Aitai

Aitai
Cinta, Atau Obsesi?



"Tapi Negeri ini mengakuiku sebagai Putra Mahkota berdasarkan kesaksian Anda Yang Mulia"


"Apalah arti gelar Putra Mahkota, tanpa ada bukti bahwa dirinya layak menjadi penerus Raja selanjutnya? Hmm? Kau...masih jauh dari kata layak. Hiroshi, jika kau ingin Tahta ini jatuh dipundakmu, maka tunjukkan kemampuanmu"


"Tunjukkan padaku, bahwa kau, benar-benar layak untuk memerintah Kerajaan ini. Jangan berharap karena kau Putraku, kau dapat menggunakan kedudukanmu hingga dengan mudah menguasai Tahta. Ingat!! Hanya orang yang layak, yang akan mampu memimpin Kerajaan ini"


"Jika hamba menunjukkan kemampuan, apa setelah dianggap layak, hamba boleh menyanding Ratu? Yang Mulia..."


"Tiada manusia yang mampu melebihi kodratnya, tanpa seizin Sang Pencipta. Kau tidak akan direstui Alam...jika niatanmu mendapatkan Tahta hanya untuk menikahi Hahamu sendiri. Kau akan mencoreng nama baik Kerajaan ini" kata Raja memperingatkan.


"Sudah kuputuskan, tidak ada siapa pun yang boleh menghalangi niatanku ini. Jika dengan menyingkirkan Yang Mulia Raja, adalah jalan hamba untuk dapat memiliki Yang Mulia Ratu, dengan senang hati...hamba akan melakukannya” kekeh Hiroshi membuat Raja membelalakkan mata.


"Mungkin kau, bisa mendapatkan apa yang kau mau. Tapi tidak dengan hati Hahamu. Dia selamanya hanya akan menganggapmu Putra kandungnya" kekeh Raja mulai memancing amarah sang Putra Mahkota.


"Mari kita berkompetisi untuk membuktikan siapa yang berhak atas Hahamu. Chichi, atau kau..." gertak Raja mengacungkan satu jari tepat dihadapan sang Putra Mahkota.


"Hamba terima tantangan Anda Yang Mulia" jawab Hiroshi memberi penghormatan dan berjalan ke pintu keluar. Langkah kakinya tertahan ketika ia melihat Eun Sha berada diambang pintu, dengan tatapan nanar memandangnya tanpa berkedip.


"Hiroshi" panggil Ratu ketika mulai berpapasan dengan sang Putra Mahkota. Hiroshi hanya berdiri diam mematung tanpa menoleh sedikitpun pada Wanita yang tengah akan diperjuangkannya itu.


"Apa kau sadar, sedang berhadapan dengan siapa?! Beraninya kau memintaku dengan gamblang di depan Chichimu!! Didepan Suamiku!!" bentak Eun Sha dengan suara bergetar hebat.


"Apa hamba tidak layak memperjuangkan Wanita yang hamba cintai?"


"Ya, kau pantas mendapatkan Gadis terbaik di Negeri ini. Tapi aku Hahamu!! Orang, yang telah melahirkanmu, antara hidup dan mati Hiroshi!!" murka sang Ratu.


"Sampai sekarang, hamba tidak pernah mengingat bahwa hamba, masih memiliki orang tua kandung. Karena hamba dibesarkan oleh orang tua angkat. Jadi sampai kapan pun, Anda bukanlah Haha. Bagi hamba, Haha telah lama tiada dan kini hanya ada Anda, dalam kehidupan hamba, sebagai Wanita, yang hamba cintai"


"Lancang kau!!"


"Kenapa hamba dianggap tidak pantas mengutarakan isi hati hamba kepada anda Ratu? Sementara Menteri Natsuha dengan mudahnya mengutarakan isi hatinya kepada Anda? Apakah ini yang disebut keadilan?" bantah Hiroshi mulai meradang.


