Aitai

Aitai
Munculnya Keadilan



"Hamba tidak pernah ingkar. Anda sendiri yang membuat ini menjadi semakin pelik Yang Mulia. Jangan pikir, hamba tidak tahu, niatan busuk Anda, menggeledah kediaman hamba untuk membinasakan Selir Eun Sha terutama anaknya!!" teriak Natsuha dengan wajah merah padam menahan amarah yang bergejolak di dalam dada. Jika saja Ratu tidak bertindak bodoh, mungkin sampai saat ini Eun Sha masih dalam jangkauannya.


"Kau!! Jika aku membiarkan Putra Mahkota terlahir ke dunia, apa jaminanmu dia tidak akan menyingkirkan Putriku?!"


"Bukankah Anda tidak peduli dengan anak, Yang Mulia? Apa Ratu Negeri ini lupa, pernah ingin juga melenyapkan Putrinya sendiri?"


"Putriku adalah alat untuk menghalangi hubungan Raja dan Eun Sha. Sebelum ini kupikir aku tidak perlu lagi melakukannya karena kau telah menyekapnya. Tapi lihat sekarang Natsuha!!"


"Lupakan saja pertengkaran ini Kakak, itu percuma nasi telah menjadi bubur. Kita harus memikirkan jalan keluar lainnya"


"Aku tidak peduli Natsuha. Yang aku inginkan Eun Sha lenyap dari dunia ini!!"


"Jadi kau yang merencanakan pelenyapan Istri dan calon Pewarisku, Ratu!!" bentak seseorang di balik pintu. Bagai tersambar petir disiang bolong Ratu terdiam dengan wajah pucat pasi.


"Yang Mulia..." kata Natsuha dan Ratu bersamaan. Keringat dingin mengucur deras dari pelipis sang Ratu.


"Bagus...sebenarnya aku sudah mendapatkan bukti cukup dan kuat untuk membuatmu bicara sejujurnya Ratu!! Tapi takku sangka, aku akan mendengar pengakuan langsung dari mulutmu!!" teriak Raja murka.


"Bukti? Bukti apa Yang Mulia?" tanya Ratu bingung sendiri.


"Datanglah ke aula pengadilan Ratuku, maka kau, akan tahu, apa kesalahan fatalmu itu" kata Raja berusaha menahan emosinya, lalu berpaling dari Ratu menuju ke aula pengadilan.


"Apa kau, yang merencanakan ini semua? Tentunya kau juga tahukan, cara untuk membebaskanku?" lirik Ratu dengan nada penuh penekanan.


"Hamba tidak paham dengan apa kata Yang Mulia Raja. Sebaiknya Anda segera pergi kesana bersama hamba sebelum pengawal diperintahkan untuk menyeret Anda kesana Ratu" kata Natsuha acuh tak acuh lalu berjalan mendahului sang Ratu menuju aula pengadilan Istana.


Raja duduk di singgasananya dengan sorotan mata tajam, memandang sang Ratu. Wanita itu duduk bersimpuh dihadapan sang Raja di dampingi sang Menteri Natsuha. Tak lama kemudian, muncul Panglima Do Jo. dan bala tentaranya memasuki ruang sidang membawa seorang ninja bayaran Ratu dihadapan Ratu.


Ninja itu dilemparkan tepat ke hadapan Ratu, berdebuman di atas lantai aula ruang pengadilan Istana. Wajah Ratu semakin memucat ketika ia sadar, siapa yang bergeleparan di hadapannya sekarang ini.


"Panglima!! Buka penutup mata ninja itu!!" perintah Raja lantang. Maka Panglima Do Jo. dengan kasar membuka penutup mata sang ninja bayaran. Pria itu menatap Menteri Natsuha untuk pertama kali, lalu menatap wajah pucat sang Ratu.


"Kau ingin keluargamu hidup bukan? Maka tunjukkan padaku, siapa yang membayarmu" kata sang Panglima Do Jo, mengibaskan pedang ke rambut panjang sang ninja, hingga rambutnya yang ter kucir rapi itu kini tinggal kenangan.


