
Eun Sha berjalan ke sebuah tanah lapang. Disana, ternyata telah menunggu Sizuka dan Natsuha. Eun Sha tak mengerti kenapa mereka berada ditempat asing seperti ini. Aneh, kenapa hanya Sizuka yang menyadarinya ada di tempat itu? Seolah Natsuha berada dalam dunianya sendiri.
“Lihatlah. Dan dengarkanlah” Sizuka memerintahkan, sambil menggandeng erat tangan Eun Sha.
“Dewa memberimu pilihan dan itu adalah hak Istimewa. Kau harus memilih siapa yang akan ada disisimu, dan siapa yang akan pergi dari sisimu.” Terang Sizuka kini memperlihatkan kedua Pria dalam hidup Eun Sha.
“Hatimu condong pada siapa? Suamimu Keito, atau kasih tak sampaimu Natsuha?” Sizuka menambahi.
“Ini hanyalah mimpi tidak mungkin aku memilih. Natsuha lah yang harus memilih jalannya sendiri”
“Beliau sudah menentukan pilihan Eun Sha tapi kau, memohonnya untuk kembali. Apa kau ingat?” Sizuka melirik prihatin.
“Tidak...tidak mungkin arti dari meninggalkanku adalah...kematian?!” Eun Sha menampik genggaman tangan Sizuka. Pilihan macam apa itu? Tidak ada manusia yang boleh menentukan siapa hidup dan siapa yang mati. Mana mungkin manusia berperan sebagai Dewa?!
“Aku hanya menyampaikan pesan Eun Sha. Kau akan memilih demi masa depanmu dan Anak-anakmu. Diantara Keito dan Natsuha, harus ada yang tiada. Kau diberi hak untuk memilih. Jika kau tidak mau memilih maka keduanya harus segera meninggalkanmu. Ingat Eun Sha, hanya boleh ada satu matahari, di sisimu”
“Tunggu!! Kau tidak menjelaskan kenapa aku harus memilih? Pasti ada sebabnya, sehingga pilihan itu ada”
“Sudah jelas ku katakan hanya boleh ada satu matahari disisimu. Karena jika dua matahari mendampingimu, kaulah yang akan terbakar” jawab Sizuka sulit untuk mengatakan seharusnya Eun Sha lah yang pergi dari dunia ini. Sizuka memberikan sebuah teratai yang masih kuncup.
“Tiupkan nama orang yang akan menjadi satu-satunya matahari dalam hidupmu” tiba-tiba Sizuka menghilang dari pandangan Eun Sha setelah mengatakan hal tersebut.
Hanya satu matahari yang boleh berada disisimu. Terngiang kata-kata Sizuka tanpa berpikir, Eun Sha mengucapkan nama Keito.
Angin bertiup kencang, dan bunga yang kuncup kelopaknya itu gugur diterbangkan angin. Eun Sha mengerjapkan mata rupanya ia tertidur setelah kenyang.
Hanya satu matahari yang boleh berada disisimu. Eun Sha mendengar suara Sizuka tapi tak ada Satu pun orang disana.
Karena jika dua matahari mendampingimu, kaulah yang akan terbakar
Deg!!
“Tidak....apa yang kulakukan? Natsuha....Natsuha!!” gumam Eun Sha yang langsung berlari menuju tempat pengobatan Raja dan sang Perdana Menteri. Ia berlari tanpa peduli seberapa sulitkah para dayang di belakang, mengejarnya.
“Yang Mulia Ratu,” sapa Tabib Istana Ghotaro terkejut mendengar suara pintu tergeser dengan kencangnya.
“Apa masa kritis Yang Mulia dan Natsuha belum berakhir?”
“Yang Mulia masuk ke dalam proses penyembuhan. Tapi..., Perdana Menteri Natsuha masih terus berulang kali kehilangan kesadaran” jawab sang Tabib lesu di akhir kalimat. Eun Sha menatap lekat sosok Natsuha, menghampiri Pria yang telah bertahun-tahun melindunginya tanpa kenal lelah. Eun Sha menangis...sekaligus lega paling tidak, mimpinya tak jadi kenyataan Natsuha jelas masih bernafas.
Aku tidak takut terbakar jika kalian berada disisiku. Yang aku takutkan kau pergi dari sisiku Natsuha...batin Eun Sha. Ajaib...Natsuha segera membuka kedua matanya.
“Tabib. Tolong cek keadaannya lagi. Natsuha baru saja sadar” panggil sang Ratu tapi Natsuha justru menggenggam tangannya tak boleh untuk bergeser satu inci pun darinya. Natsuha menatap damai Eun Sha.
