
"Kau sedang membicarakan Eun Sha? Apa hatimu condong padanya hingga Kimiko menjadi seperti ini?" tanya Raja Keito meraba arah pembicaraan.
"Benar Yang Mulia"
"Kau condong pada Eun Sha karena kau melihat Istriku berada dalam posisi benar, atau karena perasaanmu yang sampai saat ini tak pernah padam terhadapnya?"
Deg!! Ketika kalimat terakhir meluncur dari bibir sang Raja, jantung Natsuha berdetak lebih kencang dari biasanya merasakan akan ada bencana mengintai dirinya kali ini.
"Yang Mulia..."
"Bukankah kau menginginkan pendapat dariku Natsuha? Sebuah pendapat terbaik baru bisa diutarakan jika ada keterbukaan diantara kedua belah pihak. Lalu kenapa aku merasa kau enggan untuk terbuka kepadaku?" desis Raja dengan raut wajah datar.
Natsuha merasa tersudut...ia tidak mungkin menyembunyikan lagi apa yang telah terlanjur tersirat.
"Hamba rela dihukum bila ini menyinggung harga diri Anda sebagai Raja Yang Mulia dan Suami. Memang hamba merasakan keduanya. Hamba yakin Yang Mulia Ratu benar dan Selir Kimiko bersalah. Hamba juga yakin terhadap perasaan hamba".
"Jangan cemaskan Ratu. Ada aku yang dengan segenap jiwa raga akan berusaha selalu berada di sisinya baik dalam suka maupun duka. Pikirkan saja soal Kimiko dan Hamari" jawab Raja tegas. Tiba-tiba Natsuha kembali membungkuk jauh lebih dalam dari sebelumnya.
"Ini sungguh berat bagi hamba Yang Mulia. Mohon bantuannya. Bagaimana hamba bisa menghalangi cinta seorang Istri terhadap Suaminya jika memang penopang hidup Selir Kimiko hanyalah Suaminya. Apa lagi suatu hari nanti Selir Kimiko, harus menghadapi Putri Mari untuk memperebutkan hati Anda tanpa ia sadari"
"Mungkin kali ini ia akan dengan suka cita merusak hubungan antara Putri Mari dengan Ratu demi kepentingannya sendiri. Andai kata...tipu dayanya berbalik menyerangnya, itu pasti akan sangat menghancurkan kehidupannya" kata Natsuha dengan suara bergetar hebat.
"Apa yang kau harapkan dariku?"
"Tolong terima kembali Selir Kimiko dalam kehidupan Anda Yang Mulia. Anggap ini permintaan dari seorang Otoutosan. Masalah Putri Mari akan segera terselesaikan jika Anda menerima kembali Selir Kimiko" mohon Natsuha. Raja Keito mengangkat kedua bahu Menteri Natsuha hingga mereka berdiri sejajar.
"Lihat mataku Natsuha"
"Maaf Yang Mulia. Memandang Raja, sama dengan melemparkan penghinaan terhadap Raja" jawab Natsuha melemparkan pandangan ke arah lainnya.
"Ini bukan titah Raja. Tapi perintah Oniisan. Apa-apaan ini? Kau sungguh tak menghormatiku sebagai seorang Ani" geram Raja Keito marah.
"Tapi...ini tidak dibenarkan. Anda tetaplah Raja"
"Jabatan tidak berlaku di dalam sini Natsuha" gertak Raja pada akhirnya mampu membuat sang Perdana Menteri takut-takut menatap kedua mata Rajanya. Ya, ia menatap kedua mata Pria di hadapannya bukan sebagai Menteri dan Raja. Tapi seorang Adik dan Kakak. Bagaimanapun mereka memiliki hubungan itu, karena Selir Kimiko masih menjadi Istri dari Raja Keito.
"Kau tahu apa risiko yang harus kita semua terima jika Putra dan kedua Putriku mengetahui bahwa aku kembali menerima Selir Kimiko dalam hidupku?"
