Aitai

Aitai
Rasa Tak Biasa



Natsuha berjalan gontai menuju kedalam kediamannya. Ia tak melihat lagi sang Kakak tapi pemandangan dimana ia melihat diri sendiri dihadapannya, sedang tergolek tak berdaya di atas peraduan, membuat sangat frustasi.


Yang Mulia...cepatlah bangun. Kita harus menemukan cara bagaimana kita kembali pada raga masing-masing


Natsuha melirik ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang di sekitarnya. Tiba-tiba ia melihat pergerakan tubuh aslinya di atas peraduan. Natsuha memucat melihat mata orang itu terbuka perlahan.


"Kenapa kau...memiliki wajah yang sama denganku?"


"Anda harus melihat ini” jawab Natsuha sambil membawakan sebuah cermin kecil kearah Pria itu.


"Tunggu. Kenapa wajahku menjadi wajah Natsuha? Dimana Natsuha?"


"Hamba... Natsuha Yang Mulia"


"katakan apa yang terjadi di Istana saat aku tak sadarkan diri?"


"Maafkan kelancangan hamba Yang Mulia. Saat itu hamba tidak dapat berpikir lagi hingga melakukan keputusan sefatal ini” jawab Natsuha setelah mengutarakan segala kebenarannya. Keito tertegun sejenak sambil terus berpikir apa yang akan dia lakukan setelah semua hal buruk terjadi.


"Semua terjadi pasti ada alasannya Natsuha. Segala hal yang terjadi pasti adalah hasil, dari perbuatan kita dimasa lalu. Sebaiknya kita terima cobaan ini dengan penuh keikhlasan” jawab Keito dalam wujud Natsuha.


"Pasti ada jalan untuk kita bisa kembali ke raga kita Yang Mulia. Mari kita cari solusinya sekarang"


"Hanya Dewa yang bisa mengembalikan ruh kedalam raga kita masing-masing. Kita hanya perlu menjalani segala hal yang akan terjadi sekarang"


"Anda meminta hamba menjalani kehidupan sebagai Anda Yang Mulia? Kenapa Anda semudah itu?"


"Natsuha!! Kau pikir aku mau melakukan hal ini?! Jika bisa aku akan mencegahnya sebelum terjadi!! Tapi ini adalah kehendak Dewa apa kita bisa melawan?!"sorot mata tajam Keito menusuk mata Natsuha. Keito segera mencengkeram kedua bahu Natsuha.


"Jangan pernah katakan kau adalah Natsuha. jika itu terjadi kau akan dianggap gila dan tidak ada lagi orang yang bisa melindungi Ratuku di dalam Istana ini"


"Yang Mulia..."


"Aku tahu kau sepenuh hati mencintai Ratu dan aku tidak pernah meragukan bahwa kau akan melakukan segala hal untuk melindungi cintamu"


"kenapa Anda mengatakan hal yang mampu menyakiti hati Anda sendiri Yang Mulia"


"mulai sekarang biasakan dirimu memanggilku Natsuha. Perdana Menteri Natsuha. Menteri kesayangan Raja Keito yang agung"


"Apa Anda tahu konsekuensi dari apa yang kita akan lakukan? Anda tidak akan lagi punya banyak kesempatan menghabiskan waktu dengan Ratu. Karena Anda Natsuha bukan Keito, Suami dari Ratu Eun Sha" Natsuha melirik Keito penuh penderitaan.


"Dewa sudah memberi tahuku seperti apa akibatnya bila ini adalah pilihanku" jawab Keito dengan hati yang sakit bagai teriris belati.


"Jadi Anda sudah siap menyerahkan Ratu kepada hamba?"Natsuha ingin memperjelas keputusan sang Raja.


"Apa seorang Natsuha selama ini bisa memiliki hati Ratu seutuhnya? Tidak. Hanya Raja yang ada di dalam hatinya. Dulu aku sangat bahagia akan kenyataan itu, tapi sekarang aku...kehilangan kebanggaanku hanya karena sekarang aku adalah kau Natsuha".


"Aku tidak akan mengulang permintaanku ini. Jadi mulai detik ini kau adalah Raja Keito, sementara aku adalah kau Natsuha."


