Aitai

Aitai
Hati Yang Merindu



Raja tersenyum gembira, setelah dapat membebaskan diri dari masalah perebutan lahan dengan berakhirnya rapat hari ini. Di benaknya, Raja hanya memikirkan bisa berkumpul kembali dengan Eun Sha, Kotoko juga calon Pewaris Tahta.


Raja berjalan tergesa-gesa tak sabar untuk dapat kembali mendapatkan sambutan penuh cinta dari sang Selir.


"Eun Sha? Dimana kau? Jawab aku" panggil Raja setelah berada di kediaman selir Eun Sha yang sepi.


"Yang Mulia, hormat hamba" sambut dayang kesayangan Eun Sha pada sang Raja.


"Hikari, dimana Selir Eun Sha berada?”


"Bukankah Yang Mulia sendiri, yang meminta Selir untuk...melihat-lihat keluar Istana menggunakan tandu Istana?"


"Iya, tapi...kenapa dia lancang sekali tidak menungguku barang sebentar saja?" marah sang Raja.


"Bukankah...kata dayang Do hwa, jika Anda akan pulang malam Yang Mulia, karena ada urusan negara?"


"Do Hwa kemari?"


"Ya, dayang Do hwa mengatakan pada Selir bahwa Anda membatalkan perjalanan bersama Selir karena Anda, memiliki urusan negara dan...kemungkinan Anda...pulang larut malam"


"Lalu, kenapa sekarang dia justru pergi?!" Raja malah melotot sekarang pada Hikari.


"Ampun Yang Mulia...Kasim Akio mengatakan bahwa....Raja mengizinkan Selir pergi tanpa Anda, jika Selir menurut pergi dengan tandu Istana" lapor dayang Hikari takut-takut.


"Apa-apaan ini? Kenapa Do hwa dan Akio mengatakan itu pada Selirku? Sudah berapa lama Selir Eun Sha pergi?!" bentak Raja.


"Sekitar 4 jam yang lalu Yang Mulia..." gagap Dayang Hikari bersimbah keringat dingin dari pelipisnya.


"4 jam?! Dia bilang hanya berkeliling di luar Istana! Itu artinya, dia hanya berjalan di sekitar istanaku ini! Lalu kenapa dia belum juga pulang?!" Raja mulai panik. Suara derap langkah kaki berlarian menuju ke kediaman Selir Eun Sha.


"Kasim Akio dan bala tentara ingin bertemu" pemberitahuan dari pengawal Istana.


"Masuklah" Sahut Raja penuh tanda tanya.


"Yang Mulia...ada berita yang harus segera kami sampaikan..."


"Apa ini tentang perebutan lahan itu lagi?"


"Bukan Yang Mulia ini tentang Selir Eun Sha"


Deg!!


"Apa dia sudah kembali?"


"Yang Mulia...saat rombongan Selir Eun Sha dalam perjalanan pulang, ada serangan ninja entah dari klan mana. Tapi salah satu prajurit kita, mendapatkan ini" kata Kasim Akio menyodorkan robekan kain berwarna hitam dengan simbol burung raja wali sedang mengepakkan sayapnya.


"Dimana panglima? Kenapa kau, Kasim Akio yang datang bersama para prajurit?"


"Maaf Raja, Panglima Do Jo sedang mengejar salah satu anggota penyerang yang berhasil lolos dari pasukannya sementara sebagian tentaranya diminta menyampaikan pesan ini kepada saya, untuk di sampaikan langsung kepada Anda Yang Mulia..."


"Lalu dimana Eun Sha? Kalian sudah mengamankannya?"


"Ampun beribu-ribu ampun Yang Mulia...Selir Eun Sha...telah menghilang untuk dijadikan sandera" kata Kasim Akio seketika membuat Raja berhenti bernafas.


"Kau!! Berani-beraninya kau!! Memerintah Eun Sha keluar Istana tanpaku!!" teriak Raja mencengkeram erat baju kebesaran Kasim Akio. Sang Kasim lebih memilih bungkam dan menunduk.


"Maaf Yang Mulia...hamba berpikir...Selir harus dalam keadaan senang supaya Putra Mahkota sehat di dalam kandungannya. Beliau terus memaksa hamba untuk menuruti perintahnya" kata Kasim Akio.


"Katakan Hikari, apakah itu benar?"


"Selir Eun Sha memang kecewa pada Anda Yang Mulia...tapi Selir tidak mungkin pergi selain dengan perintah dari Raja langsung. Selir tidak pernah memohon pada Kasim Akio...tetapi Kasim Akio lah, yang mengatas namakan Anda, agar Selir Eun Sha berkenan pergi dengan menggunakan tandu Istana" kata Hikari sejujur-jujurnya.


