tidak mengerti. Anda baru mengenalnya tiga minggu Yang Mulia. Kita belum tahu sifat aslinya”
“Jika itu terjadi juga pada Kim Yeon-Seok, aku juga akan melakukan hal yang sama. Bagiku, Nona Jee Kyung dan Kim Yeon-Seok adalah keluarga. Tidak ada yang boleh memutuskan hubungan ini”
“Tolong mengertilah Ratu. Sifat Anda yang seperti ini suatu saat nanti akan di manfaatkan oleh musuh. Mohon jangan lengah” kata Hyun-Jae memberi peringatan keras. Ia tidak ingin berdebat lebih jauh sebaiknya dia pergi. Sebelum Hyun-Jae mendekat ke arah pintu, anak buahnya masuk untuk memberi laporan tentang keadaan Jee Kyung.
“Informasi apa yang kau dapatkan?” tanya Hyun-Jae.
“Panglima. Ini kasus percobaan pembunuhan. Nona Han Jee Kyung mengalami benturan keras di bagian kepala akibat jatuh dari kudanya.” Jawab Kim Yeon-Seok berbicara sebagai anak buah Panglima Utama Baehwa.
“Bagaimana bisa terjadi? Lalu keadaan Jee Kyung?” tanya Ratu Seonha bergegas mendekati Kim Yeon-Seok.
“Maaf Ratu. Nona Jee Kyung belum sadarkan diri sampai saat ini” jawab Yeon-Seok sendu.
“Antarkan aku ke kediaman Perdana Menteri Suk Chin” tegas Ratu.
“Yang Mulia. Akhir-akhir ini marak penculikan para Gadis di sekitar desa Shange. Mohon dahulukan keselamatan Anda” laporan Hyun-Jae membuat Ratu Seonha menoleh murka pada Panglimanya.
“Bagi regumu menjadi dua. Sebagian carilah para gadis berusia enam belas tahun keatas di seluruh wilayah kekuasaanku. Katakan pada orang tua mereka, anak Gadisnya harus melaksanakan pelatihan wajib militer di Istana. Lalu regu kedua kerahkan untuk mencari para Gadis yang hilang” titah Ratu mengagetkan Hyun-Jae.
“Ratu....”
“Mereka Rakyat kecil Hyun Jae!! Jika tidak ada yang mampu melindungi anak Gadis mereka, setidaknya anak Gadis mereka bisa membela diri ketika berada dalam keadaan darurat!!"
"Aku ingin memberi kekuatan pada seluruh Wanita dalam naungan kekuasaanku. Bagaimanapun mereka adalah tanggung jawabku. Jangan coba menghalangiku untuk memberi bekal ilmu bela diri pada kaumku.” Potong Ratu tak bisa terbantahkan.
“Laksanakan” jawab Hyun-Jae semakin tidak mengerti jalan pikiran Ratunya. Memang, jika mereka semua punya bekal ilmu bela diri, mereka bisa melawan gerombolan penculik yang jumlahnya lebih banyak dari mereka? Ratu hanya memberikan harapan kecil untuk masalah yang sangat besar. Ketika Ratu beranjak pergi, Yeon-Seok menghadang jalan Hyun-Jae agar berhenti mengikuti sang Ratu.
“Apa yang kau lakukan?”
“Kakak. Sebaiknya jangan ajak bicara Ratu dulu untuk sementara waktu. Emosi Ratu sedang naik turun karena keadaan Nona Jee Kyung” nasihat Yeon-Seok.
“Keputusannya selalu diambil tanpa pertimbangan bagaimana bisa aku hanya diam saja menonton?”
“Kau selesaikan perintah Ratu saja. Sementara aku yang akan menjaganya. Ratu aman bersamaku” tiba-tiba Yeon-Seok menepuk kedua bahu Hyun-Jae dengan semangat berkobar. Hyun-Jae memicingkan mata lalu tersenyum memahami apa yang dipikirkan Adiknya itu. Pasti Yeon-Seok hanya mencari alasan untuk bertemu dengan Gadis pujaan hatinya.
