Aitai

Aitai
Karakter Yang Berubah



"Kau sedang gelisah karena apa?" suara lembut yang telah lama ia nantikan kini mengalun ditelinganya. Eun Sha refleks menoleh matanya bertemu dengan kedua mata Raja Keito. Kenapa rasa tak biasa ini muncul dalam diri Eun Sha? Ya, tak biasanya Eun Sha merasa rikuh ketika berada dalam jarak sedekat ini dengan Suaminya. Ia ingin memeluk Pria itu, tapi tubuhnya bereaksi untuk menjauh.


"Aku telah membuat sebuah kesalahan pada Natsuha hanya itu Yang Mulia” jawab Eun Sha membimbing Keito kembali merebahkan diri.


"Kesalahan macam apa itu?" Raja Keito mengerutkan kening.


Baru saja beliau siuman jangan sampai karena ia marah kondisinya kembali memburuk dan tak sadarkan diri lagi. Eun Sha...harus berkata apa?


"Kami hanya saling memperebutkan siapa yang paling berhak menjaga Anda hari ini” jawab Eun Sha sambil menawarkan secawan teh.


Syukurlah...aku tidak terlihat kaget dimata Eun Sha. Bagaimana caranya aku bisa keluar dari tempat ini sekarang?


"Eun Sha...bisakah kau kembali ke ke kediamanmu? Dan panggilkan Natsuha untukku?"


"kau masih marah padaku?” Eun Sha menuntut jawaban dari Suaminya.


"Bukan begitu Ratuku. Aku hanya ingin berbincang sebentar dengan Natsuha"


"Selarut ini? Anda bisa membicarakan apa pun itu, keesokan harinya Yang Mulia. Bagaimana bisa Anda seperti ini? Anda belum sehat betul, tolong jaga kesehatan Anda” protes Eun Sha memperbaiki posisi selimut Rajanya.


Ketika....Raja sebelum pingsan beliau marah padaku karena terlalu berlebihan dalam menjaga Natsuha. Tapi apa mereka punya semacam telepati? Kenapa perkataan Raja sangat mirip dengan perkataan Natsuha saat menegurku dulu?


"Yang Mulia"


"hmm?"


"entah kenapa...hamba kali ini merasa sangat asing ketika berdua bersama Anda seperti ini" begitu mendengar Eun Sha mengatakan hal itu, Raja langsung berbalik badan menatap lekat wajah sang Ratu.


"Mungkin karena kau lebih sering bertemu dengan Natsuha dari pada aku akhir-akhir ini. Kau ingat, berapa lama kau menjaganya saat tak sadarkan diri?"


"Bukan itu maksud hamba. Kenapa persoalan ini dikaitkan dengan Natsuha?"


"Sudah lama aku memperhatikan sikap Natsuha saat berada di dekatmu jadi siapa pun tahu jika dia ada hati denganmu Ratuku"


Apa Yang Mulia sedang mengumumkan kecemburuannya padaku? Kenapa baru sekarang ia mengatakannya?


wah, manisnya...,


Eun Sha menatap lekat wajah Suaminya ia berharap perasaannya dapat kembali seperti dulu. Semenjak Raja dan Natsuha terbangun dari tidur, karakter mereka telah berubah. Eun Sha pikir ini hanya efek sementara saat Raja menunjukkan tanda-tanda perubahan karakter bahkan sifatnya tapi sekarang...ketika Natsuha terbangun dari tidur panjangnya, ia menunjukkan gejala yang sama.


"Aku sulit tidur. Kepalaku terlalu banyak dipenuhi berbagai hal” kata Keito gugup buru-buru bangkit dari tidurnya.


"Tunggu. Anda ingin pergi kemana selarut ini? Masih ingin mengunjungi Natsuha?" Eun Sha ikut bangkit dan menahan bahu sang Raja.


