Aitai

Aitai
Suami Tukar Tambah



Seluruh dayang Raja, Ratu, Selir dan dayang ketiga anak mereka berlarian tergopoh-gopoh menuju kediaman Perdana Menteri Natsuha. Kala itu, Natsuha sedang menggoreskan sesuatu di atas gulungan kertas tapi kegiatannya tertunda, hanya karena teriakan panik dari para dayang.


"Perdana Menteri Natsuha!! Hamba ingin menghadap!! Hamba mohon!!" teriakan dayang Hikari membuat sang Menteri langsung tergerak untuk segera menemuinya.


"Apa yang terjadi? Kenapa kalian semua berkumpul di sini?" tanya Natsuha mulai tidak tenang menanti jawaban seluruh dayang. Semua dayang membungkuk takzim pada sang Menteri dengan wajah yang pucat.


"Mohon lakukan apa pun untuk menyelamatkan nyawa Ratu" tangis Hikari pecah ketika mengatakan hal tersebut.


"Antar aku ke tempatnya berada" kata Natsuha tegas. Hikari mengangguk lalu mengarahkannya ke kediaman Putra Mahkota.


Deg !!


Hati Natsuha makin tak karuan ketika berusaha menyatukan setiap kepingan informasi yang ia dapat. Hikari memintanya menyelamatkan nyawa Eun Sha, di kediaman Putranya sendiri. Apa artinya Eun Sha dalam bahaya dan apakah penyebabnya Hiroshi? Bukankah Pria yang patah hati sanggup melakukan apa pun?! Dengan langkah gontai Natsuha menuju pintu kediaman Putra Mahkota. Tak ada sang Putra Mahkota di sana...yang ada hanyalah....


Bruk!!


Natsuha jatuh bersimpuh di atas lantai kayu di hadapan pahatan indah es. Kedua matanya tak terasa meradang...air matanya menitik.


"Hamba mohon lakukan sesuatu. Jangan lah hanya berdiam diri begini Perdana Menteri Natsuha. Hanya Anda yang bisa kami andalkan saat ini" kata Hikari membuyarkan lamunan sang Perdana Menteri.


"Di mana Suaminya? Kau sudah memberi tahu keadaan Ratu padanya?" mendengar pertanyaan Menteri Natsuha, justru Dayang yang biasanya melayani sang Raja menangis tersedu-sedu.


"Raja dan Selir Kimiko...mengalami kemalangan yang sama. Beliau berdua...menjadi batu" kata Dayang itu sambil sesenggukan.


"Apa? Siapa yang tega melakukan hal ini pada mereka? Lalu dimana Putra dan kedua Putrinya? Katakan" kata Natsuha murka yang langsung bangkit mendengar kabar duka tersebut.


"Ketiga makhluk suci penjaga Kuillah yang melakukan hal itu. Mereka membawa Putra Mahkota dan kedua Putri bersama mereka. Tapi...hal yang lebih penting lagi adalah, bagaimana cara Anda dapat mengembalikan Raja dan Ratu kewujud nya semula" jawab sang Dayang tanpa mengurangi rasa hormatnya. Tidak..., seharusnya tidak begini. Perjanjiannya tidak seperti ini!!


"Jika benar Komainu , Kitshato dan Hato yang melakukannya, maka hanya Putra dan Putri merekalah yang mampu menyelamatkan kehidupan mereka" jawab Natsuha merasa sama sekali tak berguna. Sampai kapan pun ia tidak rela Eun Sha menderita apa lagi menjadi sebuah pahatan Es.


Masih ada kesempatan untukmu menyelamatkan Ratu. Dia hanya menjadi pahatan es, bukan batu. Aku tahu kau...mencintainya. Aku bisa membantumu.


"Siapa kau?" Natsuha terhuyung ke samping mendapati seorang Wanita yang tidak ia kenal tiba-tiba muncul di sisi kirinya. Wanita itu tersenyum simpul lalu berdehem kecil.


"Kimiko sangat mengenal siapa aku. Kedatanganku ke sini untuk membantumu memperjuangkan kehidupan pujaan hatimu Eun Sha” jawab jin Sizuka menatap tajam sang Perdana Menteri.


"Kau hanya akan menyelamatkan cintaku? Bagaimana dengan Raja dan Selirnya?"


"Aku hanya dapat mengabulkan satu permintaan Natsuha" kalimat yang terlontar dari bibir Sizuka membuat Natsuha terdiam sejenak.


"Kerajaan membutuhkan seseorang untuk menduduki Tahta. Gantikanlah Raja Keito sampai beliau kembali" tambah Sizuka.