"Ya, ini tidak adil. Kami tidak pernah mengenal Haha dan Chichi kandung kami!! Lalu bagaimana rasa hati kami, ketika setelah menemui sosok orang yang kami cintai, ternyata mereka mengaku sebagai orang tua kandung kami?! Katakan apa yang harus kami lakukan?!" teriak seseorang dibalik pintu kediaman Raja.


"Apa maksudmu Mari? Katakan" tanya Ratu tegas, mulai merasa apa yang diutarakan Natsuha bukan sekedar isapan jempol belaka.


"Jika Hiroshi mencintai Yang Mulia Ratu, maka hamba memiliki hasrat yang sama dengan Yang Mulia Raja" pengakuan Putri Mari membuat Ratu tak mampu lagi menopang tubuhnya dengan kedua kakinya. Ia jatuh terduduk, sementara Raja tak mampu berbuat apa pun karena jahitan yang ia punya.


Hiroshi berlari kecil ingin menggapai Eun Sha, tapi Wanita tersebut justru mengangkat telapak tangannya di hadapan Hiroshi, sebagai tanda penolakan.


"Pikirkan baik-baik atas apa yang kalian katakan pada kami. Hiroshi, Mari. Pergilah" kata Ratu penuh penegasan.


"Bukan mak...." kata Hiroshi tertahan, merasa bersalah melihat Ibunya begitu syok mendengar pengakuan mereka berdua.


"Pergi!! Kubilang pergi!!" teriak Eun Sha membuat sang dayang yang berada di balik pintu terperanjat kaget. Begitu sang Putra Mahkota dan Putri pergi dari kediaman Raja, sang dayang kesayangan Ratu, memasuki kediaman Raja berusaha membantu Ratu bangkit berdiri.


"Tolong bawa Ratu kemari" kata Raja pada sang dayang. Maka dayang itu pun memapah Ratu yang menangis sejadi-jadinya, menuju peraduan Raja.


"Terima kasih. Kau boleh pergi" tambah Raja pada sang dayang Istana. Begitu dayang pergi, Raja langsung memeluk Ratunya membiarkan belahan jiwanya menumpahkan rasa kecewa itu hari ini juga sebelum menjadi penyakit hati yang ganas.


"Nat-su-ha telah memperingatkan sebelumnya. Tapi hamba mengulur waktu untuk membicarakannya pada Anda. Apa yang terjadi pada Anak-anak kita Yang Mulia..." rintih Eun Sha membenamkan wajahnya di bahu Raja.


"Kuharap kau tidak lupa dengan kutukan yang Kimiko buat. Dengar...ini bukan keinginan dari Putra dan Putri kita. Ini hanya karena kutukan itu" kata Raja mengelus kepala Ratu lembut. Sang Ratu mendongak, menatap raut wajah penuh duka sang Raja.


"Apa yang harus kita lakukan?"


"Pasti ada jalan keluar. Kita harus meluruskan pemikiran mereka yang terlanjur dibengkokkan oleh kutukan itu"


"Anda tahu cara meluruskannya?" tanya Eun Sha penuh tanda tanya. Raja mengulas senyum, lalu menyeka air mata Istrinya, mendongakkan dagu Eun Sha hingga kedua mata mereka beradu.


"Aku Chichi mereka. Jika mereka punya seribu kesalahan, maka aku pun punya seribu jalan untuk membawa mereka ke jalan yang benar. Untuk itu, aku butuh bantuan dari Natsuha, Kau, dan Kimiko tentunya" kata Raja sangat yakin.


"Apa rencana Anda Yang Mulia?"


"Selama ini...mereka terlalu dibutakan oleh cinta. Padahal sebagai anak muda, hanya cinta, dan segala kesenangannya saja yang mereka pikirkan"


"Tapi mereka tidak memikirkan bagaimana cara mendapatkan cinta dengan terhormat, bagaimana cara merawat cinta itu sendiri, dan suka duka apa yang harus mereka lalui jika mereka memutuskan untuk berkomitmen dengan seseorang. Sampai disini kau paham, jalan pikiranku selanjutnya Ratuku?"