"Kau benar. Aku akan mengganggunya yang sedang butuh banyak istirahat. Aku hanya butuh keluar dan meregangkan ototku sebentar. Tetaplah disini dan tidurlah Eun Sha” jawab Keito tegas sambil melepaskan tangan Eun Sha dari bahunya. Tak peduli lagi apa yang akan diteriakkan Wanita itu padanya yang penting dia dapat selama mungkin menjauh dari Eun Sha. Ini yang terbaik untuknya, Eun Sha dan Keito.


Keito berjalan menyusuri tempat para Prajurit berlatih perang. Ia berjalan dengan tangan menggenggam sebuah pedang. Ya...dahulu ketika ada apa pun masalah yang menghampiri hidupnya ia akan selesaikan dengan menguras tenaganya dengan berlatih bela diri. Dahulu...ketika ia adalah seorang Perdana Menteri Natsuha.


"Kau juga kemari Raja?” suara yang ia kenali sebagai suaranya itu jelas terdengar dari belakang.


"Kenapa Anda kemari Yang Mulia?" gugup Keito melihat Natsuha berdiri dibelakangnya. Spontan tubuhnya bergerak untuk menghormat pada Rajanya.


"Bodoh, apa yang kau lakukan? Bagaimana jika ada yang melihatmu memberi penghormatan padaku seperti itu? Kau lupa siapa kau sekarang?!" marah Natsuha sambil mengawasi seluruh penjuru arah. Tapi amarahnya pun mulai menghilang begitu ia melihat Keito mengerutkan kening lalu memegang dadanya kesakitan.


"Apa kau berusaha menghindar dari Eun Sha lagi?" tanya Natsuha mencengkeram kedua bahu Keito yang berjuang keras tetap berdiri tegak. Agaknya Natsuha tahu betul apa yang dirasakan oleh Keito. Pria itu membantu Keito untuk duduk.


"Mohon jangan membahas sesuatu yang sulit untuk hamba jawab” rintih Keito disela rasa sakit didadanya.


"Jika ini terus berlanjut semua orang akan berpikir hubunganku dengan Ratuku sedang renggang. Tolong jaga jangan sampai itu benar terjadi.” keluh Natsuha sambil menghela nafas panjang.


"Hutang budi hamba setinggi gunung kepada Anda bagaimana hamba bisa melakukan sesuatu yang akan membuat Anda tersiksa sepanjang waktu?" kini Keito nampak baik-baik saja.


Kau akan mati jika sekeras kepala ini Natsuha...kata hati Raja Keito saat menatap wajahnya sendiri dihadapannya.


"Besok umumkan aku akan pergi ke Mongol untuk kunjungan Kenegaraan mewakilimu” Natsuha dengan tegas memberi titah.


"Kenapa mendadak sekali?" protes Keito tak terima.


"Jaga Istriku dengan benar...mengerti?" kata Natsuha menepuk bahu Keito.


"Semudah itukah Anda menyerahkan Ratu kepada hamba begitu saja?! Tolong pertimbangkan kembali" Keito berusaha menghalangi jalan Natsuha.


"Kau tahu kapan ini semua akan berakhir? Esok? Lusa? Sebulan? Bagaimana jika tahunan? Jika kita tetap ditempat yang sama...aku takut salah satu dari kita mati" mendengar kekhawatiran besar berkecamuk dihati Keito asli, maka Natsuha segera berlutut dihadapan Natsuha palsu.


"Berdirilah. Bagaimana seorang Raja berlutut dihadapan rakyat jelata seperti ini?! Apa kau ingin muncul desas desus tentang kita esok harinya?" Natsuha palsu memperingatkan sambil memperhatikan sekitar. Mendengar Raja Keito yang meminjam tubuhnya mengatakan hal tak terduga, Natsuha justru tersenyum sinis dalam wujud sang Raja.


"Sungguh mulianya hati Anda, bagaimana bisa...Anda justru mencemaskan apa kata orang lain yang dikemas menjadi desas desus sampah, dibandingkan mencemaskan perasaan Ratu" bahkan kini Natsuha terang-terangan menatap kedua mata sang Raja asli dengan tatapan membara.


