
Tak sekalipun ia membuka cadar atau melepaskan capingnya sama sekali. Tak ada yang boleh melihat wajah Seonsang Yun meski dalam ruangan privasi pun.
“Resimen Jinsae sebagian kecil akan di bawa ke kediaman Tuan Beom Ho. Untuk meminta kembali stempel Istana yang mereka curi dari Istana. Lalu..., di kediaman Menteri Natsuha, akan datang bala tentara Goldeun deulaegon untuk menjadikannya saingan bagi calon Raja masa depan Hwan Chin”.
“Kapan itu tepatnya?”
“besok siang Nona”
“Kenapa kau terlihat sedang menyembunyikan sesuatu Jag-eun? Ada hal lain belum kau utarakan padaku? Apa itu?” Seonsang Yun menatap penuh selidik pada Jag-eun. Gisaeng cantik itu tampak makin gelisah saja.
“Nona....” jawab Jag-eun ragu-ragu. Haruskah ia katakan kebenarannya?
“Pasukan bulg-eun dal ada dibalik tragedi kematian Tuan Suk Chin dan...Nyonya Seo Hee”
“Bukankah ini ulah Perdana Menteri Kwon Jae He?” tanya Gadis dihadapan Jag-eun dingin.
“Saya hanya mendapatkan informasi pendiri bulg-eun dal memang adalah Kwon Jae He tapi mereka hanya mau bergerak atas satu perintah seseorang”
“Aku ingin membalaskan dendamku suatu saat nanti Jag-eun, katakan siapa yang memerintahkan mereka membunuh Ayahandaku” kini mata yang awalnya jernih berubah menjadi berkaca-kaca.
“Mereka....bergerak...atas perintah Perdana Menteri Suk Chin sendiri”
Deg!!
Mana mungkin seseorang merancang akhir hidupnya sendiri? Jika benar kenapa Ayahanda memerintahkan anak buahnya untuk membunuh dirinya sendiri? Ada hal yang ganjil.
“Nona...” suara Jag-eun memecahkan keheningan di antara mereka berdua.
“Artinya ada sesuatu yang menyebabkan Ayah terpaksa melakukan hal itu. Jag-eun. Katakan bahwa Heo Dipyo menyuap seorang penjaga penjara untuk datang kemari dan tiba-tiba membuat onar karena dalam pengaruh arak. Katakan ia sangat ingin membunuh Hyun-Jae karena menghasut Ratu agar tidak berpihak pada dirinya.” Kata Seonsang Yun mencengkeram lembut kedua bahu Jag-eun.
“Kenapa harus Heo Dipyo? Bukankah dia kekasih nona?”
“hanya ini satu-satunya cara agar aku tahu kenapa Ayah nekat mengakhiri hidupnya. Ya, hanya Heo Dipyo kunciku untuk mendapatkan jawaban” lirih Seonsang Yun sendu.
Sementara di dalam ruang kerja sang Ratu, diam-diam ratu memanggil Kim Yeon-Seok datang ke sana, berhubung ia tak bisa tidur karena ulah Hyun-Jae yang menyebalkan sekaligus sedikit...manis.
“Yang Mulia memanggil hamba?” tanya Yeon-Seok diambang pintu.
“Masuklah. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku” jawab Ratu dan ketika Yeon-Seok menutup pintunya, para Pengawal dan Dayang saling melirik.
“Apa ini tentang permainan catur yang tertunda?” bisik seorang Dayang kepada Dayang lainnya.
“Ya Dewa kasihanilah Tuan Yeon-Seok....pasti dia baru akan keluar di pagi hari, dengan sangat lesu” jawab dayang lain sambil terkekeh.
“Ratu yang sekarang tidak akan melepaskan siapa pun yang membuatnya tidak puas dengan suatu hal. Contohnya, Panglima Hyun-Jae.” Bisik sang Pengawal ikut bergosip.
Di dalam ruang kerja Ratu, Kim Yeon-Seok menatap wajah Ratu penuh tanda tanya.
“Ini sudah larut malam kenapa kau tidak mimpi indah saja?” sebenarnya Yeon-Seok lega berada di dalam sini karena tidak perlu berpura-pura menjadi Adik dari Hyun-Jae.
“Kotoko dan seluruh orang kepercayaanku sedang bergerak malam ini. Bagaimana aku bisa tidur nyenyak.”
“Kau tidak akan memanggilku hanya karena itu” kekeh Hiroshi mengambil hiasan batu Giok mungil berbentuk kura-kura di atas meja kerja Ratu. Hiroshi nampak melempar keatas lalu menangkap Giok kura-kura itu berulang kali.
“Ajarkan aku ilmu pedang Hiroshi. Jika terjadi sesuatu padaku, dan tidak ada siapa pun disekitarku suatu saat nanti, kemampuan baruku pasti sangat berguna kan?” pinta Hamari berkobar-kobar.
