
Anak Perdana Menteri Oh Phil-Su menggandeng sang Putri dengan hati berdebar di sebuah taman. Seakan baru hari inilah ia jatuh cinta pada Gadis disampingnya.
“Jika kau mau, kita bisa pergi nanti malam melihat malam perayaan Chuseok.” Tawar Hyun-Jae meminta persetujuan Ha-Neul Arang.
Apa aku setuju saja? Ini kesempatanku untuk lepas dari genggaman makhluk suci itu, dan mencari jalan untuk pulang.
“Apa kau punya waktu? Aku ingin melihat Joseon dimalam hari bersamamu” jawab Ha-Neul penuh siasat. Malam perayaan Chuseok pun tiba entah kenapa dayang Gu Baek-Na terlalu bersemangat merias Tuan Putri kesayangannya. Ha-Neul sendiri sampai tidak mengenali wajahnya sendiri.
“Baek-Na, sepertinya ini terlalu berlebihan. Kami hanya pergi ke pekan raya.”
“Banyak Gadis pada malam perayaan Chuseok merias diri bahkan berpenampilan seanggun dan secantik mungkin. Kenapa Anda justru ingin terlihat biasa saja? Terlebih lagi Anda akan menghabiskan malam bersama dengan Tuan Muda Hyun-Jae. Menurut hamba penampilan Anda malam ini sangatlah sempurna.” Jawab dayang Gu Baek-Na berapi-api.
“Semangatmu itu, menakutiku. Seolah kau, yang akan pergi dengan Hyun-Jae” tawa Ha-Neul sambil mencubit pipi sang dayang gemas. Seorang dayang lain datang memberi kabar tentang kedatangan sang Tuan Muda.
“Berhati-hatilah Tuan Putri,” senyum dayang Gu Baek-Na ceria.
“Hati-hati? Kenapa?”
“Akan ada banyak Gadis cantik disana. Anda harus benar-benar menggenggam erat tangan Tuan Muda. Jika tidak, kadar ketampanannya bisa menimbulkan masalah untuk Anda. Tepatnya, untuk hati Anda” goda sang dayang makin menjadi. Langkah mereka terhenti melihat siapa orang yang berdiri di taman Istana di malam itu.
Hyun-Jae...
punggung tegap Laki-laki tersebut menyita perhatian Ha-Neul. Detik itu juga, Hyun-Jae berbalik, keduanya saling terpaku satu sama lain. Tidak ada suara lain terdengar kecuali...suara degupan jantung keduanya. Hyun-Jae tersenyum, menatap Ha-Neul dari atas ke bawah, mengagumi betapa cantiknya calon Istrinya itu.
Perayaan hari Chuseok dalam pekan raya sangat ramai dan meriah. Hyun-Jae hanya memerintahkan beberapa pengawal Istana mengawal mereka dari kejauhan dengan sebuah penyamaran. Berhubung ini permintaan khusus dari Ha-Neul sebagai syarat agar mereka dapat merayakan bersama hari Chuseok. Banyak hasil panen yang akan dibagikan secara gratis seperti Torantang, Shindoju, Songpyeon, Hwayangjeok, Galbi Jjim dan lain-lain.
Ha-Neul dan Hyun-Jae terlihat sangat menikmati suasana. Tiba dimana tarian Ganggangsullae akan di mulai, para Perempuan berpakaian Hanbok di malam bulan purnama saling berpegangan tangan, membuat bentuk lingkaran, menyanyi bersama dan Ha-Neul terpaksa ikut menari, saat seorang Gadis menghampiri lalu menariknya untuk menari dan bernyanyi bersama. Hyun-Jae semakin terpesona pada Ha-Neul melihat Gadis itu, tertawa dan menari bersama para Gadis lainnya.
Ha-Neul ingin memanfaatkan momen di mana dirinya terpisahkan dari Hyun-Jae untuk kabur sejauh mungkin. Tapi mata tajam penuh pesona Laki-laki itu terus mengawasi setiap gerak-geriknya alhasil, bukannya kabur dari Laki-laki tersebut Ha-Neul justru tertunduk malu-malu.
Hey, sadarlah Hamari!! Itu pandangan yang di tunjukan bukan untukmu, tapi untuk Putri bernama Ha-Neul. Pekik kata hati Hamari yang makin gugup saja terus diperhatikan Hyun-Jae.
Ingatlah...tujuanmu kemari untuk memenangkan hati Keito. Kau tidak boleh terlena Hamari...seketika ia teringat pada tujuannya. Tapi..., kalau dipikirkan lagi bukankah ini ujian yang janggal? Apa yang harus di lakukan Mari di tempat itu? Kapan batas waktunya? Ah, kenapa sebelum pergi dia tidak bertanya dahulu pada Komainu.
