Aitai

Aitai
Episode 61



Setelah dua bulan sebagai tahanan rumah, Ah-In dibolehkan keluar tapi hanya boleh berada di lingkungan Istana. Ia dengan enggan naik tandu menuju Istana memenuhi panggilan Raja.


Begitu sampai ke Istana, bukannya langsung menemui Rajanya, tapi justru sibuk mencari keberadaan Hyun-Jae.


“Senang bertemu dengan Anda lagi Nona” sambut Hyun-Jae yang menyimpan ribuan tanda tanya tentang alasan Gadis ini mencarinya kali ini.


“Saya tidak punya banyak waktu Tuan. Tolong pertemukan saya dengan Yeon-Seok secepatnya. Saya hanya ingin melihat keadaannya”


“Begitu? Kenapa saya harus melakukan hal berisiko seperti ini? Tidak kah Anda ingat terakhir kali pertemuan kalian justru menjadi awal perpisahan kalian?” tegur Hyun-Jae berusaha setenang mungkin.


“Jika saya tidak dapat bertemu dengannya selamanya, maka ini bukanlah akhir dari pertemuan kami saja. Tapi akan menjadi akhir dari hidup saya Tuan”


“Anda mengancam saya?”


“Tidak. Saya hanya akan menegaskan. Sampai kapan pun Raja tidak akan mendapatkan hati saya. Besok adalah hari pernikahan kami. Jika hari ini maupun besok sebelum pernikahan berlangsung Adik Anda tidak juga menemui saya, maka hidup saya akan berakhir saat itu juga”


“Kau merencanakan pelarian? Dengan Adik saya?” geram Hyun-Jae berbisik mendekati Ah-In.


“Tolong pikirkan kebahagiaan Yeon-Seok Tuan. Meski dia sedingin es, Saya tahu dia mencintai saya” jawab Ah-In datar, menghormat lalu melenggang pergi menuju kediaman Raja.


Hyun-Jae memikirkan ucapan Ah-In berulang kali. Karena otaknya terasa panas, akhirnya ia memutuskan pulang. Begitu ia berada di gerbang halaman kediamannya, Hyun-Jae tak sengaja mendengarkan percakapan antara Yeon-Seok dengan Heo Dipyo.


Pria itu tersenyum gembira mendengar sahabatnya itu, mengutarakan keinginannya merekrut Yeon-Seok sebagai pasukan khususnya.


“Aku sudah nyaman dengan profesiku sekarang”


“Kau yakin, tidak ingin bergabung dengan Heo Dipyo? Meskipun kau tahu ada kesempatan besar untukmu bisa dengan leluasa menemui Ah-In?” tiba-tiba suara Hyun-Jae kini terdengar tepat di pintu masuk kediamannya sendiri. Yeon-Seok langsung duduk diatas dipan, mencoba mencerna ucapan Hyun-Jae.


“Jadi kau serindu itu dengannya. Kalau begitu tunggu apa lagi? Terimalah tawaran Heo Dipyo.” Senyum Hyun-Jae setulus hati karena ia melihat ada binaran semangat hidup yang muncul kembali di mata Adiknya itu.


Deg!!


Jantung Hiroshi berdegup sangat kencang melihat munculnya Kitshato tepat di atas genting kediamannya. Rubah suci itu melompat dari satu genting, ke genting yang lain membuat Hiroshi memucat. Melihat perubahan ekspresi Yeon-Seok yang tiba-tiba, kedua Pria yang berhadapan dengannya itu berbalik dan menatap ke arah sudut pandang Yeon-Seok tertuju.


“Hey ya, kau sedang melihat apa?” tanya Hyun-Jae dan Heo Dipyo bersamaan mulai khawatir. Pasalnya, ekspresi itu juga terlihat di wajah Ha-Neul dan Jee Kyung sebelum menghilang.


“....” tubuh Hiroshi serasa lemas seketika.


“Kau sudah berjanji akan mengatakan apa pun yang kau lihat bukan?!” bentak Hyun-Jae tapi Hiroshi belum juga menjawab.


“Biarkan dia menenangkan dirinya dulu” sanggah Heo Dipyo sambil mengulurkan semangkuk air mineral. Dengan suka cita Hiroshi menerima minuman itu hingga tandas.


“Kalian bisa menemuiku di tempat tumbuhnya bunga sakura jika tiba-tiba aku menghilang. Dan temuilah Raja yang berkuasa di tempat itu” lirih Hiroshi memperhatikan sekeliling mencari keberadaan makhluk, yang tiba-tiba menghilang itu.


