Aitai

Aitai
Teror Penari Ketujuh



Ratu Eun Sha berjalan mengiringi langkah sang Raja Keito mengumbar senyum bahagia di hadapan seluruh Rakyat lalu melambaikan tangan. Raja dan Ratu kini kembali ke dalam kediamannya. Begitu masuk ke dalam kediaman Ratu Eun Sha, Raja langsung berlari kecil menuju Putranya lalu menggendong sang Putra.


Raja melirik kearah Eun Sha yang hanya duduk termenung di atas meja riasnya.


"Haha...apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa kau menangis?" tanya Raja bingung baru kali ini ia melihat ada seorang Wanita, malah menangis ketika diberi kehormatan sebagai seorang Ratu? Ada apa lagi ini? Ah, Wanita memang memusingkan tapi tanpa Eun Sha, hidupnya akan berantakan.


"Apa Yang Mulia tidak memikirkan nasib anak-anak kita?"


"Maksudmu? Mereka baik, dalam keadaan sehat, kurang apa lagi?"


"Mereka butuh sosok Haha Yang Mulia...Putri Simizu Kotoko, kehilangan Selir Myonhwa. Sekarang, anda membuat Putri Koizumi Hamari kehilangan Ratu Kimiko!! Tega-teganya Anda esok merayakan hari kelahiran Putra Mahkota Hiroshi Satoru Akio bersama Hamba. Ini salah Yang Mulia...kita benar-benar tidak adil pada mereka" sahut Eun Sha.


Kini Raja baru menyadari kelebihan seorang Wanita selain memusingkan, mereka juga pandai mendramatisir keadaan. Kenapa Wanita dilahirkan berbelit-belit hingga menyusahkan diri sendiri? Padahal Pria hidup dengan kesederhanaannya? Biarkan Sang Dewa dan rumput yang bergoyang menjawab semua pertanyaan dalam hati Raja. Pria itu hanya menggeleng pelan lalu menghapus air mata Sang Ratu.


"Kau ini. Senang sekali menangisi sesuatu yang sebenarnya tidak perlu kau risaukan. Kau lupa, Haha Mari, Kotoko, dan Hiroshi jelas adalah kau sayang"


"Mungkin Myonhwa dan Kimiko yang melahirkan Kotoko dan Mari...tapi kau, yang selama ini memberikan kasih sayang pada mereka berdua. Jangan pernah memikirkan hal itu lagi. Dan satu hal lagi kurasa kau lupa, Ratu Negri ini sekarang adalah kau Eun Sha" kata Raja Keito lembut.


"Awwww....ngeeeeng..." celoteh si kecil Hiroshi seketika membuat perhatian keduanya tertuju pada bayi mungil di atas peraduan Ratu.


"Apa katanya?" tanya Raja Keito mengangkat kedua alisnya.


"Hk khkhkhk awwewww" celoteh Hiroshi menertawakan Ayah dan Ibunya sambil meninju udara. Kedua orang yang dilihatnya sejak pertama kali hadir di dunia itu datang menghampiri Hiroshi...anak itu kini malah merajuk.


"Engaaaaaak Engaaaaaak ngeeeeng..." Hiroshi mulai sebal kenapa kedua orang tuanya tidak mengerti apa yang dia inginkan?? Melihat Putranya menangis, maka Raja Keito segera menggendong Hiroshi. Bayi itu tersenyum bahagia mendapatkan keinginannya. Dalam dekapan sang Ayah, perlahan Hiroshi setengah terlelap. Begitu Raja meletakkan ke peraduan Ratu....,


"Engaaaaaak...Engaaaak!! Ngeeeeng...." rengeknya sekali lagi.


"Ngeng....artinya gendong aku Chichi... Kumohooon..." kata Eun Sha berusaha memahami bayinya. Raja tersenyum kecil mendengar kata Ratunya. Raja mencoba untuk mengetes apa benar kata Ratu bahwa Putranya ingin di gendong? Maka ia menepukkan kedua telapak tangannya lalu merentangkan tangan tepat di atas Hiroshi.


"Hah!!hah!!hah!!" bayi itu bergerak-gerak girang seolah hendak lari menghambur ke pelukan Ayahnya.