“Ayahanda, dan Hyun-Jae pasti akan sangat marah besar kalau tahu aku yang mengajarimu” celoteh Hiroshi meletakkan kembali Giok kura-kura berbalik, bersiap meninggalkan Hamari.
“Jadi lebih baik aku dan Kotoko terluka, agar kau terhindar dari amukan mereka berdua?” protes Hamari sukses menghentikan keinginan Hiroshi pergi.
“Siapa yang berani melukai seorang Ratu? Begitu banyaknya orang yang menjagamu Hamari”
“Lalu Kotoko? Dia hanya memiliki Heo Dipyo. Ini permintaan pertamaku sebagai Kakakmu Hiroshi. Aku tahu kau bisa melindungi kami tapi situasi tidak akan selalu sama. Bagaimana jika suatu saat kami sangat terdesak? Nyawa kami diujung tanduk, sementara kalian terlambat datang? Aku mohon. Latihlah kami Hiroshi”
“Latihan ini sangat berat. Dan jika kau tidak ingin Kakak palsuku mengetahui kau berlatih ilmu pedang, maka solusinya Kau dan Kotoko harus berlatih sepanjang malam. Apa kalian sanggup melakukannya setiap hari?” Hiroshi memberi penawaran serius.
“Tidak ada pilihan lain” kata Hamari mengangkat kedua bahunya.
“Yang Mulia Seonsang Yun ingin bertemu. Maaf mengganggu. Kata beliau ada urusan darurat” kata Pengawal, dibalik pintu.
“Biarkan dia masuk”
Muncullah Kotoko dengan caping bercadarnya. Ia berlari kearah sang Ratu menceritakan segalanya. Ia pun sudah mengatakan informasi apa saja yang ia dapatkan dari para Gisaeng di Gibang kepada Resimen Baehwa dan Laskar Mugunghwa.
“Kapan dua pemimpin pasukan khususku datang untuk memberi tahu rencana selanjutnya?” tanya Hamari sambil memperhatikan pintu ruang kerjanya berharap Hyun-Jae dan Heo Dipyo menyusul Kotoko kemari.
“Mereka tidak ingin mengganggumu beristirahat. Jadi mereka memutuskan untuk datang kemari ketika fajar mulai terbit” jawab Kotoko.
“Kalau begitu. Latihan kalian harus segera di mulai. Tidak bisa ditunda lagi. Kalian diam disini aku akan segera kembali” potong Hiroshi mulai menampakkan kecemasan di wajahnya.
“Aku ingin kita mulai di kediamanku saja. Datanglah kesana” tegas Ratu menggenggam pergelangan tangan Hiroshi bersungguh-sungguh. Hiroshi hanya mengangguk setuju lalu pergi sementara Hamari dan Kotoko bersama para Dayang menuju kediamannya.
“Istirahatlah kalian semua. Aku akan meminta Seonsang Yun bermalam disini.”
“Ya Yang Mulia” sambut para Dayang lalu menghormat bergegas menuju kediaman para Dayang Istana.
Hamari menggandeng Kotoko masuk ke dalam kediamannya lalu mengunci pintunya meski ada penjagaan di luar pintu kediamannya. Mereka segera duduk di ruang tamu. Suara seseorang melempari jendela ruang tamunya dengan kerikil terdengar. Hamari memberi kode agar Kotoko tetap duduk manis di sana sementara dia memeriksa siapa pelakunya.
Hamari membuka jendela dan melihat Hiroshi bersembunyi di balik pohon. Hampir saja ia berteriak kaget mengira itu penampakan hantu. Setelah Hiroshi menerobos masuk melalui jendela, Hamari langsung menutup jendela ruang tamunya.
“Apa yang kalian harapkan? Langsung menggenggam pedang? Itu tidak akan kuizinkan. Demi menggenggam pedang, kalian harus menguasai tiga teknik dasarnya terlebih dahulu. Jadi jangan banyak protes. Ikuti saja perintahku atau tidak kita lakukan sama sekali” tegas Hiroshi sok berkuasa.
Hiroshi menguasai Kendo dan sekarang kemampuannya akan ditularkan pada kedua saudaranya. Dalam Kendo, ada teknik yang kita kenal dengan sebutan Men di mana ini adalah suatu bentuk gerakan menyerang. Serangan Men menargetkan kepala lawan, jadi serangan dilakukan untuk menyerang bagian kepala lawan dengan mengangkat pedang sampai melalui kepala lawan atau tepat di atasnya.