"Ratu ingin bertemu dengan Anda Menteri Natsuha “keduanya terkejut karena mendadak Dayang Chae Rim menghampiri mereka tanpa pemberitahuan.


"Yang Mulia... maafkan kelancangan hamba” tambah Chae Rim yang juga terkejut melihat Rajanya sedang berkunjung ke kediaman Menteri Natsuha. Sang Raja hanya mengangguk lalu melirik pada sang Perdana Menteri.


"Katakan bahwa aku sudah siuman, dan ingin berjalan-jalan ke taman. Aku akan menemuinya setelah selesai menghabiskan waktuku ditaman“ kata Natsuha buru-buru beranjak dari tempat tidurnya.


"Beraninya kau mengabaikan Ratu hanya untuk sekedar berjalan-jalan” potong seseorang yang masuk ke kediaman Menteri Natsuha tanpa permisi.


"Kimiko..."


"setidaknya kau menunjukkan rasa hormat pada Ratu karena telah bersedia meluangkan waktu hanya untuk mengkahwatirkan keadaanmu” protes Kimiko pada Adiknya. Sang Selir terkejut bukan main, ketika melihat siapa yang berada disamping sang Adik.


"Yang...Mulia..."kata Kimiko mengecilkan suara lalu menghormat takzim pada sang Raja.


"Kau benar Selir. Natsuha...haruslah menghormati kebaikan sang Ratu. Bukankah begitu Nat su ha... "lirik Raja Keito Pada Natsuha.


"Jika itu keinginan Anda Yang Mulia” balas Natsuha dengan tatapan garang pada sang Raja.


"Sikap macam apa itu Natsuha? Kau sedang berhadapan dengan Raja Negeri ini. Begitukah caramu menunjukkan hormatmu?!" omel Kimiko membuat Raja Keito terkekeh sambil berdehem kecil.


"hah...tampaknya aku mulai menyukai suasana baru disini Nat su ha... " tambah sang Raja yang hanya ditanggapi Natsuha dengan menghembuskan nafas kasar lalu melenggang pergi dari kediamannya.


Oh... Ya ampun...aku sedang menggali kuburanku sendiri. Bagaimana jika saat ini Kimiko menyerangku?! Bagaimanapun sekarang aku adalah Keito. Mendadak wajah Raja Keito memucat begitu menyadari mereka kini hanya tinggal berdua.


"Yang Mulia” kata Kimiko mendekat kearah Raja ingin memeluknya manja tapi apa yang dilakukan sang Raja? Beliau malah menarik tangan Kimiko hingga jatuh ke peraduan Natsuha, lalu berlari kabur begitu saja.


Di depan pintu kediamannya, ia melihat sosok Ratu Eun Sha sedang menengadah menyaksikan birunya langit.


"Yang Mulia... "sambut Natsuha sambil memberi hormat.


"Kudengar kau ingin berjalan-jalan di taman benarkah? Padahal kau baru saja siuman” tanya Ratu menggebu-gebu. Natsuha enggan banyak bicara ia menganggukkan kepala.


"Maafkan kelancangan hamba Yang Mulia. Seperti Anda ketahui. Hamba baru saja siuman. Untuk itu, hamba butuh sesuatu yang menyejukkan mata dan hati agar suasana hati ini kembali stabil” jawab Natsuha sambil membungkuk lalu beranjak pergi melewati sang Ratu begitu saja.


"Tunggu. Apa kau tidak bertanya padaku, kenapa aku mencarimu?” tanya Eun Sha membuat sang Menteri menghentikan langkah kakinya lalu berbalik menatap sang Ratu.


"Ya, kenapa Anda...mencari hamba?"


"Natsuha...ini tentang Raja Keito"


"Anda belum bertemu dengan beliau? Ah, itu beliau” jawab Natsuha sambil memperhatikan tingkah sang Raja yang keluar dari kediamannya dengan terburu-buru. Spontan Ratu Eun Sha berbalik lalu melihat kearah sang Raja berada.


"Yang Mulia...ternyata Anda disini. Kenapa Anda tidak beristirahat terlebih dahulu?" protes Eun Sha menatap kesal pada Suaminya.


