Aitai

Aitai
Episode 59



“Kau tidak perlu repot-repot. Aku akan mengurusnya dengan baik. Pergilah!” suara Ah-In langsung dapat di kenali Hiroshi sebagai bahaya. Bahkan Pria itu lebih memilih menjaga jarak dengan Ah-In. Sang Dayang membungkuk kecewa, lalu beranjak pergi.


“Nona Ah-In kenapa Anda disini?” tanya Hiroshi bertanya sesopan yang ia bisa sambil memberi penghormatan.


“Menemuimu. Apa kau sering mendapat perlakuan khusus dari para Wanita disini Tuan Yeon-Seok?”


“Beberapa hanya mengajak saya bicara seperti Anda sekarang” jawab Yeon-Seok tidak menambahi maupun mengurangi.


“Jangan pernah bersikap genit pada Gadis mana pun kecuali padaku”


“Tenang saja aku tidak akan melakukannya bahkan denganmu” bisik Yeon-Seok berbisik di telinga Ah-In.


“Jadi begini sikap orang yang saling mencintai?”


“Jangan mulai lagi kumohon. Ini Istana Ah-In,” geram Yeon-Seok.


“Kau bilang, Yeon-Seok,” kata Ah-In menusuk dua kali dada Yeon-Seok dengan telunjuknya.


“mencintaiku kan, apa ini termasuk ungkapan cinta darimu? Ada yang lebih buruk lagi dari ini?” gerutu Ah-In sangat jelas di telinga Yeon-Seok.


“Yang Mulia” tambah Yeon-Seok menghormat pada orang yang berada di belakang Ah-In. Gadis itu langsung berbalik, dan menjumpai Raja sedang menatapnya dengan senyuman penuh arti.


“Kau, sudah datang tapi tidak menemuiku terlebih dahulu?” tanya Raja pada Ah-In sambil melirik pada Yeon-Seok.


“Apa karena kau mau mengunjungi dirinya terlebih dahulu?” Raja menunjuk ke arah Yeon-Seok.


“Maafkan hamba Yang Mulia. Sudah lama...kami tidak berjumpa jadi hamba hanya ingin memberinya kejutan dan memberikannya sedikit makanan ringan” balas Ah-In menunduk. Dia sengaja mengatakan hal itu di depan para Dayang yang mengekor di belakang Raja. Ah-In geram melihat mata para Dayang muda berkilat setiap menatap Yeon-Seoknya.


“Wah, ternyata kau sangat perhatian pada temanmu ya,” kata Raja tersenyum, dengan mimik tak terkatakan.


“Dia ke...”


“Nona Ah-In selalu memperhatikan semua orang yang ada di sekitarnya, Yang Mulia” potong Hiroshi menyadari apa yang akan diutarakan Ah-In dihadapan Raja.


“Hmm, bisa kita melakukan perjalanan sekarang?” balas Raja menatap lekat wajah cantik Ah-In.


“Ya, Yang Mulia” balas Ah-In.


Iringan yang membawa Raja dan Ah-In bergerak menuju pegunungan. Tiga Dayang disiapkan Raja khusus untuk mendampingi Ah-In. Gadis itu mulai merasa bosan dengan perjalanan yang panjang. Ia membuka jendela untuk melihat pemandangan diluar sana tapi justru ia melihat Yeon-Seok menunggangi kudanya tepat di samping kereta kuda yang ia naiki. Senyuman Ah-In merekah rasa bosannya hilang seketika.


“Ada yang Anda butuhkan Nona?” tanya Yeon-Seok menyadari Ah-In tengah menatapnya tanpa berkedip.


“Tolong terus berada disisiku,”


“Ehm. Itu bukan sesuatu yang Anda butuhkan Nona. Tolong jaga sikap Anda” dehem Yeon-Seok memberi peringatan bahwa ada banyak pasang mata dan telinga yang bisa saja menangkap pembicaraan mereka. Sebelum Ah-In sempat mengajaknya bicara lagi, Yeon-Seok memacu kudanya meninggalkan Ah-In.


Kini mereka telah sampai di tujuan. Udara yang sejuk, membuat suasananya terasa menyenangkan. Ketika Yeon-Seok akan bergabung dengan para Prajurit untuk berjaga-jaga, Ah-In tidak membiarkannya begitu saja.


“Kau diminta Ayahku kemari untuk menjagaku. Jadi sudah seharusnya kau, tidak jauh dariku” kata Ah-In percaya diri.


“Nona. Saya datang untuk menjaga Yang Mulia”


“Yang Mulia tidak ada disini tapi disana” tunjuk Ah-In ke arah Raja yang sudah duduk bersiap untuk melukis pemandangan.