"Dayang lancang!! Berani-beraninya kau, memutar balikkan fakta!!" bentak Kasim Akio marah.


"Pengawal!!" panggil Raja. Maka datanglah sang Pengawal Istana ke dalam kediaman Selir Eun Sha.


"Panggil dayang Do hwa untuk menghadapku" perintah Raja yang langsung di turuti sang pengawal Istana.


"Yang Mulia memanggil hamba?" tanya Dayang Do hwa sambil membungkuk hormat.


"Apa kau, yang memberi tahu Selirku Eun Sha, jika aku membatalkan jalan-jalanku bersamanya?"


"Ampuni Hamba Yang Mulia...iya"


"Untuk apa kau dan Kasim Akio melakukan ini tanpa perintahku!! Kalian memalsukan perintah Raja?!" geram sang Raja murka.


"Ampun Yang Mulia...hamba tidak berani berbohong, jika Selir Eun Sha tidak memohon pada saya untuk diperbolehkan pergi. Bahkan Dayang Hikari pun tahu itu"


"Yang Mulia...semua itu fitnah...semua itu bohong. Hamba dan Selir tidak memohon pada Kasim Akio bahkan juga pada Dayang Do hwa" kata Dayang Hikari membela diri merasa dipojokkan.


"Mana ada pencuri mau mengaku sebagai seorang pencuri? Yang Mulia...Anda dengar sendiri bukan? Dayang Do hwa pun bersaksi sama seperti kesaksian hamba. Apakah kami yang berbohong, dan Dayang Hikari yang jujur? Bagaimana kejujuran itu dapat diukur Yang Mulia? Apakah kesaksian kami jauh lebih lemah dari kesaksian Dayang Hikari yang hanya seorang diri?" tanya Kasim Akio berkobar-kobar.


"Pengawal!!" panggil sang Raja hingga muncullah kembali sang pengawal masuk ke dalam kediaman Selir Eun Sha.


"Penjarakan Dayang Hikari segera"


"Yang Mulia...hamba berkata sejujur mungkin...mereka telah menghasut Anda. Hamba mohon...dengarkan hambamu ini..." ratap Hikari yang di gelandang dengan paksa oleh sang Pengawal kerajaan.


"Kasim Akio..."


"Hamba Yang Mulia"


"Terus pantau perkembangan dimana keberadaan Selir Eun Sha. Lakukan dengan cara apa pun. Bahkan, beri hadiah bagi yang dapat menemukan Selirku" titah sang Raja. Maka Kasim menunduk hormat, memberi penghormatan kembali mohon undur diri, begitu pun dengan Dayang Do hwa.


Sang Dayang kesayangan Ratu akhirnya tiba di kediaman Ratu, membawa kabar bahagia tentang menghilangnya Sang Selir sesuai dengan janji Adiknya, Menteri Natsuha...


"Yang Mulia...ada titipan pesan dari Kasim Akio" kata Sang Dayang sambil menyerahkan gulungan surat untuk yang memang ditujukan pada Ratu.


Yang Mulia...semua sesuai dengan rencana awal. Selir Eun Sha berhasil disingkirkan. Tapi...ada seseorang yang telah melindungi Selir Eun Sha sehingga orang-orang kami kehilangan jejaknya. Mohon maaf atas kesalahan yang satu ini, tapi Anda jangan khawatir, kami akan tetap berusaha menemukannya sekaligus melenyapkannya


pesan itu berakhir dengan kecemasan sang Ratu. Bagaimana ini? Jika Eun Sha kembali lagi kepelukan Raja suatu saat nanti? Dan jika sang Putra Mahkota benar-benar dilahirkan?! Tamat sudah riwayatnya dan riwayat Putri semata wayangnya Mari.


"Menteri Natsuha ingin menghadap!!" seru sang pengawal Istana memberi tahu kedatangan sang Adik.


"Apa kau telah menemukan keberadaan Eun Sha? Apa dia sudah benar-benar kau bereskan?" tanya Sang Ratu penuh harapan.


"Ada orang yang melindunginya Ratu. Dia memakai caping bercadar...bagaimana bisa aku mengidentifikasi wajahnya? Akan sangat sulit melacak Pria itu" kata Menteri Natsuha menghela nafas kesal. Kemudian ia melirik ke arah Ratu.