Hamari harus segera keluar dari tempat itu karena dia baru sadar ini adalah jebakan bukan ujian! Semua orang sibuk melakukan aktivitasnya masing-masing setelah tarian Ganggangsullae berakhir. Karena padatnya pengunjung, Hyun-Jae kehilangan jejak Ha-Neul Arang.
Hamari berlari dan berlari tanpa arah. Bagaimana bisa dia merencanakan kabur, tanpa persiapan yang matang? Gadis bodoh itu hanya mengandalkan tekad, tenaga dan kakinya saja. Tapi sampai kapan dia bisa bertahan? Bahkan dia belum tahu bagaimana caranya pulang ke rumah orang tuanya.
“Ha-Neul Arang?” panggil seseorang yang tak sengaja melihat Hamari di depannya langsung. Laki-laki muda itu menyunggingkan senyuman penuh arti. Dia berjalan sambil melipat kedua tangannya ke belakang menghampiri si Gadis cantik.
“Kemana para pengawalmu?” tanyanya lagi sambil melihat ke sekitar.
Kosong...jadi Gadis ini tanpa pengawasan? Batin Laki-laki tersebut sambil memandang intens wajah Hamari. Tanpa ragu Hamari berlari melewati sang Laki-laki yang tak dikenal itu tapi larinya terlalu lambat sehingga sempat Laki-laki bersurai hitam tersebut, menginjak hanbok Hamari yang menjuntai ke tanah alhasil, Hamari jatuh doyong ke belakang. Bintang berkedap kedip di langit...ketika Laki-laki misterius menangkap tubuh mungil sang Putri.
Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, saat keduanya saling berpandangan.
“Ehm, Tuan Putri, sampai kapan Anda akan...seperti ini? Tangan saya...kesemutan” kata Laki-laki itu, merusak suasana. Hamari langsung berusaha berdiri tegap dan membungkuk.
“Maaf dan...terima kasih”
“Sebenarnya tidak masalah jika sepanjang malam kita terus berpose seperti tadi, tapi saya khawatir Tuan Putri masuk angin” goda Laki-laki itu.
Ya Dewa...apa ini? Kenapa banyak godaan di Negeri ini? Keluh Hamari sambil mengerutkan kening terlalu malu.
“Terima kasih sudah mengkhawatirkan calon Istri saya Sarjana Heo Dipyo. Saya rasa itu tidak perlu karena ada saya di sisinya” sahutan seseorang di belakang Hamari terdengar santun tapi sangat tegas. Ha-Neul memucat ketika Hyun-Jae tiba disampingnya.
“Hati-hati. Anda sudah sangat ceroboh membiarkan Putri Ha-Neul berjalan di jalanan ini sendirian. Jalanan ini, ibarat hati manusia Tuan Muda Hyun-Jae. Sekali Anda melepaskannya, maka siapa pun berhak mencoba mencari celah di dalam hatinya.” Sindir Sarjana Heo Dipyo ketika Hyun-Jae menggapai pergelangan tangan Ha-Neul untuk membawanya pergi. Maka Laki-Laki bermanik mata tajam itu menoleh pada sang Pria bersurai hitam.
“Jika jalanan ini adalah hati Ha-Neul..., maka bisa dipastikan akan selalu berakhir pada Hyun-Jae. Itu mengapa sekarang aku dan dia bisa saling bertemu kembali meskipun terpisah. Jangan sampai tersesat dan tidak tahu arah jalan pulang Sarjana Heo” kekeh Hyun-Jae dengan sorotan mata membunuh, membawa calon Istrinya meninggalkan Heo Dipyo. Setelah cukup jauh dari Heo Dipyo berada, Hyun-Jae melepaskan genggamannya tanpa kata.
Apa dia marah? Hamari bodoh!! Kenapa merencanakan kabur jika belum tahu cara pulang ke Jepang!! Maki Mari pada diri sendiri.
“Hyun-Jae..., kau masih marah?” tanya Hamari perlahan-lahan. Laki-laki itu masih saja diam tanpa kata. Hamari yang tidak suka diabaikan itu, akhirnya berusaha menggapai tangan Hyun-Jae tapi, si Tuan Muda justru melipat tangannya ke belakang.
“Kau akan tetap mendiamkan aku sampai pulang ke Istana? Apa kau sengaja ingin mengumumkan pada kedua orang tuaku kalau kita bertengkar?” kali ini Hyun-Jae sempat berhenti berjalan, menoleh pada Hamari tapi bukannya membalas Gadis itu, dia malah kembali berjalan.
“Tu-Tuan Muda....itu...,” bisik salah satu pengawal mencoba memberi tahu sesuatu. Hyun-Jae menoleh pada sang pengawal.
