Aitai

Aitai
Episode 54



Kedua Menteri itu terlihat mengucurkan keringat dingin. Bagaimana tidak? Kedua sandera itu adalah Putra tak sah mereka dari para Wanita yang mereka culik di masa lalu. Ratu pasti sudah tahu identitas Ayah biologis kedua sanderanya.


“Haha hahaha” tawa Menteri Kwon Jae He.


“Apa ini Ratu? Anda terlihat sangat putus asa. Apa hubungan mereka dengan kami? Bukankah tuduhan kepada Man-Shik adalah pemalsuan lukisan? Hamba rasa tidak ada saksi diantara kedua sandera Anda” Kwon Jae He berusaha setenang mungkin.


“Berkat kesuksesan Anda melakukan pemalsuan lukisan, penghasilannya digunakan untuk mendanai penipuan yang lebih besar lagi. Anda menggunakan uang Anda, untuk menipu para Gadis, yang Anda janjikan akan segera direkrut sebagai musisi Istana.” Heo Dipyo memotong perkataan Kwon Jae He.


“Dan hasil penjualan para Gadis bukankah sangat luar biasa? Bahkan Anda bisa membeli tiga kapal Pribadi di Negeri ini juga membangun sebuah pelabuhan yang belum lama ini selesai bukan?” kekeh Ratu sinis.


“Ada banyak bukti Tuan Kwon Jae He..., semua bukti tertulis tersebut, dapat dijamin ke benarannya. Dan semua bukti mengarah pada seluruh Menteri fraksi kiri berkat pengakuan dari dua orang sandera itu” tambah Ratu merasa di atas angin.


“Lalu apa yang bisa Anda lakukan? Anda lupa siapa hamba Yang Mulia? Hamba bisa menurunkan Anda dari Tahta sekarang juga jika mau” ancam Kwon Jae He menyombongkan diri.


“Jadi kalian benar tidak mengenali mereka?” tanya Ratu sekali lagi. Tidak ada jawaban maka Ratu memberi isyarat pada Hyun-Jae. Pria bernama Hyun-Jae mendekatkan ujung pedang keleher salah satu sandera.


“Dia adalah Putra dari salah satu pendukung fraksi kami Yang Mulia!! Jika nyawanya sampai melayang, Anda benar-benar akan tamat!!” teriak Menteri Man-Sik mengamuk.


“Biarlah terjadi:” jawab sang Ratu datar.


Bats!!


Pedang Hyun-Jae mulai memenggal kepala Putra Man-Sik sekaligus Putra Kwon Jae He. Begitu kepala Putra Man-Sik terpenggal, semua kepala tentara milik fraksi kiri yang menemani mereka maju untuk menyerang Ratu tapi seluruh Prajurit Baehwa tidak tinggal diam. Pertarungan Baehwa dan Jinsae tidak terelakkan lagi di dalam Aula Kerajaan.


Hyun-Jae mendekati singgasana Ratu, menarik Ratu Seonha keluar dari sana. Di luar, peperangan pun telah dimulai. Beberapa pasukan gabungan Baehwa, Mugunghwa dan bulg-eun dal kini dibagi menjadi 10 Tim.


Dua Tim khusus bertugas mengawal Ratu dan Panglima Utama, meninggalkan Istana tanpa khawatir tentang stempel Istananya karena stempel itu, telah berada di tangan calon penguasa baru. Mereka berjalan ke arah kawanan kuda yang sibuk merumput dalam keadaan terikat. Untuk menuju ke tempat kawanan kuda tersebut, mereka harus beberapa kali berhenti karena mendapatkan serangan dari pasukan gabungan Jinsae dan Goldeun deulaegon.


Sang Ratu menatap datar mulai terbiasa dengan banyak darah yang telah tertumpah akibat manusia-manusia serakah macam Kwon Jae He. Ketika mereka telah mampu meraih tali kekang kuda, tanpa ragu Hyun-Jae menaikkan Ratu ke atas kuda ia pun naik ke atas kuda yang sama dengan sang Ratu. Mereka dan para bala tentara mencari tempat yang luas untuk bertarung. Mereka sengaja membiarkan para musuh mengikuti kemana mereka pergi.


Di bukit Siuidongsan akhirnya Hyun-Jae menetapkan bukit ini, sebagai saksi dimana Kwon Jae He dan antek-anteknya melakukan usaha kudeta besar-besaran. Hyun-Jae memerintahkan kelompok pertama menjaga Ratu. Lalu kelompok kedua membantunya memerangi para pemberontak. Sayangnya, pasukan Goldeun deulaegon makin bertambah membuat seluruh pasukan penjaga Ratu Seonha sibuk dengan pertarungan masing-masing, yang terasa tiada akhir.