Di lanjutkan dengan mengayunkan sampai kena sasaran. Men adalah teknik serangan yang paling dasar dan seluruh praktisi sebaiknya mempelajari dan menguasai teknik ini di awal. Praktisi Kendo disebut juga dengan Kendoka dan bila masih pemula, maka teknik ini adalah salah satu yang akan dilatih supaya bisa memperlancar serangan. Arah serangan adalah ke bagian pelipis lawan entah itu bagian kanan atau kiri yang juga cukup efektif.
“Siapa dulu ingin mencoba?” tanya Hiroshi mengarahkan jemari kakinya di bawah sebuah tongkat, mengentakkannya ke atas, hingga kayu tersebut terbang melayang lalu dengan tangkas menangkap dengan tangan kanannya. Hamari dan Kotoko saling memandang.
“Oh, bukankah Yang Mulia Ratu Seonha yang paling bersemangat? Apa Anda takut sekarang?” ejek Hiroshi terkekeh melihat wajah Hamari mulai memucat. Mendengar tantangan dan ejekan Hiroshi, jelas Hamari lebih memilih maju. Ia mengambil tongkat yang satunya, mengacungkan tongkat ke arah Hiroshi.
“Targetmu adalah kepala musuh. Kau akan mendapatkan nilai tambahan jika bisa menyerang pelipis lawan.”
“Itu terdengar sangat berbahaya. Tidak bisakah menyerang yang lain? Bagaimana kalau kepalamu bocor karena ku” protes Hamari cemas.
“Apa yang kau pikirkan? Aku sekarang pelatihmu. Memang aku akan dengan mudah menyerahkan kepalaku padamu untuk kau pukul? Ingat baik-baik"
"Dalam pertempuran keraguan adalah pintu menuju kekalahan. Jadi siapa pun lawanmu, kau hanya harus berpikir dua hal saja. Melumpuhkannya, atau membunuh. Kau tidak akan berguna dalam pertempuran kalau bersikap seperti tadi.” Hiroshi menajamkan pandangan matanya lalu bersiap.
“Serang dari arah mana saja. Ingat titik seranganmu adalah kepala musuhmu. Kau akan segera melumpuhkannya jika berhasil melukai pelipisnya” instruksi Hiroshi menggerakkan Hamari.
“Demi melindungi orang-orangku” gumam Hamari lalu berusaha memukul ubun-ubun Hiroshi. Anak itu merendahkan tubuhnya ke bawah, meliuk ke kiri, dan menepis tongkat kayu Hamari dengan tongkatnya dari arah bawah.
“Ingat jangan menyerang lainnya. Kau hanya perlu memukul kepalaku” kekeh Hiroshi melihat keterkejutan Hamari saat menyaksikan kelihaiannya dalam berkelit. Hamari memukulkan ke bagian leher tapi Hiroshi, menangkap tongkat kayu Hamari dengan tangan kanannya.
“Sudah ku katakan kepala. Bukan lainnya” tegas Hiroshi geram sambil melepaskan tongkat kayu Hamari.
“Leher bagian dari kepala Hiroshi Ck”
“Ubun-ubun, kepala belakang, pelipis, dahi, dan seluruh wajah adalah bagian dari kepala sebenarnya Hamari. Kau menyerang orang yang ahli dengan matamu yang mudah ditebak?!” Tegur Hiroshi menggelengkan kepala.
“Kau...membaca kemana mataku mengarah?! Itu curang!!”
“Hahaha itu bagian kecerdasan manusia sayangku, buat gerakanmu tak mudah di baca musuh. Tingkatkan kewaspadaanmu” instruksi Hiroshi membuat semangat bertarung Hamari kembali berapi-api.
Hamari akan menyodokkan tongkatnya tepat ke arah pelipis Hiroshi. Lagi-lagi Hiroshi menepis tongkat itu dengan siku tangannya, dan mengarahkan tongkatnya sendiri ke pelipis Hamari. Gadis itu melebarkan mata terkejut mendapati tongkat kayu Hiroshi tak kurang dua centi dari pelipisnya berada.
Pletak!!
Suara tongkat Hamari yang jatuh ke lantai setelah sempat melayang diudara.
“Seranganmu terlalu lemah. Jika kau begitu terus, kau yang akan mati duluan” kata Hiroshi
“Apa kau hanya akan menjadi penonton Kotoko? Kau adalah target paling sering diincar. Kemarilah. Gantikan posisi Hamari” perintah Hiroshi. Hamari dan Kotoko terus bergantian berlatih dengan Hiroshi sampai hampir tiba waktunya fajar terbit. Kotoko dan Hiroshi mengendap keluar dari jendela kediaman Ratu Seonha menuju tempatnya masing-masing.
Ketika fajar benar-benar mulai menampakkan wujudnya, Ratu Seonha bergegas menuju ruang kerjanya. Tepat di depan pintu ruang kerja, Ratu telah melihat dua sosok manusia yang telah ia tunggu-tunggu kedatangannya.
