Aitai

Aitai
Cemburu Mengudara



"Mulai sekarang, disinilah tempat istirahatmu. Sengaja kupilihkan tepat didekat ruang bela diri. Masuklah" kata Natsuha tersenyum simpul. Taki mengangguk sambil menggeser pintu lebar-lebar. Natsuha kaget ketika seseorang menggapai tangannya, lalu meletakkan di pipinya.


"Chichi...terima kasih ruangan yang indah" kata Mizu ceria masih meletakkan tangan Natsuha di pipinya.


"Ini keren Chichi!!" pekik Taki sambil memeluk erat Natsuha. Pria itu hanya terdiam sejenak berusaha untuk memahami apa yang tengah ia hadapi kali ini. Pria bujang, yang mendadak memiliki dua Anak sekaligus. Perasaan yang aneh, tapi cukup menyenangkannya.


"Jadi, apa kalian bisa bersiap-siap sekarang, bertemu dengan Ratu?" kata Natsuha masih menikmati kedekatan tak ter bayangkan dengan kedua Keponakannya itu. Tapi karena ucapannya, Taki dan Mizu langsung melepaskan diri dari Natsuha, lalu menatap Ayah angkatnya itu tak percaya.


"Untuk apa Ratu bertemu dengan kami Chichi?" tanya Mizu bingung. Pertama, Chichinya datang dan mengatakan ingin mengadopsi mereka tapi...kali ini...Ratu?


"Dia hanya ingin melihat kedua Anakku. Kalian tahu? Dia mendengar langsung, dariku jika Taki Anakku, pandai bermain pedang. Dan...Putriku Mizu, pandai menari. Ratu sangat menyukai Anak-anak berbakat. Karena itulah, dia sangat ingin menemui kalian. Atau kalian ingin mengecewakan Ratu?!"


"Tentu saja tidak. Selama ini, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa berada di dekat Ratu bukan? Kami akan menjadi orang-orang paling beruntung" jawab Taki dengan suka cita.


"Gunakan pakaian yang paling kalian sukai di dalam lemari pakaian kalian. Ayo, jangan sampai Ratu lama menunggu" perintah Natsuha.


Ratu Eun Sha berjalan sangat hati-hati menuju ruang kerja Raja. Diam-diam Ratu memperhatikan keadaan Raja yang memprihatinkan. Hatinya bergemuruh mengutuki dirinya. Ia berbisik pada dayang kepercayaannya untuk menyiapkan seember air hangat, yang telah di bubuhi garam.


Perlahan ia membuka pintu, tanpa menimbulkan suara berisik hingga Raja tetap terlelap di atas meja. Eun Sha duduk di sebelah sang Raja menatap lekat Pria yang tengah terlelap. Wajahnya sangat damai ia enggan untuk membangunkannya. Sang dayang datang, membawa seember air hangat. Eun Sha mengambil alih embernya lalu meletakkan di dekat kaki Raja Keito. Perlahan di celupkannya kedua kaki sang Raja kedalam ember air hangat.


Raja Keito mulai terbangun ketika merasakan pijatan di kedua kakinya.


"Eun Sha, apa yang kau lakukan? Hentikan. Aku bisa memerintahkan dayang untuk itu. Kau tak perlu me..." Raja Keito tak sempat melanjutkan kata-katanya karena pelukan Eun Sha yang tiba-tiba. Selama ini Eun Sha hanya mendiamkannya saja, tanpa memperdulikan Suaminya tapi...kali ini Raja tidak akan menanyakan apa pun kenapa tiba-tiba, Ratu memedulikannya kembali.


Yang Raja tahu, Raja Keito, sangat bahagia mendapatkan kembali perhatian Eun Sha Ratunya.


"Maafkan hamba Yang Mulia. Ini bukan salah Anda. Mohon jangan hukum diri Anda lagi mulai sekarang. Jangan lagi" kata Eun Sha menitikkan air mata. Ya, sejak buah hati mereka pergi, sejak Ratu mengabaikan Raja, Raja malang itu hanya berkutat dengan berlatih ilmu pedang, bekerja tanpa henti, kecuali ia tak sanggup lagi menahan lelah baru ia tertidur.


