
“Apa...ini pernyataan cinta Tuan?” tanya Ah-In kebingungan. Bagaimana tidak? Cara Yeon-Seok mengutarakan cinta padanya justru terasa seperti orang lain, yang sedang memberi tahunya, bahwa Yeon-Seok jatuh hati padanya.
“Hm,” jawab Yeon-Seok menganggukkan kepala perlahan.
“Aku hanya ingin mengatakan kebenaran itu padamu. Jadi, bagaimana perasaanmu pada Yeon-Seok?”
“Perasaanku padamu? Atau pada Yeon-Seok yang lain? Memang berapa Yeon-Seok yang ku kenal? Apa kau sedang mempermainkan perasaanku lagi, sekarang?”
“Yah, sudah kuduga. Ini semacam cinta sepihak. Yeon-Seok, kau ditolak. Kalau begitu aku tidak akan menemuimu lagi” kata Hiroshi sambil membungkuk, memberi penghormatan lalu beranjak pergi.
“Hey ya,!! Sebenarnya apa maumu Yeon-Seok?!” maki Ah-In mulai merasa dipermainkan sekarang. Pria itu berhenti melangkah, berbalik menatap wajah frustasi Ah-In.
“Apa sifatmu seperti warna seekor bunglon?! Sebentar-sebentar kau bersikap dingin dan menghindar. Lalu dilain hari kau bilang ingin bicara padaku tapi justru kau menghilang. Seminggu yang lalu, setelah lama menghilang kau, datang bersikap seolah tak mengenaliku"
"Dan sekarang kau bilang Yeon-Seok mencintaiku? Kenapa kau tidak mengatakan kau mencintaiku? Tapi justru seolah ada Yeon-Seok lain yang mencintaiku?!” teriak Ah-In membuat Hiroshi panas dingin karena...ada banyak pasang mata yang tengah memperhatikan Ah-In sedang mengamuk padanya.
Bahkan tatapan semua orang kini terlihat sedang menghakiminya lantaran dianggap Pria tak bertanggung jawab.
“Harusnya akulah yang marah Nona Ah-In” kini Hiroshi justru berjalan ke arah Ah-In.
“Kau tahu perjuangan Yeon-Seok sampai saat ini?” Hiroshi makin mendekat membuat Gadis di depannya mulai gugup bahkan tanpa kata.
“Dia berusaha pulang dengan selamat agar bisa menemuimu. Tapi dia bisa apa dengan takdirnya? Dia terluka dan tak sadarkan diri dalam kurun waktu yang lama"
"Setelah dia berhasil membuka matanya dan menemuimu, apa ini balasannya? Dia datang untuk mengutarakan isi hatinya padamu. Dan kau malah memakinya? Padahal kau menolaknya dalam diammu.” Geram Hiroshi kini hidung mancung mereka nyaris bertabrakan jika saja Hiroshi tak berhenti menghapus jarak di antara mereka.
“Lagi. Sekarang kau diam lagi bukan? Sudah ku katakan. Kalau kau ingin menolak, biarlah aku pergi sekarang. Aku jamin kita tidak akan bertemu kembali. Maaf mengganggumu.” Lirih Hiroshi dengan ekspresi terluka. Bagaimanapun juga, Hiroshi mengambil identitas Yeon-Seok tentunya seperti apa pun perasaan Yeon-Seok akan tersampaikan sekaligus mempengaruhi Hiroshi. Ah-In menatap lekat ekspresi terluka itu.
Deg
Deg
Jantungnya berdetak kencang menyadari setiap langkah Yeon-Seok kali ini tidak akan hanya meninggalkan taman indah tempatnya berpijak tapi juga...meninggalkan hidupnya, selamanya.
Drap
Drap
Suara langkah kaki berlari dapat di dengar jelas oleh Hiroshi dari arah belakang.
“Setidaknya kau harus tahu bagaimana perasaanku padamu bodoh!” teriak Ah-In tepat di belakang Hiroshi, mencengkeram erat lengan pakaian Pria itu agar berhenti berjalan.
Kesal. Hanya satu kata itu yang sanggup menggambarkan rasa hati Hiroshi menghadapi kelakuan ajaib Gadis bernama Ah-In. Hiroshi berbalik dan...
Cuuuu
Matanya terbelalak lebar mendapati serangan mendadak Gadis di depannya. Ia berusaha menjauh tapi Gadis itu justru memeluknya. Mengecup bibir Pria yang ia nantikan cukup lama tersebut. Dia tak bisa berkata mencintai Pria dalam pelukannya ini dia hanya bisa...menyampaikan perasaan itu padanya.
