Aitai

Aitai
Episode 58



Ah-In melihat punggung Hiroshi berjalan menjauh...semakin jauh...hingga menghilang di ujung jalan. Ah-In menangis tak kuasa menahan air mata. Ia berjongkok dan memeluk kedua lututnya dengan hati pedih.


Inikah akhir dari pertemuan kita Yeon-Seok? Semudah itukah kau membuangku? Rintih hati Ah-In mencoba menata hati yang sudah remuk sedari tadi.


“Kakak, apa kau sakit? Kenapa menangis?” suara anak kecil Laki-laki terdengar membuat wajah Ah-In yang menunduk, menatap anak itu.


“Pulanglah. Aku tidak apa-apa” senyum Ah-In sambil membelai lembut kepala anak itu.


“Apa Kakak bertengkar dengan seseorang disini?”


“Hmm,”


“Kalau begitu, tunggu saja dia disini” balas anak Laki-laki berbaju biru muda dengan senyuman hangat.


“Kata Ibu, jika orang itu...benar-benar menyayangi kita sepenuh hati,” anak itu memegang dadanya.


“Sebesar apa pun pertengkaran kita dengannya, dia akan kembali pada kita”


“Benarkah?”


“Ya. Kau bisa membuktikan. Apa dia menyayangimu sepenuh hati, atau tidak. Ah, sudah mau hujan!! Kakak cantik, aku pulang dulu!!” pekik anak Laki-laki tersebut meninggalkan begitu saja Ah-In.


Benar saja...hujan rintik mulai membasahi bumi kini hujan itu pun menitik ke seluruh tubuh Ah-In tapi Gadis ini tetap memilih membenamkan wajahnya lagi di kedua lututnya.


Hey, kenapa...aku tidak merasakan tetesan hujan lagi? Batin Ah-In. Dia mendongakkan kepala, dan...mendapati wajah seseorang yang telah lama ia rindukan.


“Kau kembali lagi?” gumam Ah-In sangat jelas lalu berdiri menghadap ke arah Hiroshi.


“Kau tidak pulang?”


“Kalau aku pulang kau tidak akan kembali”


“Kau pikir kalau kau tetap disini aku akan kembali? Pikiran bodoh macam apa itu!” bentak Hiroshi tidak habis pikir. Bentakan itu hanya teredam oleh suara rintik hujan, ketika sebuah pelukan Hiroshi rasakan.


“Tapi kau, kembali”


“Terima kasih”


“Kau berterima kasih untuk apa?”


“Karena kau mau kembali. Dan terus kembali” jawab Ah-In menemukan kenyamanan dalam pelukan itu.


Hyun-Jae yang melihat Adiknya tiba-tiba di peluk, dengan sigap ia akan maju keluar dari tempat persembunyiannya tapi tangan Heo Dipyo merentang menghalangi langkahnya.


“Apa yang mau kau lakukan?”


“Memisahkan mereka apa lagi?”


“Kau tahu sifat anak itu kan? Dia tidak seperti kita. Dia cenderung pasif dalam urusan seperti ini. Biarkan ini berjalan senatural mungkin Hyun-Jae. Adikmu membutuhkan Wanita seagresif Ah-In dalam hidupnya. Atau tidak akan ada Wanita yang mau menikahinya”


“Adikku Pria tampan. Banyak Gadis yang mengantre hanya untuk bisa berbicara dengannya!” Hyun-Jae tak terima.


“Tapi dia mencampakkan semua Gadis itu. Lihatlah dengan jeli Hyun-Jae. Adikmu tidak menolak artinya dia menemukan kenyamanan itu dalam diri Ah-In. Sampai kapan kau akan terus menganggapnya anak-anak? Dan bersikap seolah kaulah Ayahnya” kekeh Heo Dipyo setelah menunjuk ke arah Yeon-Seok dan Ah-In.


“Dia hanya bisa melihat Ibunya tapi tak sempat melihat Ayahnya. Tentu saja aku harus mengisi kekosongan itu. Sampai kapan pun bagiku Yeon-Seok tetaplah Adik kecilku” senyum Hyun-Jae menatap Yeon-Seok yang tak berkutik di hadapan Gadis bernama Ah-In.


“Mau sampai kapan kau, memelototi mereka? Hujan akan semakin lebat biarkan mereka. Ayo kembali” ajak Heo Dipyo menggeret lengan Hyun-Jae.


Hujan semakin deras Yeon-Seok dan Ah-In masih di bawah payung.


“Mau sampai kapan kau terus menempel padaku begini? Pulanglah” protes Yeon-Seok dingin. Ah-In tak punya pilihan lain ia melepaskan Yeon-Seok lalu berjalan ke arah kediamannya. Pria itu menarik lengannya hingga Gadis itu kembali di bawah payung yang di genggam Yeon-Seok.