"Kau ingin menangis terus? Atau memijat kakiku kembali? Apa kau tidak lihat? Kakiku bengkak" rengek Raja kekanakan. Eun Sha langsung terkekeh kecil mendapati Rajanya yang tiba-tiba merengek minta dipijat.


"Ayo, kita mulai lagi dari awal. Kita masih memiliki Kotoko. Selama ini dia terabaikan karena kita berdua terlalu sibuk meratapi Hiroshi dan Mari" kata Raja membelai kedua pipi Eun Sha. Ratu mengangguk lalu mulai kembali memijat kaki sang Raja.


"Menteri Natsuha ingin menghadap" pemberitahuan lantang pengawal membuat Eun Sha dan Raja Keito saling memandang. Natsuha menghadap Raja sepagi ini? Ini bukan kebiasaan Pria itu.


"Persilahkan masuk" kata Raja sambil menatap ke arah pintu. Eun Sha buru-buru mengelap kedua kaki Raja dengan handuk yang telah disiapkan sang dayang.


"Hormat hamba, Raja Keito, dan Ratu Eun Sha" kata Natsuha takzim.


"Kedatanganmu sangatlah mengejutkan kami Natsuha. Ada apa gerangan kau datang sepagi ini?" tanya Raja Keito penasaran tak lupa menebar senyuman yang selama ini menghilang entah kemana.


"Apa hamba datang di waktu kurang tepat? Hamba bisa...datang kembali dilain waktu," tawar Natsuha hendak berbalik badan.


"Bukan..., kami hanya heran dengan kedatanganmu sepagi ini Natsuha. Jadi ada apa kau kemari?" jawab Ratu spontan membuat Natsuha yang memang hanya main-main tersenyum simpul.


"Sesuai janji hamba pada Ratu, akan hamba perkenalkan kedua Anak angkat hamba Yang Mulia"


"Anak Angkat? Tapi kau belum menikah. Kenapa kau tidak menikah saja, dan memiliki anak sendiri? Itu akan jauh lebih membahagiakanmu" balas Raja mengangkat kedua alisnya keheranan.


"Akan hamba pikirkan dilain waktu. Tapi mereka adalah Anak-anak berbakat. Sayang jika tidak ada yang mengasah bakat mereka Yang Mulia"


"Kau tak perlu mengangkat Anak orang lain jika hanya itu tujuanmu Natsuha. Tidakkah itu berlebihan?" kata Ratu tak suka dengan tindakan Natsuha ini.


"Temuilah mereka terlebih dahulu Yang Mulia. Baru berikan pendapat atas mereka setelahnya. Mereka telah lama menunggu"


"Baiklah. Bawa mereka kemari"


"Terima kasih Yang Mulia. Mereka sangat antusias menemui Raja dan Ratunya" tambah Natsuha tersenyum lebar kali ini.


"Hideki Takizawa, Simizu Hanami, kemarilah nak" panggil Natsuha penuh kasih. Kedua muda mudi itu berjalan lalu memberi penghormatan pada Raja dan Ratu.


Sebuah kejutan di pagi hari dirasa oleh Eun Sha dan Raja Keito. Orang yang paling tak dapat berkutik adalah Raja Keito bagaimana ia bisa bersikap normal, ketika...wajah yang telah lama menghilang dalam hidupnya, kini muncul kembali?! Ia melihat seolah sosok Jea Jangna menatapnya lekat jelas-jelas nama Gadis itu Mizu bukan Jangna. Raja berdiri dengan gontai hingga ia hampir terjatuh ke belakang.


Bukan keterkejutan lagi yang terlihat di kedua bola mata Raja tapi syok yang mendalam.


"Nama panggilanmu?" tanya Eun Sha dengan sorotan mata teduh.