"Tapi, paling tidak dalam waktu lama, Selir kesayangan Raja itu, tidak akan mengganggu hubungan Anda dengan Raja"


"Atas dasar apa kau yakin untuk itu? Bisa saja, dalam beberapa hari lagi, Selir itu kembali lagi memasuki Istana"


"Karena aku sudah memperketat penjagaan di perbatasan Kerajaan ini. Jadi, akan sulit bagi pengganggu itu...untuk memasuki wilayah Kerajaan ini, apalagi sekedar untuk mendekati Raja..." kata Menteri Natsuha terkekeh puas.


Bukan puas akan keberhasilan akal bulus sang Ratu...tapi puas akan dirinya yang mampu mengelabui Ratu dan para anteknya itu untuk membunuh sang Selir yang sangat ia cintai meskipun ia kini harus berperan sebagai Adik yang penurut bagi Kakaknya yang keji.


Cinta yang hilang...sorot mata penuh cinta yang redup. Keteduhan jiwa kini berubah menjadi kekalutan teramat dalam, bagi Raja maupun Eun Sha. Merekalah kini yang menjadi korban, atas muslihat antara Kakak Beradik itu, yang sama-sama saling mengejar cinta mereka, yang tak pernah mereka dapatkan dan berusaha merubah takdir, dengan memisahkan dua manusia, yang dipersatukan Tuhan.


"Kenapa kau tak memiliki kesabaran sedikitpun untuk menungguku sebentar saja" gumam Raja di dalam kediaman Selir Eun Sha. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada kesehatan Selirnya? Bagaimana jika terjadi sesuatu juga pada Putranya? Tidak...Raja tak sanggup lagi berandai-andai...dunianya yang indah mulai luluh lantah tak ada sisa.


"Eun Sha...apa kau merindukanku dimanapun kau berada?"


Eun Sha menunggu kedatangan menteri Natsuha, dengan tetap menyibukkan diri menyulam pakaian mungil untuk calon Putranya. Sedari tadi ia melakukan kesalahan demi kesalahan hingga ia harus terus mengurainya lantaran pikirannya terus tertuju pada sang Raja. Apa beliau baik-baik saja? Apakah perang meletus atau tidak? Ataukah...Raja terluka? Sakit? Sudahkah ia pulang?


"Raja, apakah kau merindukanku, dimanapun kau berada?" gumam Eun Sha sendu.


Sreeeeeek


Suara pintu digeser perlahan menampakkan kedatangan Menteri Natsuha. Wanita tersebut segera meletakkan rajutannya di atas peraduan lalu berjalan keluar dari tempat peristirahatannya, menuju ruang tamu untuk mengetahui kabar tentang Rajanya dari sang Menteri.


"Menteri Natsuha, bagaimana kabar tentang Raja? Bagaimana keadaannya? Apa sekarang aku boleh kembali ke Istana?" berondongan pertanyaan Eun Sha membuat Natsuha diam seribu bahasa ia menatap Wanita yang ia cintai itu dengan penuh rasa kecewa.


"Ada apa? Menteri, katakan padaku apa yang terjadi pada Raja?! " wajah Eun Sha mendadak terlihat panik melihat ekspresi Natsuha.


"Pertempuran masih terus berlangsung Selir. Bahkan Raja harus tetap berada di benteng pertahanan karena kerusuhan semakin membesar di berbagai wilayah kerajaan" kata Natsuha sangat serius.


"Bagaimana dengan Putri Kotoko? Apakah dia baik-baik saja?"


"Yang Mulia Ratu menjaganya dengan baik. Sangat baik. Jangan khawatir...saya akan terus memantau keadaan Raja untuk Anda" jawab Natsuha sambil tersenyum manis mencoba menenangkan Eun Sha.


"Menteri Natsuha, kenapa kau menolongku? Bagaimana kau masih mau menolongku, saat kau sadar siapa yang telah kau lindungi" kata Eun Sha keheranan.


"Anda selir Raja. Saya berkewajiban melindungi Anda selama saya mampu"


"Natsuha...setidaknya kau bisa membenciku sedikit saja" kata Eun Sha menghela nafas panjang.


"Anda berbicara sebagai Wanita yang dicintai Raja, atau Wanita yang pernah saya cintai Selir?" tatapan tajam Natsuha menyayat ulu hati Eun Sha. Terlintas kenangan masa lalu, dimana Natsuha dan Eun Sha masih saling mencintai, tapi karena obsesinya menjadi seorang Sakuhyunja, ia mencampakkan Pria itu tanpa berpikir panjang.