“Apa kau ingin bermain air seperti anak kecil? Kau tahu seberapa derasnya ini?”


“Kau...menyuruhku pulang”


Pletak!


Gadis itu meringis kesakitan merasakan sentilan di dahinya.


“Aku memang menyuruhmu pulang tapi tidak memerintahkanmu bermain air. Hah, sudahlah! Ayo kuantar kau pulang” omel Yeon-Seok menggandeng tangan Ah-In. Dalam perjalanan itu, hati Ah-In mulai merekah kembali. Menggenggam tangannya, berjalan di sampingnya, berada sangat dekat dengan Yeon-Seok, merupakan impiannya dan impian Gadis lainnya di sekitar Pria itu.


“Perhatikan jalanmu jangan terus melubangi wajahku dengan memelototiku di sepanjang jalan” kata Yeon-Seok memecahkan keheningan di antara mereka berdua. Ah-In tersenyum sambil menunduk malu.


“Mungkin karena dulu sulit bagiku berada sedekat ini denganmu” jawab Ah-In mengeratkan genggaman tangan.


“Kalau bukan karena hujan ini tidak akan terjadi”


“Kalau begitu aku akan berdoa agar hujan datang setiap hari” kekeh Ah-In. Mendengar ucapan Ah-In, Yeon-Seok segera melepaskan genggaman tangannya.


Ini pasti kemauan Yeon-Seok bukan kemauanku. Lagi pula tidak baik memberinya banyak kesempatan untuk menempeliku terus. Batin Hiroshi. Ah-In mulai cemberut ia berusaha menggapai tangan Yeon-Seok, tapi Pria itu memilih menggenggam payung dengan kedua tangannya.


Semahal itukah tanganmu! Kau yang bilang mencintaiku tapi kau terus berusaha menghindariku. Kenapa sikapmu selalu berubah-ubah?! Tak terasa mereka telah sampai di halaman kediaman Ah-In bahkan seseorang sudah berlari membawakan payung untuknya dari dalam.


“Masuklah” kata Yeon-Seok pendek ia menghormat dan beranjak pergi.


“Nona..., masuklah sekarang Anda harus segera berganti pakaian. Anda bisa terkena flu” kata pelayan yang membawakannya payung.


Beralih di kediaman Hyun-Jae dua Lelaki memandang hujan tanpa suara. Pikiran mereka melayang ke tempat lain hingga tak menyadari kedatangan Yeon-Seok. Hiroshi menghentikan langkahnya sejenak memperhatikan Hyun-Jae dan Heo Dipyo yang melamun.


Hiroshi hanya menggelengkan kepala prihatin. Semenjak kedua Kakaknya menghilang, dua orang itu sering melamun.


“Apa kalian bisa melihat Ha-Neul dan Jee Kyung di tengah hujan ini?” kata Yeon-Seok duduk di tengah-tengah merangkul keduanya.


“Ah-In sudah berbaikan denganmu?” tanya Heo Dipyo pura-pura tidak tahu.


“Kurasa ya”


“Kenapa jawabanmu tidak meyakinkan? Ada masalah baru yang kau ciptakan lagi diantara kalian?” Hyun-Jae mulai menimpali.


“Kenapa semua jadi salahku? Kalian memihaknya?” dengus Yeon-Seok melepaskan rangkulannya kesal.


“Dengar anak muda, lebih baik ikuti apa maunya hatimu jangan terus kau turuti egomu. Kenapa kau terus membuat Ah-In merasa kebingungan? Sebentar kau bersikap lembut, dan di waktu lain kau acuh tak acuh terhadapnya.” Kata Heo Dipyo menepuk bahu Yeon-Seok sehalus mungkin.


“Apa hujan membuat kalian berhalusinasi?” jawab Yeon-Seok mengalihkan topik.


“Jangan alihkan topik. Kau..., mungkin sebelum ini memimpikan sesuatu yang tidak biasa? Atau melihat sesuatu yang tidak biasa? Dan itu membuatmu merasa...akan pergi ke suatu tempat?” Heo Dipyo menimpali.


“Sejauh ini aku belum mengalaminya. Apa mereka mengatakan pernah bermimpi atau melihat sesuatu?” Yeon-Seok balik bertanya penasaran.


“Tidak. Ini hanya dugaan kami saja. Tapi kalau kau mengalami salah satunya cepat katakan pada kami” jawab Heo Dipyo meminta jawaban secepatnya.


“Mereka tidak ada hubungannya denganku. Memang aku mau pergi ke mana kalau tempat inilah satu-satunya, tempat tinggalku” jawab Yeon-Seok cukup melegakan mereka berdua.


“Jee Kyung hanya meminta kalian menjagaku karena dia dan Ha-Neul sudah menganggapku Adik mereka. Kenapa kalian malah menyangkut pautkan pesan terakhirnya dengan berpikir aku tiba-tiba akan menghilang juga?” kekeh Yeon-Seok menyikut Heo Dipyo dan Hyun-Jae.