"Mizu"


"Kau sungguh mengingatkan kami akan seseorang. Orang yang dahulu, telah menyatukanku dengan Raja" kata Eun Sha tersenyum simpul sambil membelai rambut Mizu.


"Dan...panggilanmu?" tanya Eun Sha tertuju pada sosok Taki.


"Taki, Yang Mulia" jawab Taki sambil tersenyum simpul pada Ratu. Ada rasa rindu membuncah di dada Ratu dan Raja ketika melihat sosok Taki. Hati mereka menjerit. Hiroshi!! Anak ini mengingatkan mereka pada Putra Mahkota kecil. Apa yang ada di wajah pemuda bernama Taki, adalah perpaduan antara Raja dan Ratu.


"Jadi mereka Anak-anak angkatmu itu?" tanya Raja Keito berusaha menguasai diri sambil bertanya.


"Ya Yang Mulia" sambut Natsuha menganggukkan kepala.


"Pengawal!!"


"Hamba Yang Mulia"


"Bawa Taki ke tempat pelatihan prajurit Kerajaan, pertemukan dia dengan guru seni pedang. Dan...untuk Mizu, bawa dia ke guru seni suara" kata Raja berpikir sejenak sebelum mengatakan kalimat terakhir.


"Ampun Yang Mulia. Tapi...hamba ingin menjadi Penari Istana sebagai Sakuhyunja" protes Mizu.


"Itu bukan Profesi yang bagus untukmu Mizu," potong Ratu tegas.


Mizu hanya bisa menunduk dan pasrah mendapati larangan keras dari Ratu. Memang apa salahnya menjadi seorang penari Istana? Apakah menjadi Sakuhyunja adalah dosa? Lalu...jika dosa, kenapa profesi itu ada? Pikir Mizu dengan wajah sangat kecewa berat. Ketika Taki dan Mizu pergi dari hadapan ketiganya, hanya keheningan menyelimuti ruang kerja Raja.


Mata Eun Sha menatap tajam kearah Natsuha, dengan tatapan kosong.


"Kau datang kemari hanya untuk memberi pekerjaan pada mereka berdua? Menteri Natsuha?" tanya Eun Sha menyamarkan keterkejutannya.


"Natsuha...dari mana kau dapat menemukan Anak muda dan Gadis itu? Siapa orang tua mereka?" tanya Raja ikut menatap tajam pada Natsuha. Entah kenapa, kerongkongan Natsuha mendadak sangat kering ia pun berdehem seketika.


"Mereka ditemukan ditempat berbeda, di waktu yang sama dengan waktu menghilangnya Tuan Putri Mari dan Pangeran Hiroshi. Hamba berpikir...mereka adalah...Putra Mahkota dan Putri yang hilang" kata Natsuha.


Deg!!


"Kau yakin, Taki dan Mizu benar-benar Pangeran dan Putri kami?" tanya Ratu berkaca-kaca.


"Hamba hanya menduganya Yang Mulia. Maka kita semua harus membuktikan kebenarannya. Karena mereka di temukan dalam keadaan melupakan jati diri mereka hingga sekarang" sambut Natsuha merasa ragu.


"Pastikan dengan cepat apa dugaanmu benar atau salah Natsuha. Terlalu lama kami menunggu kehadiran Putra dan Putri kami. Jangan tempatkan kami kembali dalam posisi tak menentu" kata Eun Sha berkaca-kaca.


"Baik Yang Mulia Ratu. Hamba mohon diri" kata Natsuha bergegas keluar.


"Apa kau merasakan apa yang kurasakan Ratu?" tanya Raja disambut dengan tatapan datar Ratu Eun Sha.


"Bagaimana rasanya setelah sekian lama tak bertemu, pada akhirnya menemukan pujaan hati kembali?" kata Ratu ketus.


"Ratu..., dia seumuran dengan Putri kita Mari. Mana mungkin itu dirinya? Ada pusara Jangna dalam Istana ini" kata Raja mengingatkan dengan nada selembut mungkin.


"Anggap saja ia adalah reinkarnasi dari Jeajangna. Apa Yang Mulia berkehendak untuk memilikinya juga?"


