Aitai

Aitai
Sang Pria Misterius



Ini terlalu membingungkan untukku. Bagaimana perasaanku ini terbolak- balik tanpa arah? Aku merasa jauh dari Suamiku Keito karena benakku berkata dia Natsuha. Dan sekarang? Ketika aku didekat Natsuha, aku menemukan kedamaian yang selalu kurasakan bersama Keito dulu. Perang batin ini terus mengusik hati Eun Sha.


Sesampainya ditempat strategis untuk beristirahat, ada seorang Pria menggunakan caping bercadar mendekatinya. Tiga pengawal Istana bersiaga dalam penyamarannya didekat sang Ratu jika terjadi aksi penyerangan secara tiba-tiba.


"Saya ingin menawarkan sebuah barang yang unik Nona. Apakah Anda bersedia?" tawar Pria misterius itu.


"Apakah itu?" tanya Eun Sha penasaran. Sang Pria misterius tiba-tiba menghentikan waktu seperti yang dilakukan Sizuka dahulu.


"Siapa kau?! Apa tujuanmu mendekatiku?" tambah Eun Sha sambil berjalan mundur menjauhi sang Pria misterius.


"Hamba Suami dari Sizuka, Ratu" jawab Pria misterius sambil menghormat.


"Suami? Ada hal penting apa yang Anda ingin bicarakan pada Saya?"


"Tolong terimalah pemberian hamba" jawab Suami Sizuka sambil menyerahkan sekotak kecil berisi berlian yang mungil.


"Gunakanlah berlian ini untuk mengungkap tabir kebenaran yang tertutup rapat. Mohon gunakan sebijak mungkin" tambah Pria misterius tersebut.


"Bagaimana ini bisa mengungkapkan kebenaran?" tanya sang Ratu tak mengerti. Maka sang Pria misterius memberi kode untuk menyerahkan kotak beserta isinya ke tangannya. Ratu menuruti perintah. Berlian kecil tersebut diambil dari dalam kotak lalu ditekankan tepat diantara kening dan batang hidung sang Ratu.


"Selesai. Mulai sekarang Anda akan dapat mengetahui mana yang asli ataupun palsu" suara itu terdengar jelas ditelinga Eun Sha tapi Pria misterius tersebut menghilang tanpa jejak. Tanpa sadar...waktu telah berjalan kembali.


Sapuan angin diwajahnya menghalangi pandangan Eun Sha pada sosok Natsuha yang sibuk bermain layang-layang. Eun Sha menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi pemandangan dihadapannya. Matanya terkunci pada sosok Natsuha.


Wajah Natsuha yang sedang tersenyum riang karena banyak orang yang menyoraki keahliannya dalam bermain layang-layang kini beralih menjadi wajah Keito?! Eun Sha bangkit dari duduk mencoba memastikan apa yang ia lihat benar, atau salah? Ketika ia bangkit, wajah Pria itu kembali menjadi Natsuha tapi dua menit kemudian, berubah menjadi wajah sang Raja. Eun Sha tak mengerti apa yang sedang terjadi padanya kini.


Ia melangkah mendekati Natsuha digapainya lengan Pria tersebut namun hal sama terus saja terjadi. Dadanya terasa nyeri berulang kali ditepuk-tepuk perlahan sayangnya rasa ngilu itu semakin menjadi bahkan tubuh lemas itu tak mampu lagi berdiri.


"Ra..." lidah Natsuha tak jadi melanjutkan kata karena ia kini sedang menyamar terlebih lagi, jika Rakyat melihat Ratunya sakit, maka akan ada rumor yang sulit dikendalikan bermunculan.


"Eun Sha. Apa kau mendengarku? Bertahanlah. Mari kita pulang" suara Natsuha terdengar cemas. Eun Sha menatap redup kearah Pria yang sedang menangkap tubuhnya yang Lunglai. Tanpa ragu Wanita itu menangkup pipi Natsuha dengan tangan kanan.


"Kumohon jangan pergi" kata Eun Sha lirih sebelum jatuh pingsan. Natsuha membopong sang Ratu Ia berjalan secepat mungkin menuju Istana. Sesampainya di kediaman Ratu, Natsuha dan Keito dengan sabar menunggu Eun Sha sadarkan diri. Keito memerintahkan para dayang keluar dari kediaman Ratu.