Dengan panik dan rasa takut keluarganya dalam bahaya, sang ninja memelototi rambutnya yang panjang, sudah ditebas hingga jatuh tak jauh dari tempatnya bersimpuh.


"Dia adalah..." sang ninja mengucapkan dengan suara terbata-bata. Pria itu menatap ke arah Menteri Natsuha dan Ratu bergantian.


"Ratu Yang Mulia..." kata sang Ninja. Ratu melotot tidak terima kenapa sang Ninja hanya mengungkapkan dirinya saja? Kenapa Natsuha tidak disinggung sama sekali?!


"Bohong!! Aku bekerja sama dengan Natsuha Yang Mulia!! Maka hukum juga dia!!" kata Ratu meminta keadilan.


"Yang Mulia...saya saksinya" sang Kasim Akio menimpali. Sang Ratu tersenyum penuh kemenangan sambil melirik ke arah sang Adik kandung.


"Beliau, Menteri Natsuha, berpura-pura membantu aksi pembantaian Selir Eun Sha dan calon Putra Mahkota, demi menyelamatkan nyawa keduanya" kata sang Kasim, membuat senyuman licik Ratu kini berubah menjadi guratan penuh rasa kecewa dan merasa di khianati habis-habisan!!


"Yang Mulia...hamba menghadap" kata Do hwa di hadapan Rajanya.


"Katakan apa yang harus kau katakan dengan sejujur-jujurnya" kata Raja penuh wibawa.


"Yang Mulia, hamba bersaksi, bahwa sebenarnya, Ratu mendesak hamba dan Kasim Akio untuk membuat Selir Eun Sha menaiki tandu Istana. Tapi kami tidak pernah tahu menahu, bahwa akan ada ninja yang akan membunuh Selir" adu sang Dayang kepercayaan Ratu tidak sepenuhnya benar. Kebenarannya adalah, Kasim Akio dan Do hwa, akan selalu berpihak pada yang terkuat"


Dalam hal ini, mereka akan sangat diuntungkan bila memihak sang Adik, Menteri Natsuha yang menyelamatkan dan menyembunyikan Selir. Bagaimanapun, dan apa pun kesalahan sang Menteri, Raja akan tetap memberi pengampunan karena sudah mengembalikan Eun Sha ke dalam pelukan Raja kembali.


"Yang Mulia!! Yang Mulia!!" teriakan dayang Hikari membuat seluruh dewan Istana menatap ke arah Gadis itu. Mata Hikari sembab sangat terlihat kepanikan di wajah cantiknya.


"Beraninya kau, mengganggu persidangan yang sedang berjalan Dayang!!" bentak Kasim Akio marah.


"Ampun beribu-ribu ampun Yang Mulia...jika hamba menyita waktu persidangan, tapi hamba memberi kabar, bahwa sekarang, Selir Eun Sha akan menjalani persalinan" kata Hikari antara cemas dan takut-takut.


"Persidangan akan di tunda dalam waktu dua jam lagi. Ratu, aku beri kau, kesempatan untuk mendapatkan pembelaan bila memang ada. Tapi jika kau, menggunakan cara licik lagi untuk memenangkan sidang ini, hukuman lebih berat yang tak pernah kau bayangkan, pasti akan kuberikan sebagai hadiah untukmu" ancam Raja dingin, lalu segera meninggalkan aula persidangan Istana, menuju kediaman Selir Eun Sha.


Raja Keito berjalan memasuki kediaman Eun Sha beliau mendengar jelas pekik kesakitan sang Selir menjelang persalinan.


"Yang Mulia..." sambut Tabib Istana menghormat.


"Apa aku mengganggumu bekerja? Aku akan keluar asal Putra dan Selirku selamat" kata sang Raja sadar kedatangannya kali ini, membuat pekerjaan sang Tabib tertunda.