“Saya dengar Yang Mulia sangat mengagumi suara Anda. Bagaimana jika sekarang Anda mulai menghibur Yang Mulia dengan suara merdu itu?” Yeon-Seok mencoba melunak dari pada Ah-In membuatnya malu di depan umum.


“Ikutlah bersamaku. Aku akan melakukannya untukmu” jawab Ah-In tegas. Terpaksa Yeon-Seok menuruti keinginan Gadis keras kepala itu.


Yeon-Seok berdiri diantara Hyun-Jae dan Prajurit lainnya tak jauh dari tempat Ah-In dan Raja berada.


“Kenapa Yang Mulia hanya memandangi alam? Kenapa tidak melukiskan keindahannya di dalam lukisan Anda?” Ah-In tergerak untuk bertanya.


“Karena aku belum menemukan jiwanya. Seorang pelukis harus memberikan sentuhan khusus pada lukisannya agar dapat terlihat Indah dan hidup” jawab Raja serius.


“Kupikir ini karena kau belum menyanyikan satu pun lagu untukku,” keluhan Raja ini, di sambut senyuman manis Ah-In. Gadis itu memberi hormat sebagai permintaan maaf dan ia berjalan ke alat musik miliknya. Ah-In menggesek alat musiknya dan mulai bernyanyi.


Deg!!


Jantung Yeon-Seok berdetak setelah mendengarkan setiap bait kata yang didengungkan Ah-In. Ingatan Yeon-Seok asli kini muncul di kepala Hiroshi. Bukankah ini bait puisi yang pernah Yeon-Seok hadiahkan di setiap hari ulang tahun Ah-In? Apa Ah-In sudah mengetahui siapa yang sering mengiriminya puisi? Hiroshi mulai bertanya-tanya.


Ah-In bahkan menyanyikan lagu ini sambil menatapnya lekat. Tapi kenapa hatinya terasa perih mendengar Ah-In menyanyikannya untuk orang lain?


Yeon-Seok sialan! Jangan pengaruhi aku dengan perasaanmu! Maki Hiroshi merasa dirinya mulai ikut tersiksa.


“Aku tidak rela membiarkannya bersama penguasa baru itu Hiroshi” jawab Yeon-Seok asli tiba-tiba, berada di depan Hiroshi dengan raut wajah marah.


Kenapa? Beri tahu aku alasanmu.


“Dia alasan bagiku tidak bisa berada di sekitar Ah-In. Dia menggunakan Menteri Duck-Young untuk menghalangiku mendekatinya. Bagi Menteri Duck-Young, Raja adalah calon menantunya bahkan sebelum ia naik Tahta” kata Yeon-Seok asli dengan tatapan terlukanya.


Jadi itu kenapa Hyun-Jae ingin menolak permohonan Menteri Duck-Young yang memintaku kemari bersama Ah-In dan Yang Mulia. Batin Hiroshi dijawab anggukan Yeon-Seok asli.


“Bantu aku menjauhkan Ah-In darinya Hiroshi. Lebih baik Ah-In di tanganmu”


Biarkan Ah-In menentukan pilihannya Yeon-Seok. Aku tidak bisa menolongmu lebih dari yang ku mampu. Bantah Hiroshi. Amarah Yeon-Seok asli semakin membesar maka angin berhembus kencang menuju arah Hiroshi. Pria itu tak mampu menahan serangan tersebut dan ambruk ke tanah begitu saja.


“Yeon!! Apa yang terjadi? Yeon-Seok!!” teriak Hyun-Jae panik melihat tiba-tiba Adiknya terkapar di tanah. Tubuhnyapun demam.


Melihat Yeon-Seok tiba-tiba tumbang, Ah-In tanpa sadar ia menghentikan nyanyiannya. Ia berlari kearah Yeon-Seok berada.


“Kenapa Tuan Yeon-Seok tiba-tiba pingsan? Ada apa?” panik Ah-In menggapai telapak tangan Yeon-Seok yang panas tinggi.


“Kami akan mengurusnya Nona. Jangan khawatir. Anda lanjutkan saja menghibur Yang Mulia” tegas Hyun-Jae yang meminta bantuan satu tenaga lain, untuk menopang lengan Yeon-Seok yang satunya. Gadis itu menatap sendu tubuh Yeon-Seok yang di papah oleh Hyun-Jae menjauh darinya.


“Kau menghentikan nyanyianmu hanya karena temanmu jatuh pingsan?” tiba-tiba Raja sudah berada di sampingnya.


“Maafkan hamba Yang Mulia. Mari kita lanjutkan saja” jawab Ah-In tidak ingin memperpanjang masalah. Jika Raja sampai mengatakan kepada Ayahnya bahwa Ah-In tidak melakukan pekerjaannya dengan baik, bisa-bisa Ayahnya tidak akan membiarkan Ah-In menemui Yeon-Seok lagi.


