
Tantangan pertama...hal pertama yang terbersit dalam otak Raja Keito ketika membuka kedua matanya.
"Anda memanggil hamba, Yang Mulia?" kata Natsuha begitu tiba di ruang kerja Raja.
"Masuklah" kata Raja Keito mengembangkan senyuman hangat pada Menterinya itu.
"Apa yang kini membuat Anda risau?”
"Salah satunya adalah sikap Anak-anakku dalam menanggapi rujuknya aku dan Selirku"
"Hamba dengar mereka sampai mogok makan kemarin. Apa...Ratu berhasil membujuk mereka?" mendengar pertanyaan itu, Raja hanya menggeleng dengan sorot mata sendu.
"Karena hal itulah aku memanggilmu. Kurasa sekaranglah saatnya mereka harus menjalankan tantangan kami"
"Apa ini tidak terlalu cepat Yang Mulia?" suara Ratu Eun Sha seketika menghentikan pembicaraan keduanya. Eun Sha berjalan secepat mungkin lalu berdiri di samping Natsuha sambil menatap Raja Keito dengan tatapan khawatir.
"Yang Mulia...bukankah Anda mengerti keadaan mereka? Perasaan mereka sekarang sedang tidak menentu. Mereka tidak akan bisa berkonsentrasi menjalani tantangan tersebut. Itu sangat tidak adil untuk mereka. Mohon pertimbangannya" tambah sang Ratu.
"Masalahnya akan semakin berlarut-larut jika hal ini tidak dilakukan secepatnya Eun Sha" kata Raja Keito berusaha memberi pengertian.
"Dayang Hikari ingin menghadap!!" seru sang Pengawal Istana memberi tahukan kedatangan sang Dayang.
"Masuklah" jawab Raja Keito penasaran.
"Maafkan hamba mengganggu Yang Mulia. Tapi...Putra Mahkota dan kedua Putri terserang demam tinggi" kata Hikari melaporkan apa yang telah di sampaikan ketiga Dayang yang mendampingi Putra Mahkota dan kedua Putri. Raja segera berdiri dari singgasananya lalu menggenggam kedua bahu Ratu Eun Sha.
"Biar aku dan Kimiko yang menangani Mari dan Kotoko. Ku serahkan Hiroshi padamu" kata Raja di sambut anggukan kecil sang Ratu. Keduanya berjalan berlawanan arah pikirannya terus tertuju pada ketiga anak mereka.
Dengan tergopoh-gopoh sang Raja akhirnya sampai di kediaman Putri Mari dan mendapati Selir Kimiko terus meratapi Putrinya di atas peraduan sang Putri. Begitu mendengar pemberitahuan bahwa Raja datang, Kimiko segera bangkit dari duduknya, menghapus air mata sambil menatap sendu Suaminya itu. Raja berjalan dengan langkah yang berat. Perlahan Raja Keito duduk di samping Putrinya yang terbaring tak berdaya.
"Hamari...bangunlah. Chichi datang nak," kata Kimiko lembut tapi tak ada respons sedikitpun.
"Apa kata Tabib? Sudahkah dia memeriksa Putri kita?"
"Tabib berkata, Putri Mari mengalami tekanan yang berat hingga tubuhnya mudah terjangkit penyakit. Tenanglah Yang Mulia, Putri Mari hanyalah terserang flu" kata sang Selir sambil menyentuh kedua bahu Raja Keito.
"Apa yang harus kulakukan? Katakan. Kenapa sifat anak kita sangat mirip denganmu? Kenapa dia harus mencintai Chichinya sendiri?" protes Raja tak tahan lagi dengan semua masalah yang terus menumpuk di dalam kepalanya hari demi hari.
"Cinta tidak pernah salah Yang Mulia. Jika Anda menyalahkan cinta, artinya Anda sedang menghujat sang Pencipta" terdengar suara lemah dari arah peraduan sang Putri. Raja dan Selir menatap ke arah Sang Putri tanpa kata.