"Apa Anda kesulitan dalam menjawab? Ya, ketika saya memohon pada Anda untuk melupakan impian menjadi Sakuhyunja, Anda tetap berkeras hati. Tapi, kenapa ketika Raja yang meminta Anda, permintaan beliau langsung Anda luluskan? Jawab hamba Selir, kenapa?" tanya Natsuha kini berkobar-kobar.


"Karena jodohku adalah Raja, bukan Anda Menteri Natsuha. Teruslah pelihara amarahmu itu padaku, agar aku tetap terus mengingat dosaku padamu" kata Eun Sha berbalik badan hendak kembali ke tempat peristirahatannya.


"Satu hal yang belum Anda ketahui Selir. Perasaan hamba, sampai kapan pun terhadap Anda, tidak akan pernah berubah sedikitpun. Ini hanya sebagian dari rasa kecewa saya terhadap Anda, bukan kebencian saya kepada Anda" kalimat yang meluncur dari bibir Natsuha, menghentikan langkah sang Selir.


"Menteri Natsuha, sudah sepantasnya Anda memiliki seorang teman hidup, agar dapat hidup bahagia" balas Selir Eun Sha tanpa berbalik.


"Sebaiknya Anda berhenti mengharapkan Raja kembali pada Anda Selir" sontak perkataan Natsuha kali ini membuat Eun Sha membalikkan badan dan menatap tajam kearah Sang Menteri.


"Apa maksudmu Natsuha?"


"Yang Mulia Ratu telah sejak lama menyusun rencana untuk menyingkirkan Anda. Kalaupun Anda kelak melangkah kembali ke dalam Istana, Ratu tidak akan membiarkan setetes darah Anda sekalipun, memasuki Istananya"


"Raja pasti akan membiarkanku memasuki Istana"


"Lalu, bagaimana jika...sebelum kedatangan Anda diketahui oleh Raja, Ratu sudah mencium keberadaan Anda? Tentu ia akan membawa lebih banyak lagi ninja untuk melenyapkan Anda"


"Kau bilang, akan melindungiku?"


"Ya Selir, masalahnya adalah, bagaimana jika meskipun saya melindungi Anda, tiba-tiba saya dan Anda diserang hingga tewas tanpa Raja mengetahuinya?"


"Jika kau takut, aku bisa melaluinya sendirian. Demi Anakku. Apa pun, akan kulakukan"


"Anda hanya akan membuat Anda dan calon Putra Mahkota dalam bahaya. Bisa jadi saat Anda melangkah ke sana, akan ada yang mencoba mengakhiri hidup Putra Anda bukan? Itu akan sangat mudah dilakukan seorang Ratu" kata Natsuha memperingatkan agar Eun Sha jangan nekat menemui Raja.


Wanita tersebut terlihat memucat, kepalanya berkunang-kunang dan ambruk!! Untung Natsuha mampu menggapai tangan Eun Sha lalu menariknya mendekat. Untuk kedua kalinya, bayi Eun Sha masih tetap bisa diselamatkan. Bagaimana jika Eun Sha nekat menemui Raja? Maka Natsuha tak dapat lagi melindunginya dari serangan Ratu!! Bagaimanapun caranya, Eun Sha tidak boleh keluar dari kediaman Natsuha ini.


Menginjak bulan keempat setelah hilangnya sang Selir, Menteri Natsuha bergegas ke Istana, memenuhi panggilan Raja. Sang Menteri membungkuk memberi penghormat pada junjungannya lalu memasang telinga lebar-lebar perihal apa yang akan disampaikan oleh sang Raja.


"Natsuha...apa kau masih juga belum menemukan Selirku?" tanya Raja penuh selidik.


"Maafkan hamba Yang Mulia...hamba telah memerintahkan seluruh anak buah hamba untuk melakukan pencarian Selir Eun Sha tapi sampai sekarang belum juga ada titik temu.”


"Natsuha, apa kau mau menemaniku berkeliling hutan?"


"Ampun yang Mulia...untuk apa Anda pergi ke hutan?"


"Aku ingin menenangkan diri di tempat tenang, sekaligus sejuk. Apa kau ada kepentingan, sehingga tak bisa menemaniku?"


"Tentu saja hamba akan menemani Anda Yang Mulia" kata Natsuha mulai gelisah.


Kandungan Eun Sha kini telah menginjak 9 bulan...sewaktu-waktu Eun Sha bisa saja melahirkan mendadak! Tapi dirinya tak bisa menolak karena itu akan menjadi pertanyaan bagi sang Raja, kenapa semenjak Eun Sha menghilang, kerap kali Menteri Natsuha pulang ke kediamannya lebih awal? Itu akan menimbulkan kecurigaan besar!!