Pria tersebut tanpa rasa kikuk menggendong Hiroshi kembali. Bayi Hiroshi menatap marah pada Ayahnya tapi kini, setelah digendong bayi Hiroshi tenang kembali rasa kantuk mulai menyerang bayi Hiroshi karena enggan untuk di tidurkan kembali di peraduan Ibunya, ia mencengkeram kuat baju kebesaran Ayahnya hingga benar-benar terlelap.


"Ayo kita pindah ke tempat seharusnya kau dan Putra kita berada" ajak Raja.


"Pindah? Kemana?"


"Ke kediaman seorang Ratu"


"Yang Mulia...Hamba merasa tidak pantas memasuki ruangan itu"


"Kenapa? Kau ini Ratu kau berhak, berada disana dan harus tinggal disana tanpa penolakan mengerti?!" kata Raja tak ingin dibantah. Wanita tersebut hanya bisa mengangguk pasrah.


Ratu Eun Sha tersenyum ketika mendapati tempat tinggalnya kini di tata berbeda dari saat terakhir kali dirinya bertemu dengan Ratu Kimiko.


"Aku akan menemui Raja Fujhin malam ini. Jangan menungguku pulang karena pastinya, aku akan pulang terlambat. Tidurlah tepat waktu" kata Raja, mengecup dahi Ratu, lalu tidak lupa mengecup pipi bakpau Putranya. Eun Sha mengambil alih Putranya lalu tersenyum dan menghormat.


"Hamba akan tetap menunggu Anda Yang Mulia. Seperti saat Anda, tanpa lelah menunggu Hamba, dan Putra kita"


"Hmmm?? Jangan mengatakan hal yang membuatku tidak ingin keluar dari sini Eun Sha. Itu akan sangat berbahaya... Raja Fujhin akan murka" kata Raja Keito sambil memeluk Istri dan anaknya.


Saat Raja keluar dari kediaman Ratu, Eun Sha hanya tersenyum bahagia menatap sosok Suaminya menghilang di balik tanaman.


"Hiroshi..., kau dan Haha sekarang akan selalu bersama dengan Chichimu selamanya..." kata Eun Sha merasakan hari ini bagaikan sebuah mimpi. Bisa bertemu Raja Keito kembali, bahkan kembali masuk kedalam Istana.


Krincing...


Krincing...


Dung...


Dung...


Deg!!


Oh tidak...teror apa lagi kali ini yang akan diperlihatkan pada Eun Sha? Tidak mungkin jika itu Jeajangna!! Karena jelas-jelas Jangna mengatakan dirinya telah bereinkarnasi itu artinya...


Eun Sha terus melangkah menuju arah suara misterius itu. Aneh, kenapa ruangan tersebut ditutup rapat? Sebuah ruangan di atas anak tangga terbuat dari kayu. Suara itu...terdengar kembali semakin nyaring seolah sedang mengundang Eun Sha. Kakinya melangkah naik keatas mendekatkan telinganya tepat di tengah-tengah papan kayu yang di paku. Suara itu tiba-tiba lenyap!!


Kriet...


Krieeeek...


Deg!! Eun Sha perlahan menjauhi pintu yang ditutup rapat dengan papan tersebut!! Mata Wanita itu terpaku pada pemandangan semua paku yang terpasang kuat itu, seolah sedang ada yang berusaha membukanya!!


Klontang!!


Klontang!!


Brugh brugh!!


Bunyi paku terjatuh beriringan sekaligus bunyi papan kayu yang jatuh dilantai kayu!!


"Engak!! Engaaaaak!!" tangisan Hiroshi kaget karena suara berisik yang ditimbulkan oleh sesuatu!!


Mana yang harus dipilih Ratu? Memasuki ruang rahasia itu, atau menenangkan bayinya?


"Engaaaaaak engaaaak" bayi itu menangis tanpa henti.


Sreeeeeeet....


Kraaaaaak....


Suara pintu ruang rahasia mulai terbuka sedikit. Ratu bergegas menuruni tangga untuk menenangkan bayinya. Langkah Wanita tersebut seketika terhenti.