“Tuan Putri tertinggal di belakang” bisik sang pengawal. Laki-laki yang sedang tantrum tersebut berbalik ke arah Hamari. Ia segera berlari menghampiri Gadisnya mencari tahu kenapa sang Putri justru berjongkok di tengah jalan begitu.
“Putri kenapa berdiam diri ditengah jalan seperti ini?” bisik Hyun-Jae penasaran.
“Kau berjalan terlalu cepat aku sudah tidak sanggup lagi. Kakiku sangat pegal, meskipun menyamar seperti ini sangat menyenangkan” jawab Hamari kesal.
“Kalau begitu naik ke punggungku” kata Hyun-Jae sambil berbalik badan.
“Aku tidak akan merepotkan siapa pun tunggulah sampai kakiku membaik” tolak Hamari sedang membalas dendam karena diabaikan.
“Hari semakin larut Tuan Putri. Akan sangat berbahaya bagi Gadis sepertimu”
“Kau lebih memilih bergelantungan di hadapan Laki-laki bernama Heo Dipyo dari pada naik ke punggung calon Suamimu sendiri?” geram Hyun-Jae mulai naik pitam.
Hamari...., apa yang kau lakukan?! Bisa-bisa dia tidak akan mau bicara denganku selama tiga hari berturut-turut. Padahal hanya wajahnya yang membuatku merasa ada di rumah sendiri. Oh, harus bagaimana, harus bagaimana?
“Kau....cemburu karena itu marah? Bukan karena aku tiba-tiba menghilang?” tanpa sadar Hamari langsung saja bicara.
“......” Hyun-Jae malah diam terpaku.
“Apa aku harus menemuinya lagi dan...” Hamari terdiam sejenak tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Entah itu kenyataan atau hanya mimpi. Hyun-Jae tiba-tiba memeluknya erat?
“Jangan temui dia lagi apa pun alasannya. Bagaimanapun juga kau dan dia pernah memiliki hubungan. Aku tidak rela dan tidak sanggup melihat kebersamaan kalian” kata Hyun-Jae yang semakin erat memeluk Hamari.
Apa itu sebabnya kenapa jantungku berdegup kencang saat bertemu dengannya? Tapi bagaimana bisa Ha-Neul mencintai dua orang sekaligus? Batin Hamari mencoba memahami situasi. Hamari hanya sanggup menepuk-nepuk lembut punggung Hyun-Jae.
“Aku tidak mengerti mengapa kau setakut ini. Apa aku terlihat begitu mudah mengubah haluan? Hyun-Jae?”
“Aku takut kehilanganmu. Kau bersamanya karena saling mencintai. Tapi aku dan kau, bersama dengan situasi yang berbeda jadi aku tetap merasa tidak aman” ucapan Hyun-Jae terus terngiang di telinga Hamari sampai ke Istana.
Hamari tak bisa tidur karena penasaran. Diam-diam Hamari pergi ke kediaman dayang Istana.
“Tuan Putri?! Kenapa Anda...”
“Sssst...turunkan nadamu dan jawab saja sejujur mungkin” perintah Hamari sambil meletakkan telunjuk ke mulut.
“Kau tahu tentang hubunganku dengan Hyun-Jae dari awal kami bertemu?” tanya Hamari di jawab anggukan pelan dayang Gu Baek-Na singkat.
“Bagaimana tentang hubunganku dengan Heo Dipyo? Kau tahu sesuatu?” pertanyaan ini membuat Gu Baek-Na memilih menutup mulutnya.
“Aku tidak ingat tentang Heo Dipyo. Aku hanya ingin tahu bagaimana kami berakhir. Itu saja. Baek-Na..., katakan sesuatu” kata Hamari sambil menggenggam tangan dayangnya penuh harapan.
“Sarjana Heo Dipyo adalah kekasih Anda Putri. Sarjana Heo Dipyo dan Putri Ha-Neul saling mencintai tapi Raja Gu Jae-Deok tidak merestui sampai akhirnya Putri Ha-Neul sempat berusaha menenggelamkan diri di danau ingat? Danau saat pertama kali Anda bertanya apakah hamba tidak salah mengenali orang?”
“Jadi waktu itu aku ingin bunuh diri?!” tanya Hamari kaget. Dayang tersebut mengangguk sambil tertunduk.
“Maafkan hamba Putri...bukannya hamba bermaksud untuk tidak mengatakan kebenarannya. Tapi, Raja dan Ratu berkata akan lebih baik Anda melupakan orang itu dan memulai hubungan yang baru begitu beliau berdua tahu Anda hilang ingatan. Jadi hamba tidak berani mengatakan kebenarannya” tangis sang dayang membungkuk serendah-rendahnya memohon ampun.
