Aitai

Aitai
Dari Hati Ke Hati



Heo Dipyo meraba dada dimana tempat jantungnya mulai terasa nyeri. Langkah Jee Kyung juga terhenti ketika menyadari langkah lawan bicaranya tak terdengar lagi. Ia menoleh ke belakang tapi Heo Dipyo lenyap entah kemana.


Seseorang dari dalam Istana tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Calon Istri Perdana Menteri Heo Dipyo. Ia menghormat dan mempersilahkan Jee Kyung mengikutinya dari belakang. Mereka melangkah melewati banyak paviliun Istana dan berhenti di sebuah tempat.


“Ini adalah ruang Kerja Ratu Seonha. Ratu sedang beristirahat sebentar jadi, inilah kesempatan Anda bertemu beliau” kata seorang Dayang Istana mempersilahkan.


“Nona Jee Kyung ingin menghadap Yang Mulia” kata seorang pengawal di depan pintu ruang kerja Ratu.


“Masuklah”


Deg!!


Suara itu...Kotoko mengenali suara itu. Mungkin kah...


Krieeeeek


Pintu itu terbuka lebar untuk Jee Kyung. Kotoko langsung berjalan masuk, dan diam mematung setelah pintunya tertutup rapat.


“Perdana Menteri Nat....”


“Hyun-Jae bisakah kami berbincang-bincang hanya berdua?” sela sang Ratu.


“Baik Yang Mulia” jawab Hyun-Jae sambil melirik ke arah Jee Kyung setelah memberi hormat sang Ratu. Ratu Seonha menarik tangan Jee Kyung ke arah meja kerjanya. Dia tersenyum lalu memeluk Jee Kyung erat.


“Yang Mulia Seonha adalah...Hamari?”


“Aku terkejut melihatmu berada di hadapanku sekarang. Kupikir aku akan bertemu dengan seorang penjilat.” Balas Hamari melepas pelukannya pada Kotoko.


“Bagaimana bisa Perdana Menteri Natsuha ikut terseret bersama kita?”


“Mereka orang yang berbeda Kotoko. Lihat baik-baik, dia adalah penduduk Negeri ini. Wajahnya pun jauh lebih muda dari Chichi Natsuha”


“Bagaimana ini kenapa jadi sangat rumit” gumam Kotoko sambil duduk berjongkok dihadapan Hamari.


“Rumit? Ada urusan apa sebenarnya kau diperintahkan Heo kemari?”


“Hamari. Benarkah kau berkata pada semua orang, tidak akan menikah selama masih menjadi Ratu Negeri ini?”


“Itu..., ceritanya panjang”


“Aku tidak mengerti. Sungguh-sungguh tidak mengerti. Harus bagaimana untuk mengakhiri tantangan dari Chichi Natsuha” keluh Kotoko menatap frustasi Mari.


“Kurasa jika aku bisa membuat hidup Ha-Neul Arang bahagia, aku bisa pulang ke rumah”


“Kalau begitu aku pun harus membahagiakan Jee Kyung?” kata Kotoko sambil menunjuk batang hidungnya sendiri.


“Tidak ada cara lain. Kita harus bertahan sebagai mereka ditempat ini. Tapi...., bagaimana kau bisa mengenal Heo Dipyo? Sampai menjadi calon Istrinya pula?”


“Aku terbangun sebagai Han Jee Kyung. Putri dari Perdana Menteri Suk Chin”


“Begitu rupanya. Ternyata kalian saling terhubung. Tolong berhati-hatilah Kotoko. Di sekitar Heo Dipyo terlalu banyak manusia yang serakah. Mereka memanfaatkan Heo tanpa dia sadari”


“Jadi orang tadi adalah Calon Suami Ratu Seonha?”


“Bisa dikatakan seperti itu. Tapi sekarang bukan waktunya untuk memikirkan aku dengan siapa. Tapi pikirkanlah kau ingin melindungi siapa?”


“Maksudnya?”


“Aku memutuskan untuk melindungi Hyun-Jae, Heo Dipyo dan kedua orang tua Ha-Neul. Tapi kurasa ini akan sulit Kotoko. Karena dengan posisiku sebagai Ratu, aku tidak dapat sembarangan bertindak Semauku. Tapi kau berbeda. Kau Putri dari Menteri fraksi Kiri. Bantulah aku. Kau cukup melindungi Heo Dipyo agar tidak melakukan tindakan yang akan merugikan dirinya"


“Aku tidak yakin bisa Mari”


“Aku menyelidiki latar belakangmu sebelum kemari. Karena itu aku berani untuk meminta tolong padamu. Kau, Han Jee Kyung adalah Wanita gigih yang selama bertahun-tahun terus mencintai Heo Dipyo tanpa maksud terselubung apa pun"


"Baik itu Ha-Neul maupun Jee Kyung, dalam hati mereka sangat mengenal karakter Heo Dipyo yang lembut dan hangat. Tapi karena banyak hal menimpanya, membuat hati Heo mengeras seperti batu. Dengan melihatmu di depan mataku saja, itu menjelaskan bahwa hanya kau yang sanggup melembutkan hatinya. Hanya kau sebagai Jee Kyung” balas Ratu Seonha penuh percaya diri.