Ratu Seonha melihat seseorang berseragam Goldeun deulaegon berlari ke arahnya. Sang Ratu menarik pedang dari sarungnya. Lawannya mengayunkan pedang ke arah leher Sang Ratu! Tapi Ratu sanggup menahan pedang lawan dengan pedangnya.


Ia menggeser pedang lawan ke kanan untuk membuka pertahanan lawan, kemudian dilanjutkan dengan hadiah sebuah tebasan dari sisik kiri perut lalu dicabut tanpa ampun. Maka lawan pun ambruk begitu mendapatkan sayatan yang begitu dalam.


Muncul lagi dua lawan tapi kini Ratu memiliki dua pedang. Salah satunya hasil jarahan. Ia tak perlu mendekat, karena salah satu lawan dengan senang hati berlari ke arah Ratu berada. Gerakan menusuk itu hampir saja menembus perut Ratu. Untungnya Ratu Seonha menyeret kan kakinya ke kiri sebesar 45 derajat setelah menangkis pedang lawan ke kanan, sekaligus menusuk perut musuh dengan tangan lain yang bebas hambatan.


Musuh kedua mulai mendekat dan mendorong tubuh Ratu ke belakang. Tanpa sengaja Ratu membentur punggung musuh di belakangnya! Akhirnya, Ratu Seonha menyeret kakinya menjauh dari kedua musuhnya itu. Keduanya menebaskan pedang yang satu ke arah kanan dan yang lain ke arah kiri leher Ratu Seonha.


Maka dengan kedua pedangnya, Ratu menahan kedua serangan musuh, membuat dua pedang musuh terbang terpental ke udara, tanpa mengulur waktu Ratu Seonha sengaja menebas pergelangan tangan musuh yang tadinya digunakan untuk menggenggam pedang. Ratu menendang lutut dua musuhnya bergantian hingga mereka roboh di atas tanah.


Ratu melompat ke atas, lalu menebas bahu mereka yang bersebelahan itu hingga memutuskan lengan tangan mereka.


“Ha-Neul!!” teriak Hyun-Jae berlari mendekati Ratu Seonha panik begitu melihat seluruh tubuh Ratunya bersimbah darah.


“Bukan darahku. Aku tidak selemah dulu” jawab Ratu mencoba menenangkan kekasihnya.


“Rentangkan dua tanganmu” desis Ratu teramat serius. Dengan penuh tanda tanya Hyun-Jae merentangkan kedua tangannya. Ratu menghambur ke pelukan Hyun-Jae sambil menghunuskan ujung kedua pedang ke arah dada dua musuh di belakang Hyun-Jae.


Jleb!!


Hyun-Jae tampak terkejut mendengar suara pedang yang menusuk sesuatu tepat di belakang tubuhnya, ia langsung menoleh tapi malah tak sengaja mencium pipi Ratunya yang ternoda darah. Ratu Seonha menarik dua pedang itu ke arahnya, lalu mundur beberapa langkah. Hyun Jae segera berbalik dan menemui dua musuh mati tak jauh dari tempatnya berdiri.


“Kau yang melakukan itu?!”tanya Hyun-Jae tak percaya. Tapi sang Ratu malah tertawa terpingkal-pingkal melihat bibir Pria itu ikut terkena darah.


“Panglimaku terlihat begitu manis setelah mendapatkan sedikit sentuhan perona bibir” kekeh Ratu geli. Sang Panglima segera membersihkan noda darah di bibirnya dengan lengan bajunya.


“berlutut!!” perintah Pria itu yang langsung dipatuhi Ratu. Hyun-Jae melemparkan pedangnya ke arah musuh yang telah siap membidikkan panah beracun ke arah tubuh Ratu.


Jleb!!


Akhirnya ia berhasil merobohkan pelaku, dengan membidikkan pedang tepat ke jantung. Mata mereka teralihkan dengan kedatangan pasukan antah berantah yang justru membantu mereka, menumpas pasukan Goldeun deulaegon. Seseorang yang nampaknya pemimpin dari pasukan itu berlari ke arah Hyun-Jae.


“Yang Mulia maafkan keterlambatan kami” kata Pria itu, sambil memberi hormat Ratunya.


“Siapa kau? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya” jawab Ratu mengernyit.


“Hamba adalah Do Yu-Hoo utusan dari Tuan Hwan Chin”


“Hwan Chin? Dia memiliki pasukan khusus?!” tanya Ratu Seonha antara terkejut dan takjub. Bagaimana mungkin seorang Hwan Chin memiliki hal luar biasa seperti itu? Bukankah dia adalah seniman?


“Kau yakin? Kau bukan utusan Beom Ho?” Ratu ingin meyakinkan diri.


“Yang Mulia...Tuan Hwan Chin sangat mengkhawatirkan keadaan Anda. Beliau akan sangat tersinggung jika tahu Anda tidak mempercayai hal ini” senyum Do Yu-Ho menimpali. Ya, bahkan dirinya pun tak percaya jika atasannya adalah Hwan Chin.