Deg!!


Paku yang tadi jatuh, ke lantai kayu di atas, melayang terbang...mengitari Ratu berkeliling cukup lama hingga pada putaran terakhir, Ratu ikut berputar sampai membelakangi Putranya Hiroshi. Ratu mulai berkeringat dingin ia berjalan mundur mendekati peraduannya lalu paku itu tiba-tiba melesat kencang menuju kearah Hiroshi!! Tanpa pikir panjang ia segera menghalangi paku itu, hingga...


AaaaAAAAaaa!!


Pekik kesakitan sang Ratu berkumandang di seantero kediaman Ratu. Bayi Hiroshi kembali menangis sangat kencang. Dua pengawal pribadi Ratu terkesiap mendengar suara jerit kesakitan sang Ratu sekaligus tangis histeris Putra Mahkota.


"Kau dengar itu?" tanya pengawal di pintu sebelah kanan.


"Ya, sebaiknya kita masuk kedalam!!" pekik pengawal satunya. Mereka segera berlari masuk ke dalam kediaman Ratu.


Mereka hanya berdiri terdiam memandang apa yang dilakukan Ratu Eun Sha sekarang di depan mereka. Mereka menutup kedua telinga mereka dengan raut wajah begitu tersiksa. Eun Sha menari dengan diiringi suaranya sendiri.


Bukan karena nada suaranya sumbang, itu suara yang indah tapi bahkan, nada yang diambil Ratu akan sangat sulit dipercaya dikeluarkan oleh seorang manusia. Bagaimana mungkin suara sangat tinggi keluar dari tubuh mungil seperti Ratu?


Para pengawal mendengar suara pintu kediaman Ratu terbuka perlahan tapi mereka tidak kuasa menoleh bahkan bergerak sekalipun!!


"Eun Sha!! Hentikan!!" teriak Raja Keito sangat panik melihat Ratu sedang menarikan tarian yang mampu menghilangkan nyawa kekasihnya Jeajangna.


Masa lalu Raja, sangat membekas di dalam ingatan sang Raja. Bahkan tidak akan dapat hilang sampai akhir hayatnya. Raja berlari untuk menghentikan tarian Ratu. Ketika ia hendak mendekat kearah Ratu, yang ada Wanita itu malah terbang hingga luput dari jangkauan sang Raja. Ia masih sibuk menari diiringi suara merdunya.


"Dimana Raja?" desis Eun Sha pada Sang Raja.


"Sadarlah Eun Sha!! Aku Raja Keito!! Suamimu!!" teriak Raja lantang.


"Apa?" Eun Sha perlahan turun ke lantai Kayu, di iringi semilir angin yang menyelimuti tubuhnya hingga kimono yang ia gunakan berkibar-kibar. Eun Sha memperhatikan raut wajah Raja Keito dengan bingung.


"Siapa kau?" tanya Eun Sha merasa tidak mengenali Pria yang mengenakan baju kebesaran Raja.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kau datang merasuki Ratuku?"


"Aku mencari Raja Yamzhei. Dimana dia sekarang?"


"Ada hubungan apa kau dengan Sofuku? Siapa kau?"


"Apa? Sofu? Tidak tidak...dia...dia telah membuat perjanjian denganku!!" teriak Eun Sha marah.


"Perjanjian apa? Jelaskan padaku, siapa kau!!"


"Ojiisan, telah membuat perjanjian padaku untuk memperkuat Kerajaannya. Dia berjanji hanya akan menikahiku dan aku, satu-satunya Ratu!! Sebagai gantinya, aku kabulkan permintaan Ojiisan. Dua tahun kemudian, Ojiisan jatuh cinta pada Obaasan lalu menikahinya"


"Tidak hanya itu!! Toleransiku membiarkan Obaasan menjadi selir dari Ojiisan dimanfaatkan Ojiisan!! Ia menobatkan Obaasan menjadi Ratu, dengan alasan aku tidak akan memberikannya satu pun keturunan!! Aku murka!! Apa kau tahu siapa Obaasanmu itu?! Dia hanya seorang Sakuhyunja yang sampai mati pun dilarang untuk menikah!!"