"Pemberontakan Putra Mahkota dan kedua Putri"
"Kau sudah memikirkan dengan matang? Kau rela melihat kedua Wanita yang kau cintai terluka sekaligus? Kimiko yang terpaksa melawan Putri kandungnya?"
"Eun Sha yang terluka karena Mari pun, tak akan menganggapnya Haha lagi terlebih lagi perasaannya akan semakin hancur ketika melihat Putranya Hiroshi, melawan Chichinya lantaran ia menganggap Chichinya ini mulai membagi hati kepada Wanita lain?!" bentak Raja tak habis pikir. Untuk apa Natsuha menggali kuburannya sendiri?
"Bukankah cepat atau lambat itu pasti akan terjadi? Mereka harus menyadari posisinya masing-masing"
"Mereka masih terlalu muda untuk berpikiran matang Natsuha. Keputusan gegabah menimbulkan respons negatif pada setiap Anak dalam bentuk beraneka ragam"
"Apa lagi? Apa Anda memiliki jalan keluar lain? Nyawa Ane Kimiko di ujung tanduk. Apa yang harus kita lakukan?" kata Natsuha dengan nada yang tinggi. Untuk pertama kalinya Natsuha yang tenang mulai meledak-ledak.
"Kau sendiri yang bilang, Kimiko mampu bersiasat bahkan, terhadap Putri kandungnya sendiri!! Lalu apa jaminannya ketika aku menerima dia kembali dalam hidupku ia tidak akan bersiasat kembali untuk melenyapkan Ratuku?!" bentakan Raja kali ini membuat Natsuha tak mampu lagi untuk melawan.
Ya, Kimiko tipikal manusia yang mampu menggunakan segala cara demi meluluskan keinginannya. Natsuha tidak boleh mengabaikan keselamatan Ratu. Terlebih lagi, Selir Kimiko juga memiliki riwayat buruk sebagai seorang pembunuh Selir Jea Jangna.
"Yang Mulia!! Selir Kimiko!! Cepatlah temui beliau!!" terdengar teriakan dari arah pintu luar ruang meditasi Raja. Natsuha dan Raja Keito segera berlari ke arah pintu keluar menatap wajah Eun Sha penuh ketegangan.
"Ada apa dengannya?" tanya Natsuha mulai was-was.
"Selir Kimiko denyut jantungnya mulai melemah" jawab Eun Sha segera menggapai tangan Raja Keito menariknya menuju ke kediaman Selir Kimiko.
"Tabib menyatakan angkat tangan karena selain keadaan Selir yang melemah, tidak adanya semangat hidup membuatnya susah untuk disembuhkan. Suamiku dengarkan aku. Memang tidak ada Wanita yang punya cita-cita untuk berbagi Suami"
"Tapi dalam kasus ini akulah pihak yang memisahkan ikatan kalian. Aku merasa sebagai perusak rumah tangga kalian. Aku mohon dengan sangat Yang Mulia...berikan kembali alasan untuk hidup pada Selir Kimiko" rengek Eun Sha sambil bersujud pada Suaminya.
"Eun Sha apa yang kau lakukan bangunlah"
"Tidak sebelum Suami hamba meluluskan keinginan hamba" jawab Eun Sha tak mau kalah.
"Untuk apa kau memusingkan keadaan Wanita yang pernah ingin mengakhiri hidupmu!!" bentak Raja murka.
"Sudah lama Selir Kimiko berusaha memperbaiki masa lalunya yang kelam untuk apa Anda mengungkit hal itu kembali Yang Mulia?"
"Karena Kimiko masih belum berubah sampai saat ini Yang Mulia Ratu" jawab Natsuha antara malu dan merasa harus mengatakan kebenaran.
"Kau tahu apa yang dilakukan Kimiko pada Putri kita Hamari? Dia mencoba mempermainkan emosi Mari agar ia semakin jauh dari kita. Apa Wanita seperti itu pantas diberi kesempatan ketiga?!" marah Raja kehilangan kesabaran.
