Aitai

Aitai
Kejutan



Raja tertegun mendengar apa yang dikatakan Eun Sha jika Selir Myonhwa dengan tiba-tiba berniat menyerahkan Putri mereka kepada Eun Sha, maka...itu artinya Selir Myonhwa tahu, hidupnya tidak akan lama lagi. Siapa yang menginginkan kematian Selir Myonhwa? Apa keuntungan dari membunuhnya?


Yang Mulia, tapi hamba telah disumpah oleh Ratu sebelum menjadi Selir. Hamba tidak boleh menyentuh Anda seujung kuku pun...terngiang kalimat yang diutarakan sang Selir Myonhwa di telinga Raja.


Ampun Yang Mulia...Selir Myonhwa...beliau...telah melahirkan seorang Putri yang cantik hamba pikir, Anda juga harus tahu kabar bahagia ini suara sang Dayang Istana terngiang pula di telinga Raja.


Selir Myonhwa meminta hamba untuk merawat bayinya saat beliau tidak lagi berada di sisi Putri Kotoko kini terngiang suara Eun Sha. Kenapa semua hal yang terngiang di pikiran Raja terasa saling berhubungan?


"Pengawal!!" teriak Raja Keito tiba-tiba membuat perhatian Eun Sha tertuju pada Raja. Terlihat seorang Pengawal berjalan ke arah Raja seraya menghormat.


"Perbanyak penjagaan di kediaman Calon Selir Eun Sha. Lalu, beri tahu kepada Pemuka Agama, pernikahan sekaligus penobatan Selir Eun Sha harus segera dilaksanakan" kata Raja. Setelah sang pengawal keluar Eun Sha melangkah ke arah Raja bersimpuh dihadapannya, sambil menengadah menatap wajah Raja yang panik sekaligus sendu.


"Tidakkah ini terlalu cepat Baginda? Ada apa? Kenapa Anda memutuskan secepat ini? Sadarkah Anda, Selir Myonhwa baru saja meninggalkan dunia ini?" tanya Eun Sha tidak mengerti jalan pikiran sang Raja. Beliau hanya menatap Eun Sha sejenak lalu memeluk Gadis itu dengan erat.


"Akan ku pastikan tidak akan ada lagi yang meninggalkanku setelah ini. Tidak akan" kata Raja sekaligus berjanji pada diri sendiri.


"Yang Mulia...apa yang terjadi? Kenapa Anda begini? Jangan membuat hamba bingung" Tanya Eun Sha lagi mengkahwatirkan Rajanya.


"Ada yang sengaja membunuhnya karena aku menyentuhnya. Juga hanya karena dia, memberiku seorang Putri" kata Raja mengguncang kedua bahu Eun Sha. Gadis tersebut membelalakkan mata lebar-lebar mendengar itu.


"Secara tidak langsung, ini ada sangkut pautnya dengan Sang Ratu" kata Raja geram.


"Apa Anda punya buktinya Yang Mulia?!" bentak Ratu di ambang pintu kediaman Selir Myonhwa. Melihat kedatangan Ratu, Eun Sha segera bangkit dari bersimpuh lalu menghormat.


"Yang Mulia, hamba mohon diri" pamit Eun Sha bersiap pergi tapi Raja justru menarik lengan Eun Sha menjauh dari Sang Ratu.


"Istri Anda ingin membicarakan hal yang sangat pribadi haruskah dia ada di sini mendengarkan semuanya?!" marah Ratu murka.


"Katakan saja Ratu" jawab Raja justru kini malah menggenggam erat telapak tangan Eun Sha.


"Selir Anda, baru saja meninggal Yang Mulia!! Secepat itukah Anda menggantikannya?" marah Ratu kesal.


"Aku tidak berniat menggantikan, aku malah ingin menambah. Tapi sekarang justru berkurang karena ada yang membunuh salah satu Selirku" jawab Raja enteng.


"Anda mengatakan itu kepada hamba seolah Anda memiliki bukti Yang Mulia. Adakah buktinya?" tantang Sang Ratu.