“Jaga Ratu jangan menjaga yang lain. Ingat itu” jawab Hyun-Jae yang tidak dapat dipahami oleh Hiroshi. Laki-laki bernama asli Hiroshi itu memilih untuk mengabaikan saja kata tanpa makna baginya. Ia bergegas menuju ke tempat Ratu Seonha alias Hamari berada. Dia tidak akan tinggal diam jika seseorang ingin melukai kedua Kakak Perempuannya.
“Apa Hyun-Jae tidak ikut mengantarku?” tanya Ratu Seonha membuka tirai tandu yang membawanya menuju ke kediaman Menteri Suk Chin.
“Yang Mulia. Panglima Hyun-Jae sedang menunaikan tugas dari Anda saat ini.” Tegas Yeon-Seok di samping tandu sang Ratu.
“Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Kotoko. Dia tidak boleh mati disini. Kita harus pulang bersama dengannya” bisik Hamari pada Adik Laki-lakinya.
“Kita tidak bisa berbuat apa-apa di tempat ini. Jadi coba tenangkan dirimu. Kepanikanmu di Istana tadi, hampir saja membongkar identitas aslimu di depan Hyun-Jae. Kau ingin kita selamanya terkurung di tempat ini?” bisik sang Adik memperingatkan Kakaknya Hamari. Ratu Seonha hanya diam termangu setelah mendapatkan peringatan dari Hiroshi.
Dua jam kemudian, Ratu Seonha dan Yeon-Seok tiba. Perdana Menteri Suk Chin dan Istrinya Seo Hee memberi hormat begitu keluar dari kediamannya, menyambut Ratu mereka.
“Yang Mulia...ada masalah penting apa sehingga datang ke kediaman hamba?” tanya Suk Chin was-was.
“Aku hanya sekedar berkunjung. Ku dengar Putrimu Han Jee Kyung belum sadarkan diri? Bagaimana kondisinya sekarang?”
“Terima kasih atas perhatiannya Yang Mulia. Untuk menentramkan hati Anda, bagaimana jika Anda melihat kondisi Putri kami secara langsung?” tawar Ibu Jee Kyung penuh pertimbangan.
Sosok Kotoko terbaring tak berdaya, kepalanya di balut kain putih, tak sadarkan diri membuat hati Hamari hancur. Tidak...air mata Hamari tidak boleh menetes. Karena Hyun-Jae selalu mengatakan dirinya tidak boleh menunjukkan sisi kelemahannya sebagai seorang Ratu jika tidak ingin, kelemahannya itu dimanfaatkan musuh untuk menekannya.
“Apa ada masalah yang akhirnya membuat nyawa Jee Kyung dalam bahaya?” tanya Ratu Seonha datar.
“Hamba rasa tidak Yang Mulia” sang Menteri sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.
“Di daerah sini memang sering terjadi penculikan korbannya selalu anak Gadis warga setempat. Hamba rasa Jee Kyung diikuti oleh kelompok penculik sejak keluar dari sini. Hamba dengar saat kejadian Anda sedang bersama Putri hamba maaf jika membuat Yang Mulia ikut dalam bahaya” sahut Suk Chin sambil bersimpuh memohon maaf sedalam-dalamnya.
Tubuh Suk Chin samar bergetar ia tahu bahwa mata-mata utusan Menteri Kwon Jae He berkeliaran di sekitar kediamannya. Jika dia membuka mulut, Putrinya bisa benar-benar tamat. Ketika Ratu hendak pulang ke Istana, sang Menteri memberikan satu keping perak, berbentuk bulatan kecil.
“Ini cenderamata untuk Anda Yang Mulia” kata Menteri Suk Chin sarat akan makna. Ratu hanya tersenyum, menggenggam seerat mungkin.