“Kenapa kau mengatakan hal itu?”


“Tidak ada waktu. Izinkan aku menemui Ah-In sekarang juga. Beri aku jalan kumohon” kata Hiroshi begitu ketakutan. Heo Dipyo dan Hyun-Jae saling memandang. Mereka pun menyetujui.


Di kediaman Menteri Duck-Young, Hiroshi bersama Hyun-Jae dan Heo Dipyo menyelinap masuk, menyelundupkan beberapa dupa yang memberi efek obat bius di setiap pojok ruangan tempat para pengawal Menteri Duck-Young, menjaga ketat kamar Ah-In.


Dengan mudah, ia menyusup masuk ke dalam kamar Gadis itu. Terlihat Ah-In sedang membaca sebuah buku tapi perhatiannya langsung teralihkan begitu mendengar suara orang membuka pintu kamarnya.


“Yeon-Seok” kata Ah-In berkaca-kaca. Ia berlari kepelukan Yeon-Seok. Pria itu kini tak lagi berusaha menghindar ataupun menolak karena kini, hatinya telah sepenuhnya menerima keberadaan Ah-In.


“Apa yang terjadi? Kenapa begitu mudahnya malam ini kau bisa menyusup kemari?” tanya Ah-In melepaskan pelukannya pada Yeon-Seok.


“Ayo kita pergi. Kau tidak keberatan kan? Meninggalkan semua?” pertanyaan Yeon-Seok dibalas dengan gelengan kepala Gadisnya.


“Dengar. Apa pun yang terjadi denganku setelah kita pergi dari sini, kau harus tetap terus bersama dengan Hyun-Jae dan Heo Dipyo. Mengerti?”


“Ya, tapi apa yang akan terjadi?”


“Sudah ku katakan kejadian apa pun itu, kau harus tetap bersama mereka. Jangan tanya lagi” sahut Yeon-Seok membawa Gadisnya keluar dari kamar.


Mereka berempat mengendap-endap menuju ke dua kuda mereka yang terikat di bawah pohon tak jauh dari rumah Ah-In. Saat keempatnya sudah berhasil menunggangi kuda, ada suara teriakan dari salah satu pengawal Duck-Young yang bertugas menjaga kamar sang Menteri! Mereka ketahuan dengan sangat cepat! Heo Dipyo dan Yeon-Seok memacu kuda mereka secepatnya dan menemukan tempat persembunyian yang aman.


“Tak kusangka akhirnya aku membantumu melarikan calon Istri Raja. Jika kita tertangkap, kepala kita akan dipenggal” kekeh Heo Dipyo.


“Semoga penyamaran kita bisa mengelabui pasukan di perbatasan. Sehingga kita bisa segera keluar dari tempat ini” jawab Hyun-Jae sembari berdoa dalam hatinya.


Mereka bersembunyi di gubuk reot yang ditinggalkan para penghuninya. Suasana malam yang semakin terasa sejuk, akhirnya membuat mereka semua terlelap. Ah-In tertidur di atas bahu Yeon-Seok tangan mereka saling terpaut satu sama lain. Tanah tempat Yeon-Seok duduki menjadi basah, dan berubah menjadi tanah hisap yang menelan Yeon-Seok, tanpa jejak.


Keesokan harinya, mereka menyadari bahwa Yeon-Seok telah menghilang. Mereka menyamar, dan berusaha menemukan Yeon-Seok. Seperti Ha-Neul dan Jee Kyung. Yeon-Seok tak dapat ditemukan.


“Ah-In tenanglah. Kami sudah tahu bagaimana cara bisa menemukan anak itu. Berhenti menangis, dan ikuti kemana kami mencarinya, atau kau kembali saja pada tunanganmu itu” kata Heo Dipyo tegas.


Suara nyaring teriakan seorang Dayang mengejutkan kedua pasangan Suami Istri yang tadinya sedang merenda mimpi di peraduannya.


“Ada apa kau, membuat keributan sampai seperti ini?” keluh Ratu Eun-Sha kesal.


“Putri Hamari, Putri Kotoko dan Putra Mahkota Hiroshi!!” pekik sang Dayang membuat baik Ratu Eun Sha dan Raja Keito kebingungan.


“Mereka...kembali” keterangan terakhir dari sang Dayang sukses membuat hati mereka yang panas berubah menjadi sangat lega. Tanpa aba-aba Raja Keito dan Ratu Eun Sha berlari kecil.


“Dimana mereka sekarang?”