"Mungkin cara hamba saja yang salah dalam mendapatkan cinta Yang Mulia. Tapi apa daya hamba? Hamba tak pernah meminta akan terlahir dari rahim siapa"
"Hamba tidak pernah, meminta terlahir sebagai Putri seorang Raja, yang kelak akan hamba cintai. Jika hamba dapat memilih, tentu hamba meminta untuk tidak mencintai Chichi hamba sendiri. Ini tidak adil" rintih sang Putri sambil menangis pedih.
"Kau hanya merindukan sosok seorang Chichi dalam hidupmu Mari. Tapi kau, salah mengartikannya sebagai cinta ketika melihatku. Percayalah. Akan ada Pria lebih baik dari Chichimu ini yang akan mendampingi hidupmu" kata Raja sambil duduk di atas peraduan Putri Mari tapi sang Putri lebih memilih memunggungi Raja Keito.
"Apa aku sudah mengatakan satu hal ini? Perlu kau ingat Chichimu adalah Raja dari Negeri ini. Tidak ada satu pun Rakyatku yang berani memalingkan wajahnya dari Raja mereka. Berani sekali kau, memunggungi Raja dari Negeri ini? Hmm?" kata Raja Keito yang begitu melihat reaksi Mari ia langsung mengembangkan senyuman tertahan di bibirnya. Mari kali ini kembali menghadap ke arah sang Raja.
"Kau tahu, apa yang akan terjadi pada orang di luar sana ketika melakukan hal itu? Hukuman. Karena mereka sedang menghina Rajanya"
"Hukuman? Tapi...hamba sedang sakit Yang Mulia" kata Mari dengan tatapan tidak terima.
"Baiklah. Akan Chichi lupakan penghinaan ini, tapi dengan satu syarat" mata Gadis bertubuh dewasa dengan jiwa belia itu menatap harap-harap cemas menunggu kalimat selanjutnya dari sang Chichi yang dengan sengaja menahan kata selanjutnya.
"Syarat?" mendengar akhirnya Putri Mari mempertanyakan tentang syarat tersebut, Raja melirik ke arah Selir Kimiko lalu bersiul kecil. Sang Selir membalas lirikan mata Raja, dengan kerutan di dahinya.
Raja terus bersiul hingga muncul sesuatu yang melompat dari jendela masuk ke dalam kediaman Putri Mari. Sang Putri hanya diam tak berkutik melihat apa yang telah di panggil Chichinya. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya bagaimana tidak? Makhluk bernama Komainu muncul dihadapannya.
Komainu adalah makhluk yang berbentuk seperti anjing tetapi memiliki wajah singa yang bertugas sebagai penjaga kuil.
"Yang...Yang Mulia. Kenapa Komainu berada di dalam sini? Bukankah tugasnya untuk menjaga kuil dari roh jahat?" tanya sang Selir dengan suara gemetar ketakutan. Ada sesuatu yang janggal...ada yang salah...itulah yang ada dalam pikiran sang Putri, ketika Hahanya mengatakan hal tersebut. Jika tugas utama Komainu menjaga kuil, pasti ada hal darurat hingga makhluk itu kini muncul di depannya.
"Bagaimana lagi. Mau tidak mau aku harus mengatakan hal ini pada kalian semua. Bahwa... Komainu sepertinya merasakan adanya aura jahat di dalam Istana ini"
"Sebenarnya...aku telah meminta pada Komainu untuk tidak menampakkan wujudnya kepada seluruh anggota keluargaku. Tapi sepertinya ada sesuatu yang selalu menarik perhatiannya di tempat ini" kata Raja misterius suaranya mampu menciptakan bulu kuduk Mari meremang.
Seolah mengerti...makhluk itu berdiri tegap menatap setajam belati ke arah sang Putri. Ia berjalan dengan angkuh, mendekati peraduan sang Putri.
"Chichi...Chichi!! Jauhkan makhluk mengerikan ini dari hamba!!" pekik Mari sambil duduk dari tidurnya. Ia duduk merapat ke pojokkan mencari perlindungan.