"Maka cobalah untuk dapat membalas cintanya Yang Mulia"
"Apa kau sedang memaksa Suamimu membalas cinta Wanita lain? Jika semua Istri di seluruh dunia sebaik dirimu kurasa tidak ada Pria yang tidak bahagia di dunia ini. Di kelilingi banyak Wanita sama seperti berada di dalam nirwana" sindir Raja ketus.
"Tidak semua Yang Mulia. Karena Anda satu-satunya Pria yang menganggap banyak Wanita, sama seperti berada di dalam neraka. Bukankah itu yang Anda lakukan? Melepaskan para Selir?"
"Satu Istri cerewet dan keras kepala saja cukup memusingkan. Apa lagi dua" dengus raja sekecil mungkin tapi tetap saja Ratu dapat mendengar.
"Demi Ratu yang cerewet dan memusingkan Anda Yang Mulia. Jika masih kurang, demi kemanusiaan Yang Mulia. Apa salahnya membuat seseorang kembali memiliki semangat hidup?"
"Bukankah sebuah anugerah jika dapat menolong sesama? Anda ingin pergi ke Nirwana berdua dengan hamba bukan? Jika ya, inilah ladang pintu menuju Nirwana" tegas Ratu Eun Sha mencoba melunakkan hati Suaminya.
"Bagaimana dengan anak-anak kita?" kata Raja mencari cara untuk terlepas dari bujuk rayu Eun Sha.
"Dayang"
"Hamba Yang Mulia Ratu" jawab Dayang setia sang Ratu memenuhi panggilan sambil menghormat takzim.
"Anda lihat? Anak-anak sudah beres. Hamba mohon" kata Ratu dengan ekspresi memelas. Raja dengan enggan berjalan ke arah peraduan Selir Kimiko.
Di dekatkannya bibirnya ke telinga sang Selir dan berujar.
"Bisakah kau membuka matamu demi Suamimu ini? Buktikan jika kau benar mencintaiku Matahariku" kata Raja sambil menggenggam jemari Kimiko. Perlahan jemari lentik milik Selir cantik itu bergerak dalam genggaman sang Suami.
"Maaf Yang Mulia. Agar beliau lebih cepat siuman sebaiknya berikan rangsangan yang lebih mendorongnya untuk segera bangun. Seperti sebuah kecupan di dahi," komando sang Tabib merasa ada harapan dalam sekejap mata.
Raja mulai menegang ragu ia melirik ke arah Ratu Eun Sha berharap sang Ratu tak mengizinkan. Tapi Wanita paling ia cintai itu justru mengangguk memberi persetujuan. Pria tanpa daya itu pun, akhirnya tidak dapat menggunakan kekuasaannya untuk menghentikan keinginan Ratunya.
Ia menghela nafas pasrah lalu mengecup dahi sang Selir. Ketika sebuah kecupan mendarat pada dahi Kimiko, jatuhlah air mata di kedua mata Ratu. Ia lebih memilih untuk memunggungi sang Raja dan Selir.
Menyembunyikan kepedihan dan ketakutan akan di tinggalkan memang sangat susah. Aku sangat menyadari hal itu tapi...seandainya hidup memberiku banyak pilihan maka akan kupilih mana yang justru makin menyatukan kami. Dia...Kimiko seorang Wanita yang dengan gigih mempertahankan cintanya pada Raja Keito.
Gemuruh dalam hatiku mulai meluruh lantahkan jiwaku ketika tanpa sengaja aku mendengar ungkapan hati Kimiko pada Adiknya Natsuha. Apa yang dia katakan adalah kebenaran. Jea Jangna datang dalam hidup Raja, ketika beliau telah memiliki ikatan pertunangan dengan Kimiko. Dua kesalahan dalam hidupnya adalah...melenyapkan Jea Jangna dan bersekutu dengan Jin.
Entah kenapa saat ia mengatakan pada Natsuha tidak ada yang memikirkan perasaannya justru rasa bersalah yang teramat besar mulai mengimpit dada ini. Oh sang Pencipta Semesta...salahkah bila aku pun ingin memiliki Suamiku seutuhnya? Tapi aku tak bisa membiarkan ketidak adilan menimpa Kimiko selamanya.