Spontan kerumunan orang yang melihat pertengkaran mereka langsung menghilang satu persatu. Ah-In melepaskan pelukannya pada Yeon-Seok mundur selangkah, memperhatikan wajah merah padam Yeon-Seok yang tak dapat diterjemahkan olehnya. Apa dia marah? Ataukah malu karena kelakuan Ah-In?
Tamat sudah. Jika Yeon-Seok marah, tidak akan ada lagi pertemuan selanjutnya. Ah-In!! Kebodohan macam apa lagi ini?! Hancur sudah harga diriku! Amuk Ah-In pada diri sendiri mengutuki diri sendiri pula.
“Kenapa kau lakukan itu di depan banyak orang!” bentak Hiroshi mulai mampu berkata-kata setelah menghirup oksigen sebanyak mungkin.
“......” Ah-In tak mampu berkutik dia justru menangis.
Ya ampun apa lagi sekarang? Kenapa kelakuannya sama sekali tak mudah ditebak? Batin Hiroshi mulai semakin frustasi.
“Kau ingin semua orang menyalahkanku lagi sekarang? Karena membuatmu menangis? Sebenarnya bagaimana caranya agar aku bisa memahamimu?” keluh Hiroshi meraup wajahnya dengan kedua telapak tangannya kebingungan.
“Kau...sekarang sudah tahu bagaimana perasaanku padamu. Jadi jangan berhenti menemuiku” lirih Ah-In di sela isak tangisnya. Hiroshi menatap wajah tanpa dosa itu gemas.
“Setelah mempermalukanku di depan umum kau masih bisa mengatakan hal itu? Kau, luar biasa Nona” geram Hiroshi meninggalkan Ah-In begitu saja.
Gambaran Hiroshi yang meninggalkan Ah-In sendiri tertangkap melalui media air di dalam ember terbuat dari kayu.
“Ck ck. Ini sangat sulit. Menurutmu bagaimana?” tanya seorang Dewa pada rekannya yang ikut memperhatikan.
“Hm...tampaknya perjalanan Putra Mahkota lebih sulit dari pada kedua Kakak perempuannya” kekeh Dewa berpakaian biru muda geli.
“Bagaimana? Apa kau yakin dengan hubungan ajaib mereka?”
“Ya, tentu saja. Bukankah sesuatu yang sulit untuk didapat begitu kita dapatkan tidak akan mudah untuk kita lepaskan? Seperti itulah...hubungan keduanya” jawab Dewa berpakaian biru sambil tersenyum jahil.
Di kediaman Panglima Hyun-Jae terlihat Yeon-Seok membaringkan diri di atas dipan tepat di tengah halaman. Matanya menatap ke langit pikirannya menerawang entah kemana.
“Sebenarnya kapan aku bisa pulang? Kenapa hanya aku yang terjebak lama ditempat ini” gumam Yeon-Seok meletakkan pergelangan tangan kanannya ke atas dahinya.
“Kau sudah ada di rumah. Kau ingin pulang ke rumah yang mana lagi?” mendadak suara Hyun-Jae terdengar tak jauh dari ambang pintu. Pria itu mendekati Adik Laki-lakinya lalu duduk di sebelah Yeon-Seok.
“Apa kau tidak bahagia tinggal bersama kami? Kau merindukan rumah Ibu kandungmu?” tambah Hyun-Jae dengan wajah berkabut. Yeon-Seok langsung duduk memperhatikan air muka Hyun-Jae. Sepertinya Hyun-Jae merasa terluka dengan ucapannya kali ini.
“Ekspresi macam apa itu? Berhenti membuat ekspresi sejelek itu di depanku” kekeh Yeon-Seok meninju kecil lengan Hyun-Jae. Membuat Hyun-Jae tersenyum kecut.
“Beberapa hari ini aku lihat kau kerap menghilang dari rumah dan Istana. Kemana kau sebenarnya?” pertanyaan Hyun-Jae mengingatkan Hiroshi pada Gadis ajaib yang dicintai Yeon-Seok asli.
“Apa kau pernah mendengar aku membicarakan tentang seorang Gadis denganmu?” pertanyaan balik Yeon-Seok justru membuat seluruh perhatian Hyun-Jae tertuju kepadanya. Pria itu menyeringai antara senang dan terkejut.
“Jadi anak kecil ini sudah tumbuh dewasa huh?” kekeh Hyun-Jae mengacak rambut Yeon-Seok.
“Sungguh? Aku tidak pernah mengatakan apa pun tentangnya?”
“Kau dari usia 13 tahun sangat fokus berlatih untuk ujian masuk Istana. Bahkan, ketika kau resmi menjadi anggota Resimen Baehwa kau semakin gila berlatih tanpa kenal lelah. Aku mengkhawatirkanmu saat itu"
"Bagaimana jika...kau tidak memiliki seorang pendamping karena kebiasaan burukmu itu? Pikiran seperti itu yang selalu berputar di kepalaku. Tapi sekarang sepertinya aku dapat bernafas lega. Jadi, siapa Gadis malang itu?” tanya Hyun-Jae rona wajahnya berubah berseri-seri seketika.