"Apa yang terjadi yang Mulia?" tanya Keito palsu mencari tahu.


"Aku sedang bermain layang-layang saat itu sementara Ratu duduk ditemani tiga pengawal. Mari kita cari tahu penyebabnya dengan mengorek informasi dari para pengawal" jawab Natsuha palsu. Terdengar pemberitahuan dari pengawal di kediaman Ratu tentang kedatangan ketiga pengawal yang dinanti.


"Hormat hamba Yang Mulia" sapa ketiga pengawal kepada junjungan mereka Keito. Maka Keito palsu menganggukkan kepala.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Ratuku?" tanya Raja Keito menuntut jawaban.


"Sebelum Ratu sakit, kami sempat mengawasi seorang penjual perhiasan keliling yang sedang menawarkan dagangannya. Tapi mendadak orang itu menghilang tanpa jejak lalu Ratu mulai menunjukkan gelagat aneh sambil mendekati Perdana Menteri Natsuha dan tiba-tiba jatuh pingsan" jawab Satoru di iyakan oleh dua pengawal lainnya.


"Penjual perhiasan keliling? Ada yang lain?" sela sang Raja.


"Tidak. Kami yakin tidak ada hal lain yang luput dari pandangan kami” jawab Yunho penuh keyakinan.


"Cari tahu siapa pedagang perhiasan keliling itu diseluruh pusat perdagangan dan bawa dia menghadapku" titah Raja Keito penuh penekanan.


"Daulat Yang Mulia...kami mohon diri untuk mencari pedagang tersebut" pamit ketiga pengawal Istana. Ketika mereka pergi, sang Ratu mulai sadarkan diri. Keito palsu segera mendekat lalu menyodorkan secawan teh hangat kepada Ratu. Eun Sha menerima perhatian itu, meminum habis teh herbal lalu menatap lekat wajah sang Raja. Di pandangan Eun Sha, wajah Keito beralih menjadi wajah Natsuha.


Ia berusaha memejamkan mata sejenak, lalu memperhatikan wajah Keito kembali akan tetapi hal serupa terjadi lagi.


"Apa yang kau rasakan Ratuku? Pusing?" tanya Keito sangat cemas. Eun Sha menggeleng perlahan.


"Hamba akan segera memanggilkan tabib Istana" sela Natsuha akan beranjak pergi.


"Tunggu" panggil Eun Sha menatap lekat wajah Natsuha.


Tidak...mataku tidak salah. Aku harus mencari jawaban dari pedagang itu tentang kebingunganku ini.


"Natsuha, apa yang sedang kau, dan Raja sembunyikan dariku?" pertanyaan sang Ratu justru membingungkan bagi kedua Laki-laki dihadapannya. Mereka saling pandang sekaligus menatap Ratu penuh tanda tanya.


"Apa yang sedang kami sembunyikan? Katakan maksud pertanyaan membingungkanmu itu" tandas Raja penasaran.


"Seseorang berkata padaku, akan mengungkap tabir kebenaran yang tertutup rapat. Dan firasatku mengatakan, ini tentang kalian berdua."


"Kenapa kau berpikiran ini hanya tentang kami? Bisa jadi yang dia maksud hal lainnya. Kenapa kau tidak bertanya saja padanya agar lebih jelas? Kebenaran apa tepatnya yang sedang ia bicarakan?"


"Sebelum sempat aku bertanya, dia tiba-tiba menghilang begitu saja. Tapi, ada fakta yang menguatkan dugaanku Yang Mulia. Apa Anda dan Natsuha sangat yakin tidak ada satu hal pun, yang dirahasiakan dari hamba?" tambah Eun Sha mencoba menekan kedua Pria dihadapannya.


"Sebenarnya jujur saja aku bingung. Kenapa kau, menghubungkan informasi yang sangat minim ini kepada kami? Bisa kau katakan fakta apa yang sedang kau bicarakan itu?” sambut Raja Keito mencoba mengorek informasi lebih dalam. Raut wajah Ratu terlihat ragu untuk mengungkap apa pun itu. Bahkan, lidahnya terasa kelu untuk digerakkan.


Ini hanyalah dugaanku kenapa aku sebut hal tersebut sebagai sebuah fakta? Batin Eun Sha merasa terlalu ceroboh.