“Jadilah...lebih...kuat...Ratuku...semoga kebahagiaan datang dari arah mana saja dalam...rumah...tanggamu”
“Jangan banyak bicara Natsuha. Cepatlah sembuh. Kalau kau tidak ada, maka..., tidak akan ada lagi orang yang bisa aku omeli setiap saat. Tidak ada yang bersedia berdebat, dan membuatku kesal sepanjang hari” celoteh Ratu membuat Natsuha tertawa lemah.
“Syukurlah itu artinya kau pasti akan merindukan si menyebalkan ini” kekeh kecil Natsuha.
“Wah, kau keterlaluan. Aku yang memerintahkanmu bangun tapi kau malah tidur seharian. Sekarang kau mengoceh banyak hanya dengan Ratuku?” tiba-tiba terdengar suara omelan dari seberang.
“Senang melihat Anda bisa mengomeli hamba lagi Baginda, hamba sangat takut terjadi hal buruk pada Anda” kata Natsuha yang mulai nampak tersengal-sengal saat berbicara.
“Natsuha...kau...ada apa denganmu?! Tabib!!” teriak Raja Keito bangkit dari peraduannya. Eun Sha akan berjalan menghampiri Raja tapi tangan Natsuha masih tertaut pada tangannya. Keringat dingin? Eun Sha merasakan keringat dingin pada telapak tangan Natsuha. Eun Sha akhirnya memilih tak melepas tautan tangan itu tapi....tangan Natsuha melemas dan terlepas dengan sendirinya dari Eun Sha.
“Perdana Menteri...telah tiada Yang Mulia...” kata sang Tabib membuat Eun Sha jatuh diatas lantai tak sadarkan diri.
Eun Sha mengerjapkan mata, menoleh ke kanan dan kekiri. Pasti, ini adalah mimpi di dalam mimpi. Iya, Natsuha adalah Pria tangguh tak mudah nyawanya menghilang begitu saja.
“Yang Mulia...mari kami bantu berganti pakaian. Yang Mulia Raja sudah lama menunggu untuk menyelesaikan upacara kematian Perdana Menteri Natsuha” sambut dayang tak terkira.
Jadi ini nyata? Natsuha...benar-benar telah tiada? Dengan pasrah Eun Sha berjalan, di bimbing para dayang berganti pakaian.
Raja Keito menoleh menyadari kehadiran Istrinya dari belakang punggungnya.
“Jika kau, belum sanggup merelakan Natsuha, jangan ikut upacaranya. Istirahatlah saja” kata Keito khawatir melihat sang Istri semakin pucat saja wajahnya.
“Tidak Suamiku. Aku harus menepati janjiku juga..., mengabulkan permohonan terakhirnya agar mulai detik ini aku akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Agar aku pun layak mendampingimu” kini Keito melihat keputusan dan ketegaran seorang Eun Sha. Keito tersenyum bangga lalu menggandeng tangan sang Istri menuju sebuah bukit.
Kimiko terkejut mendapati Eun Sha yang mendatanginya ke penjara secara tiba-tiba. Sang Selir yang kini telah menjadi janda cerai itu mendadak terkena serangan panik.
Jangan-jangan Keito mengalami kritis?
Eun Sha diam menatap tajam seorang Kimiko. Entah apa isi otak Wanita dihadapannya itu.
Plak!!
Kimiko dikejutkan dengan sebuah tamparan di pipi sebelah kanan.
“Kenapa kau tega menusuk Suamimu sendiri? Apakah itu sebuah ungkapan cinta?” sindir Eun Sha masih berusaha menekan emosi yang kian meluap-luap begitu melihat langsung wajah Kimiko yang seolah polos tanpa dosa.
“Dia tertusuk karena melindungimu. Aku ingin sekali melenyapkanmu Eun Sha...” jawaban tegas Kimiko membuat mata Eun Sha membulat.
“Itu, untuk percobaan pembunuhan terhadap Raja” kata Eun Sha kemudian,
Plak!!
“Itu karena kau, secara tidak langsung membunuh saudara sedarahmu!!” teriak Eun Sha menahan air mata yang sedari tadi, ingin keluar dari pelupuk matanya. Kimiko mulai memucat. Tak percaya apa yang diutarakan sang Ratu.
“Membunuh saudara sedarah? Maksudmu...Natsuha?” tanya Kimiko bibirnya mulai bergetar hebat. Siapa lagi kalau bukan Natsuha memang ada lagi saudaranya selain Pria itu?
“Aku, hanya tidak sengaja menusuk Yang Mulia bagaimana? Bagaimana bisa Natsuha mati karenaku? Aku...tidak...menusuknya sedikitpun?!” tanya Kimiko selalu menggelengkan kepalanya.