"Tidak ada yang perlu dicemaskan jika itu tentang Ratuku. Karena yang pergi, dimata Ratu adalah Natsuha...bukan Keito Suaminya. Poin penting yang harus kamu perhatikan adalah, sudah seharusnya sang Perdana Menteri tidak menjadi duri di dalam daging. Karena Natsuha hanya akan menjadi orang ketiga di dalam hidup antara Raja dan Ratu" tegas Natsuha palsu sambil mengepalkan kedua telapak tangan menahan rasa sakit di dalam dada.


Kau pikir aku menyukai keputusan ini Natsuha? Tapi hanya inilah penyelamat kehidupan diantara kita bertiga. Kau, dan aku hanya perlu menjalani pertukaran peran Raja dan Perdana Menteri. Cepat atau lambat kau akan mengerti ini keputusan terbaik karena sekarang, kau adalah aku. Raja Keito yang seharusnya mendampingi Ratu. Sementara aku...hanya sang Perdana Menteri yang tidak seharusnya selalu berada disisi Ratu. Batin Keito asli miris.


"Setiap peran memiliki kebebasan, bahkan keterbatasan masing-masing. Sadar atau tidak...kita telah bertukar peran didunia ini. Aku sekarang adalah Perdana Menteri Natsuha. Sebagai Natsuha...jika aku menjauh dari Ratu maka artinya sedang berusaha memperpanjang hidupku"


"Tapi jika aku selalu didekatnya nyawaku akan terancam hilang. Sebaliknya kau yang akan mengalami rasa nyeri hingga kehilangan kesadaran bila, berusaha sejauh mungkin dengan Ratu tapi akan baik-baik saja bila berada didekatnya." kata Natsuha palsu sambil menepuk lembut bahu Keito palsu.


"Maka biarkanlah aku pergi" tambah Natsuha palsu lalu bergegas menuju kediamannya.


Takdir sedang mempermainkan kita bertiga Yang Mulia. Sambil memikirkan cara agar kita bisa kembali seperti sediakala, tidak akan hamba ijinkan Anda melangkahkan kaki keluar dari Istana Anda barang satu jengkal pun. Pikir Keito palsu sambil tersenyum percaya diri.


Raja Keito melangkah menuju kediaman Ratu namun...langkahnya terhenti didepan pintu yang dijaga ketat Prajurit Istana.


"Yang Mulai, apa Anda enggan masuk kedalam?" suara lembut Eun Sha memecahkan lamunan sang Raja.


"Hanya memikirkan tentang suatu hal. Kenapa kau belum tidur juga Ratuku?"


"Karena hamba khawatir dengan kesehatan Yang Mulia. Sadarkah Yang Mulia tentang satu hal ini? Semenjak Anda sadarkan diri dari pingsan yang panjang perilaku Anda sangat berbeda dari biasanya. Contohnya seperti sekarang. Yang Mulia jadi sering keluar larut malam." protes Eun Sha sambil menggandeng Raja Keito masuk kedalam kediamannya.


Eun Sha membimbing penuh kesabaran Suaminya menuju peraduan. Eun Sha duduk disamping Raja Keito lalu memijit pelipis sang Suami.


"Apa pun masalah Anda...bisakah dibicarakan dengan hamba? Bukan maksud hamba untuk menambah beban Yang Mulia. Tapi...selama bertahun-tahun, Anda selalu terbuka kepada hamba tentang apa pun permasalahan yang menghadang. Sehingga ketika Anda menutup diri begini kepada hamba...entah Kenapa itu mengusik hati hamba" suara sedih Eun Sha mampu menggetarkan jiwa Natsuha di dalam tubuh sang Raja. Raja Keito meraih kedua telapak tangan sang Ratu dari pelipisnya lalu menggenggam lembut.


"Maaf jika sikapku akhir-akhir ini membuatmu merasa terabaikan. Seharusnya kau tahu betul aku tidak akan pernah sanggup mengabaikan Istri secantik ini" sambut Raja Keito kini membelai lembut kepala Eun Sha.