"A aku...ingin mengunjungi Natsuha Ratuku” jawab Raja menatap Ratu terkejut.


"Kau sendiri ada keperluan apa menemui Natsuha?” tanya Raja balik.


"Hamba mohon diri Yang Mulia” tandas Natsuha menghormat lalu pergi begitu saja.


"Hamba sedang ingin mengobrol dengannya sebentar. Apa Anda bisa kembali ke kediaman Anda sendiri Yang Mulia?"


"hmm...sepertinya dia banyak pikiran. Tolong hibur dia untukku” jawab Raja tersenyum simpul lalu pergi meninggalkan Ratu. Sebenarnya Ratu ingin mendampingi Raja Keito kembali ke kediamannya tapi, rasa keingin tahuan Eun Sha begitu besar Hingga tak terbendung lagi. Buru-buru Eun Sha menemui Natsuha ditaman.


"Natsuha” panggil Ratu pada Pria yang sibuk memperhatikan langit pagi hari.


"Ada hal penting Yang Mulia?"tanya Natsuha penuh tanda tanya.


"Apa aku baru bisa menemuimu hanya ketika ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu?"jawab Eun Sha mengerutkan keningnya. Natsuha tersenyum kecil lalu berjalan mendekati sang Ratu.


"Sesuatu sedang mengusik hati Anda Yang Mulia? Apakah itu?"


"setelah Raja terbangun dari tidur panjangnya, dia mulai bersikap aneh. Aku merasa dia sedang berusaha...menghindariku"


"tidur...panjang? Berapa lamakah itu?"


"tujuh hari sepertimu Natsuha"


"mungkin itu hanya perasaan Anda, kenapa Anda tidak berusaha meluruskan kesalah pahaman ini pada Raja?"


"Bagaimana caraku meluruskan apa pun itu, jika dia terus menjaga jarak denganku? Katakan Natsuha...apa yang terjadi pada kita bertiga? Kenapa kalian berdua tidur lebih panjang dariku?"


"Perubahan apa pun yang terjadi pada Raja, itu tidak akan pernah mengubah hatinya untuk Anda. Jadi jangan pernah takutkan hal itu” tambah Natsuha sambil menghalangi sinar matahari terik yang menyilaukan mata Eun Sha dengan menggeser tubuhnya kearah sinar matahari.


Dari pada aku harus menghilang dari hidupmu, lebih baik aku terus seperti ini. Aku tidak akan keberatan...jika aku bersamamu. Ya, jika dengan seperti ini aku masih bisa bersamamu.


"Maaf. Aku terus merepotkanmu. Terus mencarimu ketika ada sesuatu yang mengganggu antara aku dan Raja. Seolah aku tidak pernah tahu bagaimana perasaanmu padaku” kalimat Eun Sha membuat jantung Natsuha berdetak kencang.


"Menurut hamba, itu hal yang wajar. Bukankan di dalam Istana ini, hanya hamba yang bisa Anda andalkan?" senyuman hambar itu mengembang tanpa daya.


"Aku harus merawat Raja sekarang. Natsuha,"


"Ya, "


"jangan terlalu lama diluar. Kau baru saja siuman. Banyak beristirahatlah” kata Ratu tersenyum manis sebelum meninggalkan Natsuha.


Jadi kau diam-diam terus menemui Eun Sha di belakangku? Kenapa aku baru tahu sekarang? Bedebah itu!!


Keito berjalan hilir mudik mengelilingi kediamannya. Kali ini...dia harus berpikir keras tentang bagaimana cara menghindar dari kedua Istri Raja Keito. Yang satu adalah Kakaknya dan yang satunya lagi walaupun adalah cintanya, tetap saja dia Istri sang Raja.


Bukankah jika kau...terus menghindar justru membuat Eun Sha merasa aneh?


"Kenapa kau tak menampakkan dirimu Sizuka?”


Apa kau menghindari Eun Sha karena merasa sudah menipu matanya?