"Apa itu artinya...kita akan mengajarkan tentang apa itu cinta kasih yang sesungguhnya?"


"Ya, tapi yang lebih tepat adalah aku akan mengajari mereka bagaimana perjuangan cinta yang sesungguhnya di depan mereka secara langsung. Itu terlihat mudah, tapi menyusahkan jika hanya sekedar cinta..." ungkap Raja membuat Eun Sha mengingat kembali apa yang telah ia ributkan dengan Natsuha.


"Jadi selama ini Anda hanya sekedar cinta saja terhadap hamba" keluh Eun Sha sambil memalingkan wajah dari Raja.


"Ya ampun...satu masalah belum selesai, lalu masalah apa lagi kali ini Hm?" gerutu Raja sambil mencubit kedua pipi Eun Sha.


"Apa Anda ini normal Yang Mulia?"


"Ah, ya, tentu, aku menikahi seorang Gadis, bukan seorang perjaka. Kau tahu sendiri bagaimana...aku bukan?" jawab Raja menatap jahil pada Istrinya.


"Yang Mulia...,Anda tahu betul apa yang sedang hamba bicarakan kali ini. Kalau soal Anda menyukai lawan jenis atau sesama jenis, hamba tahu Anda luar dalam" gerutu Eun Sha mengentakkan kakinya di lantai kayu.


"Hey, aku Raja di Negeri ini...bukan seorang Paranormal yang dapat mengetahui banyak hal tanpa melihat, dan mendengar sebelumnya. Jadi...Istriku sedang merajuk? Hmm?"


"Seriuslah Yang Mulia" balas Eun Sha kesal.


"Apa yang membuatmu berpikir aku tidak benar-benar mencintaimu? Padahal kau ini teman hidupku" kata Raja menggelengkan kepala.


"Karena sikap Anda selama ini Yang Mulia. Tidakkah ada sedikit...saja rasa cemburu dalam hati Anda untuk hamba? Ketika hamba berada terlalu dekat dengan Natsuha...misalnya...?" pancing Ratu sambil melirik kearah Rajanya.


Antara cinta dan obsesi memang harus dapat kita pisahkan. Ketika kita mencintai, bukankah kita akan menomer satukan kebahagiaan orang yang kita cintai? Meskipun itu artinya...kita harus mengikhlaskan apa bila cinta telah menjatuhkan pilihannya pada orang lain?


"Aku memanggil kalian bertiga kemari untuk menanyakan satu hal pada kalian" kata Raja Keito pada suatu pagi kepada ketiga anaknya.


"Tentang apa Chichi?" tanya Hiroshi mengangkat kedua alisnya penuh selidik. Mendengar pertanyaan Hiroshi, dan melihat reaksi penuh tanda tanya dari kedua Putrinya, Raja Keito tersenyum kecil.


"Apa kalian sudah lupa, Hiroshi, Mari. Kalian telah mengutarakan isi hati kalian terhadap kami. Kedua orang tua kalian. Bahwa kalian mencintai kami, bukan? Tunjukkan rasa cinta kalian dengan menjalani ujian dari kami bertiga" kata Raja sambil mengambil secawan teh hangat lalu meminumnya hingga habis.


"Bertiga? Maksud Chichi?" tanya Putri Kotoko mengerutkan kening.


"Ya, aku, Haha, dan Chichi Natsuha. Kami harus berdiskusi dengan sangat serius untuk menilai apakah...Putra Mahkota Hiroshi benar mencintai Ratu, apakah...Putri Hamari benar mencintai Raja, apakah...Putri Kotoko benar mencintai Putra Mahkota dengan sungguh-sungguh" jawab Raja begitu tenangnya sambil melirik ke arah anak-anaknya.


Memperhatikan tiap gurat ketegangan di wajah ketiganya, Raja kian optimis mampu meluruskan pikiran mereka yang terlanjur bengkok.