“Prajurit patroli yang menemukan mereka tergeletak di hutan dan sekarang mereka masih belum siuman. Kedua Putri, ada di kediaman Putri Hamari dan Putra Mahkota ada di kediamannya sendiri” jawab Dayang itu menunduk. Akhirnya Raja dan Ratu membagi tugas menemui anak mereka satu persatu.


Raja langsung pergi ke kediaman Putri Hamari. Dan ia menemukan Putri Hamari dan Putri Kotoko tertidur pulas, bersebelahan.


“Cepatlah bangun agar Chichi dapat melihat apa kalian berdua sehat-sehat saja?” gumam Raja Keito, menggenggam kedua tangan Putrinya. Bahkan ia menempelkan tangan-tangan lunglai itu di kedua pipinya.


Anak-anakku kembali.


Terima kasih Dewa. Kau menepati janjimu. Batin Raja Keito tersenyum lembut menatap kedua Putrinya yang telah lama mereka rindukan. Sementara Ratu Eun Sha berlari ke kediaman Putra Mahkota Hiroshi.


“Hiroshi...syukurlah” kata Eun Sha mengusap kedua pipi Putranya, dengan kedua tangannya. Anak itu mulai bereaksi. Ia mengerjapkan mata, lalu menutup mata kembali.


“Anak ini, apa kau tidak merindukan Haha?!” protes Eun Sha gemas pada Putranya sambil mencubit pipi Hiroshi.


Haha? Itu...suara Haha?! Batin Hiroshi girang masih menutup matanya. Mendapati cubitan dari sang Haha, Anak itu langsung melebarkan kedua matanya.


“Kau...benar-benar Haha?!” pekik Hiroshi. Membuat Eun Sha menganggukkan kepala sambil menghapus air matanya.


“Aku sangat merindukan Haha dan Chichi” peluk Hiroshi penuh suka cita. Tapi kebahagiaan itu segera sirna menyadari bahwa...dirinya telah kembali ke Jepang.


“Apa ada yang sakit? Hiroshi?” kini raut wajah khawatir terpancar di wajah Ibunya.


“Apa Ane sudah kembali juga?” tanya Hiroshi cemas. Sang Ratu mengangguk sambil mengelus kepala Putranya.


“Ada yang ingin hamba katakan pada mereka” buru-buru Hiroshi meninggalkan kediamannya, melupakan Ibunya yang masih terdiam terpaku di atas peraduan Hiroshi.


Tepat di pintu masuk kediaman Putri Hamari, Hiroshi main masuk saja dan menemukan kedua Kakaknya masih belum sadarkan diri juga.


“Chichi, mereka belum bangun juga?” tanya Hiroshi sambil memeluk Ayahnya.


“kurasa sekarang kau, jauh lebih dewasa Hiroshi.” Kata Raja Keito menyadari karakter Putranya menjadi kearah lebih baik.


“Ini karena ujian yang Chichi berikan pada kami” kata Hiroshi dengan raut wajah sendu.


“Chichi, apa ini mimpi?” suara Hamari dan Kotoko terdengar bersamaan. Pandangan Putra dan Ayah itu kini tertuju pada Hamari dan Kotoko.


“Apa kalian lebih senang berada jauh dari Chichi? Kenapa ekspresi kalian seperti itu?!” protes Raja Keito pura-pura merajuk. Kotoko duduk, dan menusukkan satu jari ke lengan Raja dan Hamari mencoba menggandeng tangan Ayahnya.


“Apa Haha tidak boleh mendapat pelukan Putri-Putri Haha juga?” kata Ratu dari ambang pintu.


“Haha!!” seru keduanya berlomba-lomba mencapai pelukan Ibunya.


Hamari melepaskan pelukannya pada sang Haha dan menatapnya sendu.


“Ada yang ingin kau bicarakan padaku?” tanya Ratu membelai lembut kepala Putri Mari.


“Ini...tentang firasat hamba Haha, benarkah..., Chichi Natsuha...telah tiada?”


Deg!!


Dari mana Putrinya tahu kabar kematian Natsuha padahal saat itu..., bukankah ketiga Anaknya pergi?


“Ada masalah besar setelah kalian pergi. Dan..., Natsuha tidak dapat bertahan karena sakit yang dideritanya” jawab Ratu sendu.


“Jadi itu nyata. Artinya, hukuman mati untuk Haha Kimiko itu juga...benar?” pertanyaan Hamari mengejutkan kedua saudaranya yang lain. Eun Sha hanya terdiam, menangisi kepedihan hati Putrinya Mari sementara Raja Keito hanya sanggup menganggukkan kepala.