Natsuha? Ya, aku merasa...sedang bersama Natsuha bukan Suamiku Keito. Belaian di kepala ini...terasa sama seperti saat aku dan Natsuha masih bersama dahulu. Seketika Eun Sha menggelengkan kepala.


Apa yang sedang kulakukan?! Bisa-bisanya memikirkan Laki-laki lain dihadapan Suamiku sendiri! Sesal Eun Sha memaki diri sendiri.


"Apa kesalahanku sangat besar hingga tak ter maafkan olehmu?" Raut wajah panik terlihat jelas saat Keito melontarkan pertanyaan ini.


"Bukan begini seharusnya Yang Mulia. Bukan permintaan maaf yang hamba inginkan dari Anda. Tapi penjelasan kenapa Anda begitu gelisah akhir-akhir ini bahkan...terkesan ingin menghindar dari Istri Anda ini. Jika memang sulit untuk dikatakan, setidaknya Anda bisa memberi alasan tepat agar hamba tidak merasa terabaikan" Eun Sha tertunduk gemas.


"Memang ada masalah yang belum siap untuk kukatakan padamu Eun Sha. Aku takut ini akan membebanimu jika kuutarakan masalahku. Karena masalahku, ada hubungannya dengan Natsuha. Tidak mungkin rahasia pribadi Pria itu kukatakan padamu". Natsuha dalam raga Keito berharap, dengan jawaban ini, tidak akan ada pertanyaan selanjutnya.


Tak terduga reaksi Eun Sha justru semakin tertarik dengan topik pembicaraan yang baru saja. Matanya berkilat tanda minat setinggi langit.


"Kau sangat tertarik ya...apa harus ku beberkan sekarang juga?" ucapan Raja Keito kali ini terdengar tidak ada ragu.


"Jika Anda bersedia," jawab Eun Sha tanpa dipikirkan lagi.


"Kau lebih tertarik dengan masalahku, atau masalah Natsuha? Wajahmu berseri seketika saat aku menyebut namanya. Tidakkah kau, terlalu menyepelekan perasaanku?"


"Yang Mulia..."penyesalan kini terlihat di wajah Eun Sha.


"Istirahatlah setelah kau merenungkan kesalahanmu. Ingatlah Istriku. Ini terakhir kalinya aku menahan kecemburuanku. Lain kali, jika ini terulang kembali Natsuha tidak akan menginjakkan kaki lagi di Istana ini" Keito palsu segera merebahkan diri di peraduannya pura-pura tidur.


Keesokan harinya Eun Sha menemani Raja Keito berjalan-jalan ditaman. Langkah mereka berhenti ketika mendengar ada langkah kaki lainnya sedang mendekati.


"Yang Mulia" sapa Natsuha sambil membungkukkan badan takzim. Melihat Keito asli mendekat kearahnya, Keito palsu langsung memucat.


"Apa persiapan kepergianmu sudah selesai ?"tanya Keito dingin.


"Ya, Yang Mulia" jawab Natsuha setegas mungkin. Ia sudah mempersiapkan diri dengan belasan alasan masuk akal agar dapat segera keluar dari Istana.


"Pergi?" sahut Eun Sha menatap penuh tanda tanya pada Natsuha, lalu mengalihkan pandangan pada Suaminya.


"Bisakah kita berdua bicara? Empat mata?” tambah Eun Sha tak sabar karena tak kunjung juga mendengar jawaban dari Raja. Natsuha tetap berdiri ditempat sambil memperhatikan kemana Keito dan Eun Sha melangkah.


"Bagaimana bisa Anda mengusir Natsuha begitu saja hanya karena sikap hamba semalam. Yang Mulia...hentikan keputusan kekanak-kanakan seperti ini" mohon Eun Sha merasa bersalah pada Natsuha.


"Kenapa? Kau pikir aku memutuskan untuk mengutusnya pergi menemui Raja Negeri seberang karena apa yang kau katakan semalam? Sepicik itukah diriku dimata Ratuku?"


"Lalu, apa masuk akal jika ini hanya sebuah kebetulan? Jelas-jelas semalam Anda merajuk" ketus sang Ratu salah pahaman.