“Mari. Bagaimana perasaanmu terhadap Hyun-Jae? Apa kau juga sama bingungnya denganku”


“Maksudmu, apakah perasaan ini milik Ha-Neul dan Jee Kyung atau perasaan pribadi kita sendiri? Begitu?” tanya Ratu Seonha tersenyum lembut di balas anggukan kecil Jee Kyung.


“Hanya dengan mencari tahu secara langsung. Maka kita akan paham itu perasaan mereka atau kita. Jangan terburu-buru. Karena nanti, akan ada waktunya Kotoko” tegas Ratu Seonha menepuk bahu Jee Kyung lembut. Terdengar suara pintu terbuka dan masuklah Perdana Menteri Heo Dipyo dan Panglima Utama Hyun-Jae. Tatapan mata keduanya tertuju pada Jee Kyung yang bersimpuh dihadapan Ratu Seonha.


“Yang Mulia apa Jee Kyung melakukan sesuatu tak pantas di hadapan Anda?” tanya Heo Dipyo memucat.


“Dia Gadis yang manis bagaimana mungkin dia melakukan hal seperti itu didepanku” jawab Ratu sambil mengusap pipi Jee Kyung lembut. Ia berjalan menuju kursi kebesarannya sambil memperhatikan wajah Heo Dipyo yang lega tiada tara.


“Saat kami berbicara berdua, aku melihat kami punya banyak sekali kesamaan. Terutama hal yang menyangkut kegemaran kami. Bagaimana jika..., besok kita berempat berpacu kuda?” tawar Ratu membuat kedua Laki-laki dihadapannya diam tanpa kata. Heo dan Hyun kali ini kompak saling melirik satu sama lain.


“Itu...bukankah terlalu ekstrem Yang Mulia?” jawab Heo Dipyo menatap kaku pada Jee Kyung.


“Apa kau takut dia terluka? Nona Jee Kyung sendiri yang bilang jika dia jago dalam berkuda.” Tantang Ratu Seonha melipat kedua tangannya keatas meja.


“Tapi..., baru-baru ini Jee Kyung terluka dan baru hari ini dia...”


“Saya menerima dengan senang hati Yang Mulia” potong Jee Kyung suka cita. Akhirnya karena saudarinya yang baik, ia bisa melakukan hal yang tidak mungkin dilakukannya sebagai boneka hidup Heo Dipyo.


“Baiklah. Kurasa kau bisa pergi berkeliling Istana, jika ingin Nona Jee Kyung? Tapi maafkan aku. Hari ini banyak hal yang harus ku kerjakan di tempat ini. Bagaimana jika Menteri Heo Dipyo yang mengantarnya berjalan-jalan mewakiliku?”


Mari!! Kau sengajakan menjebakku hanya berdua dengannya?! Maki Jee Kyung dalam hati.


“Ah, beliau pasti sama sibuknya dengan Yang Mulia. Jadi..., izinkan hamba berkeliling dengan Dayang Istana” kata Jee Kyung tidak ingin masuk dalam jebakan saudarinya.


“Kebetulan hamba sedang senggang Yang Mulia bolehkan hamba yang...”


“Tidak perlu Panglima Hyun-Jae. Waktu saya sedang luang. Seperti apa kata Ratu Seonha, saya yang akan mengajaknya berkeliling” tegas Heo Dipyo memberi penghormatan pada Ratu lalu menarik lengan Jee Kyung keluar dari ruang kerja Ratu.


“Kau mau mengantarnya berjalan-jalan? Begitu?” geram Ratu Seonha berjalan mendekati sang Panglima setelah mendengar langkah kaki Heo dan Jee Kyung menjauh.


“Ini hanya sekedar sopan santun Yang Mulia” senyum Hyun-Jae melipat tangannya ke belakang.


“Apa Ratumu tidak menarik lagi?”


“Itu tergantung...”


“Yang Mulia...jangan bertingkah seperti seorang Istri yang sedang cemburu. Nanti hamba jadi tak sanggup menahan diri” sang Panglima mulai merona.