“Kalian setakut itu, kehilangan orang yang bisa kalian kerjai sepanjang waktu, huh,” cibir Yeon-Seok membuat Hyun-Jae dan Heo Dipyo tersenyum simpul.


“Hah...,rasanya tak ingin pulang saja” gumam Heo Dipyo. Memang semenjak Jee Kyung menghilang, kediaman Hyun-Jae menjadi tempat yang nyaman baginya. Dia tidak perlu berlarut-larut meratapi Gadis yang tega meninggalkan dirinya itu.


“Menginaplah disini. Kita bisa berbincang sepanjang malam sampai salah satu dari kita tak kuat lagi membuka mata” kata Yeon-Seok memberi ide.


Siang itu hujan tak lagi mengguyur bumi. Firasat Hyun-Jae tentang akan datangnya suatu kejadian tak menyenangkan mulai menggelayuti relung hatinya. Heo Dipyo memperhatikan Pria itu sejak setengah jam yang lalu tapi tak dihiraukannya. Dan kini, setelah Heo Dipyo menyudahi kegiatannya Pria bernama Hyun-Jae masih saja tetap dalam posisi dan ekspresi yang sama.


“Ada yang meresahkan hatimu?” pertanyaan Heo Dipyo memecahkan lamunan panjang Hyun-Jae.


“Bacalah ini dan katakan saja apa yang kau pikirkan setelahnya” gumam Hyun-Jae menyerahkan sebuah surat dari seorang Menteri.


“Bukankah ini kesempatan untuk mendekatkan mereka berdua Hyun-Jae? Kenapa hal seperti ini saja kau memikirkannya terlalu lama?” kekeh Heo Dipyo mengembalikan surat itu pada si empunya.


“Aku mulai berpikir kalau...ini seharusnya tidak boleh kuizinkan”


“Apa? Kenapa?”


“Ha-Neul dan Jee Kyung bukankah menghilang setelah mendapatkan cinta kita? Bagaimana jika itu terjadi pada Yeon-Seok? Kalau mereka...”


“Hey!! Jangan menyamakan keadaan kita dengannya saat ini. Kau yang selama ini menginginkan Yeon-Seok memiliki seorang pendamping. Lalu sekarang kau berubah pikiran hanya karena kejadian yang menimpamu dan menimpaku? Apa itu adil untuk Yeon-Seok?” geram Heo Dipyo mulai kesal.


“Aku sungguh tidak ingin menghalangi hubungan mereka tapi aku juga tidak pernah mengharapkan Yeon-Seok mengalami apa yang kita sedang alami kini” gumam Hyun-Jae lirih.


“Yeon-Seok selama ini sembunyi-sembunyi di belakang kita menemui Ah-In. Dan tanpa sepengetahuannya kau terus mengawasinya. Kau lihat perubahan Yeon-Seok Sekarang bukan? Dia jauh lebih terbuka dengan kita"


"Ini perkembangan yang bagus menurutku. Ah-In mengubah dunianya yang membosankan itu menjadi penuh warna. Kau tega, membuat kebahagiaan anak itu pupus hanya karena satu kata tidak darimu?” protes Heo Dipyo tak habis pikir.


“Apa kau yakin mereka saling mencintai?”


“Kau masih belum menyadari? selama kurun waktu dua tahun dia terus menghilang dari kediamanmu, dari Istana, hanya untuk menemui Ah-In. Lalu perang datang padahal posisi anak itu, sudah terlanjur berjanji menemui Gadis itu"


"Dia terluka tak sadarkan diri dalam waktu yang tidak sebentar Hyun-Jae. Begitu dia membuka mata, bukankah kakinya tetap melangkah menuju Ah-In? Hal seperti ini apa namanya jika bukan cinta?” terang Heo Dipyo panjang lebar.


“Yeon-Seok yang sekarang berbeda dari yang dulu Heo”


“Maksudmu?”


“Dia belum menyadari perasaan itu pada Ah-In.”


“Apa karena berbulan-bulan dia tak sadarkan diri?” gumam Heo Dipyo.


“Aku harus menolak permohonan ini” tegas Hyun-Jae beranjak pergi menuju ruang kerjanya.


“Kau ingin menghalangi takdir mereka? Jangan bertindak konyol Tuan Hyun-Jae! Tidak akan terjadi apa pun pada anak itu meski dia memutuskan bersama Ah-In!” teriak Heo Dipyo merebut kuas yang akan diambil Hyun-Jae tadinya.


“Memang apa yang akan terjadi padaku? Kalian membicarakan apa?” tiba-tiba suara Yeon-Seok tepat di ambang pintu rung kerja Hyun-Jae, mengagetkan keduanya.