Lelaki muda yang terkesan acuh tak acuh, seorang pelukis ternama dengan nama kecil melegenda. Tapi pertemuan tak terduganya dengan Hwan Chin, membuat hal diluar nalar ini menjadi sangat masuk akal baginya.


“Ha ha ha aku hanya takjub padanya. Katakan rasa terima kasihku padanya jika aku tak sempat mengutarakannya suatu saat nanti” jawab Ratu Seonha membuat Hyun-Jae melirik ke arah sang Ratu. Pembicaraan mereka terganggu ketika mereka mendengar teriakan Yeon-Seok.


“Ratu!! Pergilah!!” teriakan Yeon-Seok terburu-buru. Ia terpaksa melayani musuh bertempur, ketika empat musuh sekaligus mengepungnya. Saat Ratu bergerak ingin membantu, Hyun-Jae menahan lengan Gadis itu. Ia memberi peringatan dengan kode bahwa tak jauh dari Yeon-Seok, Menteri Kwon Jae He memacu kudanya ke arah Ratu berada.


Secepatnya ia membawa lari sang Ratu ke arah kuda dan memacu kudanya menghindari Kwon Jae He, meninggalkan kekacauan yang entah kapan akan berakhir di belakang mereka. Dalam pelarian tersebut, sempat Ratu Seonha melihat keberadaan Komainu di balik pohon sedang mengintai mereka.


Deg!!


Jantung Hamari berdetak kencang ia ketakutan setengah mati. Selama dia terdampar di Negeri ini, tak sekalipun Komainu menunjukkan batang hidungnya tapi kenapa hari ini makhluk suci itu muncul? Dengan tangan bergetar hebat, ia membenamkan diri memeluk Hyun-Jae erat. Kekasihnya itu mulai menyadari rasa takut yang merayap dalam diri sang Ratu.


“Apa pun yang terjadi aku akan melindungimu. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku” geram Hyun-Jae. Ya, Pria itu mulai mengerti kebiasaan Ratu Seonha. Jika dia mulai memeluknya seerat ini, pasti dalam pikirannya, mereka akan segera terpisahkan. Entah kenapa Hyun-Jae sangat membenci hal itu. Bahkan hatinya terasa perih kali ini. Terbayang dalam benak keduanya bagaimana mereka bertemu dan bersama sampai saat ini.


Ost:


Langkah ini membawaku padamu.


Kita bertemu di tempat penuh misteri


Haruskah terpisahkan saat kita melangkah dalam kabut bersama.


Aku bernyanyi seolah dengan ini waktu kita akan terluang.


Kembali disisimu menggenggam erat jemarimu.


Aku bernyanyi seolah dengan ini dirimu akan abadi terlukis dalam ingatanku***.


Reff:


Bagaimana...


Bagaimana bisa...


Jika kau terus begini.


Menggenggam erat hatiku,


bahkan kau seperti magnet yang akan selalu menarik jiwa dan pikiranku padamu.


Bagaimana...


Bagaimana bisa...


Jika hatiku terpaut padamu.


Tapi aku harus terenggut darimu.


Akankah kita bersama


Selamanya...


Kuda mereka berderap sangat kencang. Sementara lima prajurit mengikuti mereka dari belakang. Kwon Jae He memberi isyarat kepada prajuritnya agar memberi jalan baginya untuk mendekat pada kuda yang di tunggangi Ratu dan Hyun-Jae.


Mereka membuat para prajurit Ratu Seonha sibuk bertarung dengan mereka tanpa memberi kesempatan untuk menghindar. Kwon Jae He melenggang tanpa hambatan berarti mendekati kuda yang dinaiki Ratu dan Hyun-Jae tapi sang Panglima semakin memacu kudanya lebih kencang. Kwon Jae He bersiul nyaring.


Syaaaaat!!


Anak panah pertama meleset tapi mampu menggores lengan Hyun-Jae. Ratu Seonha panik karena ia tahu pasti, anak panah yang menggores lengan Hyun-Jay beracun.


Syaaaaaat!!


Anak panah kali ini melesat dan mengenai tepat di kaki bagian depan kuda hingga hewan tak berdosa itu jatuh membuat Ratu dan Hyun-Jae bergulingan di tanah. Kwon Jae He melompat turun terkekeh melihat sang Panglima tersungkur di atas tanah. Kwon Jae He berlari kearah Ratu yang tak sadarkan diri melihat hal itu, Hyun-Jae mengambil pedang dari sarungnya menangkis pedang Kwon Jae He yang diarahkan pada Ratunya.


Trang!!


Kwon Jae He terhuyung ke belakang mendapatkan perlawanan sengit Hyun-Jae.