"Apa kau berniat menghancurkan bukti itu, bila memang ada? Ratuku?"


"Apa seburuk itu aku di matamu Raja? Aku yang mendampingimu terlebih dahulu sebelum para Selir masuk dalam kehidupanmu "


"Keluarlah Ratu, kau harus merawat anak kita dengan baik"


"Baiklah Yang Mulia. Kau ingat baik-baik apa kata-kataku sebelum anak kita terlahir ke dunia bukan? Akan ku pastikan itu akan benar terjadi" kata Ratu langsung beranjak pergi. Eun Sha duduk di samping Raja sambil melihat pemandangan taman Istana setelah upacara penobatan Eun Sha sebagai seorang Selir telah dilaksanakan.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Raja menatap serius ke arah Eun Sha.


"Anda tidak ingin menemui Putri Mari, Yang Mulia?"


"Aku sedang malas bertemu dengan Hahanya"


"Putri Mari, juga Putri Anda Yang Mulia jangan menghukumnya karena sedang marah pada Hahanya itu tidaklah adil" nasihat Eun Sha sedih. Raja terdiam sejenak memikirkan apa yang dikatakan Eun Sha.


"Tidak sekarang. Karena saat ini, aku hanya ingin bersamamu" kata Raja sambil menatap Eun Sha lembut.


"Dayang Hannari ingin menghadap" kata pengawal. Raja berdecak kesal karena merasa kebersamaannya dengan Eun Sha terganggu.


"Masuklah” kata Raja geram. Dayang Hannari datang memberi penghormatan sambil membawa bayi Mari.


"Apa lagi sekarang?"


"Ratu berkata, sedang tidak enak badan sehingga ingin menitipkan Putri Mari pada Selir Eun Sha" jawab sang dayang. Eun Sha segera menerima bayi Mari dan memerintahkan sang Dayang kembali ke kediaman Ratu.


"Kenapa kau, mau menerimanya? Ratu hanya mencari cara untuk mengganggu kita di sini. Dia tidak benar-benar sakit" protes Raja kesal.


"Yang Mulia...pergilah ke tempat Ratu. Beliau jauh lebih membutuhkan Anda sekarang" kata Eun Sha mengusap bahu Raja.


"Lain waktu dia akan menggunakan cara lain untuk memisahkan kita"


"Datanglah pada Ratu, bersikaplah lembut...agar beliau juga melunak terhadap Anda Yang Mulia..." balas Eun Sha memohon. Raja hanya menghela nafas lalu berdiri mengecup kening Eun Sha lalu pergi ke kediaman Ratu.


Raja memasuki kediaman Ratu sambil menggendong bayi Mari memperhatikan sang Ratu yang melamun memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong.


"Haha, kau lebih memilih melamun dari pada mengasuh Putri kita?" tanya Raja berusaha melembut seperti perintah Eun Sha.


"Yang Mulia...kapan datang?"


"Baru saja. Katakan apa yang membuat kepalamu pusing malam ini?"


"Keputusan Anda menjadikan seorang Penari Istana sebagai seorang Selir"


"Penari Istana yang mana? Jeajangna, atau Eun Sha?"


"Yang Mulia!! Anda tahu siapa yang saya maksud" jawab Ratu ketus.


"Kalau itu tentang statusmu di Istana, tidak akan berubah. Selama kau tidak berusaha menjauhkanku dari Eun Sha. Tapi sedikit saja kau usik hubungan kami, kau akan mendapatkan pencabutan jabatanmu sebagai Ratu" tegas Raja.


"Anda kemari hanya untuk itu Yang Mulia?! Tidakkah Anda merasa akhir-akhir ini sikap Anda terhadap hamba terlalu keras? Semenjak ada dia, Anda mulai tidak adil terhadap hamba" marah Ratu.


Yang Mulia...pergilah ke tempat Ratu. Beliau lebih membutuhkan Anda sekarang suara Eun Sha berdengung di telinga Raja.