"Jadi...Chichi akan memenuhi janji, jika hamba dan Mari yang menang maka kalian..." kata Hiroshi ingin memastikan sesuatu yang mengganjal di hati. Raja Keito hanya mengangguk lalu berdehem.


"Tapi kalian harus patuh terhadap peraturan permainan bahkan mengikuti setiap tantangan tanpa keluhan sedikitpun" kata Raja sangat serius.


"Hamba, Hiroshi Satoru Akio bersedia" jawab anak termuda dengan suka cita.


"Hamba, Koizumi Hamari bersedia" jawab anak dari Selir Kimiko.


"Tunggu. Bagaimana dengan hamba Yang Mulia? Hamba tidak pernah terlibat pembicaraan tentang tantangan ini sebelumnya. Lalu..., untuk apa hamba mengikuti tantangan ini?" protes Kotoko merasa tidak ikut terlibat tapi kini dilibatkan pada tantangan yang sama sekali tak ter bayangkan olehnya.


"Hmm, tentu saja. Tapi Haha sangat mengkhawatirkanmu juga Kotoko. Begini saja..., jika kau tidak ingin ikut tidak apa-apa, tapi...." Raja Keito sengaja memotong pembicaraan sambil mengambil camilan lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Siapa suruh mereka menyusahkan seorang Raja. Ini saatnya memberi mereka pelajaran.


"Tapi.... ?" Kotoko mengulang kalimat Ayahnya setelah ia berhasil menggagalkan camilan kedua, masuk ke dalam mulut Sang Raja. Ia sengaja menahan tangan Raja, lalu merebut camilan itu dari Ayahnya dan menaruh kembali camilan pada tempatnya. Raja berdehem sambil mengelus-elus jakunnya memberi kode pada sang Dayang untuk menuangkan secawan teh hangat.


"Chichi....Hamba tahu Anda tidak terlalu membutuhkan minum sekarang. Katakan saja kelanjutan dari kata...tapi" kata Kotoko dengan raut wajah jengkel bukan main.


"Ah, ya, tapi itu artinya kau, menyerah untuk memiliki Adikmu Hiroshi sebagai kekasihmu. Jika itu keputusanmu, Chichi patut berterima kasih padamu nak, karena kau meringankan sedikit bebanku"


"Tidak bisa. Hamba tetap dalam pendirian hamba Yang Mulia. Bagaimana bisa melarang hati untuk mencinta? Itu sangat mustahil" protes Kotoko.


"Katakan apa maumu? Bergabung dengan mereka atau menyerah?" tantang Raja sambil berdiri menatap tajam pada Putri Kotoko setegas mungkin.


"Baiklah, hamba ikut tantangan ini" kata Kotoko tak punya pilihan lain.


"Bagus. Persiapkan diri kalian nanti siang. Jangan pikir kalian akan melaksanakan tantangan di tempat yang sama. Pikirkan saja bagaimana cara kalian menyelesaikan tantangannya. Kalian boleh pergi sekarang" kata Raja membuat ketiga anaknya hanya mampu saling berpandangan satu sama lain. Mereka mendengus kesal apa yang harus dipersiapkan untuk dapat memenangkan tantangan ini jika Raja, tidak memberi tahu tantangan apa saja yang harus mereka jalani?!


Sesampainya di halaman Istana, Hiroshi menarik tangan Kotoko tanpa memperdulikan reaksi bingung dari saudaranya yang lain. Hiroshi membawa Kotoko di bawah pohon tempat pertama kali mereka bertemu.


"Apa benar yang dikatakan Chichi? Kau mencintaiku?" tanya Hiroshi penuh selidik membuat pipi Gadis dihadapannya bersemu kemerahan.


"Tadinya ingin aku rahasiakan. Tapi ternyata menyembunyikan hasrat itu sangatlah sulit" kata Kotoko pelan tak berani menatap langsung Hiroshi.