“Bagaimana jika kau berada dipihakku saja Hyun-Jae. Sebentar lagi Ratumu akan mati ditanganku” kekeh Kwon Jae He penuh hasrat membunuh.


Gara-gara Gadis bernama Ha-Neul Arang keponakannya yang tak tahu diuntung justru menusuknya dari belakang. Bahkan Heo Dipyo semakin berani melawan setelah ia kembali bertemu dengan Jee Kyung yang semakin hari semakin menempel pada Ratu.


Dendam Kwon Jae He terhadap sang Ratu lebih besar lagi kali ini karena dengan terang-terangan Ratu Seonha memberikan hukuman penggal kepada Putranya.


“Di dalam mimpimu pengkhianat” geram Hyun-Jae sambil berdiri di depan Ratu. Pertarungan sengit mulai terjadi kembali Kwon Jae He melompat mengarahkan pedangnya untuk menebas leher Hyun-Jae tapi Pria itu bisa dengan mudah menangkis, menendang perut Kwon Jae He menendang lagi pergelangan tangan Pria paruh baya tersebut hingga pedang yang ia genggam jatuh, bergesekan di tanah dan berhenti jauh dari jangkauan Kwon Jae He.


Kelemahan Pria paruh baya tersebut dimanfaatkan Hyun-Jae dengan menancapkan pedangnya tepat ke atas paha Kwon Jae He yang digunakan sebagai tumpuan tubuhnya yang mulai renta.


“Arrrrgh!!” erang kesakitan tak tertahankan itu membahana ke seantero penjuru arah.


Teriakan Kwon Jae He menyadarkan kembali Ratu Seonha. Ia membuka kedua matanya memperhatikan Hyun-Jae yang berdiri tegap melindungi dirinya sekuat tenaga. Ratu Seonha menyadari lengan tangan Hyun-Jae yang tergores kini sedang bermasalah.


Telapak tangannya menggenggam pedang dengan bergetar hebat. Ratu segera bangkit dari tidurnya, begitu melihat pedang di tangan Pria itu jatuh ke atas tanah. Tidak...tangannya mulai melemah. Racunnya mulai bekerja. Jika Pria ini terus bergerak, reaksi racunnya akan semakin cepat menyebar keseluruh tubuhnya. Kwon Jae He mengambil pedang milik Hyun-Jae lalu akan menusukkannya ke perut Hyun-Jae.


Pria bermata elang mengetahui di balik tubuhnya, ada Ratu yang mulai sadarkan diri dan kini tengah berdiri di belakangnya. Ia tak mungkin menghindar karena bisa sangat fatal bagi Ratunya. Ratu menarik Hyun-Jae ke belakang sekuat tenaga, sementara dia berkelit, menyeret kakinya ke samping kanan sehingga, tidak terkena serangan Kwon Jae He. Tapi Ratu tidak menyadari bahwa tanah tempat ia berpijak sekarang, sangat rawan akan longsor.


Broooool!!


Brug.....


Tanah yang di pijaki Ratu benar-benar longsor!! Ia terperosok bergulingan di bawah sana. Hyun-Jae yang melihat hal tersebut, berlari mengambil pedang milik Kwon Jae He dengan tangan yang sehat.


Trang!!


Serangan Hyun-Jae mampu di tangkis oleh Kwon Jae He. Pria paruh baya tersebut menghambat gerakan pedang Hyun-Jae dengan menggunakan pedang hasil jarahannya.


“Itulah akibatnya melawan Kwon Jae He” kekeh Kwon Jae He yang mulai mengetahui Hyun-Jae kesadarannya mulai menurun. Bahkan keringat dingin mulai deras bercucuran di dahi sang Panglima. Kwon Jae He menggeser kasar pedang Hyun Jae ke kiri saat Pria itu lengah tapi saat Kwon Jae He akan mengarahkan pedang ke pelipis Hyun-Jae, Pria bernama Hyun-Jae roboh bersimpuh di tanah.


Meski tubuhnya mulai semakin lemah, ia sempat menebaskan pedang ke arah kiri perut Kwon Jae He, dan membuat goresan sepanjang perutnya lebih dalam lagi. Hyun-Jae akhirnya mencabut pedang itu secepat kilat. Kwon Jae He roboh bersimbah darah tepat di hadapannya.


“Ha-Neul....” lirih Hyun-Jae lemah tak berdaya. Seluruh pandangannya mulai memudar dan kehilangan seluruh kesadarannya.


Hyun-Jae, jika kau hanya memiliki satu kesempatan agar doamu terkabul, apa yang kau inginkan? sayup-sayup suara seorang Wanita yang asing di telinganya terdengar.


Jika keajaiban itu ada, bila suatu saat nanti kami terpisah, aku ingin...kami kembali bertemu. jawab Hyun-Jae sambil menitikkan air mata.