"Kecemburuan berlebihanmulah yang membuatku menjauh darimu Ratu. Jangan salahkan orang lain untuk kesalahan yang kau perbuat"


"Bisakah Anda hanya melihat ke arah hamba saja? Bisakah Anda tidak memperdulikan siapa pun kecuali hamba?" pertanyaan sang Ratu membuat Raja terdiam sejenak memikirkan apa yang diutarakan sang Ratu. Benarkah selama ini dirinya sebagai Suami tidak memperhatikan Ratu, sebagai Istrinya?


Selir Eun Sha menggendong bayi Kotoko penuh kasih seolah dirinyalah Ibu kandung sang Putri. Eun Sha mulai memiliki pikiran jahil membangunkan sang Putri yang sedari tadi hanya tidur saja. Di goyang-goyangkannya hidung mungil itu dengan telunjuk.


"Owh, owww " suara khas bayi itu keluar dari bibir mungil bayi Kotoko. Sang Putri bangun, menggenggam telunjuk sang Ibu asuh lalu meletakkannya di pipi mungilnya. Ia menggeliat sangat menggemaskan lalu tertidur kembali.


Si kecil Kotoko genggamannya begitu kuat tapi saat ia mulai benar-benar tidur, genggaman tangan mungil itu mulai mengendur perlahan.


"Hormat hamba Selir Eun sha..." panggil Dayang Hikari ketika Eun Sha menidurkan sang Putri Kotoko ke tempat peraduan.


"Hikari," sambut Eun Sha dengan senyuman ramah. Dayang itu menatap sendu sang Selir.


"Kenapa Anda...begitu saja mau mengalah pada Ratu. Padahal Anda tahu, Ratu hanya ingin mencari perhatian Raja saja" keluh sang Dayang.


"Setiap Istri yang sedang cemburu akan mencari cara demi mendapatkan perhatian Suaminya. Apa yang salah? Itu hal yang sangat wajar" Jawab Eun Sha penuh pengertian.


"Hamba hanya ingin mengingatkan Selir, bahwa hal seperti ini bisa memperburuk hubungan Anda dan Raja"


"Raja tidak akan melakukan ketidak adilan bagiku. Aku mempercayai beliau lebih dari diriku sendiri. Seseorang telah menunjukkan padaku, betapa besarnya pengorbanan Raja padanya, tapi karena kebodohan Gadis itu, Raja menjadi menderita selama ini. Bahkan rasanya...aku ingin menghapus semua penderitaannya" kata Eun Sha tulus. Tiba-tiba seseorang memeluk Eun Sha penuh kasih.


"Apa kau sungguh-sungguh?" tanya Raja di telinga Eun Sha. Gadis itu tersenyum malu-malu ketika Raja membalikkan tubuhnya hingga kedua mata mereka bertemu pandang.


"Menurut Anda Yang Mulia?" tanya Eun Sha menunduk.


"Dayang Hikari, kau boleh keluar. Jangan lupa bawalah Kotoko bersamamu. Kami ingin melewatkan malam bersama" kata Raja membuat Hikari tersenyum bahagia. Setelah Dayang Hikari pergi, Eun Sha malah merasa sangat gelisah.


"Apa Anda gagal berbaikan dengan Ratu?" tanya Eun Sha menyelidiki.


"Kau tahu, Ratu marah padaku"


"Memang apa yang Anda lakukan sehingga Ratu marah?"


"Aku lelah untuk membicarakannya...bisakah kita...melakukan hal yang menyenangkan saja sekarang?" kata Raja merajuk kembali memeluk Eun Sha.


Di luar, Ratu menatap penuh amarah ketika melihat betapa bahagianya hubungan antara Raja dan Selir barunya. Bayangan keduanya menunjukkan mereka saling berpelukan, dan lampu itu pun meredup. Mainan bayi Mari yang dibawanya hancur karena diremas kuat-kuat lalu di lemparkan ke jalanan begitu saja.