“Ada alasan kuat kenapa Kimiko harus dilenyapkan. Ku harap kau mau mengerti Mari” jawab Raja pada akhirnya tidak ingin Putrinya terlalu dalam meratapi kematian Ibu dan Pamannya.


“Kau tahu masalah sebesar ini tapi tidak memberi tahuku Ane?!” marah Hiroshi. Ia pernah sangat dekat dengan Natsuha jadi dia begitu terpukul menghadapi kenyataan tersebut.


“Jangan bersedih. Chichi Natsuha sudah bereinkarnasi dan selalu ada di sekitar kita saat berada di Joseon” lirih Mari semakin sendu.


“Maksudmu, Hyun-Jae adalah....”


“Ya, dia reinkarnasi dari Chichi Natsuha.” Kekeh Mari antara geli, rindu dan tanpa daya.


Selama tiga minggu lamanya, semenjak kabar kematian Kimiko dan Natsuha di dengar ketiganya, mereka seperti hidup dalam dunianya masing-masing. Mereka terlalu sering melamun dan melamun seolah kehilangan semangat hidup.


“Bagaimana kita bisa mengembalikan keceriaan mereka Yang Mulia?” lirih Eun Sha dibalas dengan dekapan sang Raja.


“Maafkan aku karena keputusankulah mereka jadi seperti ini” jawab Raja tak kalah lirih.


“Mereka tidak bersedih karena Natsuha dan Kimiko Yang Mulia” potong Sizuka tiba-tiba berada tak jauh dari mereka.


“Mereka sedih karena terpisahkan dari belahan jiwa mereka. Dan sebentar lagi, belahan jiwa mereka akan datang menyusul” senyum Sizuka membuat Raja dan Ratu saling menatap kebingungan.


“Maksudmu mereka memiliki ke kasih ditempat bernama Joseon itu?” tanya Raja sangat antusias.


“Ya, Yang Mulia. Karena itu, jika tiba-tiba ada orang yang datang mencari Anda, sebagai penjual pedang, dan mereka berjumlah tiga orang, salah satunya seorang Gadis, maka pertemukanlah mereka dengan Putra dan kedua Putri Anda” kata sang Jin Sizuka penuh suka cita.


Saat makan siang tiba, Raja mendapat kabar, akan kedatangan beberapa saudagar kaya untuk menemui beliau. Sementara Hiroshi dan kedua Kakaknya langsung tersenyum ceria berharap bisa melihat para saudagar tersebut. Tapi, ternyata saudagar yang datang pada Raja, bukanlah Kekasih mereka bertiga.


Dengan hati kecewa ketiganya pergi ke taman mereka sengaja berpencar ke arah penjuru angin yang berlawanan. Mereka duduk dan termenung tak menyadari apa yang sedang mereka lakukan, diamati langsung oleh kedua orang tua mereka, dari lantai tiga Istana.


Angin berhembus menerpa wajah ketiganya. Kabut tiba-tiba menyelimuti taman, mengaburkan pandangan mereka.


“Apa kau tidak merindukanku, Ha-Neul” sapaan itu membuat Hamari langsung membuka matanya setelah sibuk mengusap kedua matanya. Kabut menghilang, dan wajah Hyun-Jae terlihat di hadapannya.


“Disini aku bukan Ha-Neul, Hyun-Jae tapi Hamari” kekeh Mari memeluk Kekasihnya.


Di sisi taman lain, Kotoko yang sibuk mencari jalan menuju Istana karena kabut, hampir jatuh karena tersandung sesuatu tapi seseorang menangkapnya dengan cekatan.


“Kau masih saja ceroboh Jee Kyung, bagaimana bisa aku jauh darimu jika kau, terus memiliki sifat serampangan begini” begitu kabut menghilang, Kotoko melihat Heo Dipyo yang teramat dirindukannya ada dihadapannya, menatap kedua matanya dengan intens.


“Namaku Kotoko. Disini namaku Kotoko. Akhirnya kau datang juga” kekeh Kotoko, memeluk Heo Dipyo melepas rindu.


Dan, di sudut taman berikutnya, Hiroshi nampak gusar dengan kabut yang menghalangi sudut pandangnya. Tapi ia mendengar suara merdu yang sangat dirindukannya.


Ia berjalan meski buta arah, mendekati arah suara merdu itu. Samar-samar ia melihat sosok Gadis berada agak jauh darinya. Semakin lama, makin jelas rupanya, karena kabut yang mulai menipis pada akhirnya pun menghilang.


