
Pagi menjelang Jee Kyung mulai memperhatikan Heo Dipyo, Hyun-Jae dan Yeon-Seok bersiap-siap menjemput Hwan Chin. Gadis itu berlari ke ruang kerjanya lalu muncul kembali dengan sesuatu yang di bungkus dengan kain.
Jee Kyung mendatangi Heo Dipyo yang sedang melakukan pengecekan ulang kondisi ke tiga kuda yang akan mereka naiki.
“Tuan Heo” panggil Jee Kyung. Laki-laki itu tak menjawab dia malah sibuk mengelus elus kepala kudanya.
Kau lebih memilih memberi kasih sayangmu pada seekor kuda?! Ya ampun..., haruskah aku cemburu pada kuda jantan itu?! Geram Jee Kyung mencoba bersabar.
“Tuan,” panggil Jee Kyung kesal karena Pria ini, malah bersiul girang seolah asyik bercengkerama dengan kuda kesayangannya. Kini dia kesal...setengah mati, hanya karena tiada respons untuknya.
Duk!!
Tingkah Jee Kyung yang menendang tulang kering kaki Heo Dipyo spontan membuat dua Laki-laki lainnya tertawa bersamaan.
“Hey!! Apa yang kau lakukan!” teriak Heo Dipyo berbalik dan mendapati Gadisnya ada dihadapannya.
“Kau..., aku akan pergi jauh tapi bukan pelukan yang aku dapatkan kali ini?” gerutu Heo Dipyo mencibir Jee Kyung. Gadis itu segera melemparkan barang yang ia bawa pada Heo Dipyo.
“Pastikan kalian pergi dalam keadaan perut tidak kosong. Mengerti?!” jawab Jee Kyung galak sambil membuang muka ke arah lain.
“Kau tidak...ingin mengucapkan sesuatu? Atau memberikan sesuatu yang terasa manis?” tanya Heo Dipyo sambil menyilangkan kedua tangannya ke dada, berayun ke kanan dan kekiri.
“Perdana Menteri yang garang bisa bertingkah semanja ini?! Ya ampun...,harus kita abadikan dalam ingatan kita masing-masing” celoteh Hyun-Jae pada Yeon-Seok tak kuasa menahan ledakan tawanya.
“Bukankah kau, sudah mendapatkan apa yang kau mau dari kuda kesayanganmu itu? Kalau kau mau sebuah pelukan, biarkan kudamu yang mewakiliku” ketus Jee Kyung sambil berlalu begitu saja.
“Cepat sekali suasana hatinya berubah” gerutu Heo Dipyo mengacak rambutnya frustasi.
“Itu pantas kau dapatkan. Dia sudah ingin bersikap manis padamu tapi kau tampak terlalu memanjakan kuda itu sampai tidak menyadari Jee Kyung sudah ada disitu sejak lama” kekeh Yeon-Seok bangga pada aksi menakjubkan Jee Kyung tadi.
“Apa kau bercanda? Mana mungkin Jee Kyung ku cemburu pada peliharaanku” kekeh Heo Dipyo tak percaya. Melihat reaksi dua Pria di depannya menunjukkan telunjuk ke arahnya dengan mimik meyakinkan sampai kompak menganggukkan kepala, Heo baru sadar jika Gadisnya memang sedang...cemburu? Pada seekor kuda?
“Menurut pengalamanku, kalau kau tidak sekarang juga meredakan amarahnya, pasti sampai kau pulang nanti dia akan menganggapmu tidak pernah ada di muka bumi ini” saran Hyun-Jae di balas anggukan oleh Yeon-Seok.
Sial. Jauh lebih mudah menaklukkan kuda liar dari pada Wanita. Erang Heo Dipyo dalam hati.
Heo Dipyo datang ke tempat Jee Kyung bekerja ia melihat Gadisnya sedang menuliskan sesuatu ke selembar kertas. Heo Dipyo sengaja duduk di sebelah Gadis itu memperhatikan raut wajahnya yang masih terlihat kesal.
Waktunya sangat mendesak jika harus lebih lama lagi merayu, maka Kerajaannya akan lebih lama lagi mendapatkan penguasa baru. Ia berinisiatif merebut kuas dari tangan Jee Kyung, menggenggam lembut tangannya lalu menatapnya lembut tanpa kata.
“Cepatlah pergi. Tuan Hwan Chin sedang menunggu kalian”
“Maaf”
“....”
“Aku sedang bahagia hari ini. Jadi maafkan aku, karena hal itu justru membuatmu merasa aku mengabaikanmu”
“Kau bahagia karena akan menjemputnya?” ketus Jee Kyung mengerutkan keningnya. Heo Dipyo tersenyum lalu mencubit gemas hidung mancung Gadisnya.