Ratu berjalan penuh amarah membawa sejuta dendam membara dalam hati. Dahulu, sebelum dirinya menjadi Ratu, saingannya adalah Jeajangna dan sekarang, saingannya adalah Eun Sha. Kenapa? Kenapa Raja selalu saja menghubungkan antara Eun Sha dan Jeajangna? Kenapa Raja tidak mencoba untuk mencintainya? Dia malah mengacuhkan Ratu begitu saja demi sang Selir!!


"Miho!! Panggil Menteri Natsuha sekarang!!" teriak Ratu geram dalam perjalanan menuju kediamannya. Sang Dayang Miho pun lari tergopoh-gopoh setelah memberi hormat pada Ratu menuju kediaman Sang Menteri. Sementara Ratu telah masuk ke dalam kediamannya, mengacak-acak semua benda yang dapat ia jangkau dengan mudah.


"Akan ku pastikan kalian tidak akan dapat bersama kembali!! Hanya Ratu yang berhak atas Raja!! Tidak ada yang boleh mengambil Raja dariku!!" teriak Ratu dengan wajah merah padam.


"Oweeeeek oweeek" tangisan Putri Mari terdengar kaget mendengar suara benda berjatuhan sekaligus teriakan Ibunya. Ratu perlahan berjalan menuju ke arah sang Putri.


"Aku melahirkanmu, untuk dapat mempersatukan aku dengan Raja. Lalu, apa gunanya kau, sekarang untukku?" gumam Ratu di sela isak tangisnya dan tangisan bayi Mari.


Dua minggu kemudian...terjadi ke kacauan di kediaman Selir Eun Sha. Selir sama sekali tidak ingin keluar dari kamar meskipun telah berulang kali dibujuk rayu Dayang Hikari. Lebih mengkahwatirkan lagi Selir Eun Sha tak kunjung berhenti menangis. Terlihat Raja Keito berlari-lari kecil menyusuri taman Istana menuju kediaman Selir Eun Sha.


"Ada masalah apa kau meminta tolong Dayang Nam memanggilku ke mari? Apa yang terjadi pada Selir Eun Sha?"


"Ampuni hamba Raja...hamba sangat kebingungan dengan sikap Selir dua hari ini. Beliau menangis seharian di dalam kamar tidak mau keluar sama sekali" sahut dayang Hikari putus asa. Raja segera masuk ke dalam kediaman Selir Eun Sha lalu mengetuk pintu kamarnya.


"Eun Sha, kau di dalam? Tidak kah kau ingin menemuiku?" tanya Raja halus. Tak lama kemudian Eun Sha membukakan pintu kamar dan kembali ke peraduannya masih menangis pilu.


"Apa yang membuatmu menangis?" tanya Raja sambil duduk di peraduan sang Selir memperhatikan wajah Eun Sha lekat-lekat.


"Kotoko..." jawab Selir Eun Sha terisak-isak membuat Raja mengerutkan kening. Baru saja ia melihat Kotoko baik-baik saja dalam gendongan dayang Hikari.


"Kotoko? Ada apa dengan anak kita itu hmm?" tanya Raja mendekat kearah Istrinya sambil mengangkat dagu Eun Sha perlahan.


"Yang Mulia!! Anda memakai pewangi apa? Kenapa baunya harum sekali?! Menjauh!! Hamba tidak suka dengan baunya" marah Eun Sha menghindari Raja sambil menutup hidungnya.


"Tidak, aku baru saja mandi"


"Jangan mendekat!! Anda terlalu wangi!!" bentak Eun Sha menahan muntah.


"Apa? Kenapa kau? Apa kau sakit? Bahkan kau berani membentakku sekarang. Dayang Hikari!!" panggil Raja panik.


"Hamba Yang Mulia" jawab Hikari buru-buru datang.


"Panggilkan Tabib Istana sekarang juga cepat!!" perintah Raja bingung apa yang harus dilakukannya. Raja akhirnya mundur menjauhi Eun Sha. Beliau kaget mendengar Eun Sha untuk pertama kalinya membentak Rajanya.