"Yang Mulia...apa yang di lakukannya di sini? Katakan pada hamba. Jangan sampai Komainu melukai Putri Kita berdua" kata Selir Kimiko mengguncang lengan sang Raja cemas sekaligus panik.
Raja hanya diam dan menggenggam erat tangan Selir Kimiko yang sedang mengguncang tangan kirinya. Komainu mendekat...dan makin mendekat...ketika pekik ketakutan terdengar dari bibir sang Putri, Komainu mendengus mengintimidasi. Matanya yang kelam...dan sangat tajam semakin menyorot ke dua mata Putri Mari.
"Anak sepertimu pantas di lenyapkan dari dunia. Kau merusak rantai kehidupan" desis Komainu dalam dan penuh ancaman. Putri Mari gemetar ketakutan!! Matanya melirik ke arah kedua orang tuanya. Apa yang terjadi pada mereka berdua? Kenapa tatapan mereka kosong, tak bergerak, dan tak ada tanda mereka bernafas?! Ia kembali menatap sang Komainu berusaha sekuat tenaga memberanikan diri.
"A-apa yang kau lakukan pada ke dua orang tuaku?" tanya Putri Mari di sela suaranya yang bergetar.
"Orang tua? Benarkah mereka orang tuamu? Kau mengakui mereka? Bukankah kau mencintai Raja Keito?!" bentak Komainu membuka moncongnya lebar-lebar seolah siap menelan sang Putri bulat-bulat.
"Kau bahkan ingin membuat ke dua Hahamu berpisah dengan Chichimu. Kau pun, berniat menikahi Chichi kandungmu!! Kau anak terkutuk!!" suara Komainu menggema di seluruh penjuru kediaman sang Putri.
"Apa yang akan kau lakukan terhadapku?"
"Memberimu penawaran. Ikutlah bersamaku menemui seseorang untuk memulai penawaran tersebut dengannya"
"Jika aku tidak mau?"
"Kau bisa memilih. Kau akan kumusnahkan menjadi butiran abu, atau aku akan memusnahkan seluruh keluargamu sekarang juga" kata Komainu dingin tak ada sisi kemanusiaan sedikitpun yang tertangkap di matanya.
"Jika aku mengikutimu, apa mereka akan tetap hidup?"
" Komainu tidak dapat berbohong..." desis makhluk itu menyeringai garang.
"Kembalikan mereka seperti sedia kala. Ijinkan aku untuk berpamitan dengan mereka"
"Tidak. Berbicara dengan mereka akan melemahkan dirimu. Kau harus ikut denganku sekarang" geram Komainu membuat sang Putri merasa tidak punya pilihan.
Ia memeluk erat Chichinya dan berpikir bisakah ia kembali pada ketiga orang tuanya lagi? Ataukah ia akan mati di makan Komainu setelah ini?
"Waktumu sangat sempit. Cepatlah membuat pilihan kau ikut denganku, atau kau memilih ku musnahkan saja seluruh anggota keluargamu?" ancam Komainu mendengus kesal mengetahui apa yang dipikirkan Putri Mari. Sang Putri melepaskan pelukan perpisahan itu lalu berjalan mengikuti kelakuan Komainu yang melompat keluar lewat jendela.
Dayang Ken Nahri menanti kedatangan Raja Keito dan Selir Kimiko dengan sangat cemas. Sang Tabib baru saja datang memeriksa keadaan Putri Kotoko. Ia merasa ini terlalu lama bagaimanapun kedua orang tuanya harus tahu keadaan sang Putri segera.
Ia memutuskan mengantarkan sang Tabib hanya sampai pintu kediaman Putri Mari lalu bergegas mencari Raja Keito dan Selir Kimiko di kediaman Putri Mari. Terdengar suara pintu digeser perlahan Dayang Ken Nahri dan Tabib keluar dan menutup kembali pintunya.
Gratak....
Greeeeeet....
Tap Tap...
Tap Tap...
Suara langkah kaki lebih dari satu orang terdengar di telinga Putri Kotoko. Ia segera membuka kedua mata dan menatap seekor Hato bertengger di atas perutnya.