“Masuk sekarang” tegas Ratu Seonha pada Hyun-Jae dan Heo Dipyo sebelum berjalan memasuki ruang kerjanya.
“Yang Mulia. Kenapa hari ini Anda terlihat kuyu? Apa Anda sakit?” pertanyaan Hyun-Jae tak dihiraukannya.
“Katakan apa rencana kalian setelah mendapat informasi akurat dari Seonsang Yun? Dan kenapa kalian menunda pertemuan kita, di masa genting seperti ini?!” bentak Ratu Seonha marah.
“Kami hanya...”
“Tak peduli aku sedang apa, tapi jika ada hal yang sangat penting untuk dibicarakan bersama, seharusnya kalian jangan menundanya. Apa kalian akan menunda jika aku ini Raja? Bukan seorang Ratu?!” sang Ratu terus berbicara, sampai-sampai memotong jawaban dari Heo Dipyo.
“Waktu kami tidak banyak untuk mendengar omelan Anda Yang Mulia jadi tolong, dengarkan kami” sahut Hyun-Jae menggebrak meja Ratu, sambil menatap tajam kedua mata lentik sang Ratu. Ya ampun..., di saat sedekat ini, jantung keduanya mulai berdegup kencang. Mereka sedang memikirkan kejadian manis semalam.
“Tegakkan badanmu Panglima! Katakan apa rencana kalian. Sekarang!” inilah reaksi gugup sang Ratu yang sudah dua kali tertangkap mata sang Panglima Utama Baehwa.
Hyun-Jae menoleh pada Heo Dipyo yang sedari tadi memperhatikan pandangan tak biasa dari dua anak manusia dihadapannya. Heo Dipyo berdehem berusaha melawan rasa canggungnya di depan pasangan gagal menikah itu. Ia membentangkan sebuah peta.
“Mereka akan membagi pasukan bukan? Ke kediaman Tuan Beom Ho, dan Ke kediaman hamba” jawab Heo Dipyo, menunjuk daerah yang sudah di beri tanda lingkaran merah.
“Tapi untuk apa mereka ke kediaman hamba? Mereka tahu bahwa hamba di tahan dari kemarin dan baru akan di bebaskan siang hari ini.” Pertanyaan Heo Dipyo masuk akal.
“Maksudmu ini informasi palsu?” bisik Ratu lebih merapat ke meja.
“Tidak. Salah satu anak buah hamba sudah melihat memang ada aktivitas mencurigakan di kediaman hamba. Bahkan sebelum informasi dari Seonsang Yun sampai kepada kami” jawab Heo Dipyo geram.
“Tujuan Kwon Jae He adalah agar Ratu beranggapan bahwa Heo Dipyo, ada dibalik kegemparan yang sebentar lagi akan diciptakannya. Dengan tuduhan, menciptakan pasukan rahasia untuk melenyapkan Tuan Beom Ho dan Putranya"
"Di sisi lain, dia akan memaksa Beom Ho menyerahkan stempel Istana. Lalu dengan stempel itu, Kwon Jae He akan menjadikan momen itu berubah menjadi drama perebutan kekuasaan antara Tuan Beom Ho beserta Putranya dengan Heo Dipyo. jika sampai beliau tahu stempel Istana sudah ada ditangan Ratu, mungkin dia akan menciptakan siasat baru.” Hyun-Jae mengutarakan dugaan sementara.
“Berarti Heo dalam posisi terpojok. Aku sempat berbicara dengan Seonsang Yun mengenai pasukan khusus bulg-eun dal. Apa kalian pernah mendengar nama itu?” pertanyaan Ratu dijawab gelengan keduanya.
“Katanya, itu pasukan pembunuh profesional yang dimiliki Kwon Jae He tapi, ternyata mereka memiliki sumpah setia terhadap mendiang Perdana Menteri Suk Chin"
"Bahkan di hari kematian Menteri Suk Chin, dapat di pastikan bahwa pasukan bulg-eun dal yang menciptakan skenario kematiannya atas perintah Menteri Suk Chin itu sendiri. Tapi eksekusinya, dilakukan oleh resimen Jinsae” Kata Ratu sambil menyodorkan kepingan perak cenderamata pemberian Menteri Suk Chin.
Mata Heo Dipyo tertuju pada gambar kepingan perak. Ia buru-buru mengambil benda itu. Diperhatikan dengan seksama gambar di setiap sisi yang berbeda. Heo Dipyo jatuh tersungkur. Pria itu tak kuasa menahan air matanya.
------------------------------------------------------------------------
Hallo pembaca kesayanganku, mohon maaf mulai minggu depan akan update Lambat berhubung mulai besok tiap mau up kudu nyari WIFI. 😓 tapi tenang...sekali up, diusahakan dua episode langsung. Please...jangan timpukin akikaaaah...