“Apa?! Gadis? Jangan katakan anak kemarin sore itu sekarang sedang mengalami yang namanya cinta!” pekik Heo Dipyo, yang entah dari kapan mendengarkan pembicaraan antara Kakak beradik dari ambang pintu.
“Jadi kau menghilang dan diam-diam menemui seorang Gadis? Ya ampun..., dia benar-benar sudah dewasa sekarang” goda Heo Dipyo sambil melakukan gerakan tos dengan Hyun-Jae.
“Ekspresi kalian seperti aku baru saja lulus ujian Negara. Apa itu tidak berlebihan?” protes Yeon-Seok menggelengkan kepala prihatin.
“Lupakan tentang kami. Ceritakan bagaimana hubunganmu dengannya. Kau baru saja melakukan pendekatan? Atau kau sudah...menyatakan cintamu? Ah, jangan-jangan kau ingin melangkahiku, untuk menikahinya?” potong Hyun-Jae dengan ekspresi curiga yang dibuat-buat.
“Tamat bahkan sebelum dimulai. Apa kalian puas?” jawab Yeon-Seok bangkit dari duduknya disambut ekspresi kecewa dari dua orang itu.
“Kenapa bisa begitu?” Heo Dipyo berdiri di atas dipan, mengunci leher Yeon-Seok membuatnya kembali duduk di atas dipan.
“Lepaskan Pria tua” ketus Yeon-Seok kesal.
“Tidak akan sebelum kau ceritakan semuanya. Lagi pula kita hanya beda 2 tahun” tegas Heo Dipyo masih mengunci Yeon-Seok.
“Ayolah. Kami bisa memberimu wejangan. Bagaimanapun, kami ini adalah senior dalam dunia percintaan” tambah Hyun-Jae bangga.
“Senior kehidupan cinta yang gagal? Itu maksudmu?” kekeh Yeon-Seok sarkastis.
“Anak ini mulai berani pada senior Panglima. Bagaimana jika kita hukum saja Pria baru dewasa ini?” geram Heo Dipyo menatap penuh siasat pada Hyun-Jae.
“Jangan!! Apa yang ingin kalian ketahui!! Jangan lakukan apa pun!!” pekik Yeon-Seok bergidik ngeri. Ingatan Yeon-Seok asli memenuhi kepalanya tentang hukuman push up 100 kali bahkan mereka akan memberikan beban di atas punggungnya. Dan beban itu adalah Hyun-Jae yang duduk bersila di atas punggung Yeon-Seok.
“Yeah, anak pintar...,duduk manis disini,” kata Heo Dipyo melepaskan tangannya dileher Yeon-Seok, berganti menepuk kedua bahu anak itu dengan senyum kemenangan.
“Kenapa bisa berakhir sebelum dimulai?” Hyun-Jae kini mulai serius mengamati wajah Adiknya Yeon-Seok.
“Perang itu membuat seluruh rencananya gagal. Yeon Seok meminta Gadis itu bertemu di taman sebelum Perang terjadi. Dan....” Hiroshi tak sanggup melanjutkan.
“Dan kau malah terluka tak sadarkan diri selama tiga bulan” Hyun-Jae turut menunduk sedih.
“Tiga bulan?! Selama itu? Pantas saja Gadis aneh itu mengamuk pedaku” pekik Yeon-Seok menjambak rambutnya semakin merasa bersalah atas sikap buruknya pada Gadis itu.
“Kau sudah menjelaskan kenapa kau tidak menemuinya?” Heo Dipyo ikut menimpali.
“Ya, dan dia malah memakiku di depan banyak orang. Kalian tahu, seberapa malunya itu?!” pekik Yeon-Seok memperlihatkan ekspresi tak berdayanya.
“Apa yang dia katakan?” kedua Pria disamping Hiroshi kompak bertanya. Maka, Hiroshi pun melayangkan ingatannya kembali ke masa kelam itu. Begitu Hiroshi selesai memperagakan apa yang terjadi saat itu, ekspresi kedua Pria di hadapannya hanya...terbengong-bengong wajah mereka yang awalnya pucat berubah kemerahan lalu tawa mereka langsung meledak seketika.
“Dasar anak-anak. Bagaimana bisa kau langsung meninggalkannya begitu saja?!” tawa Heo Dipyo memukul bahu Yeon-Seok antara kesal dan kasihan.