“Bagaimana bisa aku tenang, membiarkanmu bersamanya”


“Mohon kecilkan suara Anda Yang Mulia. Ingatlah tidak boleh ada hubungan asmara antara Ratu dan bawahannya. Tolong tepati janji Anda”


“Jadi, karena itu kau ingin membuat gelombang asmara di tempat ini bersama Jee Kyung?” pertanyaan ini spontan membuat gelak tawa sang Panglima berkumandang.


Sementara itu, di tempat lain masih di dalam Istana Heo Dipyo masih saja menarik tangan Jee Kyung. Gadis itu mencoba melepaskan tangan, tapi Laki-laki di depannya terlalu kuat untuk dilawan.


“Tu-Tuan Heo mohon lepaskan ini...sakit” kata Jee Kyung kesakitan.


“Rupanya aku perlu memberi rincian apa yang boleh dan tidak boleh kau lakukan di hadapan Ratu. Ikut aku pulang ke rumahmu, sekarang” gertak Heo Dipyo kesal bukan main.


Mereka telah tiba di pintu gerbang keluar masuk Istana tapi entah kenapa Heo Dipyo memerintahkan tandu yang akan membawa Jee Kyung pulang, untuk pergi. Jee Kyung menatap bingung Heo Dipyo. Laki-laki tersebut sudah menyeretnya sangat jauh entah kemana. Ia melepaskan tautan tangannya pada Jee Kyung, melepas tali kekang kuda yang diikatkan pada sebuah pohon.


“Naik” perintah Heo. Jee Kyung hanya menurut tapi pakaiannya membuat dia kesulitan untuk naik. Jee Kyung memekik kaget, melihat tubuhnya terangkat hingga naik ke atas punggung kuda dengan sempurna. Heo kemudian naik tepat di belakangnya.


Hyaaah!!


Seru Heo Dipyo memacu kudanya secepat mungkin. Jantung Jee Kyung berdegup keras melihat betapa cepatnya Heo Dipyo mengemudikan kuda.


Ini bukan kearah rumah Jee Kyung. Tapi arah bukit tempat mereka pertama kali bertemu sebagai Heo dan Kotoko. Benar saja. Heo menghentikan derap langkah kudanya ketika sampai ke bukit itu. Heo turun dan memberi kode agar Jee Kyung juga turun tapi Gadis tersebut hanya diam tak bersuara.


Bagaimana bisa dia turun jika kedua kaki dan tangannya lemas? Heo segera menarik Gadis itu kearahnya. Diturunkannya Jee Kyung di atas tanah beralaskan rerumputan. Belum lama ia melepaskan tubuh Jee Kyung, Gadis tersebut hampir saja jatuh untung, Heo mau berbaik hati menuntunnya untuk duduk sejenak.


“Kurasa jika kita membicarakan soal tadi di rumahmu, akan tidak nyaman bagimu” kata Heo Dipyo merebahkan diri diatas rumput dan menatap birunya langit.


“Kenapa kau selalu membantahku?” kata Heo muram.


“Karena semenjak kita bertemu, kau hanya berteriak padaku. Aku benci Pria yang berteriak padaku tanpa berusaha berbicara baik-baik dan mengatakan letak dimana kesalahanku” jawab Jee Kyung kini tangisannya meledak tak tertahankan.


“Katakan lagi apa yang kau benci dariku”


“Aku benci kau, yang tidak pernah berpikir tentang perasaan orang lain. Karena yang kau pedulikan hanyalah dirimu saja”


“Lalu bagaimana perasaanmu padaku?” tanya Heo membuat Jee Kyung kini diam tanpa kata.


“Kau begitu lancar mengkritik Laki-laki ini. Tapi kenapa kau tidak mampu menjawab ketika aku bertanya bagaimana perasaanmu padaku?” kini Heo Dipyo menoleh pada Jee Kyung.


“Kau tidak bertanya dengan rinci. Perasaanku yang mana? Saat ini, atau dimasa lalu? Perasaan yang bagaimana? Sebagai bonekamu atau sebagai seseorang disisimu?”


“Kenapa kau begitu rumit dalam berpikir? Aku hanya bertanya beberapa kata. Tapi kau, memikirkan jawaban dalam berbagai pilihan. Padahal tinggal jawab saja sesuai kata hatimu” protes Heo Dipyo langsung duduk menghadap ke arah Jee Kyung. Gadis itu kini terkekeh geli melihat ekspresi Heo Dipyo yang tak seperti biasanya.


“Bahkan kau sanggup menunjukkan banyak ekspresi dalam sehari saja padaku sekarang” tambah Heo Dipyo.


“Katakan. Kau ingin tahu jawaban pada bagian mana?”