"Tidak Yang Mulia. Selir membutuhkan kehadiran Anda. Mohon dampingi Selir agar merasa tenang saat melahirkan Putra Mahkota" kata Tabib tersenyum bijak lalu Raja bergegas duduk disamping Selir Eun Sha sambil menggenggam tangan Eun Sha.


Dalam keadaan menahan rasa sakit, Eun Sha yang tangannya digenggam Raja Keito, kini mengejan kembali sambil menggenggam erat tangan kekar Raja. Persalinan Selir Eun Sha sangatlah rumit air ketuban hampir habis hingga Tabib terpaksa harus segera mengeluarkan bayinya secepat mungkin.


"AaaaAAAAaaa!!" teriak sang Selir berkumandang keras hingga ke taman Istana.


Engaaaaaak!!


Engaaaaaak !!


Suara tangis bayi Laki-laki itu menyusul setelahnya. Dayang Hikari yang sedari tadi tegang sekaligus cemas kini dapat tersenyum di balik pintu kediaman Selir Eun Sha. Raja mulai kehilangan senyum, begitu menyadari sang Selir Eun Sha diam memejamkan kedua mata tanpa bergerak sedikitpun!!


"Tabib!! Cepat lihat keadaan Selirku!! Kenapa dia tidak bergerak sama sekali?" panik sang Raja sambil menyerahkan Putra Mahkota pada salah satu dayang perawat. Tabib memeriksa denyut jantung Eun Sha melalui pergelangan tangan sang Selir.


"Denyut jantungnya melemah Yang Mulia. Anda harus membangunkannya segera coba tepuklah kedua pipi beliau" kata Tabib tak mengurangi rasa hormat. Raja pun menepuk pelan kedua pipi Eun Sha. Wanita itu kini mengerjapkan kedua mata mencoba melihat siapa yang berkali-kali memanggil namanya.


"Eun Sha...bangunlah kumohon" kata Raja mengusap pipi Eun Sha dengan kedua ibu jarinya.


"Raja...hamba mengantuk sekali" kata Eun Sha lemah.


"Yang Mulia buatlah Selir bertahan selama 2 jam untuk tidak tidur. Selir...Anda dalam masa kritis saat ini. Tidur sebelum masa kritisnya habis, bisa membahayakan nyawanya kapan saja" bisik Tabib pada Raja yang langsung di jawab dengan anggukan.


"Kau ingin tidur? Apa kau sangat tidak peduli pada kelahiran Putra kita? Bahkan ia baru saja dilahirkan ke dunia. Bagaimana kau bisa setega itu?" pancing Raja mencari cara agar Eun Sha tetap dalam kesadaran penuh.


"Hamba hanya merasa lelah Yang Mulia...mohon ijinkan hamba istirahat sebentar saja" rengek Eun Sha yang tak kuat menahan kantuk.


"Selir, saatnya menyusui Putra Anda. Pertama, biarkan ia mencari sendiri pusat makanannya di atas dada Anda. Setelah ia mulai menemukannya, miringkan tubuh Anda, agar bayi Anda dengan mudah bernafas, sekaligus minum ASI. Untuk itu, saya mohon diri dulu" kata tabib memohon diri. Raja dan Selir mengangguk mempersilahkan Tabib keluar.


Engaaaaaak


Engaaaaaak


Suara bayi Selir yang mengamuk karena tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Selir Eun Sha tersenyum meraih bayinya dan meletakkannya di sisi peraduannya agar lebih mudah menyusui.


"Bersiaplah untuk penobatan"


"Yang Mulia, Putra Anda baru saja terlahir ke dunia. Bagaimana bisa seorang bayi tiba-tiba menjadi Raja?" balas Eun Sha kebingungan.


"Bukan penobatan Putra Mahkota sayang...,tapi penobatanmu menjadi Ratu" balas Raja membuat Eun Sha membelalakkan mata. Ada apa dengan Raja?