“Kau lupa yang aku katakan padamu kemarin? Setelah Tuan Hwan Chin resmi menjadi Raja, kau akan mengundurkan diri sebagai Seonsang dan menjadi Istriku” jawab Heo Dipyo membuat kepala Jee Kyung makin pusing tujuh keliling.
Harus bagaimana? Harus bagaimana ini?! Ini tidak akan adil baginya. Aku...bisa sewaktu-waktu menghilang dari tempat ini.
“Pergilah, dan bawa Tuan Hwan Chin dengan selamat” kini kata-kata semanis madu meluncur dari bibir mungil Jee Kyung.
“Tetaplah disisiku. Meski ini tidak mungkin bagimu tapi, aku tetap memintamu untuk tetap disisiku.” Kini Heo Dipyo tengah memotong sendiri urat malunya. Ia memeluk Jee Kyung erat tanpa memperdulikan sekelilingnya yang tengah menatap mereka, penuh keterkejutan bercampur rasa iri.
“Tuan, semua mata tertuju pada kita. Mohon pergilah sekarang. Saya malu...” bisik Jee Kyung di telinga Heo, yang masih dalam dekapan Heo Dipyo. Pria itu tersenyum, melepaskan pelukannya pada Jee Kyung, lalu beranjak pergi. Jee Kyung mengantarkan kepergian mereka, dengan sebuah lambaian tangan.
“Sejak kapan kau dekat dengan mantan calon Suami Ratu Seonha?” tanya salah seorang Seonsang senior menyenggol Jee Kyung penasaran.
“Semenjak Ratu memutuskan untuk tidak akan menikah selama berada di atas Tahta” jawab Jee Kyung sekenanya karena kebenarannya adalah, Jee Kyung asli sudah mengenal Heo Dipyo bahkan sebelum Ratu Seonha alias Ha-Neul Arang bertemu dengan Heo Dipyo.
“Tapi kau ini Seonsang. Apa keluarganya...menyetujui hubungan kalian?” tanya Seonsang senior mencibir sinis.
“Ya, suatu saat nanti, keluarganya akan menyetujui hubungan kami. Sudah bisa dipastikan” tegas Jee Kyung percaya diri sambil berlalu meninggalkan sang senior.
Jee Kyung memilih untuk memainkan musik sambil menyanyi, dari pada terus meladeni Wanita kurang kerjaan tadi. Suara alat musik petiknya terhenti ketika ia melihat ada sebuah bayangan di atas jendela di lantai. Jee Kyung mengangkat kepalanya lalu melihat seekor Hato benar-benar bertengger di atas jendela.
“Kau..., mau menjemputku?” tanya Jee Kyung ketakutan.
“Sekarang bersiaplah” jawab Hato tegas tapi Jee Kyung justru lari keluar dari ruang tempatnya bekerja, menuju ke taman Istana. Ia berteriak minta tolong tapi tak ada Satu pun orang merespons karena waktu mendadak telah terhenti. Jee Kyung tersandung batu dan terjerembap ke atas tanah.
“Izinkan aku berpamitan terlebih dahulu dengan Heo Dipyo. Paling tidak biarkan aku berpamitan dengannya” rengek Jee Kyung. Gadis itu merasakan tanah mulai terasa lembek, berubah menjadi tanah hisap, menghisap Kotoko tanpa sisa.
Di tempat persembunyian Hwan Chin, akhirnya mereka duduk santai di atas tanah, sambil menunggu Tuannya siap untuk mereka boyong ke Istana.
“Ada yang aneh” Heo Dipyo memulai pembicaraan membuat kedua Pria di samping kanan dan kirinya mengangkat alis penasaran.
“Apa yang aneh?” tanya Yeon-Seok memperhatikan mimik serius Heo Dipyo.
“Hey Hyun, Jee Kyung juga kemarin dua kali berkata akan pergi dariku. Seperti Ha-Neul. Apa mereka punya masalah yang sama? Atau mereka saling terhubung?” tanya Heo Dipyo heran.
“Mereka jelas terhubung karenamu kan? Kau menolak Jee Kyung, lalu mengejar-ngejar Ha-Neul ingat?” balas Hyun-Jae bingung kenapa Jee Kyung juga mengatakan hal yang sama seperti Ha-Neul?
“Kau yang akhir-akhir ini sering mendampingi mereka berdua. Apa ada gelagat mencurigakan dari mereka? Minimal mereka membicarakan soal kenapa mereka harus pergi? Atau...kemana tepatnya mereka akan pergi?” tanya Hyun-Jae menatap tajam Yeon-Seok.