Dalam perjalanan pulang, di dalam tandu, Ratu Seonha membuka kepalan tangannya. Ia melihat cenderamata dengan seksama. Dua sisi yang berbeda, dua gambar dan corak berbeda pula. Menteri Suk Chin tidak akan memberikan barang tak berarti kepada Ratu. Dia harus mendiskusikan apa yang sedang di pikirkannya tentang hal ini pada Panglima kepercayaannya.
Di Istana, Ratu belum juga mendapatkan laporan kedatangan Menteri Hyun-Jae. Dari siang ke malam tak kunjung juga ia bertemu dengan sang Menteri. Hiroshi mengatakan yang menjemput para Gadis untuk latihan wajib militer adalah rekan satu resimennya. Maka tentu saja yang mencari keberadaan para Gadis yang hilang adalah Hyun-Jae.
“Aku memintanya membagi regu untuk melakukannya. Tapi kenapa dia malah terjun langsung? Hyun-Jae jangan sampai terluka” gumam Ratu Seonha di peraduannya sebelum benar-benar tertidur lelap.
Di malam larut itu, kediaman Menteri Suk Chin, sangat kacau. Beberapa orang berpakaian serba hitam, dengan caping bercadar menyerang. Beberapa anak buah Hyun-Jae segera bergerak anehnya, saat gerombolan pengacau itu melihat kedatangan anak buah Hyun-Jae, mereka malah kabur dan menempelkan secarik kertas berwarna merah darah di atas tubuh salah satu pasukan khusus Menteri Suk Chin yang mengalami luka tusukan cukup parah.
“Dimana pasukan khusus lainnya? Kenapa hanya kalian bertiga yang berada di sini?” tanya Oh Reon waspada.
“Kami terkecoh dengan jebakan yang dibuat para berandalan itu. Karena itu hanya kami yang tersisa disini”
“Bagaimana keadaan keluarga Menteri Suk Chin?”
“Mereka bersembunyi di dalam. Untung kalian datang sehingga pengganggu itu belum sempat masuk ke dalam” jawab orang tersebut terengah-engah. Oh Reon membaca pesan bertinta merah darah. Dengan sigap ia berlari masuk ke dalam kediaman sang Menteri.
“Tuan Suk!! Bagaimana keadaan Anda? Apa baik-baik saja?!” seru Oh Reon mencari keberadaan Menteri Suk Chin.
“Kami aman. Bagaimana keadaan diluar? Sudahkah aman?” tiba-tiba Menteri Suk Chin berlari ke arah Oh Reon entah dari mana munculnya.
“Bisa Anda katakan, sebenarnya apa yang mereka incar dari Putri Anda? Kenapa mereka terus menerus mendatangi Nona Jee Kyung?”
“Dari pada memikirkan hal itu, kita pikirkan saja tempat paling aman menyembunyikan Putriku yang masih saja belum sadarkan diri” kata Menteri Suk Chin sambil terus mengawasi sekitarnya.
Tiba-tiba terdengar ada keributan di luar. Oh Reon tidak mengizinkan Perdana Menteri dan Istrinya keluar dari kediamannya. Oh Reon memutuskan untuk mencari tahu sendiri sumber dari keributan di luar. Pria itu mengerutkan kening begitu melihat sepuluh pasukan resimen Jinsae berada di halaman kediaman Perdana Menteri Suk Chin.
“Ada keperluan apa sampai resimen Jinsae datang kemari?” tanya Oh Reon seramah mungkin.
“Kami mendapatkan perintah pemeriksaan terhadap Perdana Menteri Suk Chin.” Jawab pimpinan resimen Jinsae, Nam Gill sambil menyodorkan surat perintah Kerajaan.
“Apa Yang Mulia Ratu tahu soal ini?” Oh Reon menatap penuh selidik.
“Apa Anda meragukan tindakan kami? Apa mungkin kami bergerak tanpa perintah langsung?” Nam Gill menjawab penuh percaya diri. Terpaksa Oh Reon menyingkir dari hadapan Nam Gill yang menyeret sang Perdana Menteri dan Istrinya sampai ke halaman kediaman mereka. Suk Chin dan Istrinya Seo Hee di paksa untuk berlutut.