"Maka ku kutuk mereka setiap keturunannya yang akan menikahi penari Istana, Istrinya akan mati tanpa memiliki seorang keturunan pun!! Dan pada akhirnya, mereka akan mati dalam kesendirian!!" teriakan pilu ruh tersebut mampu menghadirkan kilatan petir di langit dalam sekejap.


Raja Keito langsung mencengkeram kedua lengan Eun Sha lalu menatap tajam kedua mata Eun Sha.


"Apa kau sudah puas?! Ya, aku telah menuai kutukan darimu!! Aku kehilangan Selirku Jeajangna karena kutukan sialanmu itu!! Sekarang apa maumu?" tanya Raja Keito tegas. Eun Sha menatap penuh selidik pada sang Raja. Ia menggapai kedua pipi Raja lalu menempelkan kening mereka. Raja hendak mundur tapi kekuatan Eun Sha jauh lebih besar hingga Raja tak dapat berkutik.


"Mauku adalah mengakhiri semua yang Raja Yamzhei mulai" bisik Eun Sha dengan senyum penuh arti.


"Katakan dengan jelas"


"Aku Sizuka menginginkan seluruh keturunan Raja Yamzhei musnah!!" teriakan Sizuka menggelegar hingga suasana semakin mencekam.


"Kau, tidak bisa melakukannya Sizuka, semua keturunan dari anak Raja Yamzhei...tidak terlahir dari seorang penari Istana bahkan Istri-istri keturunan anak Raja Yamzhei, tidak ada yang bergelar Sakuhyunja!!" bentak Raja Keito murka.


"Apa kau berusaha menipuku? Atau apakah seluruh keturunannya memang senang berbohong? Hmm? Bagaimana dengan...Ratumu ini? Aku tahu dia bermimpi menjadi Sakuhyunja..."


"Dia telah lama melepaskan gelar penari Istana. Jangan coba-coba kau menyentuh Ratuku!!" geram Raja Keito.


"Tapi dia tetaplah seorang penari Istana Raja...Anda tidak dapat menyangkal kebenaran mutlak, ini Yang Mulia. Biarkan aku mengambil Ratu dan Putramu sekarang"


"Tidak!! Kami tidak ada hubungannya dengan perjanjian kalian berdua" elak Raja Keito lalu segera merengkuh Putra Mahkota ke dalam pelukannya.


"Kau memang tidak memiliki perjanjian, tapi Raja tetap mewariskan perjanjiannya, pada seluruh Pewaris Tahta. Dia belum mencabut perjanjian itu sampai mati" kata Sizuka tersenyum licik.


"Atau kau, ingin menawarkan perjanjian berikutnya?" tawar Sizuka mendekat ke arah Raja Keito.


Tidak!! Pelajaran pertama, jangan bersekutu dengan Iblis seperti Sizuka. Pelajaran kedua, ketika kau, telah melakukan perjanjian, suatu saat nanti, janjimu akan ditagih sampai mati pun. Raja Keito bukanlah Pria bodoh menggantikan janji ke janji yang lainnya karena itu sama saja menggali kuburan sendiri.


Raja Keito terkejut melihat senjata sang pengawal berupa sebuah katana, yang menyembul keluar dari balik tubuh sang pengawal terbang...melayang menuju sang Raja.


"Ambil katana itu Raja..."


"Kau!!" teriak Raja tak bergeming sedikitpun.


"Akan kuberi kau pilihan. Bunuh Istrimu, atau anakmu!! Kau punya banyak Istri Raja!! Kau, tidak akan mati jika kehilangan salah satunya!!" teriakan Eun Sha yang dirasuki Sizuka membuat sang Raja menyerahkan Putranya pada salah satu pengawal yang berdiri dengan tubuh gemetaran.


Setelah itu, dengan langkah penuh percaya diri ia melangkah kearah Eun Sha, sambil menggapai katananya. Di angkatnya dagu Eun Sha hingga mata mereka bertemu pandang.


"Apa ini berhubungan dengan kecemburuanmu terhadap para Istri sirih Raja sebelumnya, Sizuka? Kau cemburu pada sang Raja Yamzhei?" cibir Raja dengan sorotan mata penuh penghinaan.