"Bagaimanapun aku hanyalah Keito palsu"


Tapi bagi seluruh Negeri ini, sekarang kau adalah Raja Keito. Kau hanya perlu berperan menjadi Keito. jika kau menghindarinya sekali lagi, ia akan merasa diabaikan. Tidak dicintai lagi adalah hal terburuk bagi seorang Istri.


"Akan kupertimbangkan itu” jawab Keito menghela nafas panjang.


"Apa yang harus dipertimbangkan Yang Mulia?" sahut seseorang membuat Keito terlonjak kaget.


"Apa kau sudah menemui Natsuha?" tanya Keito berhati-hati.


"Iya Yang Mulia..."


"Kalian membicarakan tentangku?" tebak Keito memalingkan wajah kearah sebaliknya.


"Bagaimana Anda bisa tahu?” tanya Eun Sha rikuh. Jelas dia tahu karena setiap Eun Sha datang padanya dulu, pasti hanya membahas seputar Raja Keito.


"Bisakah kau langsung berkeluh kesah saja denganku? Tanpa harus menemui Natsuha? Kau melukai perasaanku. Apa kau sengaja membuat citraku buruk dimata Natsuha?"


"Ampuni hamba Yang Mulia. Hamba hanya...kesulitan dalam mengatakan segala hal pada Anda"


Ya...ini saatnya untuk aku dapat memperbaiki hubungan Raja dan Ratu. Eun Sha...kau bilang aku harus menemukan seseorang yang mau mendampingi hidupku bukan? Inilah saatnya untuk memotong ikatan antara kita. Ya, antara Ratu dan Natsuha. Kau tidak boleh bergantung padaku selamanya jika cintamu hanya untuk Raja Keito.


"Katakan alasanmu untuk tidak bisa mengatakan segala hal padaku. Padahal kau punya banyak waktu hanya untuk menemui Natsuha, Ratuku"


"bukankah Anda, yang selalu mendorong hamba untuk memperhatikan Natsuha?" pertanyaan Eun Sha membuat mulut Keito terbungkam dalam sedetik.


"Memperhatikan Menteri yang sedang sakit artinya kau, hanya tinggal datang menjenguknya, menanyakan keadaannya dan cukup berbasa-basi. Tapi aku tidak pernah memerintahkanmu untuk menyuapinya apel"


"I itu karena...hamba sedang kesal pada Anda waktu itu” gumam Eun Sha merasa Raja ada benarnya.


"Lupakan saja. Keluarlah. Aku ingin sendiri"


"Yang Mulia...ini tidak seperti yang Anda pikirkan. Dengarkan dulu penje..."


Bruuuk!!


Kata-kata Ratu terhenti ketika melihat Rajanya jatuh pingsan. Ia segera berteriak minta tolong pada para pengawal diluar untuk menggotong Raja Keito ke peraduannya. Eun Sha makin panik ketika merasakan suhu tubuh Raja Keito sangat panas.


"Apa yang terjadi Yang Mulia?!" Natsuha muncul ketika tak sengaja melihat keramaian diluar kediaman Raja Keito.


"Beliau demam tinggi” sahut Eun Sha dengan mata berkaca-kaca.


Dia tidak memerankan perannya dengan benar. Itu hukuman dari langit jika dia tidak bersungguh-sungguh dalam berperan sebagai Anda Yang Mulia. Jika setelah ini pun dia masih menolak perannya, maka bersiaplah dia akan hilang selamanya dari muka bumi ini menggantikan Ratu Eun Sha yang memang seharusnya sudah tiada.


Deg!!


Natsuha mendengar suara Dewa yang telah membuat perjanjian dengannya diatas hitam dan putih. Natsuha segera berlari menuju tempat Raja Keito bermeditasi.


"Bukankah tidak seharusnya Natsuha terlibat dalam perjanjian kita Dewa?" kini wujud Natsuha berubah menjadi wujud Raja Keito.


Natsuha telah memutuskan untuk melibatkan hidupnya kedalam pusaran hidup antara Eun Sha dengannya.


"Dia lakukan hal itu semata karena bujuk rayu Sizuka yang mengatakan bahwa dirinya bisa menyelamatkan hidup Eun Sha” jawab Raja Keito membela.