"Syuh!! Syuuuh!!" pekik sang Putri terkejut mendapati seekor burung Merpati bertengger di atas perutnya.
"Ikutlah bersamaku" kicau sang Hato terbang mengelilingi ruangan untuk menghindari serangan dadakan dari Putri Kotoko yang melempari Hato dengan apa pun yang ada di dekatnya.
"Hato bisa bicara?" kata Putri Kotoko semakin pucat.
"Kau di kutuk oleh Sang Pencipta karena telah mencintai Hiroshi. Satu-satunya cara agar kau, terbebas dari kutukan tersebut, kau harus ikut denganku"
"Tidak akan"
"Lihatlah apa yang ada di ember kayu di samping peraduanmu Putri" perintah sang Hato penuh penegasan.
Ragu sekaligus penasaran akhirnya membuat sang Putri menuruti perintah Hato. Ia merunduk mencari tahu apa yang ada di dalam ember kayu tersebut. Tidak ada yang aneh, hanya ada air di dalamnya, apa Hato sedang mempermainkannya? Matanya berkedip berulang kali ketika air itu menampilkan bayangan Raja Keito dan Selir Kimiko yang diam mematung di kediaman Putri Mari.
"Inilah akibat kutukan tersebut Putri, satu-satunya cara agar mereka kembali seperti sedia kala, kau harus mengikutiku kemanapun aku pergi. Tapi jika kau ingin mereka lenyap dari muka bumi ini, itu tidaklah sulit bagiku" kalimat Hato terdengar bagaikan ancaman.
"Akan kau bawa ke mana aku?"
"Ke suatu tempat yang akan membawamu ke pada seseorang. Aku hanyalah sang pembawa pesan" kata Hato menegaskan kembali alasan kehadirannya. Putri Kotoko mengangguk lalu mengikuti ke mana sang Hato terbang.
Hiroshi merebahkan kepalanya dengan nyaman di pangkuan Ratu Eun Sha ketika ia mengeluh sakit kepala, sang Ratu pun ingin segera meringankan rasa sakit Hiroshi dengan sebuah pijatan di kedua pelipis sang Putra Mahkota. Hiroshi sangat menginginkan waktu terhenti saat ini juga supaya ia, dapat terus bersama dengan Ratu selama mungkin.
"Untuk apa kau menyiksa tubuhmu sendiri demi keinginanmu yang akan selamanya di tentang baik di bumi maupun di langit? Jangan keras kepala Hiroshi. Lupakan ambisimu, makanlah"
"Tidak Haha. Selamanya hamba tidak akan mau mencabut niatan hamba untuk memiliki Anda. Meski harus seribu kali didera rasa sakit"
"Apa yang kau dapatkan dalam hal ini? Haha tidak akan pernah menikahi Putra Haha sendiri. Sadarlah Hiroshi. Hubungan darah...lebih kental dari pada hubungan cinta. Kau tidak bisa menghapuskan hubungan darah kita, atas nama cinta"
"Bukankah Haha dan Chichi terhubung karena cinta? Begitu juga hamba yang terhubung dengan Anda karena cinta" Hiroshi kini mulai berulah kembali tapi Ratu segera menurunkan emosinya.
"Kau benar mencintaiku? Maka lakukan apa yang aku inginkan. Makanlah" kata Eun Sha lembut, sambil menyodorkan makan dengan sumpit di tangan kanannya. Hiroshi menatap ragu tapi kapan lagi ia akan dimanjakan seperti ini oleh sang Ratu? Ia harus memanfaatkan kesempatan ini, untuk memikat hati sang Ratu.
Senyuman kecil terukir di bibir sang Putra Mahkota lalu ia menerima suapan dari Ratu Eun Sha.
"Apa yang ada pada Raja, tapi tidak ada pada hamba Yang Mulia?" tanya Hiroshi membuat Eun Sha terdiam sejenak.
"Suamiku penyabar tapi Putraku pemarah. Siapa menurutmu yang layak untuk aku sayangi? Hmm?" pertanyaan di balas dengan pertanyaan. Hiroshi segera menampik makanan yang disodorkan Ratu hingga sumpit dan makanan itu jatuh di atas lantai kayu.