"Biar kuluruskan pemikiranmu yang sudah terlanjur salah itu Ratu" jawab Raja kesal.


"Natsuha!! Katakan sejujurnya pada Ratu Negeri ini!! Apa kau menerima tugas ini dengan paksaanku?!" teriak Raja Keito nyaring.


"Hamba tidak mengerti dari mana asalnya dugaan semacam itu?! Hamba melakukannya dengan kemauan sendiri". Jawab Natsuha nyaring.


"Kau sudah mendengarnya sejelas mungkinkan? Jika kau keberatan Natsuha pergi, aku bisa memerintahkan orang lain untuk mengambil alih" tegas Raja Keito menatap Eun Sha dan menantikan jawaban. Eun Sha hanya tertunduk malu sekaligus merasa bersalah.


"Maafkan hamba atas prasangka buruk terhadap Anda Yang Mulia. Mohon jangan terlalu lama marah kepada hamba” mohon Eun Sha tak berdaya. Tapi suara panggilan Raja Keito membuyarkan lamunan Eun Sha. Wanita itu merespons dengan tatapan canggung sekaligus bingung.


Kenapa aku membayangkan hal tidak pantas untuk dikatakan, kepada Yang Mulia seperti ini? Batin Eun Sha sambil menatap lekat Suaminya.


"Kurasa, persahabatan kalian sangat kuat. Aku merasakan hawa kesedihan menguar di Istanaku. Kurasa itu karena kau tidak mengatakan soal kepergianmu hari ini padanya. Pergilah kalian. Manfaatkan waktu sempit ini, untuk perpisahan yang manis" kata Raja Keito sambil tersenyum manis.


Eun Sha justru menatap ragu pada sang Raja mengingat bukankah semalam Baginda Raja mengutarakan kecemburuannya? Lalu..., apa ini terlihat masuk akal dihari ini dengan mudah mengizinkan Istrinya pergi berdua dengan Natsuha?


"Jika Anda berkenan, ada festival layang-layang di sekitar sini. Bukankah sudah lama Anda tidak melihat hal semacam itu Ratu?" Natsuha membuka suara. Eun Sha membalas Natsuha dengan tatapan teduh sambil menganggukkan kepala.


Mereka memberi hormat undur diri pada Raja dan berjalan keluar Istana. Eun Sha tersenyum sambil menggelengkan kepala tentang kekhawatiran tak berartinya kali ini. Jelas sang Suami tidak akan membiarkan Istrinya hanya berduaan dengan Natsuha yang mempesona...dimana ada Ratu, jelas disitu juga ada para pengawal Istana.


"Yang Mulia, apa Anda sehat?" ada guratan khawatir di wajah tampan itu.


"Apa aku terlihat sangat kacau?" tanya sang Ratu yang menyamar bersama Natsuha menjadi rakyat biasa.


"Pikiran Anda jelas terlihat kacau dengan respons yang selalu terlambat ketika diajak bicara seperti ini" jawab Natsuha sambil menghela nafas perlahan.


"Sebenarnya aku tidak menyukai ide kau pergi ke Mongol. Kau...tidak sedang dalam keadaan sehat untuk melakukan perjalanan jauh" tandas Eun Sha tanpa basa-basi. Natsuha tersenyum simpul lalu membeli satu layang-layang yang ditawarkan kepadanya oleh penjual layang-layang.


"Bukankah Anda tinggal mendoakan saya dari tempat ini untuk kesehatan hamba?" jawaban itu membuat Eun Sha tak bisa berkata-kata lagi. Terlihat Natsuha ingin mengalihkan pembicaraan dengan bermain layang-layang.


"Pengawal. Temani Ratu untuk beristirahat ditempat yang teduh sambil melihatku memainkan layang-layang ini" perintah Natsuha membuat perasaan Eun Sha bergejolak lagi. Hanya Raja Keito yang mengerti bahwa sang Ratu tidak tahan berdiri terlalu lama diterpa sinar matahari yang sangat terik.