Bagaimanapun, aku harus menempatkan diriku di tempat yang semestinya. Dia Istri Pertama dan aku yang Kedua. Ia berhak dicintai, meski aku pun tak tahu kapankah Suamiku itu mampu untuk membalas cintanya.
Jantung...apakah ini karena telah lama ia memendam duka mendalam, mencoba menekan kemarahan demi kemarahan karenaku dan Jangna? Oh sang Pencipta...engkaulah saksinya dimana aku tidak pernah menggoda Raja Keito justru beliaulah yang datang padaku dan berniat menikahiku. Tidak...sebelum air mataku ini semakin deras, aku harus segera meninggalkan tempat menyesakkan ini.
Raja tidak boleh melihatku menangis karena itu bisa membuatnya kembali berusaha menjauhi Kimiko. Ketika aku hendak beranjak dari tempatku berdiri, kulihat Natsuha ingin mengutarakan sesuatu padaku. Tapi aku hanya mengangkat telapak tanganku, memberinya kode agar ia tak bersuara sedikitpun"
Aku pun berjalan keluar dari ruang siksaan itu tanpa di ketahui Suamiku. Senyuman palsu, ketegaran palsu ya..., itu yang aku lakukan ketika semua orang menyapaku dengan hormat. Entah kenapa aku enggan memasuki kediamanku dan kini aku justru berdiri di depan ruang meditasi Raja.
"Kenapa Anda melawan kata hati jika itu dapat menyakiti Anda?" suara lembut sang Perdana Menteri membuat aku tak mampu berkutik. Harus berapa banyak air mataku yang dapat ia lihat?
"Aku sedang membebaskan Suamiku dari dosa yang menyelimutinya"
"Kimikolah yang berdosa pada Raja dan Ratu Negeri ini" sanggah Natsuha sambil membungkuk takzim. Cepat-cepat kuhapus air mata lalu memalingkan wajahku ke arah berlawanan. Ah, Natsuha tetaplah Natsuha. Ia selalu memahami apa yang aku inginkan.
Natsuha berpaling memunggungiku sambil memerintahkan sang Pengawal Istana meninggalkan kami berdua.
"Selir Kimiko tak sepenuhnya salah Natsuha. Dia hanya ingin mendapatkan perhatian dari Suaminya"
"Hamba berjanji Yang Mulia Ratu. Kebaikan hati Anda ini, jika disalah gunakan Kimiko untuk menyingkirkan Anda dari Raja Keito, hukuman berat akan hamba jatuhkan padanya dengan tangan hamba sendiri. Bahkan jika Anda dan Raja ingin menghukumnya, hamba tidak akan berusaha menghalangi" tegas Natsuha membuatku tersentuh.
Sejak aku bersama Raja, Natsuha senantiasa melindungiku dari kekejian Kakaknya. Mungkin ini hukuman atas aku yang pernah menyia-nyiakan cintanya padaku dahulu. Natsuha, yang kala itu dengan sepenuh hati memintaku meninggalkan dunia tari agar aku dapat segera dinikahinya tapi aku yang kala itu terobsesi menjadi Sakuhyunja tidak ingin melepaskan profesiku.
Roda kehidupan memang berputar...Natsuha yang baik dan lembut tak pernah memaksakan hatinya. Dan ketika aku bertemu dengan Keito Suamiku, aku terpaksa mengikuti keinginannya. Karena menolak pinangan Raja, sama dengan melemparkan penghinaan di wajah Raja.
Penghinaan tersebut dapat berujung maut karena hukumannya adalah mati. Rasa cintanya dan pengorbanan Keito mampu mengalahkan kebencianku padanya. Lihatlah diriku sekarang...aku mencintainya bahkan...tak rela untuk membaginya dengan siapa pun. Aku ini bukan Dewi, yang tak memiliki sifat egois.