"Untuk apa? Aku sudah memilikimu" kata Raja dengan ekspresi kecewa karena diragukan.


"Tapi rona wajah Yang Mulia tidak sanggup untuk berbohong, ketika pertama kali menatap Mizu"


"Kurasa kau juga merasakan keterkejutan yang sama denganku. Wujudnya sungguh sama persis dengan Jeajangna dimasa hidupnya" kata Raja tanpa sadar memperlihatkan sorot mata kagum mendalam terhadap Mizu.


"Itu sudah cukup untuk menjadi bukti Yang Mulia. Jauh di dalam lubuk hati Anda, masih tersimpan rasa cinta yang begitu mendalam terhadap Jeajangna"


"Cukup. Jeajangna, adalah masa laluku. Dan kau, Ratu Eun Sha adalah masa depanku. Kita hidup untuk menjalani sisa usia kita...bukan hidup untuk mengenang masa lalu" tegas Raja menanggapi kecemburuan tak berdasar Ratunya.


"Hati-hatilah Yang Mulia, mungkin Anda mengira sanggup menahan gejolak dalam jiwa Anda. Tapi bagaimana dengan Mizu? Dia terlihat sangat mengagumi Anda" kata Ratu tak mau menatap Rajanya yang bahkan kini tengah berdiri di hadapannya.


"Apa maksudmu? Mizu, adalah Putri dari Perdana Menteri Natsuha. Ia hanya akan bertemu denganku pada saat-saat tertentu. Apa yang kau takutkan dengan itu?"


"Semoga firasat hamba tidak benar. Tapi hamba mengingatkan Yang Mulia. Kemungkinan besar, ia adalah Putri kita" kata Ratu sambil pergi begitu saja meninggalkan sang Raja.


Taki dan Mizu saling melambai, berpisah di sebuah koridor didampingi para pengawal Istana. Mizu berjalan menyusuri taman Istana ia terpana kagum, akan keindahan taman Istana lalu ia tertegun melihat sebuah bangunan yang entah kenapa, sangat ia rindukan.


"Nona, ini bukan tempat Anda. Sebaiknya kita bergegas menuju tujuan yang sebenarnya" sang Pengawal mengingatkan, disambut anggukan Mizu. Ia berjalan mengikuti kemana sang Pengawal membawanya.


"Tuan, bisakah Anda memberi tahu saya, tempat apa itu tadi?" tanya Mizu penasaran masih terus mengikuti langkah Pengawal Istana.


"Itu tempat tinggal para penari Istana" jawaban singkat sang Pengawal membuat jantung Mizu berdetak sangat cepat.


Dorongan hati Mizu, bukanlah menyanyi...dia ingin menjadi seorang Sakuhyunja. Apa hak Raja dan Ratu menentukan masa depannya? Mereka hanya Raja dan Ratu!! Bukan Haha dan Chichinya!! Sayup-sayup Mizu mendengar suara musik tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Apa itu musik untuk mengiringi para penyanyi Istana?"


"Bukan Nona, itu musik pengiring penari Istana" kata sang Pengawal mulai menatap panik ke arah Mizu. Gadis itu berlari kecil menuju ke mimbar tempat para penari dilatih menari untuk pertama kalinya.


"Nona!! Tunggu!! Saya mohon, jangan membuat saya dalam masalah karena tidak membawa Nona pada Uta No Sensei tepat waktu!!" panik sang Pengawal.


"Sebentar saja Tuan, hanya sebentar" kata Mizu dengan sorot mata memohon. Pada akhirnya, Pengawal itu meluluskan keinginan Mizu. Ia memperhatikan para penari yang sibuk berlatih dengan gila-gilaan.


"Somyunada...Xia...jau...cha...?" kata Mizu setelah mendapatkan potongan memori dirinya sedang dilatih menari oleh Xiajaucha. Entah kenapa, Gadis itu merasa sangat mengenal sang pelatih. Ia langsung berlari menuju ketempat sang Guru menari melatih.