"Kau mengingatkanku pada mantan Ratuku Kimiko. Dia haus akan Tahta...bahkan ia ingin memonopoli Suaminya sendiri, tanpa memperdulikan hak Istri yang lainnya terhadap Suaminya"


"Hahaha!!" tawa mengerikan menggelegar ke seantero kediaman Ratu.


"Kau ingin menyalahkan Kimiko atas ketidak becusanmu, dalam mengurus Istri-istrimu? Seorang Istri, tidak akan bertindak curang, bila ia tidak merasakan ketidak adilan menyelimuti hidupnya Raja..." jawab Eun Sha di telinga Raja.


"Kalau begitu bunuh aku Sizuka, ayo bunuhlah Rajamu ini" gertak Raja dengan berani.


"Kau!!"


"Ada apa? Kau...tidak ingin membunuhku? Kau dendam terhadap Suamimu Yamzhei..., dan akulah satu-satunya keturunannya yang menikahi seorang Sakuhyunja, bukan? Tunggu apa lagi? Ku berikan katana ini dengan senang hati padamu" kata Raja Keito tak memiliki rasa takut sedikitpun sambil menggenggamkan katana di tangan kiri Sizuka.


Hantu Wanita tersebut hanya diam terpaku menatap nanar sang Raja.


"Apa kau takut akan melanggar perjanjianmu pada Raja Yamzhei? Bukankah kau bilang, perjanjian Raja Yamzhei dapat diwariskan? Bukankah itu artinya aku, kini Suamimu? Sizuka?" perkataan Raja Keito kini benar-benar merupakan sebuah tamparan telak bagi sang hantu Wanita itu.


Ya..., perjanjian itu menyangkut dirinya juga bukan? Raja Yamzhei menikahinya, menjadikannya Ratu dan ia akan memakmurkan kerajaannya. Jadi, jika perjanjian itu diwariskan, maka...ia pun juga diwariskan kepada keturunannya.


"Tidak akan kubiarkan seluruh keturunanmu dapat hidup berbahagia Raja!! Kau, telah menjadikan Wanita lain sebagai Ratumu!!"


"Kemana kau saat aku ingin menobatkan Kimiko dan Eun Sha sebagai Ratu? Apa kau menghentikanku? Tidak. Dimana kau Sizuka? Lalu apa hakmu, kali ini untuk memisahkanku dari Istriku Eun Sha?!" murka Raja dengan nafas memburu.


"Kalau kau tak mampu kehilangan seluruh Istrimu, maka bunuhlah Putra mahkotamu!!"


"Kau salah, Sizuka, aku akan meluluskan keinginanmu dengan cara yang lebih manusiawi. Maka ikutlah denganku" kata Raja sangat tenang.


“Pengawal!!"


"Hamba Yang Mulia"


"Panggil seluruh Selirku masuk ke dalam ruang sidang Istana" kata Raja penuh wibawa. Setelah menghormat kembali, dua pengawal berlari tergopoh-gopoh memenuhi titah Rajanya.


"Ayo kita kesana sekarang" tambah Raja berjalan mendahului Sizuka sambil menggendong Putra Mahkota.


Tanda tanya besar di benak sang hantu Wanita ketika ia telah tiba di ruang sidang Istana. Untuk apa Pria itu membawanya kesini? Apa dia ingin membunuh seluruh Istrinya? Dan menjadikannya Ratu satu-satunya demi memenuhi janji Kakeknya?


Tak berapa lama kemudian...puluhan Selir datang menghadap Suaminya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Para Selirku...apakah aku pernah melakukan ketidak adilan pada kalian? Jawablah jujur" pertanyaan Raja membuat seluruh Selirnya tertunduk serba salah. Sizuka tersenyum sinis mendapati raut wajah para Selir yang tanpa menjawab pun, sudah dapat di ketahui jawabannya pasti iya.


"Maafkan kami Yang Mulia...kami tak dapat menjawab karena kami tidak pantas menjawab apa pun kebenarannya" jawab salah satu Selir tertunduk takut-takut.