“Dimasa lalu”


“Sangat-sangat menyukaimu. Di waktu itu kaulah dunia bagi seorang Jee Kyung” jawab Jee Kyung. Tak ada sorot mata kebohongan di kedua mata lentik Jee Kyung.


“Dimasa kini”


“Aku tidak mengenalmu dengan baik. Bagiku kau adalah orang asing yang datang dalam hidupku seperti badai”


“Bagaimana perasaanmu sebagai seseorang yang ada disisiku?”


“kau sungguh ingin tahu?”


“jawab saja”


“Seperti seekor burung yang sedang terbang. Terkadang kau membuatku ketakutan setengah mati ketika kau menyuruhku terbang menukik ke bawah. Lalu di waktu lain kau membiarkanku terbang dengan kecepatan sedang yang menenangkan"


"Kau tahu? sekarang aku sedang bingung. Bingung bagaimana caranya untuk aku bisa memahami sifat, perilaku, sudut pandang, sekaligus cara berpikirmu. Sungguh tak mudah menyamakan langkah denganmu Heo Dipyo” jawab Jee Kyung perlahan tapi jelas.


“Kenapa kau selalu menyebut dirimu sebagai boneka bagiku?”


“Kau mengatur kapan aku pergi, kapan aku kembali, dihari apa aku akan bertemu siapa, dengan kepentingan apa aku datang padanya, bagaimana aku harus bersikap, bila perlu aku pun harus menjilat. Bukankah itu gambaran sebuah boneka?”


“Terima kasih” kalimat ini mengagetkan Jee Kyung. Ia menoleh bingung pada Heo Dipyo.


“Tidak ada seorang pun yang dengan jujur mengatakan kekuranganku. Mereka hanya menyebutkan aku harus terlihat sempurna. Dan ketika kesempurnaan ilusi itu tak mampu menyelamatkan hatiku, aku jadi hanya berpikir ingin melawan takdirku.” Mendengar curahan hati Heo Dipyo, Jee Kyung jadi ingat sedetail mungkin ucapan Mari dimana Heo Dipyo sebenarnya orang yang hangat dan lembut.


“Satu hal lagi” kalimat Jee Kyung ini mencuri perhatian Heo.


“Jee Kyung yang sekarang lebih menyukai dirimu yang seperti ini. Tidak berbicara memakai urat, mau mendengarkan pendapat orang, bersedia menatap lembut orang yang sedang berbicara denganmu. Kalau diingat lagi, dari awal pertemuan kita disini, hingga di Istana tadi, kau memperlakukanku dengan buruk”


“Pengakuan macam apa itu? Kau baru saja bilang menyukaiku, tapi belum lima menit berlalu kau sudah berkata lagi kalau kau membenciku?!” protes Heo Dipyo menyentil dahi Jee Kyung.


“Awal pertemuan kita bukan disini. Tapi otakmu seolah hanya mau mengingat kejadian menyebalkan itu. Atau karena hanya ditempat inilah kau berhasil menciumku?!” kata Heo Dipyo mundur beberapa jengkal dari Jee Kyung.


“Sudah ku katakan itu kecelakaan!!” teriak Jee Kyung tak mau kalah.


“Tetap saja kenyataannya kau menyerangku duluan”


“Kenapa? Belum pernah ada Gadis lain yang mau menyerangmu selain aku? Jadi menurutmu ini semacam prestasi barumu? Begitu?” teriak Jee Kyung hendak berdiri. Tapi Heo menahan tangannya dan tanpa permisi meletakkan kepalanya di atas pangkuan Jee Kyung.


“menyingkirlah kalau kau takut aku menyerangmu kembali” ketus Jee Kyung.


“Berhentilah bicara dan biarkan aku begini sebentar saja. Bagiku, sekarang kaulah tempat yang hangat untuk kutuju” potong Heo Dipyo sambil menutup mata dengan tangan kirinya.


Deg!!


Tidak Kotoko. Dia bilang begitu karena dia mengira kau adalah Jee Kyung yang asli. Jangan terpengaruh...kumohon jangan terpengaruh. Lupakan kata-kata Heo Dipyo. Panik kata hati Kotoko merasakan jantungnya berdegup kencang lagi.


“Bagaimana perasaanmu pada Jee Kyung?” tanya Jee Kyung lirih.


“Kau bertanya seolah kau ini orang ketiga yang ingin tahu.” Desis Heo Dipyo memindah tangannya ke atas perutnya sambil menatap jengkel pada Gadis itu.


“Kau ingin tahu yang mana? Heo Dipyo yang dulu, atau sekarang? Katakan” Heo hanya menirukan balasan Jee Kyung padanya tadi.