"Hanya Raja Keito yang berhak atas Tahta selain Putra Mahkota"


"Tidak ada waktu Natsuha. Jika sampai tersiar kabar bahwa Tahta kerajaan kosong karena Rajanya membatu, sementara Putra Mahkotanya menghilang, akan ada banyak orang yang ingin menguasai Tahta kerajaan ini. Kau tahukan, apa yang akan terjadi selanjutnya?"


"Bagaimana dengan Putra Mahkota? Anak itu masih hidup?"


"Maafkan hamba, karena telah lancang memotong pembicaraan ini. Tapi...Putra Mahkota lenyap dari Istana Menteri" kata salah satu Dayang takut-takut. Melihat sang Perdana Menteri bicara sendiri.


"Baiklah, jika memang kau tak mau menggantikan kedudukan Raja biarlah Ratu Eun Sha dan Raja terus berada dalam wujud menyedihkan seperti itu. Padahal...jika kau menggantikan posisi Raja, maka Ratu bisa kembali ke wujud semula"


"Kau berdusta. Hanya orang yang terlibat dalam perjanjian tersebutlah yang bisa menyelamatkan satu sama lain."


"Itu hanya berlaku dalam hubungan keluarga. Ketika Suaminya berganti, maka raiblah beban perjanjian tersebut."


"Maksudmu, selain menjadi Raja baru, aku harus menikah dengan Eun Sha?!" bentak Natsuha geram. Apa sebenarnya yang diinginkan sang Jin Sizuka? Kenapa ia bersikeras ingin menjadikannya Raja? Bahkan mendorongnya menuju gerbang pernikahan bersama Eun Sha? Wanita yang jelas-jelas telah memiliki Suami sah.


"Akan ada kutukan lainnya jika aku meluluskan keinginanmu itu. Bagaimana bisa, aku menikahi Wanita yang sudah bersuami?"


"Suaminya telah menjadi batu. Kita tidak akan tahu kapan Anak-anak mereka dapat mematahkan perjanjian itu. Bisa hari esok, bulan depan bahkan entah beberapa tahun lagi. Apa kau siap, kehilangan cintamu selamanya? Sesingkat itukah kebersamaan kalian?"


"Tidak ada hubungan khusus di antara kami!! Camkan itu!! Sudah tertutup kesempatanku untuk bersamanya. Eun Sha hanya mencintai Raja Keito. Hanya Raja" sanggah Natsuha merasa terlalu di pojokkan.


"Jadi kau benar ingin hal ini terus terjadi padanya? Paling tidak, jika anak mereka tak pernah kembali, dan Suaminya mati...dia masih dapat bernafas, dan terus berada di sisimu bukan? Seiring berjalannya waktu Eun Sha akan mencintaimu. Lagi pula, kalian pernah bersama" tiba-tiba Sizuka sudah sangat dekat dengan Natsuha mengatakannya dengan jelas tepat di telinga sang Perdana Menteri.


"Apa tujuanmu sesungguhnya? Kenapa kau bersikeras menginginkan kami menikah? Apa kau, yang selama ini menghasut Kimiko?!" teriak Natsuha tepat di depan wajah Sizuka. Wanita itu tertawa nyaring, entah kenapa tawa Sizuka membuat seluruh tubuh Natsuha sulit untuk di gerakkan.


"Jadi Kimiko belum mengatakan apa pun tentangku? Aku adalah Ibu Suri bagi Kerajaan ini. Maka aku berhak untuk menentukan masa depan Kerajaan ini"


"Ibu Suri di berikan pada Ibu dari Raja Keito. Atas dasar apa kau, menganggap dirimu berhak atas Kerajaan ini?" tegas Natsuha. Sizuka menghembuskan nafas melalui bibirnya ke wajah Natsuha. Maka muncullah gambaran masa lalu antara Sizuka dan Raja terdahulu. Begitu gambaran kelam telah berakhir, Natsuha jatuh tersimpuh di hadapan Sizuka lalu memberi penghormatan.


"Mohon maaf atas kelancangan hamba Yang Mulia"


"Bangunlah. Kerajaan ini membutuhkan seorang pemimpin seperti Keito dan dirimu. Aku sangat berharap kau mau menerima penobatanmu menjadi Raja selagi Tahta kosong. Mengertilah. Menikahlah dengan Eun Sha, agar Ratu Negeri ini kembali bangun dari tidurnya" kata Sizuka penuh penekanan.


Mata Natsuha terus tertuju pada kilatan mata sang Jin Sizuka. Ia sedang menimbang mana yang benar, dan mana yang salah. Masalahnya, sesuatu yang dianggap benar, justru hati Nurani Natsuha mengatakan salah. Harus bagaimana ia menghadapi dilema?