Kenapa Ane tidak mengatakan apa pun padaku? Panik Hiroshi khawatir, dia tidak sempat melihat Kakaknya Kotoko untuk terakhir kalinya seperti kejadian sewaktu Hamari menghilang dulu.
“Kau pasti mengetahui sesuatu kan?” tanya Hyun-Jae yang entah sejak kapan sudah berada di depannya, sambil menggoyangkan kedua bahu Hiroshi.
“Kalian ini kenapa? Aku bersama mereka bukan karena mauku tapi justru karena permintaan kalian. Mana mungkin mereka mau membagi isi hati mereka padaku? Bagi mereka aku ini hanyalah orang asing. Berbeda dengan kalian” jawab Yeon-Seok panjang lebar. Siapa yang akan percaya jika mereka datang ke tempat ini dari Negeri seberang?
“Benar juga” gumam Hyun-Jae lesu melepaskan cengkeramannya pada Adik semata wayangnya Yeon-Seok.
“Anda sudah siap?” tanya Yeon-Seok berdiri sambil membersihkan pakaiannya dari tanah diikuti yang lainnya.
“Ya,” jawab Hwan Chin sendu. Sebentar lagi, kehidupan bebasnya akan berakhir. Seandainya Ratu Seonha masih hidup pasti dia akan merengek tidak ingin menggantikan kedudukannya. Lagi pula, kekuasaan Kwon Jae He sudah berakhir jadi, Ratu bisa segera menikah dengan Hyun-Jae. Tapi nasib malang menimpanya sekarang karena harapannya hanyalah tinggal harapan.
Hwan Chin dan ketiga orang yang menjemputnya telah tiba di Istana. Seluruh persiapan penobatan Hwan Chin menjadi Raja, telah diselesaikan dalam waktu singkat. Saat penobatan berlangsung, Heo Dipyo tidak melihat Jee Kyung ada di Aula Istana bersama para Seonsang.
Kenapa dia tidak datang kemari? Apa Jee Kyung sakit? Hatinya terus dipenuhi tanda tanya. Selepas Raja Hwan Ryuk menduduki Tahta, Heo Dipyo diam-diam meninggalkan Aula Istana mencari Jee Kyung. Ia mencari ke tempat Jee Kyung bekerja tapi kosong, mencari ke Balai Pengobatan Seonsang juga tidak ketemu. Ia terus mengitari seluruh Istana, hasilnya nihil. Heo Dipyo jatuh bersimpuh. Jadi pelukan tadi pagi adalah pelukan selamat tinggal?
“Heo, kenapa kau disini? Kemana Jee Kyung?” tanya Hyun-Jae mencari-cari keberadaan Gadis itu.
“Dia lenyap entah kemana seperti Ha-Neul” tangisan Heo Dipyo kini pecah.
Suatu hari, Yeon-Seok dengan susah payah datang kembali ke taman di dekat tempat tinggal Jee Kyung. Entah kenapa kali ini dia ingin sekali berada di taman itu. Betapa sulitnya ia melarikan diri dari jangkauan Heo Dipyo dan Hyun-Jae yang makin hari, tidak memberinya kesempatan untuk bepergian sendirian dengan alasan ini wasiat terakhir dari Jee Kyung.
Untung saja dia tidak mengatakan, kemungkinan besar..., ia akan menghilang seperti kedua Kakaknya suatu saat nanti. Sampai mereka tahu, pasti dia akan diawasi selama 12 jam non stop.
“Sudah lama kau tidak kemari, Tuan Yeon-Seok,” sapa seorang Gadis cantik, matanya berbinar-binar ketika menatap Yeon-Seok.
“Kau selalu menyanyi di tempat ini? Ah-In?” pertanyaan Yeon-Seok disambut tatapan tak biasa oleh Gadis itu.
“Akhirnya!!” teriak Ah-in mengejutkan Yeon-Seok.
“????” Pria itu menatapnya penuh tanda tanya. Dari mana sebenarnya Gadis ini berasal?
“Akhirnya kau bisa mengenaliku juga. Kau tahu? Ini seperti keajaiban dunia”
“Keajaiban...dunia?”
“Kau tahu berapa kali kita bertemu?”
“dua,”
“Ck. Kau benar-benar seperti yang dikatakan orang-orang, Tuan” keluh Gadis itu kecewa berat.
“Kau sudah selesai bermain musik?”
“Aha, jangan-jangan Tuan kemari untuk mendengarkanku tampil? Begitu?” tanya Ah-In berharap.
“Kurasa” jawab Yeon-Seok tersenyum simpul sambil menatap birunya langit.
“Biasanya kau datang kemari hanya karena dua alasan.” Kata-kata Gadis disampingnya kini mampu menarik perhatian.