"Anda baru saja mengatakan kami menyembunyikan sesuatu bukan? Bagaimana kami dapat meluruskan kesalah pahaman ini, jika Anda tidak mau mengatakan faktanya?" sela Natsuha penuh selidik.


"Uh Ehm. Se...seperti yang Raja Keito katakan tadi, informasi yang aku dapatkan hanya sepotong. Jadi...aku akan mencari orang itu lagi untuk mendapatkan informasi akurat esok hari" Eun Sha tergagap.


"Maka kau, tidak perlu turun tangan langsung Ratuku. Karena Prajurit kita sedang berusaha melacak keberadaan orang itu. Jika identitas yang diperlihatkannya sebagai seorang pedagang perhiasan keliling tidak palsu, hari ini juga pasti akan segera ditemukan” jawab Raja Keito seyakin mungkin.


"Jika dia menyamar?"


"Maka aku membutuhkan kerja sama orang-orang yang pernah melihatnya untuk membuat sketsa wajahnya. Dengan itu, kita bisa menyebarkan sketsa ke seantero Negeri ini untuk mempermudah orang-orang kita dalam menemukannya” tandas Raja Keito diikuti anggukan sang Perdana Menteri.


Ketika pandangan Eun Sha fokus pada sang Raja, Eun Sha mulai merasa terganggu karena wajahnya berubah menjadi Natsuha. Eun Sha menatap bingung ke arah sang Perdana Menteri tapi justru wajahnya berubah menjadi wajah Suaminya Keito. Seketika Eun Sha berdiri lalu berusaha menjauh dari keduanya.


"Ratu, apa ada hal yang mengganggu hati Anda?" tanya Natsuha bingung.


"Ada apa denganmu hari ini? Kenapa kau begitu aneh setelah pulang dari Festival layang-layang? Jangan membuatku khawatir tolong katakan sesuatu” kini Raja Keito mendekat berusaha merengkuh bahu Wanita di depannya tapi Wanita itu justru berusaha menyingkir darinya.


"Ratu Eun Sha. Apa ada yang mengancammu?" tanya Natsuha selembut mungkin. Matanya memancarkan ketidak berdayaan sekaligus kekhwatiran Pria itu. Sejenak Eun Sha menatap lembut kearah Natsuha hatinya seolah ingin mengatakan seharusnya Pria itulah yang ada disisinya.


"Maafkan kelancangan hamba Ratu. Bukan maksud hamba berperilaku setidak sopan ini” tambah Natsuha secepat mungkin mengoreksi kesalahan.


"Lupakanlah itu. Dan satu hal lagi. Tidak ada yang mencoba mengancam Ratu Negeri ini jangan khawatir" balas Ratu dengan senyuman terpaksa. Perlahan dihela nafasnya dalam-dalam lalu menatap serius kepada Raja Keito dan Natsuha setajam mungkin.


"Yang Mulia hamba butuh menenangkan diri. Jika Anda mengizinkan...,hamba ingin sendiri disini. Atau, bisakah Anda menghabiskan waktu beberapa hari bersama Selir Kimiko?" tambah Eun Sha mengagetkan Raja Keito dan Natsuha. Mendengar permintaan dari Ratu, Natsuha bersegera memohon diri.


"Kalau begitu hamba pun mengundurkan diri Yang Mulia” kata Natsuha langsung memahami situasi.


"Tolong tinggallah sebentar Natsuha” cegah Eun Sha tanpa ragu.


Haruskah aku bahagia atau sedih mendengar langsung Eun Sha memilihku dari pada Natsuha? Sebagai Keito, aku bahagia tapi aku tidak dapat menampik kenyataan bahwa kini aku berada dalam raga Natsuha. Jadi Ratuku, apa hatimu condong pada Natsuha? Rintih batin Keito Asli.


"Ada yang ingin Anda bicarakan? Apakah itu?” tanya Natsuha memperhatikan setiap perubahan raut wajah Ratu, ketika Raja Keito telah menghilang dari pandangan.


"Tentang rencana kepergianmu. Apa kau masih...."