“Tepat sekali...Yang Mulia yang kau tusuk tapi Natsuha lah, yang merasakan sakitnya Kimiko. Begitu melihat Raja kau tusuk tanpa ampun, Natsuha mengalami syok berat hingga serangan jantung menimpanya sampai akhir hayatnya” kini Eun Sha menggenggam erat kedua bahu Kimiko, hingga Wanita tersebut merintih kesakitan. Kimiko mulai mengenang kejadian naas itu dan menyadari bahwa memang saat itu, Keito ambruk ke lantai di sertai dengan ambruknya Natsuha.
Adik Laki-lakinya itu, sempat ia lihat kesakitan sambil memegangi dadanya.
“Tidak....tidak....keluarkan aku dari sini. Ijinkan aku menemui Natsuha. Keluarkan aku!! Dia satu-satunya yang aku miliki sekarang!! Lepaskan aku Eun Sha...aku mohon. Untuk kali ini saja biarkan aku melihat Natsuha untuk terakhir kalinya. Kenapa kau diam saja? Dasar Wanita tak punya hati!!” teriak Kimiko mulai histeris.
“Bahkan kau...,tak layak melangkahkan kakimu, menghadiri upacara pemakaman Natsuha. Tidak masalah Kimiko, bukankah..., beberapa saat lagi, kau akan bertemu dengan Natsuha kesayanganmu itu disurga? Itu pun jika Dewa mengizinkan” jawab Eun Sha sinis sambil berdiri meninggalkan Kimiko yang sedang merana.
“Kau bisa melihat secara langsung pemenggalan kepalanya jika kau mau” sambut Raja Keito tapi Eun Sha malah menatapnya tidak setuju.
“Hormatilah Natsuha Yang Mulia. Bagaimanapun Kimiko saudari kandung Natsuha. Dari pada memenggal kepalanya, buatlah dia mati diracun. Aku ingin melihat penderitaan saat Natsuha sekarat pun, Kimiko rasakan.” Ini terdengar sebagai perintah untuk Raja bukan sebuah permintaan. Maka, dua jam kemudian, Kimiko dijatuhi hukuman mati dengan memaksanya meminum racun.
Hiroshi, Kotoko dan Mari dibawa ke sebuah Aula yang di sekelilingnya terdapat hutan lebat. Mereka bertiga saling memandang satu sama lain.
“Hiroshi pergilah ke arah barat hutan dan temuilah Tuanku” Instruksi dari Kitshato rubah yang membawanya itu.
“Kotoko, segera lah temui Tuanku di sebelah utara hutan” instruksi berikutnya dari Hato.
“Jangan buang waktumu Hamari...Tuanku lama menunggu kedatanganmu. Pergilah ke selatan...” desis Komainu menggelegar.
“Jadi Tuan kalian orang yang berbeda?”
“Tentu saja. Ujian diadakan secara terpisah.” Jawab Hato bersiul senang.
“Tidak akan terjadi hal buruk pada Chichi dan Haha kami. Itu janji kalian” tegas Hiroshi.
“Kami selalu menepati janji. Pergilah” kata Komainu mengantarkan kepergian mereka bertiga. Sesuai permintaan para penjaga suci itu, Hiroshi pergi ke barat, Kotoko pergi ke utara dan terakhir, Hamari ke Selatan. Di tempat terpisah itu, ada seorang utusan menghadap ketiganya. Ia memerintahkan baik itu Hiroshi, Kotoko maupun Hamari untuk memakan sebuah anggur hitam.
Setelah menelan, tak berapa lama kemudian mereka jatuh tertidur. Utusan tersebut melemparkan satu butir anggur hitam ke tubuh ketiganya lalu tanah yang mereka tiduri, berubah menjadi tanah hisab yang menelan mereka serempak.
Hamari terbangun ia tak mampu untuk bernafas!! Air? Kenapa dia ada di dalam air? Terakhir kali seingatnya ada di hutan. Hamari berusaha keras menyembul ke atas permukaan air.
“Tuan Putri!! Anda sudah terlalu lama berada di dalam danau ini. Sebelum Baginda Raja menyadari kepergian Tuan Putri, sebaiknya kita harus bergegas pulang!! Hamba mohon...., ayo bergegaslah!!” kata seorang dayang tak dikenali Hamari. Ia menurut saja dan keluar dari danau. Sang dayang dengan telaten mengeringkan tubuh majikannya.