Sementara itu, Hyun-Jae terpaksa menyewa kamar penginapan untuk mengobati Adiknya yang demam tinggi.


“Kemana Tabib? Kenapa begitu lama?!” marah Hyun-Jae sambil terus mengompres dahi Yeon-Seok.


“Mohon bersabar Tuan. Sebentar lagi Tabib akan datang” jawab anak buahnya prihatin.


“Tuan, Tabib telah datang” sahut anak buahnya yang lain sambil membawa serta sang Tabib bersamanya.


Tabib itu memeriksa denyut nadi Yeon-Seok, memeriksa mata Yeon-Seok, bahkan kini memegang dahinya.


“Tuan. Apa ada yang membuat pasien ini terguncang? Sebenarnya demam ini bukan karena sakit fisik. Melainkan karena mentalnya yang sedang terguncang. Pasien tidak bisa mengelola emosinya dengan baik.”


“Lalu bagaimana tindak lanjutnya Tabib?” Hyun-Jae hanya mengangguk dan bertanya pada sang Tabib.


“Hanya pereda demam yang bisa saya berikan Tuan. Selanjutnya, tugas pasienlah untuk menyembuhkan penyakit dalam jiwanya.” Jawab Tabib prihatin.


“Nona!! Anda tidak boleh sembarangan datang kemari. Nona!!” teriak seorang Dayang mengejar Ah-In yang menerobos masuk tanpa izin.


“Bagaimana keadaannya Tuan?” tanya Ah-In panik melihat wajah Yeon-Seok kian memucat.


“Semua. Biarkan kami bicara empat mata” kata Hyun-Jae pada seluruh anak buahnya. Mereka menghormat lalu beranjak pergi dari kamar Yeon-Seok.


“Apa yang Anda lakukan Nona? Kenapa Anda memberi persyaratan pada Menteri Duck-Young, yang memaksa Yeon-Seok untuk ikut serta? Sekarang inilah akibatnya.” Geram Hyun-Jae marah.


“Saya hanya ingin berada di sisinya. Apa itu salah?”


“Sejak awal Ayah Anda sangat tidak mendukung kedekatan antara Anda dengan Adik saya. Jadi kenapa Anda terus mencoba berada disisinya? Anda bisa melukai hatinya sekali lagi. Jangan karena Anda tahu seluruh ingatan Yeon-Seok belum kembali, Anda memanfaatkan keadaan ini. Saya sangat tidak menyukai hal itu Nona” tegas Hyun-Jae menatap tajam pada Ah-In. Hyun-Jae mundur satu langkah mendapati Ah-In tiba-tiba berlutut dihadapannya sambil menangis.


“Nona” desis Hyun-Jae bingung.


“Meski kalian berusaha memisahkan kami, tapi hati kami kini mulai saling terikat. Saya tidak akan menyerah pada Anda, maupun pada Ayahanda sekalipun.” Ah-In bersikeras memohon.


“Tuan...,” desis Ah-In melihat Hyun-Jae melakukan hal yang sama dengannya. Hyun-Jae berlutut di depan Ah-In.


“Yang Mulia tampak tertarik dengan Anda Nona. Mohon jangan persulit posisi Yeon-Seok mulai sekarang.”


“Sudah sekian lama saya menunggunya. Dan baru dua hari berlalu setelah Yeon-Seok menyatakan cintanya. Dan ketika saya ingin menggapainya Anda dengan mudah mengatakan agar saya melepaskannya? Tidak. Seburuk apa pun situasinya kelak. Saya akan tetap terus menempel padanya” bantah Ah-In beruraian air mata.


“Apa ucapan Anda dapat dipertanggung jawab kan Nona?”


“Ya”


“Jangan pernah mengecewakannya lagi. Jika itu terjadi, saya akan membawanya pergi” ancam Hyun-Jae sambil berdiri.


“Manfaatkan kesempatan ini untuk merawat Yeon-Seok sebaik mungkin” kata Hyun-Jae memberi hormat dan pergi meninggalkan Ah-In berdua dengan Adiknya yang sampai sekarang belum sadarkan diri.


Ah-In menghapus air mata lalu berdiri melangkahkan kaki menuju peraduan Yeon-Seok.


“Nona. Ini obat yang harus segera di minum Tuan” kata Mi So mengulurkan sebuah mangkuk berisikan ramuan herbal berwarna coklat kehitaman. Mi So menghormat dan pergi setelah Ah-In menerima ramuan obat darinya.


“Apa karena kemarin kehujanan, sekarang kau demam begini? Kenapa kau tidak bilang dari awal kalau sedang tidak enak badan” gumam Ah-In sambil mengambil kompres dari dahi Yeon-Seok. Pria itu tiba-tiba sadar karena terbatuk-batuk. Ah-In membantunya duduk, dan memberikan secawan teh hangat untuk meredakan batuknya.