"Tolong jangan membahas tentang hal ini lagi. Jika orang lain mendengar akan tersebar rumor yang bisa mencoreng keluarga Kerajaan. Terlebih lagi jika tersebar setelah insiden pingsannya Anda hari ini"


"Baiklah. Mungkin bagi sebagian orang aku ini sebuah aib"


"Hamba tidak pernah mengatakan hal itu. Maaf telah melukai hati Anda"


"Cukup kau tahu satu hal saja Natsuha. Entah kau akan berpikiran aku sudah gila atau...hanya dalam keadaan tidak sehat, aku tidak peduli. Kenyataannya selama dua hari ini aku dalam keadaan bingung. Entah kenapa aku berpikir kalian bukanlah kalian"


"Kami bukanlah kami?" Natsuha mengangkat kedua alis mencoba mencerna.


"Bagaimana cara mengatakannya. Aku melihatmu...." Ratu tercekat mengurungkan niat untuk melanjutkan.


"Melihat hamba...apa? Kenapa? Bagaimana?"


"Lebih jelasnya entah kenapa perasaanku kali ini lebih condong padamu. Mungkin ini karma karena aku selalu mengabaikan perasaanmu" tiba-tiba hanya itu yang terucap dari bibir mungil sang Ratu.


Tidak. Bukan itu yang aku ingin katakan. Tapi...itu juga bukanlah sepenuhnya salah. Bagaimana ini? A-Aku takut dengan reaksi Natsuha setelah ini batin Ratu merasa mulai membuka celah hubungan terlarang.


Deg!!


Jantung Pria itu berdegup kencang seolah ada palu memukuli hatinya tanpa ampun. Nyeri...betapa nyeri hati seorang Keito, yang terjebak dalam tubuh Natsuha.


"Ratu. Bagaimana bisa Anda mengatakan hal seperti ini tanpa memikirkan perasaan Suami Anda?!" Natsuha berdiri secepat mungkin dengan wajah yang merah padam karena marah.


"Sadarkah dirimu Natsuha? Sikapmu kali ini sungguh aneh dimataku. Seolah aku yang berselingkuh darimu. Bukankah sebagai Pria yang telah lama mendamba cinta dariku seharusnya, kau menyambutku dengan suka cita?"


"Cukup sampai disini” kata Natsuha sambil menoleh menatap Eun Sha dengan berapi-api.


"Saya bukan Natsuha yang dulu. Saya adalah pribadi yang berbeda. Bagi hamba perasaan itu sudah lama mati sejak Anda, memilih kembali kepelukan Baginda". Tambah Keito sambil mengutuki tubuh yang terpaksa dipinjamnya.


"Justru karena itu, ku rasa yang membuatku sangat tertarik padamu sekarang"


"........"Natsuha tanpa kata kembali menatap Eun Sha penuh tanda tanya.


"Jika kau pribadi yang sama seperti dulu, hatiku takkan goyah seperti ini. Justru kau yang sekarang, membuatku ingin selalu berada di sekitarmu"


"Menurut Anda, perasaan yang condong itu, perasaan seperti apa? Hamba khawatir Anda salah mengenali arti perasaan tersebut".


"Seperti...Ingin memiliki, tak ingin berpisah, cinta?" jawab Eun Sha membuat Natsuha menggelengkan kepala.


"Tenangkan pikiran Anda sebelum menyimpulkan suatu hal yang sangat sensitif seperti ini. Hamba yakin itu bukanlah cinta. Anda hanya menjadi manusia yang egois karena takut kehilangan sahabat"


"Bagaimanapun hamba maklum karena hamba satu-satunya sahabat yang Anda miliki. Jadi, ketika Anda mengetahui sahabat Anda akan pergi kecemasan muncul secara tiba-tiba. Mohon jangan khawatir karena hamba tidak akan pergi sampai Anda mengizinkan".


"Itu cinta. Seperti aku mencintai Keito. Seperti itulah perasaanku padamu"


"Bagaimanapun Anda harus memilih. Dan pilihan Anda jatuh pada Raja Keito” tegas Natsuha sambil mengepalkan kedua telapak tangan.


"Apa kau masih belum mengerti? Aku mencintaimu bukan sebagai Natsuha. Tapi sebagai seorang Keito. Raja Negeri ini. Suamiku” tegas Eun Sha tak mau kalah. Natsuha tak tahu lagi harus berkata apa.


Sebagai Keito, ia bahagia ternyata Eun Sha masih mencintainya tapi kenapa dia juga mencintai Natsuha? Bahkan sama besarnya? Ia merasa tak sanggup lagi mendengar ocehan Istrinya itu.