“Kau mengenalku? Pasti kau salah orang. Mungkin Putri yang kau cari..., masih menyelam di dalam”
“Apa maksud Anda? Putri kerajaan Joseon satu-satunya adalah Anda. Hamba mohon untuk kali ini saja Putri, jangan membuat masalah” peringatan diberikan secara khusus oleh sang dayang. Joseon? Tapi..., Hamari berasal dari Jepang. Bagaimana bisa? Tunggu!! seseorang menculiknya atau apa?! Hamari mulai ketakutan. Setibanya di Istana Gyeongbokyung setidaknya itulah yang dayang tadi katakan, Hamari dibawa kedalam Istana.
“Siapa namamu?”
“Apa terlalu lama berendam di dalam air bisa menyebabkan penurunan daya ingat? Sepertinya aku tidak pernah mendengarkan penyakit seperti itu,” gumam sang dayang sendirian.
“Aku..., aku..., hanya...ingin mengetes apa daya ingatmu masih cukup bagus. Apa aku harus meminta Ayahanda untuk menggantikanmu?”
“Ampuni hamba Putri, hamba hanya khawatir terhadap kesehatan Tuan Putri. Begini nama hamba, Gu Baek-Na. Dan..., nama Anda Ha-Neul Arang. Nama Ayahanda Anda, Gu Jae-Deok Raja kerajaan Gyeongbokyung. Nama Ratu adalah Hana Young dan terakhir, nama calon Suami Anda Hyun-Jae.” Jawab Baek-Na mengeluarkan seluruh kemampuannya dalam menghapal.
“Calon apa?!”
“Calon....Suami” jawab Baek-Na sambil meringis kesal merasa dipermainkan sang Tuan Putri.
“Baiklah, hamba mohon diri” pamit Baek-Na berlalu begitu saja.
“Hiroshi....Kotoko...apa yang harus ku lakukan? Kenapa semua jadi terlihat asing begini. Haha...kenapa tiba-tiba hamba menjadi Ha-Neul dalam sehari?” rengek Hamari merasa hilang ke Negeri antah berantah. Tiba-tiba sebuah kertas, berbentuk pesawat melayang mengelilingi kepala Hamari lalu jatuh tepat di depan kakinya.
“Ha-Neul!! Apa yang kau lakukan disana?!” sapa seseorang melambaikan tangan ceria. Hamari menoleh ke kanan dan ke kiri. Memang tidak ada siapa pun disana kecuali dirinya. Ah, nampaknya Hamari harus terbiasa dipanggil Ha-Neul mulai detik itu juga. Sang Laki-laki muda itu berlari mendekatinya dengan senyuman lebar.
Chi...Chichi Natsuha? Tidak...tidak...ini pasti halusinasiku. Bagaimana bisa Chichi Natsuha terlihat jauh lebih muda dari biasanya? Mirip!! Pasti hanya mirip. Atau mungkin, karena aku terlalu merindukan rumah?
“ Lagi, lagi. Kenapa sekarang kau seaneh ini? Tadi kau bicara sendirian pada dinding, sekarang kau memilih melamun saat kau ada di depanku. Apa kau sedang sakit?” tanya Laki-laki itu memeriksa kening Hamari.
Benar...,jelas ini bukan Chichi Natsuha pikir Hamari kecewa berat.
“Hoy, ekspresi apa itu? Aku baru saja pulang dan segera datang padamu harusnya Ha-Neul ku menyambut kedatangan kekasihnya ini” kelakar Laki-laki itu sambil memeluk rindu pujaan hatinya.
“Hyun....Hyun-Jae?” tanya Hamari disambut sang Calon Suami, dengan kedua alisnya terangkat. Hamari langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya terkejut.
“Haaa manisnya..., jangan katakan kau ingin menangis sekarang karena terharu” tebak Laki-laki muda bernama Hyun-Jae itu menghela nafas dalam. Benar saja Ha-Neul nya menangis sejadi-jadinya. Hyun-Jae tak menyangka sambutan seperti inilah yang akan dia hadapi saat bersusah payah berjuang menemui Kekasihnya itu. Hyun-Jae terkekeh lembut lalu memeluk Ha-Neul lebih lama dari sebelumnya.
“Kapan kau datang? Ha-Neul..., kenapa kau tidak mengajaknya masuk ke dalam?” tegur seorang Wanita cantik seumuran dengan Ibunya Hamari, Ratu Eun-Sha.
“Apa kau sekarang tak mau menuruti kata Ibundamu lagi?” gerutu Wanita itu menatap Ha-Neul kesal.
“Hormat hamba Ratu Hana...” sapa Hyun-Jae santun.
“ah, kalau kalian ingin pertemuan privasi sebaiknya pergilah ke taman Istana. Tidak akan ada yang mengganggu. Tapi nyamuk akan menjadi saksi bisu cinta kalian” goda sang Ratu membuat Ha-Neul tersipu malu tapi Hyun-Jae justru tertawa lepas sambil menggaruk kepalanya.