"Yang Mulia...ini tidak mungkin terjadi. Apa Anda tidak memikirkan bagaimana perasaan Ratu?"


"Lalu bagaimana dengan perasaanku? apa dia memikirkan bagaimana perasaanku selama beberapa bulan terpisahkan dari Putra dan Istriku?!" Raja Keito menatap tajam ke arah Eun Sha.


"Yang Mulia...yang penting kami telah kembali bukan? Tolong pertimbangkan dengan matang"


"Tidak!! Dia berusaha membunuh Putra, dan Istriku bahkan sebelum ia terlahir ke dunia. Tidak akan aku maafkan Wanita keji itu yang bahkan, ia pun pernah ingin melenyapkan Putrinya sendiri!!" kata Raja murka mengingat kalimat yang terlontar jelas dari bibir Ratu kepada Adiknya yang tak sengaja di dengar olehnya sendiri.


"Yang Mulia..."


"Akan kuberi kau, pilihan. Pertama, menggantikannya sebagai Ratu, dan dia menjadi Selirku sekaligus harus menjalani hukuman penjara 3 bulan atau, pilihan kedua. Melengserkan Ratu, lalu akan ku kembalikan ia kepada kedua orang tuanya dengan meniadakan haknya sebagai seorang Haha?" tantang Raja membuat Eun Sha serba salah.


"Anda memberi hamba pilihan yang tidak adil sama sekali"


"Aku justru memberimu, dan Putra kita keadilan Eun Sha. Jika penjahat itu dibiarkan berkeliaran diluar sana, suatu saat nanti dia akan merencanakan siasat keji berikutnya. Apa kau benar-benar ingin kehilangan Putra kita karena Kimiko?!" marah Raja tak habis pikir dengan jalan pikiran sang Selir.


"Ini hanya karena hamba ingin melindungi Putra kita" Kata Eun Sha lirih. Raja malah mengerutkan kening sambil mengangkat kedua bahunya.


"Jadi, apa pilihan Selirku satu ini?" tanya Raja sambil mencubit pipi Eun Sha.


"Yang Mulia, hamba memilih untuk menggantikan kedudukan Ratu Kimiko. Apa Anda senang sekarang?" balas Eun Sha cemberut.


"Aku mendapatkan sebuah nama untuk Putra kita. Hiroshi." kata Raja yang disambut dengan tatapan berbinar Eun Sha tapi karena masih dalam rangka merajuk, Eun Sha pura-pura tak peduli sedikitpun.


"Hamba lebih suka memberinya nama Toshio" jawab Eun Sha memalingkan wajah. Dengan cepat Raja mengambil bayi Laki-laki itu dari naungan sang Ibu dan menggendongnya.


"Nak, apa kau suka dengan nama Toshio?" tanya Raja tapi bayinya tak bereaksi sama sekali hanya menggeliat sesekali.


"Hm, bagaimana jika Hiroshi?" tanya Raja Keito.


"Auuuuu...." sambut sang bayi tersenyum sambil meninju dan menendang udara dengan kedua kaki sekaligus tangannya. Pembicaraan Ayah dan Anak itu spontan membuat sang Selir menoleh lalu mengambil alih bayinya.


Engaaaaaak!!


Engaaaaaak!!


Bayi itu malah menangis dan menatap Ayahnya menggapai-gapai udara ke arah sang Ayah.


"Hey, aku ini Hahamu, yang melahirkanmu, kenapa kau malah memilih Chichimu?" kata Eun Sha mengecup dahi Putranya.


"Karena Haha, wajahnya sekarang penuh kerutan. Itu akibat kau, kerap sekali marah padaku. Jadi jangan salahkan Putramu bila lebih memilihku" kata Raja Keito membuat sang Selir menoleh ke arah Raja. Ah, ada perubahan dalam diri Raja rupanya dan itu, baru disadari oleh Selir Eun Sha.


"Kapan Anda mencukur habis hutan rimbun Anda Yang Mulia?" goda Eun Sha balik.