"Kau tahukan siapa aku? Aku Adikmu. Putra dari Ratu Eun Sha dan Raja Keito. Kau tahu ini salah, tapi masih mau melanjutkan?!" bentak Hiroshi merasa terancam. Jika Kotoko benar mencintainya, pasti ia akan berusaha menggagalkan usaha Hiroshi untuk mendapatkan Ratu seutuhnya.


"Wah waaah, apa kau lupa tujuanmu mengikuti tantangan ini?! Kau juga tahu Ratu Eun Sha adalah Haha kandungmu. Kadar kesalahanmu jauh...lebih...dan lebih salah lagi dariku" cibir Kotoko sambil berkecak pinggang jengkel.


"Apa hakmu mengatakan yang sedang ku perjuangkan ini salah, sementara kau melakukan kesalahan yang jauh lebih parah dariku?!" bentak Kotoko lagi merasa di atas angin.


"Aku begini karena merasa tidak pernah mengakui bahwa akulah Putra kandung Ratu. Jadi aku merasa berhak untuk mengambil alih Ratu, dari Raja"


"Terlepas dari hubungan, aku tidak pernah mengakuimu sebagai Adikku. Tapi dilihat dari hubungan, bukankah kita terlahir dari Haha berbeda? Jadi aku merasa berhak untuk mencintaimu"


"Apa kau gila? Walaupun Haha kita berbeda, tapi Chichi kita orang yang sama!! Pakai otakmu!!" murka Hiroshi lalu meninggalkan Kotoko begitu saja.


"Seperti kau yang tak ingin kehilangan cintamu!! Demikian juga aku!!" teriak Kotoko ketika Hiroshi melangkah pergi meninggalkannya.


"Kalian bertengkar?" tanya seseorang dari seberang membuat perhatian Kotoko teralihkan padanya.


"Menteri Natsuha? Kau kemari atas undangan Chichi?"


"Hamba kemari untuk sekedar berjalan-jalan" kata Natsuha sambil tersenyum ramah.


"Apa kau yang memberi tahukan hasratku untuk Hiroshi pada Raja?" kata Kotoko datar.


"Hamba hanya ingin mengingatkan bahwa hasrat Anda tidaklah pantas untuk terus bersemi".


"Apa hakmu mengatur hidupku?! Kau membuatku jauh dari Hiroshi sekarang" marah Putri Kotoko dengan sorotan mata tajam.


"Masih ada kesempatan memperbaiki hubungan antar saudara Putri. Tapi hubungan akan menjadi kacau jika hasrat Anda tidak ditempatkan pada tempat yang semestinya" jawab Natsuha sambil menghela nafas panjang. Sang Putri terdiam sejenak lalu memilih pergi menjauhi orang yang merusak hubungannya dengan Hiroshi.


Ratu Eun Sha bergegas menuju ruang bersantai Raja dengan raut wajah sangat cemas. Ia tak mengizinkan sang Pengawal Istana memberi tahukan kedatangannya pada sang Raja. Ia membuka pintu lalu berjalan ke arah Sang Raja yang duduk di kursi kebesarannya dengan mata terpejam.


"Dayang Ah-Sae ingin menghadap!!" teriakan sang Pengawal membuat langkah Ratu terhenti. Bahkan pada akhirnya Raja mengetahui kedatangannya karena beliau segera membuka kedua mata begitu mendengar nama Dayang kepercayaannya disebut.


"Masuk!!" perintah Raja lantang sambil melambaikan tangan ke pada Ratu agar Wanita itu mendekat padanya.


"Hormat hamba Yang Mulia" kata sang Dayang memberi penghormatan.


"Bagaimana hasil pengamatanmu Ah-Sae?"


"Rencana awal telah terlaksana dengan sangat baik Yang Mulia. Bahkan jauh lebih mulus dari perkiraan berkat kerja sama dari Perdana Menteri Natsuha" lapor Dayang Ah-Sae.


"Kau boleh pergi sekarang" kata Raja puas dengan laporan sang Dayang. Ketika Dayang mulai menghilang di balik pintu, Eun Sha tak kuasa lagi menahan rasa ingin tahunya.