"Jangan memaksa Perdana Menteri Natsuha, Sizuka...biarlah ia menentukan pilihannya" tiba-tiba muncul seseorang tak terduga. Biksu? Ada apa kali ini seorang pertapa muncul menghadap dirinya secara langsung begini?


"Ada pilihan lain selain menikahi Yang Mulia Ratu tapi..."


"Katakan" jawab Natsuha singkat.


"Harus ada jiwa yang dikorbankan Perdana Menteri. Saya yakin Anda sangat bijak dalam mempertimbangkan segala hal"


"jika aku menikahinya, apa Raja Keito dan Selir Kimiko juga dapat diselamatkan?” setelah pertanyaan ini meluncur dari bibir Natsuha, sang Biksu menganggukkan kepala.


"Katakan terlebih dahulu kesepakatan apa yang kalian sembunyikan dariku?” Natsuha melirik pada Sizuka dan Biksu di depannya.


"Sulit bagi hamba untuk mempercayai Jin seperti Anda" Natsuha memotong pembicaraan sambil menunggu sang Biksu bersuara.


"Awalnya ini memang kesepakatan antara Raja dan Dewa. Tapi karena Jin disamping saya mengacaukan kesepakatan pertama...maka kesepakatan kedua pun terjadi. Awalnya ini hanya permainan dimana Raja dan Ratu menjadi batu dan es"


"Mereka akan selamat jika Putra dan para Putri mereka mampu memenangkan ujian dari Dewa. Tapi kesepakatan kedua ini jauh lebih berat dari sebelumnya. Intinya, Raja dan Selir bisa diselamatkan jika mereka memenangkan permainan ini. Tapi tidak dengan sang Ratu."


"Kau bilang Ratuku tidak dapat diselamatkan? Lakukan apa pun!! Agar Eun Sha dapat hidup seperti sedia kala!!"Natsuha nampak histeris.


"Hanya ada satu jalan untuk mematahkan sihirnya terhadap Ratu. Jalan pernikahan Tuan Natsuha...tapi jika Anda masih tetap pada pendirian Anda, maka Ratu tidak akan pernah bergerak dan bernafas kembali” tambah Biksu dengan berat hati. Natsuha tak bisa berpikir lagi...ia berjalan mendekati pahatan es Eun Sha.


Maafkan hamba Yang Mulia...mungkin hamba lancang kali ini. Tapi...jika Anda yang berada dalam posisi hamba...apa yang akan Anda lakukan demi Ratu kita?


"Aku Natsuha Fuhijji. Dengan ini menyatakan” kata Natsuha memejamkan mata sejenak diakhir kalimat.


"Bersedia menikahi Ratu Negeri ini” ucapan Natsuha disambut oleh suara guntur dan angin kencang yang memporak porandakan seluruh isi Istana.


Raja Keito merasakan tubuhnya sangat kaku. Perlahan ia membuka kedua matanya, mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan.


"syukurlah...Anda baik-baik saja? Yang Mulia?" tanya Eun Sha mendadak memeluk sang Raja.


"Apa yang terjadi? Dimana Putra Mahkota dan kedua Putri?"


"apa Anda bercanda? Bukankah Anda sendiri yang mengirim mereka mengikuti ujian yang Anda berikan?” jawab Eun Sha keheranan.


"kau...tidak marah denganku? Dimana Yang Mulia Keito berada?"


"Yang Mulia...tentu saja Anda disini, di kediaman Ratu, ada apa ini Tabib? Kenapa Raja bertingkah aneh kali ini?" tanya Eun Sha sangat khawatir. Sang Tabib kembali berusaha memeriksa keadaan sang Raja, tapi dia tidak menemukan penyakit apa pun dalam diri Rajanya.


"Ini bisa terjadi jika penderita stres berat terbangun dari tidur panjangnya. Saya akan memberikan ramuan untuk menenangkan hati Baginda” jawab sang Tabib berdehem kecil. Raja Keito bangkit dari tidur, lalu berusaha berjalan ke arah pintu keluar tapi langkahnya terhenti melihat sekelebat pantulan bayangan dari cermin tepat disampingnya.


Ia memutar tubuhnya kearah cermin. Mata kosong Raja kini berubah menjadi mata penuh keterkejutan. Berulang kali Raja Keito menepuk kedua pipi, dan mengusap kedua matanya.


Ya ampun...Bagaimana ini bisa terjadi padaku? Aku memang bersedia menjadi Suami Eun Sha, tapi tidak dengan wujud Keito. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana ini? Bagaimana ini?!