"Hiroshi...banyak orang kelaparan di luar sana bekerja dari pagi hingga petang, demi mendapatkan beberapa keping emas untuk mengisi perutnya. Seharusnya kau, berterima kasih terlahir dalam keluarga yang mampu!!" bentak Ratu sambil berdiri mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Putra kandungnya.
Hiroshi berdiri dengan gontai...ia menatap sendu ke arah sang Ibu mencari tahu di mana rasa cinta kasih Ratu untuknya? Ia menatap manik mata Ratu yang penuh kemarahan.
"Jangan mengubah topik pembicaraan Yang Mulia. Hamba bisa melenyapkan Raja selamanya jika hamba ingin,"
Plak !!
Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Hiroshi bahkan darah segar menetes dari sela bibirnya. Ratu membalas tatapan mengancam Hiroshi dengan tatapan terluka sekaligus penuh penyesalan. Putra yang di perjuangkan kehidupannya demi kebahagiaan rumah tangganya dengan Raja Keito, kini malah ingin mengakhiri hidup Suaminya?. Betapa hancur hati sang Ratu.
"Asal kau tahu Hiroshi, Putra Keito. Kau adalah keturunan yang telah kami perjuangkan antara hidup dan mati. Haha hampir mati terbunuh, lantaran ingin mempertahankan kehidupanmu dalam kandungan Haha"
"Bahkan, karena kaulah, aku terpisah dari Suamiku dalam waktu lama. Berani kau hilangkan nyawa Suamiku, maka kau, akan melihatku segera menyusulnya" ancam Ratu beranjak meninggalkan peraduan Hiroshi.
Sebelum sempat Ratu menuju ke arah pintu keluar, terdengar suara geraman sesuatu di balik pintu. Ratu mundur beberapa langkah sementara Hiroshi segera menggamit katana miliknya lalu segera berlari melindungi sang Ratu. Terlihat seekor Kitshato melenggang berjalan dengan angkuh namun anggun. Menatap murka Hiroshi dengan kedua mata kelamnya.
Hiroshi segera menghunuskan katana di hadapan sang Rubah berbulu putih ke abu-abuan.
"Pria bodoh. Sebaiknya kau lindungi saja dirimu sendiri" kekeh Kitshato dengan tatapan sinis.
"Mau apa kau kemari?"
"Seseorang ingin menemuimu Putra Keito. Ikutlah bersamaku" kata Kitshato tanpa basa-basi.
"Cih, aku tidak sudi. Pergilah katakan pada Tuanmu aku tidak akan datang padanya"
"Kau yakin? Jadi kau, ingin Wanita di belakangmu mati membeku?" kata Kitshato tajam penuh ancaman. Hiroshi menoleh ke belakang tubuhnya diam terpaku menatap pemandangan di depan matanya. Ratu Eun Sha berubah menjadi sebuah pahatan es!!
"Haha?! Kitshato apa yang telah kau lakukan terhadap Haha ku?!"
"Chichimu dan Tuanku telah membuat kesepakatan. Ketiga orang tuamu, telah menerima risikonya bila melakukan kesepakatan ini. Dan kini mereka telah membayar risiko itu"
"Kembalikan mereka seperti semula. Kesepakatan apa sebenarnya yang kalian lakukan?!"
"Hanya Tuanku dan merekalah yang tahu. Maka datanglah pada Tuanku Agar kau tahu, cara mengembalikan mereka seperti sedia kala"
"Bawa aku padanya segera" jawab Hiroshi tak ingin membuang banyak waktu lagi. Kitshato merubah dirinya menjadi lebih besar lalu duduk di atas lantai kayu.
"Naiklah..." kata Kitshato memerintahkan Hiroshi untuk menaikinya. Hiroshi mengangguk sambil menaiki sang Kitshato yang dengan lincah berlari melompati jendela kediaman Hiroshi, dan melesat berlarian secepat kilat.