"Sejak kau bilang aku jauh lebih tua dari usiaku. Ingat? Lagi pula, aku tidak akan rela kau jauh lebih dekat dengan Natsuha dari pada dengan aku" kata Raja. Eun Sha menatap lekat kedua mata Suaminya.


"Itu juga yang dirasakan Ratu Kimiko. Anda seharusnya memahami kondisi Ratu saat itu"


"Lalu kau mengabaikan perasaanku demi Wanita yang ingin menghabisi putra kita?"


"Sejak kedatangan hamba, Anda sama sekali tidak memperhatikan Ratu. Tolong pahamilah Ratu...karena cinta tidak pernah ingin dibagi. Dan ketika cinta mulai terbagi, akan ada pihak yang merasa terabaikan. Pihak itulah Ratu. Jika Anda mampu bersikap adil, maka tidak akan ada hal seperti ini Raja" kata Eun Sha menggapai bahu Raja.


"Bersiaplah. Sebentar lagi penobatanmu akan berlangsung. Jangan kecewakan aku Eun Sha" kata Raja memilih untuk pergi menghindari bujukan calon Ratunya.


Raja Keito kini telah tiba di aula ruang pengadilan. Disana telah menunggu Ratu, Natsuha, juga sang Ninja.


"Ratu, apa kau telah menemukan pembelaan?"


"Tidak Yang Mulia. Pembelaan apa pun yang dilayangkan untuk hamba, tidak akan menolong hamba sedikitpun karena Anda, pasti tetap tidak akan mempercayai hamba" balas Ratu sangat putus asa.


"Dengan demikian, Ratu Kimiko kau kujatuhi hukuman penjara selama 3 bulan. Dan, beserta hukuman itu, maka Ratu Kimiko, dinyatakan lengser dari kedudukan Ratu, menjadi Selir Kimiko" kata Raja. Mendengar kedudukannya diturunkan, bulir air mata membanjiri pipinya. Ia sungguh tidak rela diperlakukan demikian sihir apa yang di gunakan Wanita bernama Eun Sha itu pada Raja?


"Yang Mulia, tidak puaskah Anda memenjarakan hamba? Sekarang, Anda juga merenggut jabatan hamba?!" teriak mantan Ratu Kimiko.


"Sopanlah pada Rajamu, Selir Kimiko...apa hanya jabatan, harta dan Tahta yang kau pedulikan? Renungkan segala kesalahanmu pada Eun Sha di dalam masa tahananmu. Pengawal!!" kata Raja menahan murka.


"Hamba Yang Mulia"


"Masukkanlah Selir Kimiko ke dalam sel penjara" perintah Raja. Para pengawal menggelandang sang mantan Ratu, hingga Wanita itu memberontak.


"Aku bisa berjalan sendiri!!" bentak Selir Kimiko disetujui oleh Raja yang mengangguk pada para prajuritnya. Tepat di depan pintu masuk Aula Pengadilan, Selir Kimiko, berpapasan dengan Selir Eun Sha. Sang Selir Eun Sha memilih untuk diam meski mendapatkan tatapan dingin dari mantan Ratu.


"Selir Eun Sha, kemarilah" panggil Raja dengan suka cita. Selir Eun Sha melangkah ke arah Raja dan bersimpuh takzim di hadapannya.


"Dengan dilengserkannya jabatan Ratu Kimiko maka, aku menobatkan Selir Eun Sha menjadi Ratuku" kata Raja Keito sambil meletakkan mahkota Ratu di kepala.


Sambutan hangat seluruh orang di pengadilan riuh ramai. Sementara sang mantan Ratu hanya terdiam sejenak, lalu ia berjalan sangat cepat menuju penjara bawah tanah. Begitu pintu penjara dikunci rapat-rapat, para pengawal Istana meninggalkan dirinya sendiri, Selir Kimiko menangis histeris lalu memukul-mukul dadanya menahan luka batin yang menganga lebar.