"Yang Mulia...ada sesuatu yang aneh di wajah Anda?” tanya Eun Sha refleks memegang dagu sang Raja. Betapa terkejutnya sang Ratu, begitu mendapatkan penolakan secara tiba-tiba dari Rajanya. Tangan sang Ratu ditepis Raja lalu Pria itu berusaha menjauh dari jangkauan sang Ratu.


Apa aku sedang bermimpi? Seseorang tolong bangunkan aku!! Tunggu...jika aku ini Keito, seharusnya tubuh asliku berada di kediamanku sekarang. Aku harus menemukan tubuhku!!


Raja Keito berlari diikuti para dayang dan Ratu menuju ke kediaman sang Perdana Menteri. Tak biasanya Raja langsung masuk begitu saja ke kediaman Perdana Menteri Natsuha. Langkah kaki Raja Keito terhenti melihat ada Selir Kimiko yang tertidur disamping peraduan Natsuha.


Mimpi macam apa ini? Aku melihat tubuhku sendiri di hadapanku? Apa aku akan segera mati? Sizuka!! Permainan apa yang kau mainkan padaku?!


"Yang Mulia...Anda sudah siuman?!" pekik Kimiko girang melihat sang Raja berdiri dihadapannya. Baru saja Kimiko akan berlari memeluk pujaan hati, tapi sang Raja kembali berlari keluar dari kediaman sang Menteri. Ia berlari menuju ke ruang meditasi.


"Kumohon berhenti mengikutiku. Biarkan aku menenangkan diri sejenak” kata Raja Keito sebelum memasuki ruang meditasinya.


Braaaak!!


Sang Raja menutup pintunya dengan kasar mengagetkan semua orang yang dengan setia mengikutinya.


"Sizuka!! Keluar sekarang juga!!"bentak sang Raja di dalam ruang meditasi. Tidak ada satu pun orang diluar dapat mendengar teriakannya karena memang dibuat kedap suara.


"Panggil aku dengan sopan Natsuha..."


"bisakah saya sopan setelah apa yang Anda lakukan terhadap saya dan Raja sekarang?!"


"Menteri Natsuha...ah, maksudku Yang Mulia...bagaimana Anda bisa menyalahkan saya, setelah hari baik ini tiba?"


"Kembalikan aku ke tubuh asliku"


"saya hanya bisa mengabulkan satu permohonan. Ingat?"


"licik...ini permainan licikmu. Apa yang sedang kau rencanakan?"


"jangan salahkan aku atas kekacauan yang kubuat terhadap perjanjian pertama Raja dan Dewa. Ini adalah takdir jadi terimalah dengan lapang dada Natsuha..."


"Takdir? Jadi kau mempermainkan manusia dengan takdir palsumu?"


"Dewa yang menakdirkan agar kejadian ini harus terjadi. Karena aku mengacau...,mereka mengubah kutukanku menjadi takdir pahit yang harus kalian jalani" jawab Sizuka sambil memberi hormat sebagai sebuah permintaan maaf.


"Perjanjian antara aku dan Kimiko memaksaku untuk melakukan hal ini. Aku tidak berdaya karena telah terikat oleh perjanjian. Manusia dapat ingkar janji...tapi makhluk abadi sepertiku, akan mengalami hukuman dari langit jika melakukannya” tambah Sizuka.


"Sulit bagiku mempercayaimu. Kau bisa saja melakukan sesuatu untuk mematahkan perjanjian antara kau dan Kimiko. Kenapa tidak kau lakukan?"


"sudah kukatakan dari awal. Jika aku ingin lepas dari perjanjian ini, maka Keito dan seluruh keturunannya harus lenyap dari muka bumi ini. Tapi aku tidak sanggup memusnahkan mereka karena kesalahan itu dibuat oleh pendahulu mereka" jawab Sizuka tegas.


"apa yang terjadi pada keturunan mereka sekarang? Katakan?"


"Itu rahasia para Dewa. Bahkan aku pun tak mampu menebaknya"


"Keito. Aku ingin tahu bagaimana nasib Rajaku?"


"sebentar lagi...dia akan terbangun sebentar lagi...sekali lagi maaf. Ini kesempatanmu untuk memenangkan hati Eun Sha. Bukankah kau ingin ditatap dengan penuh cinta olehnya?" pertanyaan Sizuka menari-nari diotak Natsuha.


Apa boleh? Kesempatan ini kugunakan untuk menggapaimu Eun Sha? Ini sungguh seperti mimpi bagiku. Kukira akan menjadi sebuah mimpi buruk, tapi...jika ku lewati hanya bersamamu, semoga akan menjadi indah.