"Somyunada," panggil Mizu menepuk bahu Xiajaucha lembut maka sang pelatih menari menoleh ke arahnya. Ia sangat terkejut hingga sempat memberi jarak beberapa jengkal dari Mizu berada. Ekspresi serupa, ketika Mizu bertemu dengan Ratu dan Raja.


"Ja...Jangna?!" Xiajaucha berusaha menguasai diri menatap lekat sosok Jeajangna di depannya.


"Jadi..benarkah Anda Somyunada Xiajaucha?"


"Ya, si-siapa kau? Dari mana...kau berasal? Si-siapa yang membawamu ke Istana?" tanya Xiajaucha tergagap. Ingin ia memeluk Gadis tersebut, menyalurkan kerinduan tak terbendung terhadap Jeajangna, mantan penari Istana kesayangannya.


"Saya...kemari bersama dengan Chichi Natsuha. Ah, Perdana Menteri Natsuha maksud saya" kata Mizu dengan kedua mata berbinar. Ya, binar mata yang sama ketika Jeajangna akan menari.


"Namamu?"


"Mizu...,"


"Kau...benar-benar mirip dengan seseorang" kata Xiajaucha berkaca-kaca.


"Tapi...kenapa Somyunada mengajarkan tarian itu kepada semua penari Istana? Bukankah tarian yang lama jauh lebih indah?" tanya Mizu penuh tanda tanya besar.


"Tarian yang lama?" ulang Xiajaucha sambil mengangkat kedua alisnya. Mizu mengangkat satu tangan, meminta Xiajaucha tak mengatakan apa pun lagi. Gadis itu bergerak menari dengan sangat luwes. Semua mata memandang penuh kekaguman, kecuali Xiajaucha. Ia menatap horor ketika Gadis bernama Mizu dilihatnya sangat menguasai tarian kematian dari awal hingga pertengahan.


Grep!!


Gadis itu terhenti seketika, saat sebuah tangan kekar menariknya dengan kasar hingga Mizu bertemu pandang dengan pemilik manik mata mempesona itu.


"Apa kau sudah tuli? Bukankah sudah ku katakan dengan jelas?! Profesi ini, tidak cocok denganmu!! Lalu kenapa kau, berada disini? Mizu?!" bentak Raja.


Deg!!


Seluruh penari termasuk Xiajaucha langsung memberi penghormatan kepada Raja begitu melihat siapa yang berdiri di hadapan mereka, tepatnya, disamping Mizu. Raja memberi perintah semua orang disana untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Gadis bernama Mizu tak dapat berkata apa pun, keringat dingin mengucur begitu tahu, ia ketahuan mendekati hal yang jelas dilarang Raja.


Potongan memori lainnya muncul ketika Raja, di kala itu masih seorang Pangeran, berada sedekat itu dengannya. Ketika Pangeran Keito, memintanya menarikan tarian sakral, hingga ia dikeluarkan sebagai penari Istana. Mizu menatap penuh ketegangan menghadapi raut wajah penuh amarah Raja Keito.


Tak pernah ia melihat raut wajah semarah itu dari Pria yang telah lama dicintainya.


"Hamba hanya menari Yang Mulia, hamba tidak melakukan hal terlarang" sangkal Mizu menundukkan kepala.


"Tarian yang kau tarikan baru saja, adalah hal terlarang untuk diperlihatkan pada siapa pun di Istana ini!! Dan kau, baru saja mempertontonkan hal terlarang itu!!" murka Raja menyorot tajam Mizu.


"Tapi, bukankah Yang Mulia sendiri pernah ingin melihat hamba menarikan tarian yang sama, di hadapan Yang Mulia?" tanya Mizu polos.


"Apa kau sedang dalam pengaruh obat? Jelas-jelas aku baru kali ini mengenalmu, nak" kata Raja mengerutkan kening.


"Kenapa? Apa karena ada Ratu? Anda mulai menyangkal keberadaan hamba?" kata Mizu mulai tersinggung.