Mata lentik Jee Kyung akhirnya terbuka lebar. Ia mendengar jeritan bahkan isak tangis di halaman kediaman orang tuanya. Tanpa memperdulikan ucapan Dae Nari, Jee Kyung berjalan terseok-seok menuju halaman.
“Ayahanda!!” pekik Jee Kyung kaget, melihat sepuluh pasukan tak ia kenali melingkar, mengelilingi Ayah dan Ibunya sambil mengacungkan pedang. Menteri Suk Chin menoleh ke arah Putrinya. Ia menggeleng tanpa kata memberi pesan tersirat jangan bertindak apa pun untuk melawan.
“Perdana Menteri Suk Chin. Terbukti mendanai pelatihan pasukan khusus dan memerintahkan pasukannya untuk melakukan penculikan Gadis-gadis desa Shange, dan menjual mereka sebagai budak ke berbagai Negara tetangga"
"Dengan Ini, Perdana Menteri Suk Chin akan dijatuhi hukuman penggal” Nam Gill membacakan surat perintah Kerajaan dengan lantang. Lalu memerintahkan anak buahnya menebas Suk Chin. Tapi Seo Hee yang merasa Suaminya telah menjadi korban fitnah dari seseorang, mencoba melindungi Suaminya.
Sang Istri mati di tempat karena urat lehernya terputus seketika.
“Seo Hee!!” teriak Suk Chin meradang. Ia mencoba menyeruduk perut prajurit yang tak sengaja membunuh Istrinya tapi prajurit lain langsung memenggal kepalanya.
“Aaaaaaa!!” teriak Jee Kyung syok berat. Nam Gill tidak berhenti hanya sampai disitu. Ia menyeret Jee Kyung, pergi bersamanya dan Oh Reon tidak dapat berbuat apa pun karena surat perintah Kerajaan tidak dapat di ganggu gugat.
“Tuan..., bagaimana pun juga, meski resimen Jinsae bergerak atas dukungan Yang Mulia, jangan lupakan bahwa Jinsae terbentuk karena Perdana Menteri Kwon Jae He. Mohon izinkan saya mengawasi kemana Nam Gill membawa Nona Jee Kyung” protes salah satu anggota resimennya. Oh Reon hanya menepuk bahu orang itu lalu mengangguk.
Perdana Menteri Heo Dipyo sedang berusaha mencari dukungan Perdana Menteri kiri lainnya tapi usahanya selalu gagal. Ia berjalan keluar dari kediaman Menteri terakhir yang ia kunjungi. Suara seseorang berlari kearahnya mencuri perhatiannya.
“Tuan. Nona Jee Kyung mendapat masalah”
“Ada apa? Bagaimana keadaan kedua orang tua dan dirinya?!” panik menjalari seluruh sel tubuh sang Perdana Menteri Heo Dipyo.
“Pasukan resimen Jinsae memenggal kepala Perdana Menteri Suk Chin sekaligus membunuh Istrinya menggunakan surat perintah Kerajaan. Sementara Nona Jee Kyung...” orang itu seolah enggan untuk mengatakan informasi terakhir.
“Apa dia selamat? Katakan dia selamat atau tidak?!” marah Heo Dipyo tak sanggup lagi menahan amarah.
“Nona Jee Kyung dibuang ke Gibang”
“Kurang ajar!! Berani-beraninya!!” amuk Heo Dipyo panas dingin. Ia berlari menuju kuda lalu memacu kudanya secepat mungkin menuju Gibang.
Yang Mulia...bagaimana bisa Anda setega ini terhadap Jee Kyung? Jika Anda ingin membalaskan dendam Anda kepada hamba setidaknya jangan libatkan Han Jee Kyung. Siapa pun yang membuat Jee Kyung dalam bahaya harus menghadapiku!!