“Kebetulan kau datang. Ayo duduklah di sini” sambut Heo Dipyo menepuk sebuah bangku kayu kosong di sebelahnya. Yeon-Seok berjalan, mematuhi perintah Heo.


“Perdana Menteri Duck-Young meminta ijin pada Hyun-Jae, untuk meminta tolong padamu menjaga Putrinya selama perjalanan. Yang kau jaga sebenarnya tidak hanya Putrinya tapi Yang Mulia Raja juga turut serta dalam perjalanan ini” kata Heo Dipyo terdengar sangat bertele-tele ditelinga Yeon-Seok.


“Maksudmu aku harus menjaga Raja dan Putri Menteri Duck-Young? Lalu apa masalahnya sampai kalian saling berteriak tadi?”


“Itu..., karena...sepertinya Raja tertarik pada teman seperjalanan nya itu. Raja merasa selalu bisa mendapatkan inspirasi melukis jika diiringi oleh suara merdu Putri dari Menteri Duck-Young”


“Katakan saja aku bersedia” jawab Hiroshi sekenanya toh dia tidak akan dirugikan.


“Kau yakin mau mengawal Putri Menteri Duck-Young? Dia akan selalu berada di sisi Yang Mulia. Apa hatimu tidak merasa terusik sedikitpun?” potong Hyun-Jae dengan tatapan menusuk.


“Memang siapa Putri Duck-Young itu? Kenapa aku harus merasa terusik?” balas Hiroshi, sambil memakan buah pir yang sedari tadi sudah ia genggam.


“Kau pura-pura tidak tahu, atau ingatanmu memang belum pulih? Namanya Ah-In. Gadis di taman, yang kau ceritakan pada kami” jawab Heo Dipyo merasa janggal. Mendengar itu, Hiroshi langsung terbatuk-batuk. Hyun-Jae menyodorkan satu mangkuk air putih untuknya.


“Aku harus mengawalnya?! Yang benar saja!” pekik Hiroshi mengumandang.


“Apa Anda keberatan, Tuan Yeon-Seok? Saya pikir hubungan kalian cukup dekat” tiba-tiba ada suara lain dari ambang pintu.


“Menteri Duck-Young? silakan bergabung, dengan kami” tawar Heo Dipyo menyikut lengan Yeon-Seok. Sang Menteri hanya memberi salam pada ketiganya, sambil tersenyum bijak.


“Maaf. Saya ada keperluan lain setelah ini Panglima Hyun-Jae. Maksud kedatangan saya kali ini, masih ada hubungannya dengan Putri saya Ah-In. Anak itu, tidak mau pergi memenuhi undangan Raja jika Tuan Yeon-Seok tidak ada dalam rombongan"


"Ya, saya paham ini sungguh sangat merepotkan tapi bisakah Anda meluangkan waktu untuk ikut dalam perjalanan Ah-In?” sang Menteri merendah, menatap penuh harapan pada sosok Yeon-Seok.


“Jika saya bisa membantu kelancaran perjalanan Yang Mulia Raja, tidak ada lagi alasan saya menolak permintaan Anda” jawab Hiroshi pura-pura senang menerima tawaran. Sang Menteri menganggukkan kepala beberapa kali sambil tersenyum senang.


“Datanglah besok sebelum matahari tepat di atas kepala.” Balas sang Menteri, membungkuk memberi penghormatan pada ketiga pemuda di hadapannya, lalu melenggang pergi.


“Hampir saja kau, dipecat jadi calon Suami Ah-In baru saja ha ha ha” tawa Heo Dipyo membuat Hyun-Jae ikut tersenyum simpul.


“Lupakan” jawab Hiroshi kesal sambil melemparkan buah pir ke arah Heo lalu pergi begitu saja.


“Semoga dia bisa menahan rasa cemburunya esok hari” gumam Hyun-Jae mulai resah. Semenjak Yeon-Seok terbangun dari tidur panjang, entah kenapa anak itu mudah sekali tersulut emosi.


Pagi menjelang Yeon-Seok dengan seragam lengkap menunggu iring-iringan Raja di taman Istana. Tiba-tiba seseorang menyodorkan sebuah bungkusan kain kecil ke arahnya.


“Tu-Tuan, saya dengar Anda..., akan melakukan perjalanan panjang. Semoga ini bisa...membuat Anda kembali bertenaga” kata seorang Dayang Istana, menyodorkan bungkusan makanan ringan untuk Yeon-Seok.


“Kau tidak perlu repot-repot. Aku akan mengurusnya dengan baik. Pergilah!” suara Ah-In langsung dapat di kenali Hiroshi sebagai bahaya. Bahkan Pria itu lebih memilih menjaga jarak dengan Ah-In. Sang Dayang membungkuk kecewa, lalu beranjak pergi.