“Apa aku mengatakannya padamu alasannya?” pertanyaan Yeon-Seok disambut gelengan kepala.
“Tidak perlu diucapkan Tuan. Aku sering memperhatikan cuaca di wajahmu. Apakah itu cerah? Ataukah mendung?” kekeh Gadis itu membuat Yeon-Seok ikut tersenyum.
“Jadi? Bagaimana wajahku sekarang?”
“Apa kau sedang sedih?” pertanyaan di jawab dengan pertanyaan spontan Yeon-Seok menatap Gadis itu sendu.
“Baiklah, biasanya kau akan kembali ceria setelah mendengarkanku bernyanyi. Senang bisa berbicara langsung dengan Tuan. Ini pertama kalinya kita saling berbicara satu sama lain” sambung Ah-in berjalan melangkah ke tempat alat musiknya berada.
“Dua kali. Kita sudah berbicara dua kali” kata Yeon-Seok meralat.
“Ini pertama kali Tuan. Pertama kali bertemu, dan berbicara sebagai orang yang saling mengenal” senyum Gadis itu sambil memainkan musik bersiap untuk menyanyi.
Hiroshi memejamkan mata sejenak merasakan hembusan angin menerpa wajahnya. Bahkan kini suara alunan musik sekaligus suara Ah-In mampu menentramkan jiwanya yang kalut. Tiba-tiba ingatan Yeon-Seok tentang Ah-In dapat ia kenang sejak pertama kali Yeon-Seok asli bertemu dengan Ah-In, hingga akhir perjumpaannya. Tak terasa air mata Hiroshi sebagai Yeon-Seok menitik.
Ia membuka kedua matanya, menatap Ah-In yang masih berkonsentrasi menyanyikan sebuah lagu indah.
Kau merindukannya? Jadi itulah kenapa kau, menuntun hatiku untuk datang kemari Yeon-Seok? Kata hati Hiroshi berbisik.
Kau ingin mengungkapkan perasaanmu? Karena sebelum kau sempat mengungkapkannya, hidupmu sudah berakhir?
“Ya” jawaban itu membuat Hiroshi terperanjat mendapati ada seseorang berada di sampingnya. Sejak kapan?
Akan ku wakilkan perasaanmu padanya, tapi sekali ini saja. Setelah itu jangan pernah mendorongku jauh lebih dalam lagi. Batin Hiroshi, mencoba berkomunikasi dengan Yeon-Seok asli.
“Ya. Tapi kau yakin tidak akan masuk lebih dalam lagi? Hiroshi?” kekeh Yeon-Seok asli membalas tatapan Hiroshi penuh selidik.
“Contohnya kedua Kakak Perempuanmu. Mereka awalnya ingin membantu Ha-Neul dan Jee Kyung tapi mereka justru jatuh cinta pada pasangan Ha-Neul dan Jee Kyung.” Senyuman Yeon-Seok terasa hangat dihati Hiroshi.
Kau takut aku merebutnya darimu?
“Aku menantikan hal itu terjadi. Kau dan Ah-In bisa melewatkan hidup bersama seumur hidup. Sementara aku? Tidak akan dapat kembali lagi kepadanya” jawab Yeon-Seok asli sendu. Lamunan Hiroshi buyar ketika sebuah tangan melambai tepat di depan wajahnya.
“Tuan, apa masalahmu begitu besar?” terdengar Ah-In sedang prihatin.
“....” Hiroshi terdiam sejenak.
“Kau menangis. Siapa yang kau tangisi sampai seperti ini?” tangan Ah-In mengusap air mata Hiroshi. Pria itu tak mau seperti kedua saudaranya karena itu dia memilih menghindar dengan menggapai kedua tangan Ah-In yang awalnya sibuk menghapus jejak air mata di pipi Hiroshi.
“Kau ingat masa dimana salju turun? Tempat inilah saksi awal perjumpaanmu dengan Yeon-Seok. Dia jatuh cinta padamu Ah-In. Tapi dia tak bisa mengutarakannya padamu.”
“......”
“Kau ingat dimana Yeon-Seok memberi tahumu bahwa dia ingin bertemu denganmu?”
“Ya. Dan kau tak pernah datang. Ku kira kau tidak akan pernah lagi datang”
“Yeon-Seok mengalami kecelakaan karena itu butuh waktu lama untuk memberi tahumu tentang ini”
“Apa...ini pernyataan cinta Tuan?” tanya Ah-In kebingungan. Bagaimana tidak? Cara Yeon-Seok mengutarakan cinta padanya justru terasa seperti orang lain, yang sedang memberi tahunya, bahwa Yeon-Seok jatuh hati padanya.