"Jadi, apa yang terjadi pada Kotoko kita?" tanya Raja lagi.


"Aku hanya merasa...Kotoko menolakku. Dia lebih memilih dalam pelukan Hikari sekarang" kata Eun Sha menghapus air matanya setelah ia puas marah pada Raja, akhirnya ia berhenti menangis.


"Hanya itu? Kau..menangis seharian hanya karena Kotoko kita, menolak untuk kau gendong?" Raja malah terkekeh heran mendengar alasan sepele kenapa Selirnya menangis seharian. Melihat Raja tertawa, Eun Sha malah segera mendekat kearahnya tidak lupa menutup hidungnya.


"Apa hamba boleh mencubit hidung Anda Yang Mulia?" tanya Eun Sha gemas sekali melihat hidung Rajanya.


"Kau ini kenapa? Sebentar menangis, sebentar marah. Sekarang, lebih aneh lagi kau ingin mencubit hidungku?!" kata Raja mengangkat kedua alisnya makin keraslah sang Raja tertawa.


"Tapi hamba sangat ingin melakukannya...sebentar....saja"


"Aku menolak"


"Rajaku, cintaku, sayangku, hamba mohon..." rayu Eun Sha seakan-akan memegang hidung sang Raja adalah sesuatu yang sangat menakjubkan.


"Ehm. Yang Mulia..." kata Sang Tabib Istana berdehem menahan tawa sementara wajah sang Selir sudah memerah mirip kepiting rebus.


"Tolong periksa apa yang salah dengan Selirku yang satu ini" perintah Raja sesantai mungkin. Sang Tabib meminta Selir Eun Sha untuk berbaring di peraduannya. Tabib memeriksa denyut nadi sang Selir sambil tersenyum jelas, sang Raja jadi penasaran.


"Selamat Yang Mulia...Anda sebentar lagi menjadi seorang Chichi untuk ketiga kalinya" kata tabib Istana dengan wajah ceria.


"Apa? Selirku mengandung?!" pekik Raja bahagia yang langsung meraih Selir Eun Sha lalu memeluknya sambil berputar-putar.


"Hamba undur diri Yang Mulia" kata Tabib di sambut anggukan oleh Raja. Setelah Dayang Hikari dan Tabib keluar, dibawanya Selir Eun Sha ke dalam pangkuannya berulang kali ia kecup pipi sang Selir.


"Terima kasih kau sudah memberiku hadiah yang sangat berharga" bisik Raja tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman. Setelah tiga bulan masa kandungan sang Selir, tabib Istana menyatakan bahwa anak yang dikandung Eun Sha berjenis kelamin laki-laki.


Di kediaman Ratu, terlihat seorang dayang tergopoh-gopoh berlari mencari keberadaan Ratunya.


"Ratu, ada kabar mengenai Selir Eun Sha baru-baru ini" kata sang Dayang setelah mendapati sang Ratu sedang menggendong bayi Mari.


"Katakan"


"Selir Eun Sha mengandung calon Putra Mahkota" kata dayang itu terengah-engah lelah.


"Panggilkan Menteri Natsuha sekarang!" bentak Ratu penuh emosi. Tidak!! Yang boleh mewarisi Tahta hanyalah anak dari Ratu dan Raja!! Ratu tidak akan tinggal diam mengetahui kehamilan sang Selir yang dapat mengancam kedudukannya sekaligus kedudukan Putrinya sekalipun Putrinya adalah reinkarnasi Jeajangna paling tidak, dia tetap terlahir dari rahimnya! Pikir sang Ratu berkobar-kobar.


"Yang Mulia..." sapa Natsuha jauh dari kata ramah.


"Pergilah" kata Ratu kepada sang Dayang Istana. Setelah dayang Istana keluar, benda apa pun yang dapat dijangkau, dilemparkan ke arah Natsuha Adik kandung Ratu sendiri. Berulang kali Natsuha menghindar sambil menatap penuh kewaspadaan pada Ratunya.