“Kau baru saja menyatakan perasaanmu padanya. Lalu tiba-tiba kau marah, ketika dia menciummu? Ada apa dengan otakmu kawan?” tambah Heo Dipyo pada Yeon-Seok lalu diberi hadiah sikutan oleh Hyun-Jae.
“Gadis itu tidak bisa mengucapkan aku juga mencintaimu. Tapi dia berusaha mengutarakannya dengan perbuatannya. Tapi kau malah meninggalkannya. Yeon-Seok...itu bukan perbuatan Pria bertanggung jawab” tegas Hyun-Jae.
“Kau harus minta maaf padanya perbaiki sikapmu padanya juga” tuntut Hyun-Jae.
“Tunggu apa lagi?”
“Dia pasti sudah pergi dari taman sekarang”
“Kau tidak tahu dimana rumahnya?” tanya Hyun-Jae di balas anggukan lemah Yeon-Seok.
“Siapa nama Gadis itu?”
“Ah-In”
“Taman mana yang kau maksud?”
“Di sekitar rumah Jee Kyung”
“Ah-in yang itu?!” Heo Dipyo memotong pembicaraan antara Hyun-Jae dan Yeon-Seok.
“Rumahnya ada di ujung timur dari taman. Kebetulan dia teman dekat Jee Kyung. Temui dia di rumahnya. Ingat paling ujung, sebelah timur dari taman” tambah Heo Dipyo mendorong Yeon-Seok agar berdiri dan segera menemui Ah-In yang malang.
“Jangan lupa bawa payung. Cuacanya mendung” kata Hyun-Jae menepuk bahu Yeon-Seok, memberikan sedikit semangat untuk Adiknya.
“Tidak apa-apakah?” tanya Hyun-Jae pada Heo Dipyo begitu melihat sosok Yeon-Seok menghilang di tikungan jalan.
“Biarkan saja. Ini akan mendewasakannya kelak. Jika kita tak bisa meraih cinta, paling tidak Adikmu bisa menggapainya” kekeh Heo Dipyo kecut.
“Saat perang berakhir...,aku kira akan kehilangan Yeon-Seok untuk selamanya. Entah kenapa kali ini perasaan itu muncul kembali” lirih Hyun-Jae getir.
“Suatu saat kita semua akan menikah Hyun-Jae. Itu bukan berarti kalian tidak akan bertemu kembali.”
“Aku tahu itu. Bukan hal seperti itu yang ku cemaskan. Seolah..., suatu saat nanti aku tidak akan bisa melihat Yeon-Seok dimanapun sama seperti saat aku mencari Ha-Neul” ada nada ketakutan dalam suara Hyun-Jae.
“Tunggu. Apa itu alasannya kenapa Jee Kyung meminta kita menjaganya selama ini?” Heo Dipyo mulai mengaitkan kecemasan Hyun-Jae dengan pesan terakhir Jee Kyung. Mereka saling menatap, lalu berlari mengikuti kemana Hiroshi pergi.
Hiroshi berjalan gontai merasa enggan untuk menemui Gadis bernama Ah-In. Tapi benar kata Hyun-Jae padanya bahwa seharusnya dia bisa bersikap lebih baik lagi mengingat begitu lamanya Yeon-Seok menghilang dari Ah-In. Tapi ini bukan sepenuhnya kesalahan Hiroshi.
Kenapa kesalahan ditimpakan pada orang yang tak tahu apa-apa? Dia tiba-tiba berada di tempat asing, tiba-tiba memiliki seorang Kakak Laki-laki, ditambah lagi si Yeon-Seok asli sialan itu, terus mendorongnya untuk rajin melewati taman hanya karena ingin mendengar suara merdu Ah-In. Tidak ada yang mengatakan padanya bahwa Yeon-Seok memiliki seorang Gadis idaman.
Langkah kaki Yeon-Seok terhenti begitu merasakan rintikan hujan berjatuhan di wajahnya. Ia pun kembali melangkah menyusuri taman sesuai petunjuk Heo Dipyo. Lagi-lagi langkah kaki Hiroshi terhenti. Ia melihat Ah-In tetap berada di titik yang sama, ketika ia meninggalkannya dalam keadaan emosi. Gadis itu tak bergeser sedikitpun dia hanya berjongkok menangis tersedu.
Ah-In berhenti menangis sejenak merasakan tidak ada lagi rintikan hujan diatas kepalanya. Ia mendongak melihat wajah Hiroshi yang sedang mengamati kegiatan menangisnya dari atas sana.
“Kau kembali lagi?” gumam Ah-In sangat jelas lalu berdiri menghadap ke arah Hiroshi.
“Kau tidak pulang?”
“Kalau aku pulang kau tidak akan kembali”
“Kau pikir kalau kau tetap disini aku akan kembali? Pikiran bodoh macam apa itu!” bentak Hiroshi tidak habis pikir.