“Ah-In?” gumam Hiroshi menyunggingkan senyuman kebahagiaan tiada tara. Pria itu berlari ke arah Gadis yang membelakanginya itu, menggapai tubuh mungil tersebut dan membalik badannya hingga pandangan keduanya saling bertumbuk.


“Sudah ku katakan Yeon-Seok, apa pun yang terjadi, aku akan tetap menempel padamu” senyuman indah Ah-In merekah membuat Hiroshi akhirnya memeluk Gadis itu dan berputar beberapa kali sambil memeluknya.


“Panggil aku Hiroshi. Namaku Hiroshi di tempat ini” jawab Hiroshi, menyatukan kedua dahi mereka.


Di lantai tiga Istana, Raja Keito dan Ratu saling memeluk satu sama lain sambil memperhatikan kebahagiaan yang menyelimuti Putra dan kedua Putrinya.


“Ya ampun, baru kemarin aku menggendong dan mengganti popok mereka. Kenapa secepat ini harus melepaskan mereka, dan menyerahkan mereka pada orang-orang asing itu” gumam Raja Keito cemberut.


“Relakanlah Suamiku, jangan bertingkah seperti ini. Kita juga pernah muda bukan,” kekeh Ratu Eun-Sha mengeratkan pelukannya pada sang Raja.


“Apa kau siap menikahkan mereka sayang?” kini Raja Keito melirik pada Istri tercinta.


“Apa pun, demi kebahagiaan mereka” balas Ratu mengecup pipi Raja Keito.


“Kalau begitu kau harus bertanggung jawab”


“Bertanggung jawab?” Ratu mulai bingung dengan arah pembicaraan kali ini.


“Karena kau menyerahkan mereka pada orang asing, setelah pesta pernikahan mereka, aku ingin seorang Putra lagi darimu”


“Tiga anak masih belum cukup Yang Mulia?!” Pekik Eun Sha kaget luar biasa.


“Ayolah..., mereka tidak akan bisa lama bersama dengan kita. Karena itu mari kita hadirkan Putra ke empat kita. Agar kita tidak merasa...terlalu kesepian” rengek Raja Keito.


“Seperti ini saja menyenangkan Yang Mulia. Jika mereka pergi, bukankah dunia kita serasa...hanya milik kita berdua? Jadi buat apa memiliki Putra satu lagi? Nanti perhatian hamba, hanya akan tertuju padanya Yang Mulia,” goda Eun Sha.


“Tetap saja Istana ini akan penuh warna jika dikelilingi anak-anak” kini Raja mengecup dahi Ratunya. Dan menikmati pemandangan indah, kebahagiaan Putra dan kedua Putrinya.


Setelah semua anaknya masuk ke dalam Istana membawa kekasih mereka, maka kehebohan lain tercipta. Ratu Eun Sha menatap wajah Hyun-Jae sambil berkaca-kaca.


“Senang bertemu denganmu nak, siapa namamu?” tanya Ratu sambil menangkup kedua pipi Hyun-Jae. Pria muda itu kalang kabut dibuatnya.


“Hyun-Jae Yang Mulia” senyum Hyun-Jae kikuk.


“Ehm, Haha, itu...kekasihku. Tolong kondisikan tangan Anda” cemberut Hamari kesal membuat Kotoko dan Heo Dipyo berusaha keras menahan tawa mereka. Tapi yang diajak bicara masih dengan suka cita menempelkan kedua tangannya di pipi Hyun-Jae.


“Aku tidak suka caramu memandangnya Istriku” geram Raja Keito, menarik kedua tangan Ratu, dan menjauhkan jarak sang Ratu dengan calon menantunya itu.


“Dia Natsuha Yang Mulia, hamba hanya senang melihatnya kembali” protes Eun Sha berbisik pada Suaminya. Sementara Hyun-Jae berusaha menenangkan Kekasihnya sambil menggenggam erat tangan Mari.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih sudah mau membaca sampai akhir. Semoga kebahagiaan para tokoh fantasi ini menularkan kebahagiaan mereka pada para pembaca kesayanganku ini. Terima kasih suntikan semangatnya untukku. Semoga kita bisa bertemu kembali di Novel Author yang lain. Bersedia?🧐


Jangan lupa lirik juga Novel Author yang lain. Mari kita tentukan mana dulu yang akan dijadikan target sampai tamat sang Author. Gimana kalau berdasarkan permintaan terbanyak? (Kecuali nomor satu udah tamat soalnya) Nah, mari tentukan mulai dari sekarang!!😎


Genre Horror


1) Jangan Lupa Tidur


2) Red Water Park


Genre fantasi


1) The Magic Of Snow


2) Rain bow of Destiny