Aku sama seperti Kimiko tapi cara kami mendapatkan cinta itu sendiri sangatlah berbeda.
"Hati-hati dengan ucapanmu Natsuha. Bukankah sang Pencipta selalu mendengarkan apa yang di ucapkan hambanya? Sama saja kau sedang mendoakan keburukan menimpa diri Kimiko"
"Dia selalu melakukan banyak hal buruk tak terduga. Hamba hanya ingin memastikan Kimiko tak akan berbuat jahat lagi"
"Terima kasih Natsuha"
"Untuk?"
"Untuk kau menjagaku dan anakku saat berada jauh dari Suamiku. Semoga ada Wanita yang beruntung memilikimu" doaku padanya.
Sorot mata sendu tersirat dari mata Natsuha ketika doa sang Ratu dipanjatkan atas kebahagiaannya.
Aku menginginkan dirimu bukan yang lain. Seandainya aku dapat menggantikan Raja Keito di hatimu. Kata hati Natsuha sambil memberikan senyuman miris pada sang Ratu.
"Amin..." kata Natsuha lirih.
"Biarkan aku sendiri di dalam ruang meditasi. Agar aku dapat menata hatiku kembali" pinta Ratu yang hanya di sambut anggukan sang Perdana Menteri. Sebelum Ratu benar-benar menghilang dari balik pintu Natsuha angkat bicara.
"Izinkan hamba untuk berada disini selama Anda berada di dalam, Yang Mulia"
"Kimiko membutuhkan kau dan Suaminya. Dia sedang sangat membutuhkan kehadiran kalian berdua. Temuilah" jawab Ratu lalu menghilang dari balik pintu.
Setidaknya biarkan aku berada di sisimu Eun Sha...rintih hati Natsuha yang terpaksa meninggalkan Ratu sendiri.
Mata Kimiko terbuka perlahan menatap tak percaya pada apa yang ada di hadapannya sekarang. Benarkah Raja, yang telah sekian lama mengabaikannya kini berada di sisinya? Mendampinginya?
"Kau merasakan sakit lagi?" tiba-tiba pertanyaan Raja memecahkan lamunannya. Kimiko hanya mengangguk menggapai kening, hidung dan kedua pipi Raja Keito. Perlahan air matanya menitik jatuh dari pelupuk matanya.
"Apa terasa sangat sakit?" lagi-lagi Raja bertanya dengan raut wajah begitu cemas.
Apa aku berada di surga? Benarkah ini Suamiku Keito? Keito yang sesungguhnya? Atau ini sekedar halusinasiku? Jika ya, sang Pencipta...ijinkan aku terus begini selamanya.
"Tabib!! Panggilkan Tabib!!" teriak Raja Keito memerintahkan pada para dayangku. Ia hendak berdiri, tapi kugapai tangannya dan mengunci tangannya yang begitu ku rindukan selama ini.
"Hamba mohon tetaplah bersama hamba. Hamba mohon" kataku dengan air mata yang sangat sulit untuk ku hentikan deraiannya.
"Kau harus di periksa Tabib. Jangan bersikap kekanakan"
"Berjanjilah ketika Tabib selesai memeriksa hamba, Anda akan kembali mendampingi hamba di sini" aku takut...ketika tangan itu terlepas dari genggamanku, ia akan menghilang kembali dari hidupku. Jangan renggut kebahagiaanku kali ini kumohon...
"Ya, apa sekarang kau mau menuruti perintahku?" tanyanya mulai melembut maka aku, hanya tersenyum dan mengangguk perlahan. Sang Tabib Istana memeriksaku lalu tersenyum gembira pada Raja Keito.
"Jika keadaan Selir terus seperti ini, hamba yakin keadaannya akan segera membaik dengan cepat" katanya. Bagaimana jika aku sehat kembali ia tak akan datang lagi padaku? Tidak...aku tak ingin kehilangannya kembali. Ketika Tabib Istana mengundurkan diri, aku pun melihat Natsuha sedang berjalan mendekati peraduanku.