“Ini, minumlah juga ramuan obat dari Tabib” kata Ah-In memberikan semangkuk ramuan herbal pada Yeon-Seok setelah mengambil alih cawan dari tangan Pria itu.


“Kenapa kau disini? Dimana Yang Mulia?” tanya Yeon-Seok panik.


“Yang Mulia memberiku kesempatan untuk menemuimu. Beliau masih melukis” jawab Ah-In mengambil mangkuk dari tangan Yeon-Seok setelah obat herbalnya habis.


“Pergilah temui Yang Mulia. Jangan kecewakan beliau” lirih Yeon-Seok tubuhnya masih terasa lemas. Gadis itu bukannya pergi, tapi mengulurkan tangannya ke dahi Pria itu, mengukur suhu tubuh Yeon-Seok.


“Kau bisa menolak Ayah, dan bilang sedang tidak enak badan. Kenapa tetap ikut?” cemberut Ah-In.


“Tujuan Ayahmu agar kau datang kesini. Masalahnya Putrinya yang keras kepala tidak akan mau ikut jika aku tidak ada” jawab Yeon-Seok sambil memejamkan mata dan merebahkan diri ke dinding.


“Maaf”


“Kemarin kau berterima kasih dan sekarang minta maaf? Kau punya berapa banyak kata maaf dan terima kasih?” kekeh lirih Yeon-Seok tetap memejamkan mata.


“Aku benar-benar minta maaf telah membuatmu harus melihatku dengan Yang Mulia bersama”


“Dari awal itu bukan urusanku. Aku hanya menjalankan tugasku” jawab Yeon-Seok yang tiba-tiba merasakan sesuatu yang lembut di dahinya. Ia membuka kedua matanya, dan mendapati Ah-In mengecup dahinya begitu lama.


“Apa yang kau katakan selalu tidak sesuai dengan isi hatimu Yeon-Seok. Kenapa kau selalu mengucapkan suatu hal yang bertentangan dengan isi hatimu? Cobalah jujur pada dirimu sendiri.” Jawab Ah-In lembut.


“Kalau kau begini karena...,bait lagu yang aku nyanyikan, itu terlihat kunyanyikan di hadapan Yang Mulia. Tapi sebenarnya ku tujukan padamu.” Tambah Ah-In tersenyum manis. Entah kenapa hati Hiroshi yang sesak kini menjadi damai sekaligus menghangat.


“Untuk apa kau tujukan padaku?” Hiroshi mengernyit curiga.


“Sebab pasti kau, mengenal betul isi dari semua bait yang kunyanyikan. Sebenarnya aku tahu, kaulah, yang mengirimiku puisi secara diam-diam, setiap hari ulang tahunku” kekeh Ah-In. Benar saja kecurigaan Hiroshi terjawab sudah.


“Sejak kapan kau menyukaiku?” tanya Ah-In menopang dagu.


“Yeon-Seok? Sejak pertama kali kau dengannya bertemu”


“Hey, jangan berkata kau seperti punya kembaran.” Kekeh Ah-In senang melihat Yeon-Seoknya mau terbuka.


“Lalu, sejak kapan kau menyukai Yeon-Seok?” tanya Hiroshi penasaran.


“Sejak setelah tiga bulan kau menghilang, dan kau datang kembali dihidupku” jawaban Ah-In mengejutkan Hiroshi. Artinya, Ah-In menyukai Hiroshi, bukan Yeon-Seok?!


“Mungkin karena Yeon-Seok menjanjikannya bertemu di taman itu. Jadi, ketika melihatku dia berpikir jatuh cinta padaku. Pasti begitu” gumam Hiroshi mencoba memahami situasi kali ini.


“Apa karena demam dan sedang kehilangan beberapa ingatanmu, sehingga kau seolah tidak mau mengakui dirimu adalah Yeon-Seok?” kata Ah-In menatap lekat wajah Pria dihadapannya.


“Yang Mulia Datang!!” terdengar seruan dari luar. Jelas itu kode dari Hyun-Jae. Begitu mendengar kode Hyun-Jae, Ah-In dan Yeon-Seok berdiri menyambut kedatangan sang Raja. Tapi Yeon-Seok sempat oleng ke arah peraduannya. Dia belum benar-benar pulih dari demamnya. Dengan sigap Ah-In menggapai lengan Yeon-Seok tapi, ia justru ikut terjatuh di atas tubuh Yeon-Seok!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Waktunya author Promo...intip juga, Novel author yang lain yah,


Genre Horror:


1) Jangan Lupa Tidur


2) Red Water Park


Genre Fantasi:


1) The Magic Of The Snow


2) Rainbow Of Destiny


Author tunggu yah, absensi di Novel yang lain. Wkwwkk😘