Natsuha dan aku memiliki perjanjian tersendiri dengan menggunakan media Sizuka. Kau tidak bisa mematahkan perjanjian antara kami.


"Dia hanya perlu menjadi diriku bukan untuk dapat sehat kembali?"


Ya, dia harus berpikir bahwa dia adalah Raja Negeri ini begitulah isi perjanjian kami sebagian.


Raja Keito berlari keluar dan kembali masuk kedalam kediamannya dalam wujud Natsuha. Ia melihat betapa terampilnya Eun Sha dalam merawat dirinya yang lain.


Kau mengorbankan hidupmu demi Ratuku. Bahkan aku selalu mengandalkanmu Natsuha. Tak terasa ternyata aku banyak bergantung padamu. Bahkan sekarang aku menjadi Raja yang tak berguna Natsuha. Membantumu keluar dari masalahmu pun aku tak mampu. Tapi...ijinkan aku untuk mempertahankan hidupmu. Hanya ini yang bisa kulakukan.


"bisakah hamba yang merawatnya sendiri Yang Mulia? Untuk siang ini saja" kata Natsuha datar tanpa menatap wajah Sang Ratu.


"Pasti ada banyak hal yang harus dikerjakan. Jangan memaksakan diri Natsuha. Kau pun belum pulih sepenuhnya” jawab Eun Sha lirih.


"Jelas Anda belum beristirahat sejak tadi. Ini tidak baik bagi kesehatan Anda Ratu"


"Kau lebih membutuhkan Istirahat dibandingkan denganku. Kenapa kau begitu keras kepala? Kau lihat Yang Mulia sedang sakit bukan? Lalu apa yang harus kulakukan jika kau juga ikut sakit Natsuha? Siapa orang yang bisa kuandalkan selain kau?” tegas Ratu menatap tajam kearah Natsuha.


Andaikan kau tahu...siapa yang sedang kau rawat sekarang Ratuku.


"Kewajibanku mengurus Suamiku yang sedang sakit. sangat tidak bijaksana membuat orang lain menanggung kewajibanku"


"Mungkin bagi Anda, hamba hanyalah orang lain Yang Mulia. Tapi bagi hamba, Andalah segala-galanya. Karena Anda adalah belahan jiwa saya” tegas Natsuha ditelinga sang Ratu.


"Ingatlah batasanmu Nat su ha..."


"Hamba hanya bereaksi atas apa saja yang pernah Anda berikan kepada hamba Yang Mulia. Tidak lebih” tandas Natsuha berjalan mundur menjauh dari Ratu lalu menghilang dibalik pintu.


Sang Ratu jatuh terduduk disamping Keito yang terbaring lemas. Ia menyadari selama ini, dirinyalah yang terus mendekat pada Natsuha tanpa peduli gejolak hati Pria itu. Tapi kenapa sekarang, ketika gejolak hatinya mulai meluap justru diabaikannya? Itu karena rasa cintanya terhadap Raja Keito...inilah yang ada di dalam benak sang Ratu. Kepanikan Ratu semakin memuncak ketika hingga malam hari Suaminya belum juga sadarkan diri.


Tidak...aku harus berhenti untuk terus mengusik hidup Natsuha. Dia punya kehidupannya sendiri. Ketika Eun Sha memikirkan ini, ia sedang berbaring disamping Keito berulang kali ia membalikkan badan tak tenang.


Yang Mulia...apa yang terjadi? Kenapa Anda tidak kunjung sadarkan diri? Eun Sha berusaha memejamkan mata saat memikirkan sang Raja.


Mungkin bagi Anda, hamba hanyalah orang lain Yang Mulia. Tapi bagi hamba, Andalah segala-galanya. Karena Anda adalah belahan jiwa saya. Mendadak Ratu terduduk diatas peraduannya menepuk-nepuk kedua pipi memastikan bahwa ia harus berpikiran waras.


Kenapa aku berkata sekasar itu pada Natsuha? Dia...hanya mengatakan isi hatinya tanpa sebuah tabir bernama batasan. Esok aku harus meminta maaf padanya. Pikir Eun Sha tanpa menyadari seseorang telah memperhatikan gerak geriknya.