"Hamba mohon diri Ratu. Jangan pernah menyamakan antara hamba yang hina ini dengan Yang Mulia Raja. Apa lagi membandingkan. Hamba sangat membenci hal itu” tegas Natsuha lalu pergi begitu saja. Begitu Natsuha lenyap dari pandangan pada akhirnya bulir air mata tak mampu lagi ditahannya.


Tidak...ini tidak mungkin terjadi. Bagaimana bisa, aku merasa sedang dicampakkan oleh Suamiku sendiri?! Apa aku mulai gila? Itu Natsuha... Itu... Perdana Menteri Natsuha. Kenapa hatiku selalu menyangkal kenyataan ini?


"Ya Tuhan Ratu!!" pekik dayang yang baru saja masuk kedalam kediaman Ratu. Melihat sang Ratu ambruk ke lantai. Satu jam kemudian Ratu pun tersadar tapi dia tidak bergerak sedikitpun. Dia hanya diam...menatap lurus ke langit-langit.


"Tabib, apa yang terjadi?” tanya Raja Keito terlalu cemas.


"Tolong untuk sementara waktu, Ratu dijauhkan dari keramaian. Tampaknya beliau membutuhkan ketenangan jiwa. Yang Mulia...beliau seperti ini, karena mengalami syok berat. Mohon cari penyebab Ratu menjadi syok seperti ini. Dan jika memungkinkan singkirkan penyebab itu, jika Anda berdua tidak dapat menghadapi tekanan tersebut” jawab Tabib Istana sambil memohon diri.


"Bisakah kau mengatakan apa yang sedang terjadi padamu? Kenapa kau sampai seperti ini? Aku mohon janganlah seperti ini terlalu lama. Pikirkan aku dan Anak-anak” kata Raja Keito sambil menggenggam kedua tangan Ratu. Tanpa diduga Ratu menampik tangan Keito palsu.


"Apa kau marah karena Natsuha akan pergi? Tenanglah dia membatalkan keinginannya” panik sang Raja Keito.


Aku jadi teringat masa dimana dahulu kau dan Keito terpisah terlalu lama. Kau juga bersikap seperti ini padaku. Tapi...saat itu ada harapan dimana kau akan bersatu kembali dengannya. Karena itu kau cepat pulih. Batin Natsuha di dalam tubuh Raja Keito.


"Kau memusuhiku atas kesalahan apa?” ia tetap berusaha berbicara pada Eun Sha.


"Dayang Hikari"


"Yang Mulia” jawab Hikari.


"Pergilah ke kediaman Natsuha. Katakan aku ingin, dia datang kehadapanku sekarang juga” titah sang Raja. Tak lama kemudian Natsuha datang menemui Raja Keito di kediaman Raja.


"Anda memanggil hamba Yang Mulia?” sapa Natsuha datar.


"Berhubung Ratu tiba-tiba jatuh sakit, maaf jika aku menanyakan satu hal ini kepadamu Natsuha” jawab Raja penuh penekanan.


"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan tadi? Kenapa setelah kau pergi dari kediaman Ratu, mendadak Ratu jatuh sakit?"


"Maafkan hamba Yang Mulia. Hamba rasa...ini bisa dibicarakan secara pribadi” jawab Natsuha memberi kode agar para dayang keluar dari kediaman Raja. Para dayang segera memahami kode tersebut lalu memohon diri.


"Apa kau merasakan kelakuan Istriku aneh akhir-akhir ini?” tanya Natsuha palsu sambil duduk disamping peraduan Raja Keito.


"Sebelum ini beliau meminta hamba agar lebih memperhatikannya sebagai seorang Suami. Tapi, dua hari ini saat hamba berusaha mengabulkan permohonan beliau, Ratu justru terus menolak kehadiran hamba” Jawab Keito palsu bingung setengah mati.


"Dia memang bersikap aneh semenjak kita tertukar. Tapi sikapnya jauh lebih aneh lagi setelah dia pergi bersamaku. Apa ada hubungannya dengan pedagang keliling itu?” kata Natsuha palsu sambil mengelus janggutnya.


"Jadi apa yang Baginda dan Ratu bicarakan setelah hamba pergi?” tanya Keito palsu sangat penasaran. Tapi Natsuha palsu malah mendengus geram.


"Baginda...."tuntut Keito palsu menatap penuh harapan. Dia tidak akan bertanya jika itu tidak menyangkut kesehatan sekaligus keselamatan Ratu.