“Bagaimana hubunganku dengan Hyun-Jae sebelum aku kehilangan ingatanku?” selidik Hamari penasaran.
“Tidak berjalan dengan baik. Setiap akan bertemu, Tuan Putri selalu punya banyak alasan untuk menghindari pertemuan itu”
“Jadi..., hari ini adalah hari pertama kami bertemu?” tanyanya lagi. Pantas saja Hyun-Jae bersikap aneh saat Ha-Neul Arang berada di pelukan Sarjana Heo Dipyo. Karena dia takut Ha-Neul mengingat Laki-laki yang memeluknya itu adalah kekasihnya atau, dia takut Ha-Neul yang hilang ingatan malah jatuh cinta kembali pada Heo Dipyo?
Hamari berjalan menuju ke kediamannya dengan tubuh lunglai.
Di bukanya pintu kamar lalu membenamkan wajahnya di atas peraduan.
“Ini hidupmu Ha-Neul...bukan hidupku. Apa yang harus ku lakukan? Menjalani hidup sebagai dirimu, bersama Hyun-Jae, atau menjalani hidupmu bersama Heo Dipyo? Siapa yang paling kau cintai? Katakan” desis Hamari bimbang.
Pasti ada peninggalan dari Ha-Neul misalnya...buku harian? Hamari langsung mencari-cari keseluruh ruangan tapi tak menemukan apa pun. Matanya tertuju pada...gambar lukisan taman Istana. Kolam ikan? Bagaimana kalau dia kesana? Hamari bergegas menuju taman Istana di temani sebuah lampu minyak. Ia mencari siapa tahu ada petunjuk. Kakinya menyenggol semacam batu di bagian bawah tanaman menjalar. Hamari mencoba mencari dimana batu itu bersembunyi.
Batu ini warnanya sangat berbeda dari batu yang lainnya. Di angkatnya batu itu dan menemukan suatu benda, yang terbungkus rapi dengan kain pembungkus. Hamari membuka dan merasakan itu sebuah gulungan kertas. Diselipkannya dibalik baju kebesarannya lalu bergegas masuk ke dalam kediamannya.
Bagaimana bisa seorang Ayah memaksa Puterinya sendiri menikah dengan Laki-laki yang tak dicintainya? Lebih baik aku menghilang saja dari dunia ini. Tulis Ha-Neul putus asa. Hamari membuka gulungan kertas lainnya.
Ku dengar, Hyun-Jae sudah memiliki seorang kekasih. Tapi kenapa dia malah tetap ingin meneruskan rencana pernikahan kami?
Sekarang aku tahu. Kekasih Hyun-Jae meninggalkan Hyun-Jae karena jatuh hati pada Heo Dipyo. Mengetahui hal itu, Hyun-Jae langsung menerima rencana pernikahan kami tanpa berpikir panjang. Heo Dipyo...kau mengkhianatiku?!
Pagi ini Heo Dipyo menghadangku dijalan. Dia berkata jika Hong Ara, yang mengejar-ngejarnya. Ini muslihat Ayahanda, agar aku merasa dikhianati olehnya dan segera menerima pernikahan itu. Siapa yang bisa ku percaya? Ayahanda dan Hyun-Jae, atau Heo Dipyo? Artinya, Ha-Neul tidak benar-benar bunuh diri. Jika iya, tidak akan ada tulisan berikutnya bukan? Hanya itu yang bisa diketahui Hamari tentang Putri Ha-Neul.
“Ini tidak menjelaskan kemana arahnya hati Putri Ha-Neul. Justru aku semakin pusing dibuatnya” gerutu Hamari sambil membungkus kembali gulungan buku harian sang Putri Joseon.
Bletak!!
Terdengar suara kerikil di lemparkan tepat ke jendela kamar Ha-Neul. Spontan Gadis itu segera membuka jendela.
Deg!!
Seorang Laki-laki berpakaian serba hitam, memakai cadar memeluknya tiba-tiba. Hamari berusaha melawan tapi orang itu memeluknya jauh lebih dalam.
“Kau tidak mengenaliku?” mata Hamari terbelalak mendengar suara yang sangat akrab di telinga Ha-Neul. Laki-laki itu segera membuka penutup wajahnya dan tersenyum penuh kerinduan pada Ha-Neul.
“Kau menerobos masuk tanpa diketahui siapa pun?!” seru Ha-Neul sambil menjauhkan diri dari Laki-laki dihadapannya.
“Kita sudah sering bertemu seperti ini Ha-Neul. Apa kau melupakan kebiasaan kita secepat itu hanya karena Laki-laki pengganggu hubungan kita? Kau secepat ini menerima keberadaannya?!” marah Heo Dipyo menarik tubuh Ha-Neul sedekat mungkin dengannya.